| good info, bang. saya memang tidak tahu pasti mengenai apakah ada teknologi utk mengukur ph atau "tensi" air yg mengandung belerang, saya rasa ahli kimia maupun lingkungan hidup di dinas lingkungan hidup yang lebih berkompetensi untuk menjawabnya. cuma yang menjadi perhatian saya adalah peternakan ikan keramba ini berpotensi besar mencemari lingkungan. hal ini pernah menjadi persoalan besar di Danau Toba beberapa bulan yang lalu, dimana meningkatnya kadar Nitrogen (NH-N3) bersumber dari protein yang terkandung pada pakan (pelet) ternak ikan yang dikhawatirkan berdampak pada gangguan kesehatan manusia yang terancam keracunan. cek di sini: http://hariansib.com/2008/03/16/pencemaran-danau-toba-penduduk-terancam-keracunan-dan-lemah-otak/ memang inilah paradoks ketika kita berbicara tentang kesejahteraan peternak ikan keramba, pada saat bersamaan kita juga harus memperhatikan keselamatan lingkungan hidup yang juga berefek pada kehidupan manusia. hal yang sama juga terjadi saat kita bicara mengenai hak masyarakat dalam pemakaian lahan perkebunan di hutan lindung. segitu dulu. mohon maaf tidak memberikan solusi. salam, ~postiera --- Pada Rab, 7/1/09, Indra Jaya Piliang <pi_l...@yahoo.com> menulis: |
|
|
HEADLINE NEWS |
|
|
Rabu, 07 Januari 2009 |
|
|
7 Ribu Ton Ikan Danau Mati |
|
|
Kabupaten Agam mati mendadak dan memicu bau yang tidak sedap. |
|
|
|
|
|
Lubukbasung, Padek--Masyarakat salingka danau Maninjau betul-betul “berkabung ”. Keracunan di danau Maninjau hingga Selasa kemarin masih berlanjut. Setelah kawasan pantai barat, Selasa kemarin kawasan pantai timur danau Maninjau ikut terserang keracunan. |
|
|
|
|
|
Akibatnya kerugian semakin besar dialami masyarakat bahkan hingga Selasa sore tercatat sudah 7.000 ton ikan budidaya jala apung yang mati dengan taksiran kerugian mencapai lebih dari Rp112 miliar. Selain itu, ikan-ikan asli yang berada dalam danau ikut mengapung di permukaan danau Maninjau. |
|
|
|
|
|
Sementara dampak matinya ribuan ton ikan memicu bau busuk mengengat di sepanjang kawasan wisata danau Maninjau. Bau busuk menyengat ke Ngungun, Lubuk Sao dan Siguhung, karena ada yang sengaja membuang bangkai-bangkai ikan di sepanjang ruas jalan di tepi jalan utama yang ada jurangnya. Diperkirakan aksi pembuangan bangkai ikan akan merambah kawasan kelok 44 dan dipastikan akan berdampak buruk bagi dunia pariwisata di Kabupaten Agam. Pasalnya bau busuk menyengat akan semakin menjadi-jadi, mengingat jumlah ikan yang mati mencapai lebih dari 7.000 ton. |
|
|
|
|
|
Dari unsur Pemkab Agam sendiri, Bupati Agam Aristo Munandar dan Wabup Ardinal Hasan langsung meninjau lokasi musibah di Tanjung Sani untuk melihat ikan di permukaan danau Maninjau memutih. Tak hanya ikan-ikan dalam jala apung yang mati, tapi juga ikan-ikan asli danau ikut semaput akibat keracunan, yang diduga akibat terjangan tingginya amoniak di atas air permukaan danau Maninjau karena siklus air tidak lancar. Dilain pihak Pemkab Agam sendiri akan mengkaji penyebab matinya ribuan ton itu. |
|
|
|
|
|
Siapkan Alat Berat |
|
|
|
|
|
Mengantisipasi dampak buruk terhadap lingkungan, bupati Aristo Munandar kemarin di Tanjung Sani menyatakan, akan membantu penanganan bangkai-bangkai ikan yang mati di danau Maninjau. Langkah yang tepat untuk mengantisipasi bau busuk, ikan yang mati harus dikubur. |
|
|
|
|
|
“Pemkab Agam siapkan alat berat untuk menggali dan menutup lobang yang akan digunakan untuk mengubur ikan-ikan mati itu, kita siapkan alat berat untuk itu, lokasinya diharapkan masyarakat bersama pemerintah nagari menyediakannya,” tegas Aristo Munandar. Musibah matinya ikan danau Maninjau awal tahun 2009 ini, merupakan bencana paling parah dalam sejarah danau Maninjau, apalagi tingkat kerugian yang dialami pemilik 14.000 unit jala apung di danau Maninjau saat ini sudah mencapai lebih dari Rp112 miliar. |
|
|
|
|
|
Camat Tanjung Raya Kurniawan Syahputra mengakui musibah yang terjadi Senin-Selasa kemarin sangat cukup parah. Sejak pertengahan 2008 lalu sudah terjadi kasus keracunan dengan jumlah ikan yang mati terus meningkat. Senin lalu, ikan yang mati baru mencapai 1.588 ton, namun akibat keracunan Selasa pagi, jumlah kerugian bertambah mencapai 7.000 ton ikan–dengan taksiran kerugian mencapai Rp112 miliar. Hingga Selasa kemarin, Pemkab Agam melalui dinas perikanan-kelautan masih melakukan pemantauan di lapangan bahkan Bapedalda Sumbar sudah turun ke lokasi keracunan untuk mendeteksi penyebab keracunan. |
|
|
|
|
|
Berikan Subsidi Bibit Ikan |
|
|
|
|
|
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Ir Yosmeri menyebutkan, kejadian yang mendera petani ikan air tawar di Kabupaten Agam itu bisa dikatakan hal yang di luar dugaan. Menurut Yosmeri, pihaknya akan membantu petani ikan tersebut dengan memberikan bantuan subsidi bibit ikan sebesar Rp173 juta, sebagai pengganti ikan yang mati. Subsidi bibit itu akan segera diberikan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Selain itu, kami juga melaporan kejadian yang dialami masyarakt Agam itu ke Departemen Kelautan dan Perikanan. Dengan cara itu, diharap DKP pusat juga mau membantuan petani ikan tersebut,” ujar Yosmeri. (men/zil) |
|
| Sejenak kalau kita baca dimedia dan perhatikan liputannya dibeberapa televisi pasti sedih dan miris melihatnya. Bayangkan ribuan ton ikan mati tapi dikatakan "Kejadian diluar dugaan". Padahal kalau kita simak kembali ulasan di televisi tersebut dikatakan bahwa ini adalah siklus 10 tahuan yang terjadi di Danau Maninjau yang pernah terjadi tahun 1997. Dalam benak saya ini adalah jenis usaha rakyat yang sudah dilakukan tahunan. Kalau boleh saya memberikan note bahwa selama ini yang kurang dalam pembangunan ekononi di Sumatra Barat adalah tidak adanya program yang jelas tentang arah pengembangan Ekonomi Sumatra barat secara holistik yang didalamnya akan terdapat detail pengembangan ekonomi dalam satuan terkecil sampai tingkat nagari.Sehingga pembangunan ekonomi baik itu skala besar ataupun kerakyatan selalu minim "Perencanaan" sehingga setiap semua kejadian selalu diluar dugaan, lantas pertanyaannya adalah "Lalu yang ada didalam dugaan itu seperti apa"? Sering kali ketika membuat program pembangunan hampir tidak pernah mempunyai output dengan nilai baik dan selalu dikerjakan parsial, tanpa koordinasi dengan pihak pihak terkait karena faktor X mungkin sehingga setelah program selesai dilaksanakan hasilnya cenderung "Lumayan dari pada tidak sama sekali". Contohnya saja Bandara International Minangkabau, mau dikatakan International, siapa yang berani katakan bahwa itu adalah Bandara dengan Standar International baik untuk fasilitasnya ataupun kebersihannya ? Begitu juga peran Pariwisata, entah mau dibawa kemana model pariwisata ini, kemana arah pengembangan pariwisata, apa target jangka panjang dan dekat dari pariwisata ini ? Koordinasi antara regulator dan pelaku usaha pariwisata hampir tidak pernah ketemu titik temu dan akhirnya pariwisata Sumatra Barat selalu tidak maksimal dan swasta yang bergerak disektor ini pun berpikir " kita tidak mungkin membesarkan perusahaan kita di Sumatra Barat dan biarlah kantor Sumatra Barat ini jadi Subordinary dari head Office yang kita buat di Jakarta, Bali, Medan dan daerah daerah maju lainnya diindonesia. (Catatan : Dahulu Pakto pernah ada di Padang sebelum akhirnya seluruh operationalnya di tutup). Mumpung tahun 2009 didepan mata, caleg caleg dari beberapa partai sudah sibuk berkampanye baik itu mengenalkan diri maupun keinginan keinginannya , Yang perlu diperhatikan dari caleg caleg tersebut mungkin kita melihat visi nya terhadap sumatra barat masa depan, Program jangka panjangnya dan langkah apa yang dibuat untuk mengerjakan program program tersebut dalam waktu dekat. Saya baru melihat bahwa caleg caleg yang ada termasuk yang berputar di RN ini masih baru mengatakan ingin ini dan itu tapi buku putih "How to nya" kita masih belum dapat. Yang ada website menjelaskan siapa caleg itu dan dulu apa yang sudah dia tulis dan kerjakan but Master Plan dan How to nya ? Salam Hormat Rajo Bungsu Note : Penghargaan gelar kehormatan beberapa tokoh Sumatra Barat dari Istana Pagaruyung cuma akan membenarkan perkataan banyak orang bahwa "Ranah Sumatra Barat Mayoritas dihuni Masyarakat Kelas dua dan kelas satu nya pergi merantau".Atau mungkin Urang Ranah pun sudah tidak percaya diri sampai Istana yang notebene ada di Rantau memberikan Gelar kehormatan sama Urang Rantau ? |
Ikan2 mati lagi di maninjau. Kerugian petani lebih dari 100 Milyar. Duh, sungguh petaka bagi petani2 ikan di sana, kerugian yg luar biasa.
--
Z Chaniago - Palai Rinuak
Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau - Menjadikan Adat menjadi rasional .
Pemilik Ikan di Maninjau Disarankan Membuat Ikan Asap
PadangKini.com | Selasa, 6/1/2009, 16:57 WIB
PADANG-Agar tidak rugi makin banyak akibat kematian massal ikan mas di Danau Maninjau, para pemilik keramba apung disarankan segera mengolah ikannya menjadi ikan asap ataui ikan salai. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Yosmeri, Selasa (6/1).
"Tadi di lokasi, kita sudah sarankan agar ikan-ikan yang baru mati itu segera diolah menjadi ikan asap, karena masyarakat juga banyak yang sudah terampil membuat ikan danau yang diasap, bedanya yang diasap sekarang ikan mas,dari pada dibiarkan busuk" kata Yosmeri.
Ia mengatakan, saat ini di Danau Manjau pemilik keramba sedang membongkar ikan-ikan mas yang mati dalam keramba dan menjua murah Rp2 ribu per kilogram, tapi masih banyak yang tidak terjual.
Menurut Yosmeri, ikan-ikan yang belum busuk dan baru mati masih aman dikonsumsi, karena kematian missal ikan bukan disebabkan pencemaran tetapi karena kehabisan oksigen. (yanti)
From:
Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of jupardi andi
Sent: Wednesday, January 07, 2009
2:51 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [BULK EMAIL]- Bls:
[R@ntau-Net] racun belerang di maninjau
Importance: Low
Adidunsanak di Palanta RN
Ada dua
pendapat yang saya ketahui tentang penyebab matinya ikan-ikan nelayan keramba
di Danau maninjau, tapi maaf mana yang benar itu kita serahkan pada yang ahli
dalam bidang ini. Kejadian ini seperti yang disampaikan IJP bukan sekali dua
kali lagi terjadi keracunan ikan dalam keramaba (1997 dan 2000)
Menurut Yosmeri, ikan-ikan yang belum busuk dan baru mati masih aman dikonsumsi, karena kematian missal ikan bukan disebabkan pencemaran tetapi karena kehabisan oksigen. (yanti)
Bang JP,
Ambo acok mampostingkan berita dari website berita sekaitan jo misi & tread di RN.
Ok, ditunggu kopi darek sambie minum kopi di PKerinci.
Salam
Nofiardi
From:
Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of jupardi andi
Sent: Wednesday, January 07, 2009
3:55 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: Bls: Bls: [BULK EMAIL]-
Bls: [R@ntau-Net] racun belerang di maninjau
Opss sasek ambo dari sanak Nofiardi nan sarantau di Pelalawan
mamposting Padang
kini
dek samo2 Nof......mokasih yo Nof..infonyo..bilo2 awak suo di Pangkalan kalau
ambo batugeh ke RAPP..kini lah agak jarang..ka RAPP
Wass-Jepe
Urang Dapua tantu batario kasih ka Uda Nofiardi ko, maramikan atau manyampaikan kaba sasuai jo misi kito J
Jadi semakin banyak info dan diskusi tentang segalo hal kampuang awak.
Nan paralu, lai ndak lupo jo aka budaya awak, apopun bisa dibaok ka kampuang awak.
Salam
From: Rant...@googlegroups.com
[mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Nofiardi
Sent: 07 Januari 2009 16:41
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: RE: Bls: [BULK EMAIL]- Bls: [R@ntau-Net] racun belerang di
maninjau
Bang JP,
Ambo acok mampostingkan berita dari website berita sekaitan jo misi & tread di RN.
Ok, ditunggu kopi darek sambie minum kopi di PKerinci.
Salam
Nofiardi
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.3/1879 - Release Date: 06/01/2009 17:16
Tarimo kasih atas penjelasannya Z,
Jauh sebelum ada karamba semua masyarakat maninjau sudah tahu adanya hari "tubo" ini dimana banyak ikan ikan yang mati akibat belerang yang keluar dari danau yang tercipta oleh gunung api ini. Termasuk saya dulupun pernah berlomba menjaring ikan ikan ynag setengah hidup ini dengan mudah.
Masyarakat yang berkaramba PASTI SUDAH TAHU akan konsekuensi ini. Jangan sampai sudah tahu bertanya pula dan mengadu pula ke Presiden malu rasanya badan ini. Kalau berani membuat rumah ditepi pantai kenapa takut dikunjungi tsunami.
Akhirnya apapun kegiatan kita ada konsekuensinya.
Wassalam
Zulkarnain Kahar 50+
Houston Texas
|
Assalamu’aliukum wr wb..
Talinteh dipikiran ambo tentang kemajuan Adat Minang.
Selaku pemuda Minang diperantauan, ambo ingin mengucapkan tarimo kasih kapado Niniak Mamak, cadiak pandai, alim ulama sarato pamimpin Nagari Minang.
Khususnyo ambo ingin mengucapkan Apresiasi dan Tarimo kasih kapado Guru Besar Adat Minang Yth Mamak Yus Datuak Parpatiah.
Petuah beliau melalui kaset sangat berguna sepanjang masa bahkan beliau telah berkarya untuk pembinaan Adat Minang.
Kalau selama ini belum ada penghargaan untuk beliau mari sama-sama kita usulkan kepada Pak Gubenur kita untuk memberi penghargaan.
Terus terang saya sendiri belum pernah berjumpa dengan beliau secara langsung, tapi saya selalu belajar mengembangkan diri dari petuah-petuah Mamak Yus Datuak Parpatiah.
Kalau ada anggota Balerong yang tergabung dalam milis ini, mohon up date informasi tentang Mamak Datuak kita ini.
Salam Hormat
JHON JUNISMAN
Batam Island
Uda Erwin M,
Terima kasih atas infonya. Kalau boleh kaset beliau di udarakan melalui radio cimbuak…???
Wasalam
Jhon
Assalamualaikum ww
Tahun 1873 geolog Bulando seperti Verbek dan Zwerzikiy telah melakukan pemetaan geologi di Sumatera Tengah yang meliputi dataran tinggi Bukit Barisan yang tujuan utamanya adalah mendapatkan deposit batu bara
Yang menarik dari peta gelogi tersebut adalah bahwa disini dulu terdapat sebuah danau 15 kali lebih luas dari danau Singakarak sekarang yang membentang sejak dari daerah sekitar Koto Alam, Kelok Sembilan, Lubuak Bangku, Lembah Hara terus ke Suliki, Ombilin, Sijunjuang, dan dibendung oleh dataran tinggi dan 3 gunung Merapi, Singgalang dan Paninjauan
Dapat kita bayangkan bahwa dinding terjal yang hampir tegak lurus di Lubuak Bangku adalah dinding danau purba tersebut dan ternyata kita juga pernah memiliki sebuah gunung yang telah hilang yaitu gunung Paninjauan
Lempeng Australia yang terus mendesak lempeng Asia tersuruk kebawah lempeng Asia dibawah pulau Sumatera menimbulkan gempa tektonik sehingga sang danau purba terus terangkat membuat airnya menerobos lewat rengkahan yang terbentuk hingga akhirnya kering sana sekali
Se-iring dengan itu desakan lempeng tersebut mengakibatkan terjadi desakan magma yang sangat kuat hingga menimbulkan letusan vulkanik yang dahsyat dan ber-ulang2 pada gunung Paninjauan
Kawah gunung Paninjauan tersebut sekarang menjadi danau vulkanik terletak pada 460 meter diatas permukaan laut yang sekarang kita kenal sebagai danau Maninjau
Danau purba ini sebenarnya kalau terisi air ukuran-nya sangat besar bayangkan kalau arah ke Lubuak Basung ada dataran tinggi penyekatnya maka air danau tersebut bisa mencapai Puncak Lawang dan panorama kelok 44 dan perkampungan dibawahnya tidak ada
Saat ini danau purba ini terisi air hanya sepersepuluhnya saja dengan dasar danau terdalam mencapai 500 meter, terdalam untuk sebuah ukuran danau didunia dengan dinding danau hampir 90 derjat tegak lurus kedasar danau bandingkan dengan danau singkarak yang landai dengan kedalaman 50 meter saja
Sebagai danau vulkanik yang dasar danau-nya adalah sebuah kawah gunung berapi sangat aktif dahulunya tidak heran kalau air danau ini terlarut berbagai padatan dan gas beracun terutama H2S yang se-waktu2 bila konsentrasinya meningkat akan membunuh makhluk apa saja yang terpapar termasuk ikan2 yang terkurung dalam keramba, bagi ikan2 lepas masih bisa menghindar kesisi lain perairan danau yang konsentrasi racun terlarut-nya kecil
Itu baru konsentrasi racun dari bekas kawah gunung Paninjauan bagaimana dengan racun lain?
Saat ini terdapat lebih 16ribu keramba berisi jutaan ikan nila yang menkonsumsi ber-ton2 palet makanan ikan senilai Rp10milyard perhari, yang tidak semua masuk perut ikan lalu mengendap kedasar danau setelah melalui suatu proses berubah sebagai racun bagi ikan2 keramba itu sendiri hingga pada kosentrasi tertentu
Para investor dan petani dan petani pekerja udah lama tahu masalah ini mungkin sejak awal2 tahun 90an lagi namun nan namonyo urang panggaleh sakali2 rugi indak ka-baa bana tu doh dibandiang ke-untungan yang telah diraup selama ini, maa lo galeh ko nan ka-ba-labo je taruih, sa-kali2 ba-rugi tu kan lah pasa nan biaso
Mudah2an para pelaku ekonomi disektor perikanan ini telah menjadi pembayar zakat yang selalu mendekatkan diri kepada Allah
Wasalam armansamudra |
From: Andrinof A Chaniago <andr...@gmail.com> |
Date: Thursday, 8 January, 2009, 7:00 AM |
|
|
|
|
Sanak Adrinof
Sebuah pemikiran yang perlu juga di renungkan…”konflik sektoral”..yang nota bena tidak saling mendukung satu sama lain yaitu antara maninjau sebagai tujuan wisata..dan pemanfaatan Danau sebagai Budi Daya Ikan, kalau menurut saya memang lebih cendrung ke Parawisata danau tersebut difokuskan tapi dicarikan solusi buat petani/nelayan tambak jaring apung. misalnya dipetakan dulu kawasan danau (bikin zona-zona) sesuai dengan karakter atau tipologi dari Danau dan daerah aliran sungainya. Mana kawasan yang betul2 bebas dari budi daya ikan yang diperuntukan bagi kawasan wisata dan mana kiranya daerah terbatas di danau tersebut dijadikan untuk budi daya ikan keramba apung, jadi tidak seperti sekarang budi daya ikan apung tanpa memperhatikan perencanaan ruang danau Maninjau…dimana suka..berhimpitan satu sama lain.
Setelah ditata peruntukan kawasan danau tersebut oleh semua pihak dan disepekati maka perlu dilindungi dengan payung hukum, sehingga dalam pelaksanaannya nanti bisa lebih mudah diawasi kasarnya ada alas an hukum yang kuat jika budi daya keramba jaring apung ini bukan pada tempatnya di bongkar atau dilarang sebelum dibuat.Tentunya sebelumnya perlu duduk dengan masyarakat, tokoh masyarakat, ninik mamak, alim ulama dengan pihak pemerintah atau dinas/instansi terkait dalam menata kembali peruntukan kawasan danau maninjau dan sekitarnya.
Keramba jaring apung bisa saja arah ke hilir atau dengan melihat kontur/topograpi lahan (Tinggi ke rendah) maka dibuat kanal-kanal permanent untuk memindahkan air danau tersebut dan mengalir nah disanalah kiranya paling tepat membuat keramba, air mengalir tidak terlalu deras tentunya kebutuhan oksigen terpenuhi sepanjang hari, jika pun ada unsure belerang di dasar danau karena gempa yang mengakibatkan naiknya zat2 beracun yang mengakibatkan kematian ikan saya pikir bisa juga dibuat alat deteksi dini dengan melihat segala karakteristik danau Mainjau, tentunya memang dibutuhkan teknologi terkini sebagaimana halnya alat deteksi gempa yang berakibat tsunami yang memberikan kesempatan penduduk menyelamatkan diri sekitar 30 menit menjelang Tsunami menghempas daratan.
Setelah kejadian ini, mungkin kedepan lebih mudah lagi mengaturnya sementara colling down dan recovery dulu sambil mencoba mensosialisaikan ke para nelayan dengan segala alasan-alasan untung rugi dan manfaat yang akan diperoleh jika di coba lagi tata ulang kawasan Maninjau
Mungkin itu tambahan pendapat saya, lebih dan kurang mohon maaf
Wass-Jepe
indak dikuduang bia nyambuang nan dibawah jo diateh..kan da baa do urang dapua..indak mambaok gambar nan gadang filenyo.
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Andrinof A Chaniago
Sent: Thursday, January 08, 2009
2:01 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: racun
belerang di maninjau
Saya sempat dapat pengetahuan sedikit dari seorang teman tentang endapan racun di dasar danau ini, ketika kami bekerja melakukan studi untuk penyusunan Rencana Pengembangan Ekosistem Danau Toba (Sumut). Menurut dia, di dalam setiap danau vulkanik selalu terjadi proses mengendap racun yang suatu saat melepaskan gas beracunnya ke permukaan. Kalau ini benar, mungkin masa pematangan tumpukan racun ini yang perlu diteliti oleh ahlinya. Pelepasan racun ke permukaan danau itu, juga kata bekas teman satu tim saya itu, bisa dipicu oleh guncangan vulkanik di dasar danau.
Untuk solusi masalah yang dihadapi peternak ikan keramba ini, saya punya
pikiran lain. Saya sudah lama berpikir usaha keramba ini digantikan dengan
usaha lain yang terkait dengan jasa pariwisata, seperti rekreasi air, rumah
makan, hotel atau penginapan khas, dan sebagainya. Dengan merebaknya usaha
ternak ikan keramba selama ini, ada beberapa masalah yang muncul. Pertama,
pengembangan ekonomi Salingka Manijau terkendala oleh konflik sektoral antara usaha
ternak keramba dan pengembangan pariwisata. Merebaknya usaha keramba sampai
puluhan meter ke tangah danau dan berjejer rapat ddari arah Pasir Panjang
hingga ke koto Kaciak (bahkan ke dekat Muko-muko), membuat pantai Danau
Maninjau tidak lagi indah dan kawasan rekreasi air tidak bisa dikembangkan.
Padahal, menurut pengamatan saya, Danau Maninjau adalah salah satu dari sedikit
danau terindah di dunia. (Kalau di Indonesia, sudah pasti yang terindah!).
Saya yakin, kalau perekonomian Salingka Maninjau diarahkan (difokuskan) ke
Pariwisata, masih tersedia pasar pengunjung yang cukup besar walaupun kita
batasi dengan ketentuan yang ketat agar tidak menampung wisatawan porno aksi.
Sebab, potensi wisatawan rombingan dari Asia Timur (Jepang,
Korea, Taiwan,
Hongkong), apakah itu pekerja aktif maupun para pensiunan, masih cukup besar.
Maninjau dan Sumbar bisa kita buat berbeda dengan Bali, yang pengunjung
terbesarnya adalah para ABG dari Australia yang menyukai
tempat-tempat dugem dan bebas. Belum lagi kita bicara potensi wisatawan
domestik.
Selagi model perekonomian Salingka Maninjau dicirikan oleh konflik sektoral,
saya yakin ekonomi lokal di sini tidak akan berkembang. apalagi, kalau benar
peternak ikan keramba akan selalu menghadapi siklus keluarnya gas beracun dari
dasar danau.
Salam,
Andrinof A Chaniago
2009/1/7 Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com>
|
Tarimo kasih atas penjelasannya Z,
Jauh sebelum ada karamba semua masyarakat maninjau sudah tahu adanya hari "tubo" ini dimana banyak ikan ikan yang mati akibat belerang yang keluar dari danau yang tercipta oleh gunung api ini. Termasuk saya dulupun pernah berlomba menjaring ikan ikan ynag setengah hidup ini dengan mudah.
|
Masyarakat yang berkaramba PASTI SUDAH TAHU akan konsekuensi ini. Jangan sampai sudah tahu bertanya pula dan mengadu pula ke Presiden malu rasanya badan ini. Kalau berani membuat rumah ditepi pantai kenapa takut dikunjungi tsunami. |
|
Akhirnya apapun kegiatan kita ada konsekuensinya.
Wassalam Zulkarnain Kahar 50+ Houston Texas |
--- On Wed, 1/7/09, Z Chaniago <z.cha...@gmail.com> wrote: |
|
|
Memang batua sanak katokan itu, satiok pilihan ado resiko, salam kenal ciel lu dari ambo..
Tapi untuk kasus ikan di Maninjau ko dan mungkin juo ado di tampek lain bukan begitu sajo pandangan yang manyalahan masyarakaik sanak zukarnaian...
Baa pulo sabana no karajo pamarintah..sabab salamo ndak ado asok ndak ado api do..?
Untuk kasus lain ambo contohkan, panabangan lia di hutan lindung batu kambiang, dakek maninjau agam tu...nan maagiah izin iyo Gamawan Fauzi, dan pengacara nan mandampingi urang dapek izin tu ado di banduang..ambo alah kirim saran ka gubernur, tapi karano nan pengacara tu kawan no..iyo ndak dapek aka lai pembabatan manjadi2..
Jadi manuruik ambo, ndak masyarakat sajo nan salah..pemda maagiah kesempatan urang babuek salah... baa pulo lo jo wakia rakyat no..iyo ndak dapek aka lai mancari kayo diateh penderitaan masyarakaik dan kerusakan lingkungan...wallahualam bisshawab..
Sagitu dulu salam kenal ambo sanak, mudah2an awak bisa silaturahmi dan diberik keridhaan oleh ALLAH SWT. Amin ya rabbilálamin! --- On Wed, 1/7/09, Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com> wrote: |
Sanak Jepe..absolutely satuju ambo, dan maaf sabana no ide dan konsep ko kalau ndak salah alah pernah disampaikan dek kawan2 LSM dan kalangan UNAND, tapi tidak ada tindak lanjut dari pemerintah ko ah..
Ambo secara pribadi katiko batugeh ka Agam juo alah sampaikan ka Kapalo Dinas Pemberdayaan Sosial Kab Agam, kalau ndak salah bulan Juni Tahun 2008 lalu
Salam
|
|
|
|
|
Danau Maninjau Harus Dikosongkan, Eni: Butuh Enam Bulan Untuk Membersihkan |
|
|
|
|
|
Padang, Padek-- Para ahli menilai kematian ribuan ton ikan piaraan petani keramba di Danau Maninjau disebabkan kesalahan pelaksanaan kegiatan dan ditunjang faktor alami. |
|
|
|
|
|
|
|
|
Tinjauan pakar dari sisi ekologi itu dilontarkan Ketua Pusat Studi Perikanan Pesisir dan Kelautan UBH, Dr Ir Eni Kamal MSc. “Dari kajian ekologi terdapat dua sudut pandang yang menjadi latar belakang penyebab terjadinya kematian ikan tersebut, faktor pelaksanaan kegiatan dan alam.” |
|
|
|
|
|
....Faktor pelaksanaan berawal dari pengaturan tata ruang Danau Maninjau yang tidak selesai. Hal ini terlihat dari tidak adanya pengaturan kapasitas. Masyarakat bebas membuat keramba sebanyak-banyaknya. Sampai akhirnya danau dipenuhi keramba. “Padahal menurut etika lingkungan, proporsi untuk Danau Maninjau hanya 1/20 bagian saja keramba boleh dibudidayakan, sementara Pemda tidak pernah mengkaji hal itu. |
|
|
|
|
|
iperparah dengan perilaku pemilik keramba. Mereka memberikan makanan ikan sebanyak-banyaknya. Dengan dalih agar ikan cepat besar dan bisa dijual lebih cepat. Padahal tidak semua makanan bisa langsung dimakan ikan. Dosis pakan ikan perlu diberi arahan oleh petugas teknis dari dinas terkait. |
|
|
|
|
|
Pada saat terjadi perputaran siklus atau destratifikasi, arus air yang di bawah akan naik ke permukaan dengan membawa racun (amonial) yang dulunya telah mengendap di dasar danau. Pakan ikan mengandung fosfor dan nitrat yang sangat tinggi. Day by day. Kelebihan pakan ikan itu membusuk di dasar danau, dan menjadi racun berbahaya. Saat muncul lagi ke permukaan air, racun itu dimakan oleh ikan, dan mati. |
|
|
|
|
|
Pemda Agam seharusnya melakukan kajian-kajian. Dengan cara menata ulang tata ruang dan tata guna Danau Maninjau. Masyarakat yang akan membudidayakan ikan, memang harus dibatasi. Itu harga mati. “Sangat penting melihat keberlangsungan jangka panjang. Kerugian yang diakibatkan dari kesalahan dalam pengelolaan danau bisa mencapai tujuh kali lipat dari keuntungan yang diperoleh,” ujar Eni. |
|
|
|
|
|
Masyarakat yang memanfaatkan danau juga harus memperhatikan kaedah lingkungan. Selama ini letak keramba terdapat di pinggir danau. Padahal semestinya keramba berada di tengah danau. Karena, bagian tengah danau lebih dalam. Sehingga, ketika jatuh maka proses penguraiannya agak panjang. Pelet yang jatuh dan mengendap di bawah, tidak banyak lagi. Karena sudah terurai. Namun, sepanjang Danau Maninjau bagian baratnya, di pinggir danau dipenuhi keramba. Dari segi pariwisata pemandangan seperti ini mengurangi suasana eksotik danau. |
|
|
|
|
|
Untuk itu perlu adanya penyuluhan kepada masyarakat. Sosialisasi bagaimana cara memberi makanan ikan dengan benar. Selain itu mengajak memodifikasi keramba menjadi dua tingkat. Ini diharapkan agar pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan yang di atas, akan jatuh ke keramba di bawahnya. |
|
|
|
|
|
Menurutnya kondisi ini bisa dipulihkan. Proses pemulihan bisa dilakukan dengan menetralisir secara alami. Serta pembersihan dengan mengosongkan danau dari keramba minimal selama enam bulan. Selain itu pembudidayaan tanaman seperti eceng gondok yang berguna sebagai pemakan racun. Selain itu pemerintah juga harus melakukan kajian terhadap industri pelet. Yaitu dengan menentukan kecepatan terbenamnya. |
|
|
|
|
|
Akibat Stratifikasi Suhu |
|
|
|
|
|
Pakar air, Prof Ir H Nasfryzal Carlo MSc IPM PhD menyebutkan kematian ribuan ikan itu disebabkan terjadinya pembalikan dalam air danau setelah terjadi stratifikasi. “Kasusnya bisa dibilang alamiah. Stratifikasi suhu terjadi setiap tahun. Kondisi ini tidak hanya terjadi di kawasan tropika tetapi juga di daerah temperate,” ujar Nasfryzal. |
|
|
|
|
|
Stratifikasi suhu terjadi disebabkan oleh pendistribusian suhu pada kedalaman yang tidak sama. Suhu akan berbeda mengikuti kedalaman air. Akibat strafikasi suhu air di permukaan lebih panas daripada dalam dan selama stratifikasi akan terbentuk tiga strata air. Lapisan epilimnion, termoklin dan hipolimnion. |
|
|
|
|
|
Hipolimnion merupakan lapisan paling bawah. Di lapisan ini tidak dijumpai oksigen (O2) terlarut. Dan di lapisan ini pula tempat bersarangnya sedimen atau pengendapan seperti H2s (racun gas belerang), kandungan ferum dan mangan, fosfor dan nitrat (zat kimia yang berasal dari makanan ikan). |
|
|
|
|
|
Kasus di Danau Maninjau, yang memelihara ikan melalui keramba akan menambah beban pencemaran yang berasal dari sisa-sisa nutrient terutama fosfor dan nitrat. Kandungan fosfor dan nitrat pada makanan ikan tersebut sangat tinggi. Zat kimia berbahaya itulah yang akhirnya mengendap di lapisan hipolimnion. |
|
|
|
|
|
Pada saat terjadinya destratifikasi atau proses pembalikan atau pencampuran air antara lapisan bawah yang anaerobic dan toksik dengan lapisan atas yang kaya oksigen. Proses percampuran dapat terjadi karena pengaruh cuaca. |
|
|
|
|
|
Ketika terjadinya cuaca seperti angin kencang akhirnya dapat mencampurkan isi danau. Stratifikasi bawah akan naik ke atas dan sebaliknya lapisan atas akan turun ke bawah. ini merupakan pencampuran sempurna.Tidak menyebabkan kematian pada ikan. |
|
|
|
|
|
Karena cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terjadi, maka terjadilah upwelling percampuran yang tidak sempurna atau pembalikan arus yang kencang dan berhenti. Kemudian tidak sempat lagi berputar. Akibatnya lapisan bawah yang banyak mengandung racun naik ke permukaan. Dan tidak sempat lagi berputar, Seperti yang terjadi di danau Maninjau. |
|
|
|
|
|
“Siklus ini terjadi setiap tahun. Untuk itu harus ada upaya dari pemerintah untuk mengajak masyarakat memperhatikan siklus iklim. Ini juga pengaruh dari global warming. Sehingga siklus iklim susah ditentukan. Kalau dulunya kita bisa menentukan bulan-bulan apa saja terjadi hujan. Tapi sekarang tidak, siklus sekarang musim hujan berkurang 40 hari dan kemarau lebih 40 hari,” ujarnya. Masyarakat hendaknya diberikan penyuluhan tentang proses stratifikasi dan destritifikasi. Ketika masyarakat sudah paham, saat terjadi destritifikasi mereka bisa mengatur, seperti mengosongkan keramba. (cr2/hsn) |
|
|
http://www.padangekspres.co.id/content/view/27535/1/
|
|
From:
Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Defiyan Cori
Sent: Friday, January 09, 2009
8:53 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: racun
belerang di maninjau
On Thu, 1/8/09, Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> wrote: |
|
Sanak Nof dan Dunsanak di Palanta
Tarimo kasih buek sanak Nof nan rajin dan rutin ma infokan berita nan angek diranah minang, berita nan dibawah ko nampaknyo lai sajalan jo postingan ambo nan tadahulu yaitu menyangkut Tata Ruang Wilayah seputar Danau Maninjau yang perlu dikaji dan diTata ulang pemanfaatannya selama ini tidak terarah atau bahaso lainnya “basilemak peak” sajo dalam memanfaatan ruang baik di danau maupun daerah seputar Danau. Tentunya Penataan tata ruang ini harus dilindungi dengan payung Hukum agar bisa menjadi pegangan berkekuatan hukum bagi semua sector beserta instansi teknis terkait dalam pemanfaatan Danau baik dari segi ekosistim, Ekonomi dan Sosial.
Nah seperti postingan saya terdahulu menurut Pakar sesuai dengan judul berita ini masa cooling down/recovery atau masa Puso tersebut adalah 6 Bulan, inilah kesempatan untuk menata kembali peruntukan Danau Maninjau, Menurut pakar ekologi etika lingkungan hanya 1/20 keramba yang diperbolehkan (ini sedikit agak membingungkan kalimatnya diberita tersebut, mungkin 1/20 dari luas total Danau Maninjau) yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budi daya ikan keramba apung. Selama ini tidak pernah dikaji Pemda. Kedepan tentunya perlu dikaji dimana 1/20 ini diposisikan dengan melihat ekositim, karakteristik danau, daerah Aliran sungai, Topografi, kecendurngan iklim/cuaca (siklus iklim). Jadi penataan daerah tersebut (Deliniasi) perlulah kiranya dipercepat dan dilaksanakan dengan segera tentunya melibatkan para ahli dibidangnya, konsultan perencana, dinas/instansi teknis terkait.
Semoga ke depan dengan tertata lebih baik lagi peruntukan kawasan Danau mainjau dan sekitarnya tidak terjadi lagi hal seperti ini yang bukan sekali tapi telah berulang kali terjadi, paling tidak kejadian matinya ribuan Ton ikan hasil budi daya masyarakat di Danau Maninjau bisa diminimalisir dengan melihat fenemona alam selama ini serta memperhatikan keseimbangan ekosistim disekitar Danau.
Was-Jepe
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Nofiardi
Sent: Friday, January 09, 2009
8:58 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: racun
belerang di maninjau
|
Danau Maninjau Harus Dikosongkan, Eni: Butuh Enam Bulan Untuk Membersihkan |
|
|
|
|
|
Padang, Padek-- Para ahli menilai kematian ribuan ton ikan piaraan petani keramba di Danau Maninjau disebabkan kesalahan pelaksanaan kegiatan dan ditunjang faktor alami. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
....Faktor pelaksanaan berawal dari pengaturan tata ruang Danau Maninjau yang tidak selesai. Hal ini terlihat dari tidak adanya pengaturan kapasitas. Masyarakat bebas membuat keramba sebanyak-banyaknya. Sampai akhirnya danau dipenuhi keramba. “Padahal menurut etika lingkungan, proporsi untuk Danau Maninjau hanya 1/20 bagian saja keramba boleh dibudidayakan, sementara Pemda tidak pernah mengkaji hal itu. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sedikit tambahan mungkin bagi dunsanak di palanta ini yang sedang menangani masalah ini atau caleg dan partainya yang turun kelapangan ikut membantu dalam penanganan masalah ini disamping bersosialisasi dengan msayarakat memperkenalkan diri bersama aparat atau dinas terkait, saya hanya menyampaikan pengalaman saja sebagai ptaktisi lapangan dan bekerja paruh waktu dikonsultan perencanaan terutama tata ruang sebuah kawasan yaitu
Perlu nanti dibuat sebuah billboard atau papan peringatan seperti halnya misalnya kondisi asap atau kebakaran hutan dan lahan, memang jika papan indicator ini secara elektronik biayanya sangat mahal dengan peralatan serta teknologi terkini, tapi bisa juga dibuat nantinya diseputar danau mainjau atau pusat kosentrasi budi daya ikan keramba apung masyarakat yaitu papan peringatan bergambar setengah lingkaran dibagi beberapa warna tentang kondisi perairan Danau maninjau tentunya dengan mengukur secara berkala segala indicator kandungan oksigen terlarut, ketersediaan oksigen baik didasar danau, tengah dan permukaan air, zat-zat beracun yang terkandung dalam air dengan memperhatikan siklus iklim .Setelah dapat maka bisa diinformasikan ke masyarakat secara umum tentang situasi perairan di papan setengah lingkaran dengan beberapa warna lalu dipasang jarum (seperti jarum jam.)
Misalnya kondisi aman maka jarum menunjukan diwarna hijau, hati-hati di warna kuning, kondisi waspada atau bahaya Merah dengan adanya papan indicator ini dipasang ditempat-tempat strategis maka para nelayan secara dini bisa mengetahui situasi dan melakukan tindakan-tindak persiapan pengaman ikan-ikan dalam keramba jika situasi perairan dalam kondisi yang berbahaya. Tentunya dalam hal ini petugas penyuluh lapangan sangat memegang peran penting.
Wass-Jepe
Pandapek Eni Kamal (ahli perikanan laut) ko ruponyo samo jo pandapek urang Dinas Perikanan Agam (liek: http://www.padangkini.com/headline.php?sub=berita&id=3048). Kalau manuruik Profesor Hafrijal Syandri (inyo ko ahli budidaya perikanan air tawar jo rektor di UBH) mangecekan sabaliaknya, nan kini 13 ribu keramba apung alah terlalu banyak. Iko beritanya di bawah (bisa liek pulo di: http://padangkini.com/headline.php?sub=berita&id=3061).
Abo satuju jo Sanak Jepe, para ahli perikanan ko ditambah jo ahli lingkungan, geologi, pariwisata, dan tata ruang mesti diajak berseminar mancari solusi masa depan yang bagus untuk Danau Maninjau. Kalau dapek tambak ko bisa pulo dijadikan objek wisata (manangkok ikan lansuang panggang!).
Syof (38+/Padang)
Jumlah Petani Tambak di Danau Maninjau Melebihi Daya Dukung PadangKini.com | Kamis, 8/1/2009, 16:59 WIB PADANG--Pakar Perikanan Universitas Bung Hatta Profesor Hafrijal Syandri mengatakan, jumlah petani tambah di Danau Maninjau terlalu banyak dan sudah melebihi dayang dukung perairan tersebut.
"Saat ini setidaknya terdapat 13 ribu keramba disana, seharusnya hanya 1.450 keramba dengan syarat satu keramba isinya 300 kilogram ikan dengan jarak 50 meter dari pinggir danau," kata Hafrijal yang juga Rektor UBH, Kamis (8/1).
Menurut 'pakar bilih' tersebut, matinya ikan di Danau Maninjau karena adanya pergeseran air permukaan yang disebabkan hujan deras."Terjadi pembalikan massa air danau, di dasar yang banyak mengandung nitrat, sulfur dan amoniak naik ke permukaan sehingga perairan kekurangan oksigen.
"Kondisi diperparah dengan tingginya populasi ikan sehingga pakan dan kotoran juga meningkat," katanya.
Untuk mengantisipasi hal ini ke depan, Hafrijal menyarankan agar petani tambak tidak melakukan pemeliharaan selama musim hujan yakni November hingga Februari.
Selain itu ia juga menyarankan petani beralih memelihara ikan jenis lain seperti patin dan gurame dan tidak memelihara ikan mas dan nila.
"Sebab patin dan gurame cukup tahan dengan kondisi tersebut, kebetulan saya juga memelihara empat ton gurame dan tiga ton patin di Danau Maninjau, semuanya selamat, tidak mati," katanya.
Sebenarnya, ikan yang kekurangan oksigen dapat diketahui sehingga upaya penyelamatan dapat dilakukan secepatnya. "Kalau nafsu makan ikan berkurang dan mulai lari ke pinggir danau, berarti air kekurangan oksigen," kata Hafrijal. (oca) |
--- On Fri, 9/1/09, Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> wrote: From: Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> |
SanakSyof
Cocok bana tu..terintegrasi namonyo tu ndak..ado wisata alam lalu wisata kuliner..tangkok ikan iduik2 dikaramba…lalu dibaka..yo lomak tu mah sambia duduak-duduak di pondok2 sampiang karamba, mancaliak pamandangan Danau jo bukik2 nan mengelilingi danau, nan kito caliak salamo ko..dibalakang laman hotel atau penginapan lokasi parawisata..iyo karamba sansai sajo..nah kok di tata ulang setelah kejadian ko sesuai jo kajian para pakar tu..kan iyo rancak mah..jadi disiko istilahnyo ado kelimpahan….yo itu tadi daya dukung alam (danau) tidak seimbang lagi dengan jumlah keramba dan ikan….semua itu bisa dihitung kok oleh pakar….tapi kok dibaco berita ko Pak Syof…ikan Pak Harrijal 4 Ton Gurame..3 Ton Patin ndak mati..bisa selamat ikan Prof kito ko yo..berarti kerugian nan diberitakan 100 Milyar labiah tu..ikan Pak Prof indak masuak etongan mah..he..he..lumayan juo ko mah ko rato2 hargo per Kg 8 ribu..lai salamaik modal Pak Prof sekitar Rp 56 Jutaan…paralu kironyo Pak Prof Hafrijjal memberikan Ilmunya bagi masyarakat mah baa caronyo menyelamatkan ikan bilo kondisi ko tajadi
Manuruik ambo berdasarkan pengalaman praktis dilapangan..kok iyo ikan tu mati dek karano oksigen kurang..onde itu yo sio2 bana rasonyo
apo sebab..ilmu manantukan kadar oksigen di aia ko indak bana rumik2 do..artinyo sajak dini malah menurut berita Sanak Nof ko (Padangkini) kecek Pak Prof kito, indicator perilaku ikan sajo bisa diketahu indak paralu alat-alat canggih serba digital dan komputerisasi
Sebenarnya, ikan yang kekurangan oksigen dapat diketahui sehingga upaya penyelamatan dapat dilakukan secepatnya. "Kalau nafsu makan ikan berkurang dan mulai lari ke pinggir danau, berarti air kekurangan oksigen," kata Hafrijal
Antahlah..apa Kabar Penyuluh Perikanan di Maninjau ?
Wass-Jepe