RE: [R@ntau-Net] ROKOK (PENGALAMAN SAYA)

32 views
Skip to first unread message

Jupardi

unread,
Jan 28, 2009, 12:19:53 AM1/28/09
to Rant...@googlegroups.com

Rrokok (PENGALAMAN SAYA)

 

 

 

 

Waalaikumsallam Wr Wb

 

Mamak Tan Lembang

 

Sebuah pengalaman pribadi yang menarik tentang rokok (merokok) dari ketergantungan dan kecanduan bisa berhenti total ini sangat luar biasa dan meinspirasi saya untuk lebih punya kemauan dan niat untuk segera berhenti merokok saya juga seorang perokok berat dulunya, sekarang  sudah mulai berenti, minimal berenti beli dulu he..he..artinya masih suka mengisap sebatang-sebatang, la iya lah masak ngisap rokok sekali 5 batang ya Mak, intinya saya sebisa dan semaksimal mungkin menguranginya saat ini seperti yang Mak lembang bilang habis makan, bamanuang di bilik termenung, ngopi, kumpul sama temen, godaan untuk meraih dan mengisap rokok sungguh berat sekali. Saya masih merokok tapi 1 bungkus rokok filter menthol merek terkenal isi 20 batang untuk 3 hari, bahkan semaksimal mungkin saya usahakan habis dalam 4 hari atau rata-rata 4 batang perhari.

 

Perlahan tapi pasti saya harus bisa…saya harus bisa..saya harus punya niat yang sangat..sangat kuat agar segera berhenti merokok terlepas halal, makruh dan haram merokok, yang jelas faktanya berbahaya buat kesehatan kita, apalagi setelah membaca postingan Mak Tan lembang ini dari situasi merokok yang sangat “ekstrim” (kecanduan) sampai bisa berenti  total merokok dan saya merasakan ITU TIDAK MUDAH.

 

Nah sejarah saya mulai merokok begini

 

Kelas 2 SMP iseng saya mencoba rokok daun nipah dan daun enau para mamak-mamak, tetuo dikampung tanpa tembakau bersama teman-teman sebaya ketika liburan, orang tua saya sangat marah sekali jika saya ketahuan merokok walau iseng dengan daun nipah atau enau tanpa tembakau. Tapi teman-teman sebaya saya dikampung kala itu ketika kami bermain disawah memancing dan melukah belut atau bermain alang-alang darek ditengah padang ada saja yang membawa rokok daun nipah dan enau itu.

 

Rasanya rada-rada sepat dan pahit, asapnya dihirup bikin batuk, lucunya karena “slah” bagaimana layaknya merok belum saya dapat setelah rokok nipah itu dibakar lalu diisap asapnya yang dalam mulut agar keluar di hidung (gaya merokok kelihatan seru tentu keluar di hidung, masa ditelinga sih..kalo itu main sulap namanya he..he..he) ya tentunya asap ditelan bikin saya batuk nan mata berair. Tapi lama-kelamaan saya dapat slah merokok “yang benar” keluar di hidung tanpa ditelan dengan mulus dan tidak terbatuk-batuk lagi.

 

Rokok Nipah kurang seru nampaknya  dari segi rasa sepet dan pahit, lalu saya coba juga sama teman-teman memelintir daun enau tersebut dengan tembakau yang kami curi dari “kampia pandan” tempat daun enau dan tembakau milik tetua kampung. Ada perubahan rasa disini pertama kali saya bersentuhan dengan candu tembakau tersebut yaitu Nikotin, asap semakin banyak dan merokok semakin kelihatan gaya dengan asap mengepul berpulun-pulun keluar hidung dan mulut. Tembakau ini berbaun sengak yang khas dan keras membuat saya batuk-batuk dan kepala pusing.

 

Ketika disekolah kawan-kawan saya sebaya kelas 2 SMP sudah banyak yang merokok apalagi kalau sudah kemping kurang sreg kalau tidak merokok, semakin sembunyi-sembunyi merokok agar tidak kelihatan guru maka semakin “syahdu” tantangannya begitu juga ketika merokok disuatu tempat di warung-warung pojok diluar sekolah, maka kami berkumpul dibelakang warung dan memang dasar yang punya warung biar dagangannya rokoknyo laku dijual maka tempat sembunyi-sembunyi dibelakang warungnya dengan kursi palanta disediakannya. Penjaga warung sekaligus sebagai “intel” kami jika sekiranya ada guru yang lewat atau mampir ke warung pojok sekolahan kami.maka yang punya warung mengode kami “Ada guru..ada Guru..datang”  begitu teriakan penjaga warung pada kami dibelakang yang sedang asyik maksyuk merokok bareng

 

 Saya berada dalam kelompok siswa berkumpul dibelakang warung pojok ketika jam istirahat sekolah dengan acara yang bertajuk “Merokok bareng yukkk…..ayukkkk..siapa takut” Karena uang jajan kami terbatas yang seharusnya untuk membeli lontong, sate dan kue-kue enak-enak di kantin dalam sekolah, akhirnya uang saku tersebut harus rela berbagi untuk membeli rokok, kala itu rokok masih bisa dibeli ketengan alias perbatang. Rokok yang kami isap bermerek commodore. Slah merokok telah saya pelajari dari daun nipah dan enau yang saya isap ketika dikampung dulu, tentunya isapan rokok commodore ini begitu syahdu saya tarik.”.waw  lah kaji manurun mah ..lah bantuak urang gadang atau ka gadang-gadangan waden marokok jo konco2”  so easy everything…sudah bisa menikmati racun tembakau tanpa terbatuk-batuk lagi.

 

Semenjak itu saya sudah kecanduan merokok, sementara orang tua laki-laki dulunya juga merokok ketika awal-awal menikah dengan Ibu saya, tapi Ibu saya yang sangat cerewet dan sangat anti dengan asap rokok, bisa memaksa Ayah saya berenti merokok  ketika saya masih dalam rahim ibu saya.Bagi ibu saya merokok itu perbuatan yang sia-sia, boros, merugikan kesehatan diri dan orang sekitarnya yang ikut secara tak lansung menikmati asap rokok yang sedang kita isap, pokoknya Ibu saya sangat benci sekali dengan rokok dan tidak menaruh “respek” jika ada dunsanak-dunsanaknya yang bertamu ke rumah dia mohon maaf jangan merokok di dalam rumah jika saudara dekat maka berhamburan segala nasihat, ceramah dan marahnya pada sang perokok. Ibu saya pantang menyediakan asbak di ruang tamu sampai saat ini…jika ada tamu atau kenalan jauh yang berkunjung jika berada diruang tamu ada gerak dari sang tamu ini merokok, maka Ibu saya dengan sopan menegurnya supaya jangan merokok.

 

Nah sepandai-pandainya tupai melonjat diatas pohon kelapa pasti sekali-kali akan jatuh juga begitu kata pepatah, hal ini saya alami sepandai-pandainya saya menyembunyikan agar kelihatan anak yang manis jauh dari asap rokok di depan Ibu saya, akhirnya ketahuan juga saya sedang mencoba atau diseret kepada kecanduan merokok, ini disebabkan saku baju sekolah saya ada rimah-rimah tembakau ketika menyimpan rokok yang dibeli ketengan. Betapa marahnya Ibu saya, berhamburanlah segala kata-kata marah dan nasihatnya bahkan sampai menangis segala. Saya sedikitpun tidak membatah diam seribu bahasa dan berjanji didepan beliau tidak akan merokok lagi.

 

Semenjak ketahuan sama Ibu saya dan juga mendapat kabar berita dari kenalannnya yang pernah memergoki saya merokok sama teman-teman dilapau-lapau seputar seputar daerah rumah saya, saya mulai “berhati-hati” sebisa mungkin jangan saya ketahuan merokok sama Ibu saya baik dengan barang bukti berupa tembakau dikantong baju atau jangan sampai kepergok sama sanak saudara serta kenalan dekat Ibu saya. Janji didepan Ibu saya langgar, dan saya sudah mulai kecanduan merokok bersama teman-teman sebaya yang se “ide” untuk mulai sok gaya dan kelihatan “tampil beda” jika sudah merokok dikelas 3 SMP.

 

Saya SMA merokok semakin aktif walau masih tetap sembunyi-sembunyi teutama dari pantauan Ibu saya, tapi apapun ceritanya pasti Ibu saya tahu kalau saya habis merokok dengan berbagai barang bukti, mulai kotak rokok, kotek api, tembakau dalam saku baju, bau nafas, laporan orang yang diperjayanya, laporan dari adik perempuan saya, seperti biasa saya dimarahin, diceramihin dan dinasehati, mulut ibu saya tak henti-hentinya cerewet dalam masalah rokok ini, cerewetnya seperti petasan cabe rawit yang disulut renteng..tet…tet..tet…memarahi saya.

 

Apaboleh buat racun nikotin tersebut sudah bersatu dan bersenyawa dengan tubuh saya, menginjak kelas 3 SMAboleh dikatakan saya sudah menjadi perokok “profesiona”, kala itu rokok saya beralih ke kretek yaitu Gudang Garam Filter atau dikenal dengan sebutan Gepe..ya rada-rada seperti initial saya ya nama rokok ini “Jepe”. Ibu saya seperti biasa tidak pernah pasrah cerewet dan menasehati saya, kadang-kadang saya berlagak seperti “anak manis” yang berjanji tidak merokok lagi hanya sekedar “petawasn cabe rawit” nya agar jangan disulut renteng didepan saya.

 

Akhirnya kebebasan itu datang, saya merantau kuliah di Bogor, cerewet dan nasihat Ibu saya dulu berhamburan segala marah, cerewet dan nasihat dari Ibu saya, maka ketika merantau tidak ada suara lagi dari Ibu saya,  hanya diam dan bisu segala nasehat dan marah ibu saya tersebut melalui sepucuk surat.Tapi Ibu saya di Padang sudah merasa yakin kalau saya sekarang di Bogor begitu bebas dan sangat leluasa merokok tanpa kwatir lagi setiap tarikan/isapan rokok ada yang “memata-matai”, apalagi jaman dulu, sekarang juga ya, kalau sudah Mahasiswa tidak ada larangan lagi dari kampus atau dosen merokok kecuali sedang mengikuti kuliah, malah ada beberapa dosen yang perokok berat mempersilahkan mahasiswa yang merokok dengan catatan

Ambil posisi dibelakang diruang terbuka atau tidak ber AC

 

 

Saya mendapat kebebasan tak terkira ketika Mahasiswa untuk merokok, apalagi tinggal diasrama yang boleh dikatakan hari “nggak ada malamnya” alias ngalong mulu, riungan, kong kow kong kow di setiap koridor asrama yang berlantai tiga mulai main gaplek, truf, bridge, catur, dang dutan atau sekedar ya ngopi bareng (satu gelas besar rame-rame) sambil merokok, nggak fanatic sama satu merek rata-rata asal kretek hajar.

 

Yang kasihannya dulu para mahasiswa dari daerah ketika SMA tidak pernah merokok eh..malah jadi kecanduan merokok. Pokoknya hari-hari penuh dengan asap rokok, seandainya sedang tidur masih bisa mengisap rokok dipastikan diujung bibir terselip rokok yang sedanmg dibakar. Mengenai rokok ini ada humor atau canda  ketika saya di asrama dulu dari seorang kawan.

 

Saat saya akan menyudut api disebatang rokok Ji  Sam Soe, datang temen saya dan berkata

“Jepe mau tahu cara berhenti rokok yang jitu…saya jamin” kata teman saya yang perokok berat ini

 

“Emang elu udah brenti ngerokok” jawab saya

“Udah sih ..berkat kiat berenti merokok yang jitu ini” jawab dia ragu-ragu

“Boleh juga tu ..kita jitunya” saya penasaran

 

“Lu bakar aja deh ujung pangkal jisamsu, gue jamin elu berenti merokok, ya gimana juga lagi wong ujung pangkalnya ada bara api..lu mau isap juga..jontor..jontor tu bibir elu kebakar” Teman saya ini kasih kiat berenti merokok

 

“Ehhh..lu lagi..herey wae..maneh” saya menimpali kiat konyol teman saya ini

 

Lalu teman saya ini mengambil rokok Jisamsu yang akan saya sulut ini

 

“Sini..kalo lu nggak perjaya..nah ini gue baker ujung pangkalnya..lu mo isap..isap gih” sambil menyodorin kesaya Rokok Jisamsu yang ujung pangkalnya terbakar membara

 

“Ah..dasar elu…suka usil aja” sedikit kesal itu rokok dibakar ujung pangkal

 

“Ahaaa..gini aja ya..gue patahin tengah rokok ini, nah separo buat elu separo buat gue”..temen gue ini ketawa ngakak sambil memberikan separo rokok ji sam su yang terbakar ujungnya

 

Jadi deh..kami merokok nikmat Sebagero alias Sebatang Bage Loro…

Tamat kuliah, memasuki dunia kerja rokok tidak lepas dalam kehidupan sehari-hari saya memang saya tidak perokok berat yang katanya 3 bungkus sehari, tapi saya rata-rata 1 bungkus satu hari, kadang-kadang bisa lebih satu hari menghabiskan sebungkus rokok, ini tergantung situasi saja. Saya memang paling tidak bisa merokok dalam keaadaan perut lapar/kosong dan haus, begitu juga saat di dalam Bis atau angkot. Suasana yang paling nyaman bagi saya merokok setelah makan lalu ditemanin secangkir kopi panas, di bilik termenung, santai diberanda rumah, lagi kumpul sama teman, setelah makan dan minum di kantin, kafe atau rumah makan., lagi suntuk atau lagi bekerja pikiran atau ide mentok perlu break sejenak dengan sebatang rokok, nah biasanya untuk memulai kerja lagi bersemangat dan muncul ide-ide yang tadinya belum terpikirkan.

 

Pernahkah saya berenti merokok ?...pernah itu tak lain tak bukan ketika dalam keadaan sakit seperti demam, flu batuk, sakit gigi, nah ini jika anda perokok jangan coba-coba dalam keadaan sakit gigi merokok..nggak ada enaknya, kosentrasi menikmati sakit gigi memang lebih hebat dari pada nikmatnya candu tembakau. Akibat obat antibiotic dari dokter dan saya dalam keadaan sakit tentunya segala sesuatu dimulut terasa pahit maka berhenti dulu merokok. Kesehatan pulih selera makan sudah mulai enak ya merokok lagi.

 

Pernah dulu karena saya dicerewetin istri dan saya punya niat juga untuk berhenti merokok sempat berhenti merokok selama 3 bulan, tapi usaha dan niat saya ini menjadi sia-sia karena saya mulai lagi mencoba menyentuhnya ketika bertugas dilapangan (Camp) jauh dari anak istri, akhirnya  darah saya menerima kembali nikotin dan terlalu mudahnya bersatu kembali alias kecanduan lagi merokok.

 

Sekarang saya memang telah menguranginya, intinya saya bisa menahan rokok untuk beberapa jam, tidak mau merokok di depan atau lagi kumpul sama anak istri, bisa menghargai teman dan kolega yang tidak perokok saat santai-santai ngobrol atau kumpul, tidak merokok di ruang be AC walau seperti kata Mak Lembang. Keinginan itu muncul memang setelah makan apalagi masakannya pedas, biasanya saya mengisap sebatang rokok ditempat terbuka atau jika dirumah saya paksakan merokok sambil duduk termenung di bilik termenung.

 

Rokoknya pun jarang saya tarik secara dalam, hanya sekedar mampir dimulut dan sedikit asap tipis keluar dari hidung..he..he itu mah tetap aja yah merokok kena candu nikotin tembakau, jenis rokoknya yang berkadar nikotin rendah dan menthol jika selesai diisap sebatang cukup membantu saya untuk tidak menambah sebatang lagi karena rasa menthol asap rokok ini sedikit meredam keinginan merokok lagi.

 

Sebagai contoh saya bertemu dengan Pak Saaf lebih 4 jam saya bersama beliau, tidak sebatangpun rokok saya isap, walau didalam tas saya ada sebungkus rokok menthol merek terkenal yang saya beli tiga hari yang lalu dan masih tersisa separohnya. Bukan saya tidak punya kesempatan meokok ketika dengan beliau, disamping menghargai beliau yang tidak merokok saya juga bisa menahan diri.

 

Saat saya menulis ini sejak bertemu dengan Pak Saaf (Selasa) jumlah rokok tersebut 10 batang, sekarang masih tersisa 8 batang berarti dalam 24 jam yang lalu saya mengisap rokok menthol tersebut  2 batang yaitu malam tadi sebatang, barusan sebatang lagi ketika selesai mengopi pagi di kantor dan itu saya lakukan di bilik termenung..

 

Terlepas dari Fatwa MUI, bagi saya pribadi memang ada niat untuk BERHENTI TOTAL MEROKOK, saya hanya melihat dari sisi kesehatan, memang tidak ada sehat-sehatnya merokok itu dipandang dari sisi manapun, mudharatnya sangat mengerikan. Itulah sekedar berbagi pengalaman tentang saya merokok, salut buat Mamak Tan Lembang yang bisa berhenti merokok, dari seorang pencandu rokok bisa berhenti total dan itu sangat tidak mudah

 

Wass-Jepe/28/01/09

Mak Tan Lembang tulisan pengalamannya berhenti merokok saya copy paste dan bagian dari pengalaman saya ini. Thanks atas berbagi pengalamannya semoga bermanfaat.

 

 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Muhammad Dafiq Saib
Sent: Tuesday, January 27, 2009 10:26 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] ROKOK

 

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

 

Pangalaman pribadi sabanano jo rokok.

 

Wassalamu'alaikum

 

Lembang Alam

ROKOK

 

Empat puluh tahun lebih yang lalu, ketika menginjak remaja, masa pancaroba itu menggiringku kepada sebuah kebiasaan tidak elok. Kebiasaan merokok. Dimulai dengan satu dua sedotan (sairuik duo iruik) sebagai jawaban untuk rasa ingin tahu dan ingin coba-coba. Dilakukan bersama kawan-kawan seumur, yang sama-sama mantiko langek. Diawali dengan terbatuk-batuk sampai hampir muntah. Tapi hebatnya, entah karena pengaruh teman, entah memang sudah berjodoh akhirnya sampai kecanduan. Aku mulai kecanduan rokok ketika masih sangat belia, berumur 14 – 15 tahun di tahun 1965. Ternyata merokok itu nikmat. Merokok yang paling nikmat adalah sesudah makan dan... di kakus, ketika buang hajat. Nikmat nian.

 

Tentu saja aku tidak dibiarkan bebas begitu saja untuk merokok kalau di rumah. Ibu pasti akan sangat marah ketika beliau tahu aku mencoba-coba merokok. Jadi semua urusan merokok itu harus dilakukan di luar rumah. Tidak dilakukan dekat orang tua yang pasti akan melarang atau yang pasti akan melaporkan kepada ibuku. Itu pada awal-awalnya.

 

Merokok di hadapan orang dewasa kami lakukan di arena mengirik padi di sawah. Di lingkungan seperti itu kami seolah-olah mendapat izin, alias tidak ada yang melarang. Bahkan ada di antara mak etek – mak etek itu yang sengaja menawari kami rokok, sementara mak dang dan mak tangah mendiamkan saja. Kamipun berkepas-kepus menikmati asap nikotin itu. Aku berani menyedot asap itu dalam-dalam, sebelum menyemburkannya melalui hidung. Wuih, hebatnya.

 

Tapi, disanalah candu itu mulai mencengkeram.

 

Ketika sudah kecanduan, tentu harus membeli rokok. Tidak mungkin mengharapkan pemberian orang terus menerus. Dari mana aku dapat uang? Ada tiga macam sumber uang untuk pembeli rokok. Pertama dari menjual telor ayam. Aku mempunyai beberapa ekor ayam, yang memang dilabel sebagai ayam milikku sendiri, di antaranya keturunan ayam  hadiah ketika berkhatam Quran beberapa tahun sebelumnya. Ibuku memang membiarkan saja ketika aku menjual telor-telor itu untuk uang jajan. Sayangnya, ayam kampung bukanlah petelur yang produktif.

 

Sumber uang kedua adalah dari hasil menganak ikan. Menahankan puluhan pancing di batang air di sore hari lalu di ambil di pagi hari. Hal ini hanya mungkin dilakukan di akhir pekan. Hasilnya kadang-kadang lumayan. Sejerat ikan limbek dan belut yang dihasilkan bisa bernilai beberapa bungkus rokok. Yang ketiga sedikit nyerempet berbohong. Yaitu memancing ikan di tebat di belakang rumah. Ada mak tuoku di sebelah rumah yang sering menyuruh kami, aku dan adik-adikku, memancing ikan. Hasil pancingan selalu beliau bagi dua. Separo untuk yang memancing dan separo untuk beliau. Memancing ini boleh dilakukan kapan saja. Bahagian beliau biasanya dikeringkan dengan dijemur. Ikan kering itu bisa beliau hadiahkan kepada anak-anak beliau ketika mereka pulang kampung. Ikan bahagianku, aku bagi dua. Separonya pula aku serahkan ke ibu dan separo yang lain aku jual diam-diam. Selalu saja ada etek-etek yang tidak punya tebat bersedia membelinya.

 

Jadi aku cukup aman untuk bisa membeli rokok sendiri.  Dimulai dengan membeli sebatang-sebatang. Meningkat menjadi lima batang-lima batang dan seterusnya. Kehebatanku merokok semakin tidak terbendung. Meskipun berkali-kali aku dimarahi ibuku, yang sering menemukan remah-remah tembakau di kantong bajuku. Sampai akhirnya, sepertinya beliau capek sendiri memarahiku. Apalagi ada seorang inyiak yang menawariku rokok di hadapan beliau, seolah-olah memberikan pembelaan kepadaku untuk terus merokok. Jadilah aku secara resmi diakui saja sebagai perokok dan aku mulai berani merokok di rumah.

 

Waktu ujian akhir SMP, aku berbekal sebungkus rokok yang disembunyikan hati-hati sekali. Di sekolahpun banyak teman-teman yang sudah kecanduan rokok. Di saat istirahat di antara dua ujian, kami menyepi ke parak betung  di belakang sekolah untuk menghisap.

 

Setelah tamat SMP aku dibawa kakak sepupuku merantau ke Rumbai untuk melanjutkan sekolah disana. Kakakku ini bukan perokok  dan sangat benci dengan asap rokok. Aku terpaksa berhenti merokok untuk beberapa hari. Tapi di sekolah, ternyata ada pula kawan-kawan yang pecandu rokok. Mereka merokok di pemberhentian bus di luar pekarangan sekolah. Aku bisa merokok lagi. Seringkali kakak sepupuku itu menanyai apakah aku tadi merokok karena katanya badanku bau rokok. Aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku duduk dekat orang merokok di bus panjang yang aku tompangi dari Rumbai ke Pakan Baru. Biar tidak seleluasa di kampung, aku tetap bisa merokok secara sembunyi-sembunyi.

 

Lama kelamaan kakakku itu tahu juga bahwa aku tetap merokok. Dia selalu menasihatiku untuk berhenti. Tapi berhenti merokok itu sudah semakin sulit.

 

Begitulah seterusnya sampai aku kuliah di Bandung. Di ruang kuliah kami biasa merokok dan hal itu sah secara resmi. Seingatku tidak ada satupun dosen yang melarang kami merokok. Begitulah sampai aku bekerja. Aku tetap seorang perokok kelas menengah. Aku menghabiskan satu slof rokok putih dalam seminggu.

 

Pencandu rokok sangat bebas dan merdeka ketika itu. Kita bisa merokok dimana saja dan kapan saja. Di pesawat, di kendaraan umum seperti bus atau kereta api, di kantor-kantor, di hotel-hotel. Ada temanku yang mengoleksi asbak dari berbagai hotel berbintang. Di dalam bus Jakarta – Bandung, di bulan puasa, ketika masih belum masuk waktu maghrib tidak ada orang yang merokok. Tapi begitu datang waktu berbuka banyak penumpang yang berbuka  dengan menyalakan sebatang rokok. Termasuk aku. 

 

Di kantorku di Balikpapan, seorang teman menghadiahiku sebuah asbak besar. Bukan karena sinis, tapi karena solidaritas sesama pecandu rokok. Sekarang orang mengatakan dilarang merokok di ruangan ber AC. Dulu kami mengomentari larangan seperti itu sebagai takhyul. Tidak ada bukti apa-apa bahwa merokok di ruangan ber AC merusak AC.

 

Rokok merek apa yang aku hisap? Mula-mula berkenalan dengan rokok di kampung, aku menghisap rokok Kansas. Ketika kuliah di Bandung aku beralih ke Commodore berfilter. Kemudian beralih ke Mascot. Terakhir beralih ke Dunhill.

 

Kenapa beralih atau berganti rokok? Di Bandung rokok Kansas tidak populer. Seringkali aku mendapatkan bahwa rokok itu sudah usang. Asapnya terasa tengik dan menyakitkan hidung. Commodore lebih populer dan kebanyakan teman-teman mahasiswa pecandu rokok menghisapnya. Aku mulai familiar dan akhirnya menyukai merek itu.

 

Selama pengalamanku merokok, ada masa-masanya, rokok itu usang semuanya. Dimanapun aku membelinya rokok itu tidak enak rasanya. Hal ini sangat menjengkelkan. Dan mubazir. Karena rokok yang tidak enak itu, baru dihisap satu dua kali tarikan langsung menimbulkan rasa tidak enak sehingga langsung dibuang. Kalau sudah begitu, aku beralih ke rokok keretek untuk sementara. Meskipun aku sebenarnya tidak terlalu menyukai rokok keretek. Setelah berlalu beberapa hari atau kadang-kadang beberapa minggu aku coba kembali merek sebelumnya. Ternyata sudah kembali yang baik, yang tidak apak, yang tidak usang.

 

Suatu ketika rokok Commodore usang itu hadir berulang-ulang. Hal ini jelas sangat menjengkelkan. Itulah sebabnya aku beralih ke Mascot.  Ketika aku ditugaskan ke Perancis pertama kali untuk beberapa bulan aku membawa bekal beberapa slof rokok Mascot. Tentu tidak mencukupi untuk waktu lama. Lalu aku pindah ke merek Dunhill. Hal itu terjadi di tahun 1983.

 

Aku jadi penghisap Dunhill sampai tahun 1988 ketika aku untuk kedua kalinya berada di Perancis selama dua tahun. Lalu terjadi pula fenomena rokok usang. Dimanapun aku beli, semua rokok Dunhill itu usang dan apak. Setiap kotak yang dibuka, baru satu batang dicoba sudah ketahuan bahwa rokok itu tidak enak. Bungkus itu langsung dibuang. Beli lagi yang baru. Begitu lagi. Di buang lagi.

 

Di Perancis tidak ada rokok keretek untuk transisi (setiap kali mengalami beredar rokok usang, aku pindah sementara ke keretek Dji Sam Sue). Aku uring-uringan. Tiba-tiba tercetus keinginan untuk berhenti merokok.

 

Istriku mentertawakan karena dia tidak percaya aku akan sanggup berhenti merokok. Banyak sekali orang yang sudah menasihatiku untuk berhenti merokok, tidak seorangpun yang berhasil. Lalu sekarang aku akan berhenti? Dia tidak sedikitpun percaya.

 

Sepertinya aku tidak punya pilihan. Berhari-hari aku mencoba membeli rokok dan ternyata tetap busuk. Tetap rokok usang yang menyengit menyakitkan hidung. Sampai akhirnya aku berhenti mencobanya.

 

Berhenti sehari. Dua hari. Sampai seminggu. Bukan sesuatu yang mudah dan enteng. Aku sangat uring-uringan. Tapi mau mencoba lagi, khawatir karena sepertinya akan mendapatkan rokok tengik lagi. Jadinya tidak jadi membeli. Akhirnya sampai sebulan, tanpa rokok. Wah, kok terasa enak juga? Paling tidak bau rumah tidak lagi bau rokok. Bau baju tidak lagi bau rokok. Bau mulut tidak lagi pahit bau rokok. Berhenti itupun berketerusan. Sampai dua bulan. Sampai tiga bulan. Aku hanya ingat Agustus 1988 adalah saat terakhir aku menghisap rokok.

 

Dan aku mewanti-wanti diriku. Sekali saja aku mencoba lagi sebatang rokok, candu itu pasti kembali. Jadi aku benar-benar tidak mau lagi menyentuh rokok. Sampai sekarang. Meskipun sampai sekarang, ketika mencium asap rokok Dunhill yang enak aku masih bisa mengenalinya. Itu dulu rokokku. Tapi tetap tidak mau mencobanya lagi. Ingat! Kataku kepada diriku. Sebatang saja kau coba kau akan ketagihan lagi.

 

Ternyata indah sekali terbebas dari kecanduan rokok. Ternyata sungguh zalim ketika dulu aku seorang perokok. Di dalam mobil berlima dengan anak-anakku yang masih kanak-kanak, aku tetap merokok dan merasa sudah cukup memberi perhatian untuk istri dan anak-anakku dengan sedikit membuka jendela mobil. Di kamar hotel ketika kami berlibur bersama-sama, ruangan kamar itu berawan oleh asap rokokku. Mereka jadi korban sebagai perokok pasif.

 

Dan aku menzalimi diriku sendiri di bulan puasa. Berhenti merokok di siang hari lalu membalas dendam dengan merokok sebanyak-banyaknya di malam hari. Berbuka puasa dengan sebatang rokok. Memulai puasa di akhir sebatang rokok. Terkantuk-kantuk berlebihan di siang hari karena tidak merokok. Berkepul-kepul ketika mendengar ceramah Ramadhan. Rokok, rokok, rokok. Tiada masa tanpa rokok.

 

Aku benar-benar bersyukur karena terlepas dari belenggu rokok.

 

 

                                                                        *****


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages