Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai

670 views
Skip to first unread message

Nofend Marola

unread,
Oct 21, 2008, 6:50:18 AM10/21/08
to Rant...@googlegroups.com
Ulasan Kanda Suryadi di Padang kini ko, nampaknyo alun dikabakan ka Palanta.
Da Syof, ambo kopi sadoalahnyo dar padang kini da.
 
Salam
 
Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai

Oleh Suryadi

PadangKini.com; Minggu, 19/10/2008, 18:06 WIB

Kompas (Kamis, 16/10/2008) memberitakan hasil diskusi tentang versi Bahasa Indonesia terbitan kedua (yang pertama 1992 oleh INIS) buku Christine Dobbin yang sudah cukup klasik: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Perang Padri (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). Buku itu juga didiskusikan lagi di Padang tanggal 18 Oktober ini.  

Diskusi buku itu adalah semacam kelanjutan dari polemik tentang Perang Paderi (1803-1837) yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Salah seorang penggagas polemik itu adalah Basyral Hamidi Harahap (BHH), penulis buku Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, September 2007). Dalam buku itu penulisnya antara lain mengeritik Tuanku Tambusai (1784-1882), Pahlawan Nasional pertama asal Riau berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 071/TK/Tahun 1995. 

Polemik mengenai Perang Paderi yang mencuat lagi, dengan BHH sebagai salah seorang motor penggeraknya yang utama, pada awalnya dipicu oleh republikasi buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) yang edisi pertamanya (1964) telah dikritisi Hamka (1974).

Bersamaan dengan itu muncul pula petisi yang menggugat gelar kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol yang dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang di daerah itu (lihat: http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html).

Kini tampaknya polemik itu maju selangkah lagi: judul laporan dalam Kompas tanggal 16 Oktober 2008 itu cukup kontroversial: "Korban Perang Paderi Minta Pelurusan Sejarah". Dengan demikian, tersurat klaim dari anak cucu korban perang yang terjadi hampir duaratus tahun yang lalu itu bahwa sejarah Perang Paderi yang sudah diketahui umum selama ini "belum lurus" untuk tidak mengatakan tidak benar. 

Tulisan singkat ini mengulas sedikit pandangan BHH dalam Greget Tuanku Rao (GTR) mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai, yang dapat ditarik benang merahnya dengan diskusi yang berlangsung di Medan seperti yang diberitakan Kompas itu.

Walaupun isi buku ini ‘menjalar' ke sana-sini, kurang terarah, dan lemah dari segi teori dan metodologi, tapi isinya yang memang penuh greget itu jelas berfokus kepada kritik terhadap kekejaman dan kebrutalan Kaum Paderi ketika mereka melakukan invasi ke Tanah Batak. Invasi itu telah ikut menyengsarakan nenek moyang BHH sendiri. Dalam GTR BHH mempertanyakan patriotisme dan kepahlawanan Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol (hlm.106-7). 

Tuanku Tambusai dan ironi Perang Paderi

Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis kepada masyarakat di tiga daerah: Sumatera Barat, Sumatera Utara (Tapanuli dan sekitarnya), dan Riau (Rokan dan sekitarnya). Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang saling berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan saudara-saudaranya dari Tanah Batak. Mulai bulan April 1821 Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena "diundang" kaum Adat. Selanjutnya perang itu adalah perlawanan mengusir penjajah Belanda. 

Kepahlawanan Tuanku Tambusai lebih dihubungkan dengan episode akhir Perang Paderi. Setelah Benteng Bonjol jatuh pada 17 Agustus 1837 (lihat Teitler 2004), medan perang beralih ke daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusatnya di Benteng Dalu-dalu. Tuanku Tambusai, rekan seperjuangan Tuanku Imam Bonjol, ternyata tidak mau menyerah kepada Belanda. Ini menandakan bahwa sistem organisasi Gerakan Paderi bukan mengenal hirarki kepemimpinan dan rantai komando. 

Belakangan muncul kontroversi mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai setelah BHH menulis dalam GTR bahwa dalam mengembangkan ajaran Wahabi di daerah Rokan dan Mandailing dan sekitarnya, panglima Paderi itu bersama para pengikutnya telah membunuhi banyak orang, tak terkecuali para pengikut Datu Bange dari Simanabun. Datu Bange adalah salah seorang kepala suku di Mandailing yang gigih melawan Tuanku Tambusai (GTR, hlm. 54-76). 

BHH menilai Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol tidak patriotis. Orang yang tidak patriotis tentu tidak pantas menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, Tuanku Imam Bonjol mengatur sendiri penyerahan dirinya kepada Belanda (ini berdasarkan tafsirannya terhadap Naskah Tuanku Imam Bonjol [lihat Sjafnir Aboe Nain, 2004]). Tuanku Tambusai yang melarikan diri ke Malaysia, meninggalkan para pengikutnya, karena takut ditawan atau dibunuh Belanda, juga dianggap pengecut. 

"Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? [...] Apakah seorang yang [...] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan [...] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri pantas menjadi pahlawan? [...] Seorang patriot sejati, sekalipun terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai titik darah penghabisan", tulis BHH dalam GTR (hlm.106). 

BHH adalah salah seorang keturunan Datu Bange. Faktor genealogi inilah yang melatari kritiknya yang penuh emosi (yang mewakili kaumnya) terhadap Tuanku Tambusai dalam GTR. "Pertanyaan ini diajukan oleh orang yang leluhurnya adalah korban kekajaman Tuanku Tambusai, ialah Datu Bange, Raja Hurlang, Bandaro dan seluruh kerabat dan rakyat Simanabun", tulisnya dalam GTR (hlm. 107). Kalimat-kalimat subjektif dan emotif seperti itu segera menghilangkan kesan ilmiah GTR. 

Pelajaran yang dapat dipetik

Setidaknya ada dua hal penting yang dapat disimak dari polemik ini: pertama, soal pengaruh etnisitas dalam penulisan sejarah (di) Indonesia; kedua, munculnya kritik terhadap prosedur dan mekanisme pencalonan dan pengangkatan seseorang menjadi pahlawan nasional. 

Narasi "buku sejarah" GTR merefleksikan perasaan kedaerahan (regionalisme) yang kuat, karena itu menimbulkan bias yang kentara. Ini sulitnya --tapi bukan tidak bisa dihindari-- menjadi seorang yang menulis sejarah satu daerah sekaligus menjadi warga etnis daerah itu sendiri. Inilah dilema BHH yang orang Mandailing dan juga menulis sejarah tentang Mandailing.

Tentu saja sejarawan yang mendalami ilmu dan metode penelitian sejarah tidak akan terpeleset ke dalam subjektifisme seperti dalam penulisan GTR. Memang tak mungkin menggunakan otak semata-mata dalam penulisan sejarah. Akan tetapi kesadaran penuh atas konvensi ilmiah ilmu sejarah akan mencegah seseorang jatuh ke dalam subjektifisme tanpa ambang batas dalam menulis buku sejarah. 

Penulis GTR agak cuai terhadap konteks sosio-historis daerah Mandailing pada paruh pertama abad ke-19. Peran Belanda, rivalitas dan sentimen antar suku, pengaruh Aceh, penghijrahan orang Minangkabau yang sudah begitu lama terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera (lihat misalnya kisah Nakhoda Muda [Drewes, 1961] dan biografi Muhammad Saleh Dt. Rangkayo Basa, 1965) dan suku pendatang lainnya di kawasan itu agak luput dari perhatian BHH. Sangat mungkin bahwa penerimaan dan penolakan ajaran yang dibawa Tuanku Tambusai di daerah Mandailing dan sekitarnya ikut dipengaruhi faktor-faktor tersebut di atas. 

Gerth van Wijk dalam pengantarnya terhadap Kaba Puti Balukih (Hikayat Putri Balkis) (1881) mengatakan bahwa Kaum Paderi juga berusaha mengganti sastra pagan seperti cerita mambang, peri, dan dewa-dewa dengan sastra yang bernuansa Islami. Bukan tidak mungkin faktor ini ikut menentukan pertikaian keras antara Tuanku Tambusai yang menganut Islam puritan dengan marga Babiat yang dipimpin Datu Bange yang menyembah totem harimau (hlm.13-48). 

Sebaliknya, pengusulan Tuanku Tambusai menjadi pahlawan nasional juga sarat dengan kebanggan regionalisme. Pemrakarsa utamanya adalah anak keturunan Tuanku Tambusai sendiri. Salah satu di antara pemrakarsa utama adalah H Saleh Djasit, SH seorang anak keturunan Tambusai yang pernah menjadi Bupati Kabupaten Kampar. (http://www.riaumandiri.co.id/berita/380). 

Mereka menekankan nilai perjuangan Tuanku Tambusai yang bertahun-tahun memerangi kolonialis Belanda (1830-1839) dan tidak pernah menyerah dan tidak mau berdamai dengan Belanda (lihat: Ekmal Rusdy, Riau Pos, 30-11-2007). 

Sama halnya dengan cara penulisan buku "sejarah" GTR yang sangat subjektif itu, kontroversi kepahlawanan Tuanku Tambusai memberi pelajaran kepada kita bahwa di masa datang perlu studi sejarah yang lebih komprehensif terhadap seseorang yang akan diajukan sebagai pahlawan nasional, yang melibatkan tokoh akademis yang kredibel dan lintasetnis. 

Satu hal yang perlu dicatat dari polemik ini adalah bahwa rupanya wacana "pelurusan sejarah" sekarang meluber kemana-mana. Pada mulanya wacana itu hanya menyangkut "pelurusan sejarah" Revolusi 1965. Sekarang wacana itu melebar ke sejarah lokal seperti Perang Paderi. Pada level ini sebenarnya hubungan etnisitas ikut dipertaruhkan. Bangsa ini masih kuat tradisi lisannya. Isu apapun potensial ditelan mentah-mentah atau dijadikan komoditi politik oleh pihak-pihak tertentu. 

Mudah-mudahan polemik "pelurusan sejarah Perang Paderi" tidak membuat keruh hubungan antaretnis di negara multietnis ini. 

Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda

Kolom-Suryadi-a.jpg

Syofiardi BachyulJb

unread,
Oct 21, 2008, 6:57:16 AM10/21/08
to Rant...@googlegroups.com
Silakan Sanak Nofend, bia tabaco kasadonyo usalan Kanda awak ko.
 
Syof (38+/Padang)
 


--- On Tue, 21/10/08, Nofend Marola <nof...@rantaunet.org> wrote:

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Lies Suryadi

unread,
Oct 21, 2008, 5:52:50 PM10/21/08
to Rant...@googlegroups.com
Dunsanak di lapau kasadonyo,
Ambo mohon informasi tantang nagari Bungo Tanjuang nan dakek Sumpua (Sumpur). Apokoh ado dunsanak di lapau nan barasa dari Bungo Tanjuang? Mohon caritokan saketek tantang Nagari Bungo Tanjuang. Ambo sadang manulih ulang kisah Upiak Hitam, wanita pemimpin komunis dari Bungo Tanjuang.
 
Salam,
Suryadi


Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!

hambociek

unread,
Oct 21, 2008, 6:45:10 PM10/21/08
to Rant...@googlegroups.com
Untuak Variasi:
Ado lo Kampung Bunga Tanjung di Klantan, Malaysia.
http://www.maplandia.com/malaysia/kelantan/kampung-bunga-tanjung/

Ado lo lirikLagu Bunga Tanjung,
http://www.liriklagu.com/liriklagu_s/SharifahA_BungaTan.html

Ado lo Karaoke lagu Bunga Tanjung:
http://video.aol.com/video-detail/bunga-tanjung-karaoke/1282510788/?
icid=VIDURVMUS02

Ado lo lagu Bunga Tanjung Eddie Silitonga, pakai latar bulakang
Ngarai Sianok..
http://video.aol.com/video-detail/eddy-silitonga-bunga-tanjung-
karaoke/3352898969/?icid=VIDURVMUS01

--MakNgah

Nofend Marola

unread,
Oct 22, 2008, 3:24:04 AM10/22/08
to mul...@gmx.de, Rant...@googlegroups.com

Wa'alaikumsalam Bapak Mulyadi.

Mmmmmm.... Agak binguang ambo mamulai manulis jawaban dari email bapak, tapi
bialah ambo cubo sebisa nan ambo mampu untuak jawek.

1. Masalah Umua/panggilan
Itulah kelebihan urang kito di timur, terutama masyarakat minang, dengan
tahunya umua jadi saliang hormat menghormati, jikok tau lawan bicaranya
lebih tua, bahkan sepantaran umua
Orang tuanya, dan itu manaruik pribadi ambo, bukanlah suatu pelanggaran. Dan
yang pasti, dalam berdiskusi jika lawan diskusi jauh lebih tua, tetapi
pendapat kita tidak sepaham, tidak ada namanya mengalah dikarenakan dia tua,
tetapi kita akan tetap berupaya santun, walau hanya dalam dunia maya, dan
itu yang kebanyakan dipakai urang minang. Kalau kita bicara UU dunia, itu
lain masalah lagi, dan tentu UU dunia tak akan bisa direpkan (keseluruhan)
dalam adat dan pemikiran kita.

Dalam UU Dunia, kito ndak ado nan badunsanak (mungkin) tetapi dalam adat
Minang nan balandaskan agamo islam, semua kita bersaudara, apolai kito urang
minang, jikok tau umua dan gala, alah jaleh ba sia mamanggianyo, mamak,
angku, bapak, dll sebagainyo, dan dengan pendidikan ambo dikampuang, jikok
tau bapak labiah tuo dari ambo, tentu ambo ndak ka mungkin basabuik namo ka
bapak, dek karano itu kurang aja dalam adat minang.

2, Sejarah Perjuangan sesuai Subjek diatas
Tohoh2 nan bapak sabuik, adalah pengisi sejarak dikampuang kita, terutama
minangkabau dengan pasukan Padri, sehingga merubah kehidupan politik,
ekonomi dan beragama urang minang pada dasarnya, dalam hal iko ambo ndak ka
membahas itu, dek karano memang indak ado penhetahuan ambo untuak
menjelasakan secara detail mengenai itu, dan untuang di RN ado beberapa
banyak sanak2 kito nan peduli dan mempunyai kemampuan sesuai bidangnyo untuk
manjalehkan.
Masalah sejarah kita umunyo dari bulando, indak saratuih persen lo bana do,
kenapa, karena masih ado tambo2 nan sampai kini di keramatkan/disimpan
dengan indak buliah di jua belikan atau disebarkan, dan juo indak adonyo
dalam keluarga tersebut nan mambaco arab jawi atau bhs melayu sangsekerta
seperti apa yg dipelajari uli kozok peneliti belanda tersebut.
Dan semua kita pasti tau, sekian abad kito dijajah balando, dan balando
tidak menginginkan kito pintar, dan buku2 nan ditulis sabalunnyo banyak nan
dibuang dan dibaka belanda, dan ditulis yg baru versi mereka, cubo caliak
hikayat lampung karam (tulisan yg jauh sebelum tulisan eropa tentang
meletusnya gunung krakatau, baitu juo dengan sair sunur, dan banyak lai.

3. Mengenai Penjajahan Belanda.
Indak ado nan kadisasahkan, itulah garis tangan sebagai terbentuknya
indonesia, kalau ndak ado penjajahan itu, tantu tak kan ado indonesia, kep
nusantara akan manjadi negara2 kecil sesuai dengan kerajaan2 yang ada pado
maso itu.
Jadi, walaupun kita adalah sebagai negara bekan penjajah, tetapi janganlah
hendaknyo kita seperti penjajah dan terjajah seperti pada zamn dahulunya,
tidak akan ada bantahan, karena dimana2 memamng masih banyak peninggalan
bukti mereka itu ada.
Dan dengan seperti pertanyaa2 bapak seperti dibawah, dari sanalah saya
banyak belajar, mencari dan membaca, baik dr sumber resmi, maupun dari
hasil2 diskusi, dan kita sebagai generasi muda, wajib dan mengetahui
perjuangan2 dimasal lau, terlepas begini begitu dari perjuangan tersbut.

4. Email bapak iko ambo tembuskan juo ka Palanta, RantauNet, mudah2 mudahan
dengan kelemahan dan kemampuan ambo yg kurang mengetahui ini, bisa dunsanak
kito nan lain bisa mambantu manjaweknyo, terutama nan du paragraf dibawah,
semoga sanak nan bisa menangkap pertanyaan bapak, bisa manjawek, dan juo
tentu terhadap panggilan tadi, kesopanan/menghormati gaya timur (terutama
minangkabau) dengan UU Internasional.

Terlebih dan kurangnya, saya haturkan mohon maaf dan terimakasih.

Wasssalam.
Nofend 32Th

Email sebelumnyo ambo baok sadoalah :

-----Original Message-----
From: mul...@gmx.de [mailto:mul...@gmx.de]
Sent: 22 Oktober 2008 01:04
To: Nofend Marola

Ass. Wr. Wb. Uda Nofend Marola.
Sanang bana hati mbo mamabaco E-Mail dari Uda Nofend.
Adopun kakurangan ambo manyatoan umua disangajo, dek umua biasonyo di; TIMUA
mampunyoi cocaro/etika nan agak mambuek urang nan ka manjawab manjadi kurang
laluaso mamakai parbandaharoan kato2 nan lapeh babeh. Jadi STYLISTiCnyo
kurang spontan.
Yang pasti Ambo cukuik umua, manuruik UU dunia. Uda bisa Panggia ambo apo
sajo, ambo izin.
Adopun Ambo mamangia Uda Nofend, Uda sajo buliahkan?

Oh Imam Bonjo Tuanku nan Renceh, Tuanku Tambusai, Tuanku Lelo, bukan ambo
lupo manyabuikannyo, dsb dsb. tapi pajang bana biko.
Yachhhhhhhh
Partamu, Sajarah nagari awak umumnyo/ ampia sadonyo dari Bulando.
Tantu sajo babaun Bulando, indakpun banyak baunnnyo, tapi relativ babaun
Bulando itu pasti.
Adopun sisuak, Indonesia alun ado, jadi sia na kadi sasaan.
Namonyopun Sajarah nan Babaun Bulando, bayangkan sajo dek saluruah pambaco
dipalanta RANTAUNET iko. Ba mangko bisa Bulando manjajah NUSANTARA iko nan
kudian dinamokan Indonesia. Batua indaknyo, umumnyo pasti sanang hati
Bulando mancaliaknyo.
Nan manantang thesa itu tantu indak ado, dek maso tu dunia masih GADANG
SANGAIK baru.
Tingkok, Inggirih, Portugih, Spanyol Jo Bulando nan tau Hindia Timur pado
maso itu.
Pado maso itu manusia2 di Hindia Timur labiah elok dari kiniko hiduiknyo???
Ambo indak tau do.

Kaduo. Pahlawan dilokasi geografi nan ketek diangkek manjadi lokasi geografi
nan Laweh.
Wah itu ZOOMing namonyo. Dek Nagari Indonesiako tumbuah sasudah
Nagari2/Kerajaan2 ketek2 iko patah tumbuah baganti dsb. Tantu
kompatibelitasnyo agak dipartanyokan. Nan kabatanyo siapo?
nan kamanjawab sia? Latar balakang, iduik nyo, pandidikannyo agamonyo,
sosialstatusnyo dsb dsb. (Apo? Dima? Baa?) Ondeh Mande, mangumpuakan
partanyoannyo sajo lah sansai awak. Sia nan barani kamanjawab??

Katigo. Wahabbi ? Taliban dan Al-Qaeda, yaitu Wahabbi ekstrim? Apo itu? Baa
mangko Wahaabi itu ekstreem, tanyo kenyo! Masalah itu kompleks bana, jadi
usah diambiak sajo ciek thema, dari nan kopleks itu. Baru di analisa,
informasi usah dari sapihak sajo. Misalnyo dari Baraik Sajo.
Ambo bukan pro Wahabbi. Ambo pro damai.
Tapi bak pantun urang Minang:
Sariak Singapua, Batagak Batupalano,
Nan Cadiak nan kadijua nan Pandia kaleh batanyo.
Paninggalan2 Sajarah Islam di Sentral Asia contohnyo, jo dinagari2 lainnnyo,
umumnyo Islam aliran apo nan mambangunnyo? Contoh : Musajik, Aya Sofia,
Musajik Biru di Istanbul, Taj Mahal?
Ambo indak satuju jo parang dsb. Sebab parang itu manunjuakkan bahsonyo
manusia indak bisa lai bapikia.
Apo sajo kalau diekstrimkan itu racun, bak kato PARACELCUS, dosis itu nan
manantukan racun atau indaknyo sasuatu itu. Contoh banyak bana makan nan
lamak2 sakik badan, sambuah bana pitih awak, bingik urang. Jadi kalau dapek
banyak pitih tapi urang lain dak buliah tahu/tampak.

Ado tanyo Ambo ka Pambaco, tapi iko partanyoan sabananyo, bukan tanyo
rhetorik.
Ado anak kamba, induak apaknyo turunan urang elok2, urang sanang sosialnyo,
lingkuangannyo juo urang elok2 sadonyo.
Sakola, baraja agamo, cocaro, kuliah samo, langkok2lah sadonyo. Baa biko
caro pandangan sikamba iko tarhadok sasuatu (misalnyo Buku Di Bawah
Lindungan Ka'bah, Tengelamnya Kapal Van Der Wijk), apo persepsinyo tantang
novel itu kamba atau tunga surang surang?

Sabanta lai lah PEMILU pulo, usah jadi korban kampanye pulo kito2ko .
Wassalam,

Muljadi, di-German.

-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Tue, 21 Oct 2008 21:12:07 +0700
> Von: "Nofend Marola" <nofend@>
> An: "\'Muljadi \'" <muljadi@>

> Waalaikum Salam WrWb.
>
> Tarimokasih atas email Japri dan perkanalan bapak, baitu juo diambo
> sabaliaknyo.
> Dipalanta ko, sagalo nan takana diotaan, ado disiko, dan iko
> kalabiahan milis awak rantaunet Membernyo lah banyak nan gaek2,
> sahinggo kosa kata komunikasi, masih tapaliaro dengan baik.
>
> Ambo lah mancaliak data bapak, sayang bapak ndak manulis taun laia,
> sainggo kami di dapua RN Indak tau, ka bapanggia sia kami ka bapak.
>
> Masalah carito bapak, sadoalah kito, pasti taragak dan suko dadiah,
> sarato pisang abui/goriang Nan bapak kenang tu, kasamo sajo kito :)
>
> Untuak mangirimkan artikel (seperti nan ambo kririm di judul) adolah
> hasil tulisan sanak kito di RN Dan baliau selalu maminta ambo mangirim
> ka palanta, kok ado artikel baru baliau di koran2 Dikampuang kito.
> Kalau di scan, tantu manambah karajo kito2 nan mangirimkan pak, apolai
> mereka kan kebanyakan Ba email sambia karajo, itu kalau scan manual,
> kalau pakai print scan pdf lai gampang.
>
> Dan nan pasti, dibeberapa milis sangaik indak di anjurkan mangirim
> file ba lampiran, nan di scan tadi Pasti, samantaro di milis RN kito,
> selalu di kirim pado satiok pasan, seperti nan ambo baok paliang Bawah
> sakali, dan baitu juo partamo/kaduo dapek email konfirmasi dr milis,
> bapak pasti mandapek Sejarah dan Peraturan di RN.
> Kalau toh harus bana mangirimkan, ditawarkan ka sanak nan ado, kito
> buek summarynyo sajo.
>
> Tetapi kenyataanyo, banyak juo sanak awak nan lupo masalah iko,
> sahinggo bakirim juo lampiran2 Nan gadang filenyo, dan indak ado
> hubungannyo jo minang, seperti maksud dan tujuan RN.
>
> Jadi baitu pak...
>
> Tapi..
>
> Apokah di komputer bapak bisa/tabaco email nan seperti judul iko kan?
> Nampak diambo tabaok/reply di bapak ado, seperti nan ambo karek di bawah.
> Kalau disiko, justru dianjurkan, mangirim dalam text file, justru
> dibeberapa milis Nan pakai lampiran ko ndak muncul, kito dek pakai
> google, kalau pakai yahoogroups (dulu) juo Kito tutuik untuak kirim
> file.
>
> Ditutuik dengan alasan, disampiang suko kilobytenyo gadang, nan
> mambarek an kawan nan pakai Internet dial up (plat itam istilah kami)
> juo acok disusupi virus.
>
> Oh iyo, jikok memang demikian, jo sanan hati ambo manolongkan mangirim
> via pdf
>
> Dan harapan ambo, acok2 bapak duduak katangah (ikuiik sato maota) bia
> semakin lamak Caro bapak manuruik bapak ba tutur bahaso ibu awak.
>
> Salam
> Nofend, 32th


>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Muljadi Ali Basjah [mailto:muljadi@]
> Sent: 21 Oktober 2008 2WrWb0:45
> To: nofend@
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi
> Kepahlawanan Tuanku Tambusai

> Importance: High
>
> Ass. Wr. Wb.
> Ambo urang baru di siko Uda, salamaik barkenalan Uda.
> Ambo tatariak, sato ditapi sakedar ikuik baraja, tarutamo bahaso Minang.
> Ambo anak lahia dirantau tamaik SMA lalu larek jauah bana marantau.
> Namuah dapek gala, tapi galanyo gala urang tamaik sikola sajo/samiang.
> Baraja bahaso ambo lai diaja dek inyiak ambo, baliau mangatokan
> (bagarah)
> : "Indak pandai ang mangecek baso Minang dijua urang ang isuak
> dikampuang!"
> Sisuak manyiah, tapi kiniko, manyih bana mancaliak urang babahaso Minang.
> Koq salah ambo babahaso jo bacacaro, tolong dek
> Uda/Uni/Mamak/Etek/Biyai/Sutan maohkan sajo. Tapi satiok ambo
> kaBUKIKTINGGI ambo pasti mancari dadiah kabau.
> Taun 2004 ambo cari sapai kaBaso, dak ado, Pkan Lasi indak ado juo.
> Ununtuang kaparuntuangan ambo taruih kaPasa Ibuah di Pikumbuah, baru
> dapek.
> Ambo bali 6 Tabuang, nyah lapeh taragak. Dadiah mbo makan baitu sajo,
> Nan lamak diambo jo pisang panggang dakek janjang di Bukiktinggi.
> Uni2 nan panjua Pisang (Abu?)panggang, lai tacangang mancaliak ambo
> makan dadiah jo pisang panggang baliau.
> Baitu banalah saleroooo.
> Ah yo Uda Nofend, manuruik pandapek ambo,daripado diKOPI labiah elok
> diSCAN sajo ulasan nan disabuik dibawah iko.
> Sabab, hasia COPY indak bisa dikirim via Internet, sabaliaknyo SCAN
> bisa bana.
> Ambo cumo maingekkan sajo, tantu nan mangarajoan nan manantukan.
> Andaikato Uda SCAN, rancak bana.... saandainyo Uda kirin kaalamaik
> ambo hasia dari SCAN taditu.
> Talapeh dari urusan tadi diateh, SCAN atau COPY, ambo batarimokasiah
> banyak ateh kasudian Uda maabihan wakatu mambaco tulisan ambo nan
> indak babobot.
> Wassalam
> Muljadi.


--
"Feel free" - 10 GB Mailbox, 100 FreeSMS/Monat ...
Jetzt GMX TopMail testen: http://www.gmx.net/de/go/topmail

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages