Warung Minang "Tambuah Ciek"

82 views
Skip to first unread message

St. eF Al Zain Sikumbang

unread,
Sep 3, 2013, 7:25:06 AM9/3/13
to rant...@googlegroups.com

DARI pelosok kampung di Sumatera Barat, warung minang menyebar bagai organisme makhluk hidup. Warung-warung itu berbiak di mana saja, mulai dari Jakarta sampai mancanegara. Setiap saat, "tambuah ciek lai" alias tambah satu lagi.

Tanah Minang seolah pindah ke jalur pantura, Jawa Barat. Begitulah kesan yang kami tangkap ketika menyusuri jalur itu awal Agustus lalu. Betapa tidak, mulai dari perempatan Tol Cikampek-Cikopo hingga Indramayu, lebih dari seratus warung minang berdiri di sisi kiri dan kanan jalur tersebut.

Warung-warung itu sebagian tampil amat dominan. Papan-papan namanya besar-besar seolah hendak menenggelamkan warung jawa, sunda, atau cirebon yang jumlahnya dari tahun ke tahun kian sedikit. Ukuran warungnya pun tergolong raksasa. Tengoklah RM Taman Selera di Losarang, Indramayu, milik Rusdi Safry (48) yang luasnya 4 hektar.

Empat hektar? Ya, 4 hektar! Rusdi bahkan berencana membuat satu lagi warung padang di dekat Pintu Tol Palimanan seluas 7 hektar. Alamak! Warung minang tambuah ciek.

Dengan luas 4 hektar, Taman Selera mirip Terminal Bus Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kamis malam pukul 23.00, awal musim mudik Lebaran, puluhan bus Sinar Jaya masuk-keluar area parkir rumah makan itu. Setiap mampir, bus-bus memuntahkan puluhan penumpang.

Rusdi mengatakan, setiap malam ada 400-an bus Sinar Jaya yang singgah di warungnya. Pada musim mudik Lebaran, Agustus lalu, setiap bus terisi penuh 60 penumpang. Dengan begitu, Rusdi melayani sekitar 24.000 penumpang sehari semalam. Setengah dari mereka atau 12.000 orang hampir pasti makan besar.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7/2013). Nagari Kapau menjadi asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
Satu porsi nasi dan lauk di Taman Selera dibanderol rata-rata Rp 20.000. Jadi, uang yang masuk dari penjualan nasi sebanyak 12.000 porsi setidaknya Rp 240 juta sehari. Belum lagi pemasukan dari penjualan minuman, mi instan, makanan ringan, rokok, hingga pemakaian toilet yang dibanderol Rp 2.000 untuk sekali buang air kecil.

Rusdi adalah generasi kedua pengusaha warung minang asal Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang menggarap jalur pantura. Pelopornya bernama almarhum Edy Johniwar yang membuka RM Citra Rasa di Indramayu awal tahun 1980-an ketika warung minang di kawasan itu masih bisa dihitung jari. Ketika sukses, Edy membawa sejumlah warga Sumpur untuk bergabung. Salah seorang di antaranya adalah Rusdi yang masih terhitung keponakan Edy.

Rusdi bekerja sekitar tiga tahun di Citra Rasa. Setelah itu, ia memberanikan diri membuka warung minang sendiri tahun 1988. Ketika warung itu sukses, ia membuka pintu lebar-lebar bagi warga sekampung yang ingin bekerja di warungnya. ”Asal mau kerja silakan datang,” katanya.

Saat ini ada 15-20 orang Sumpur yang bekerja di rumah makannya. Sisanya sebanyak 180-an orang berasal dari Indramayu. Dulu, kata Rusdi, ada banyak anak muda Sumpur yang bekerja di RM miliknya. Beberapa di antara mereka memisahkan diri dan menjelma jadi juragan warung minang baru. Salah seorang di antaranya adalah Nedy (42), yang kini berkibar di pantura dengan Singgalang Jaya dan Alam Wisata.

Rusdi mengatakan, sekarang ada 12 warung minang di jalur pantura yang pemiliknya dari Nagari Sumpur, antara lain Rancak Minang, Minang Permai, Sabana Minang, Sinar Minang A dan B, Pesona Minang, dan Permata Minang. ”Kami tak bersaing, justru saling menguatkan. Saya percaya setiap orang punya rezeki sendiri,” ujar Rusdi.

Begitulah, satu warung menetaskan sekian warung atau cabang baru. Jangan kaget jika di pantura ada RM Mitra 1, 2, 3, 4; Siang Malam 1, 2; dan Bagadang 1, 2, 3.

Warung-warung nasi kapau di kawasan Pasar Senen, Jakarta, berbiak dengan cara serupa. Andau, warga Nagari Kapau, Kota Bukittinggi, menceritakan, pada tahun 1977, adiknya, Erni, membuka warung kapau di pasar itu. Setelah usaha itu maju, Andau diajak bergabung. Tahun 1981, satu petak warung Erni berbiak menjadi 14 petak. Beberapa di antaranya dikelola Andau.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Nagari Kapau menjadi asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
Beberapa tahun belakangan, muncul belasan warung nasi kapau lain di Pasar Senen dan Kramat Raya. ”Tapi, warung kapau Kramat Raya yang dimiliki orang asli Kapau cuma dua. Sisanya milik orang Jawa atau orang Minang dari nagari lain yang pernah bekerja di warung nasi kapau,” kata Andau, yang turun-temurun berdagang nasi mulai dari ayah, mertua, istri, ipar, kakak, adik, anak, hingga menantunya.

Sistem bagi hasil

Sistem kekerabatan memang jadi penopang perkembangbiakan warung minang. Namun, itu tidak berlaku lagi di jaringan Restoran Sederhana milik Haji Bustaman asal Lintau, Kabupaten Tanah Datar. Ia memilih sistem kemitraan untuk membiakkan restorannya. Asal punya uang beberapa miliar rupiah, Anda bisa memiliki cabang baru Restoran Sederhana.

Hasilnya, jaringan restoran yang bermula dari sebuah kedai kecil di Bendungan Hilir tahun 1970-an itu kini berbiak menjadi 100-an cabang di sejumlah daerah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. ”Investornya bukan hanya orang Minang, melainkan juga orang Batak, Jawa, Sunda. Sistemnya bagi hasil, bukan waralaba,” tutur Bustaman yang ”hanya” memiliki secara penuh enam dari sekitar 100 cabang Restoran Sederhana.

Migrasi

Sejak kapan warung minang menyebar begitu rupa? Sejumlah catatan menyebutkan, diaspora warung minang terjadi seiring migrasi besar-besaran orang Minang ke tanah rantau pada abad ke-20. Data sensus 1930 menyebutkan, penduduk Sumatera Barat yang tinggal di luar kampung halamannya ketika itu mencapai 211.000 orang yang tersebar di Jambi, Riau, Sumatera Timur, dan Malaysia. Migrasi meluas pasca-kemerdekaan Indonesia hingga ke kota-kota di Jawa.

Mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta menumpang kapal-kapal dari Teluk Bayur, Padang. Banyak di antara mereka mengincar kedudukan di kementerian dan departemen pemerintah yang baru terbentuk, berdagang, atau menuntut ilmu (Mochtar Naim, 1984).

Lance Castle memperkirakan, tahun 1962, ada 60.000 orang Minang di Jakarta. Jumlah itu melonjak menjadi 154.000 orang berdasarkan sensus tahun 1990. Itu baru di Jakarta, belum di Botabek dan kota-kota lain.

Karena komunitas orang Minang bertambah banyak, muncul kebutuhan membuka warung minang. ”Awalnya, pelanggan warung minang itu orang Minang saja. Pemiliknya sudah pasti orang Minang sebab warung sekaligus jadi tempat menampung sesama perantau. Lama-kelamaan, warung minang berkembang seperti sekarang,” ujar sejarawan Muhammad Nur dari Universitas Andalas.

KOMPAS/RIZA FATHONI Suasana RM Padang Sederhana di kawasan Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).
Sebagian rumah makan minang di luar negeri juga berkembang seiring membesarnya jumlah perantau Indonesia. Tengoklah Restoran Minang Indonesia milik Arfianto Wismar Bachtiar di Doha, Qatar. Awalnya, laki-laki asal Lintau itu datang ke Qatar untuk bekerja di perusahaan minyak tahun 2000. Selama di Qatar, istrinya sering memasak masakan minang. Tak disangka, mereka mendapat banyak order masakan dari keluarga Indonesia di Qatar dan KBRI.

Akhirnya, September 2006, ia memberanikan diri membuka restoran minang. Restoran itu terus berkembang dan tahun 2011, Arfianto membuka restoran kedua. Pelanggan restorannya 85 persen orang Indonesia dan sisanya orang asing.

Begitulah, bagai organisme makhluk hidup, warung minang bisa berbiak di mana saja. Sampai-sampai ada seloroh, ”Kalau di bulan ada orang Minang, mereka akan buka warung nasi di sana.” (Budi Suwarna dan Indira Permanasari) 

sumber : http://travel.kompas.com/read/2013/09/03/1605015/Warung.Minang.Tambuah.Ciek.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp


Wassalam,


St. eF Al Zain Sikumbang
Kuala Lumpur

ajo duta

unread,
Sep 3, 2013, 8:01:05 AM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Namun orang yang peduli kesehatan sekarang mulai meninggalkan masakan Minang yang penuh dengan minyak dan santan. RM Dapur Sunda sudah merebak dimana-mana. Malah di Padang sekalipun. 

Tapi walaupun mancubo mangelak-ngelak masakan awak. Paling kurang sakali-dua saminggu kangen juo basalero Minang.

Hari tadi mangawani "induak bareh" ka Pasar Tanah Abang. Tantu pai malapeh salero di lantai 8. Bakulilang mancari RMP, basuo jo RMP Simpang Raya. Namonyo seperti terkenal. Tapi dicigok di etalase, kok kurang tabik salero. Nampak juo SMS (sate mak Syukur). Tapi ambo kurang berminat. Akhirnya mampir
di RM Sunda ala pransmanan.



-----------------------------------------------------------------------------------------------
Selamat 'Idulfitri 1434 H Mohon Maaf Lahir Bathin Atas Kesalahan
dan Kekeliruan. Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT. Amin

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
Jakarta - Sterling, Virginia USA
------------------------------------------------------------


2013/9/3 St. eF Al Zain Sikumbang <efmuh...@gmail.com>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Ramadhanil pitopang

unread,
Sep 3, 2013, 10:00:41 AM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Kalau dek ambo masakan Minangkabau yang merupakan warisan leluhur ini tidak tandingannya jika dibandingkan dengan masakan daerah manapun juga.
Pernah ambo cubo Gudeg Yogya, rasonyo indak talulua do,  dek manih rasonyo sarupo jo Kolak Cubadak, baitu juo jo masakan lain Sunda yang bertebaran di kota-kota Jawa barat spt di Bandung, Bogor TAPI indak cocok jo LIDAH MINANG ambo.
Kenyataan lain menunjukan bahwa banyak putra-putra terbaik bangsa ini seperti Muh. Yamin, M. Natsir, Hatta dan ambo yakin dunsanak di palanta ko dan sederetan tokoh-tokoh terkenal lainnya paling  dibesarkan oleh Masakan Minang.

Menurut penuturan kawan-kawan nan dari suku lain pada dasarnya mereka menyukai masakan Minang, karena rasanya bisa diterima di lidah mereka, satuhal yang penting adalah "HALAL". Jika pergi ke daerah-daerah yang mayoritas beragama Non Muslim spt di Sulawesi Utara, Bali ataupun Sekitar Toba,,,,Masakan Minang lah solusi terbaik menyangkut  HALAL dan HARAM makanan untuk seorang Muslim.
Ambo cubo telusuri di media ,,beberapa warung Waralaba yg bertebaran di Indonesia banyak yg belum bersertifikat HALAL, misalnya di link bawah :

http://http://news.fimadani.com/read/2013/08/27/waralaba-solaria-diwajibkan-menggunakan-angciu-dan-minyak-babi/#.UiLvaHuIyB0.facebook

Di kota rantau ambo kiniko,, paling tidak ado 15 Rumah makan masakan Minang.
Sakitu dulu.
Wassalam,
Ramadhanil Pitopang
49 thn- Palu
Sulawesi Tengah




Dari: ajo duta <ajo...@gmail.com>
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Dikirim: Selasa, 3 September 2013 19:01
Judul: Re: [R@ntau-Net] Warung Minang "Tambuah Ciek"

st. eF Al Zain Sikumbang

unread,
Sep 3, 2013, 1:32:44 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
ba a kok dak tabik lo salero mamak?
dek banyak minyak lo?atau lah batuka lo lidah mak dut dek lamo di rantau? hehe..

st
kl


Pada Selasa, 03 September 2013, ajo duta<ajo...@gmail.com> menulis:
> Namun orang yang peduli kesehatan sekarang mulai meninggalkan masakan Minang yang penuh dengan minyak dan santan. RM Dapur Sunda sudah merebak dimana-mana. Malah di Padang sekalipun. 
> Tapi walaupun mancubo mangelak-ngelak masakan awak. Paling kurang sakali-dua saminggu kangen juo basalero Minang.
> Hari tadi mangawani "induak bareh" ka Pasar Tanah Abang. Tantu pai malapeh salero di lantai 8. Bakulilang mancari RMP, basuo jo RMP Simpang Raya. Namonyo seperti terkenal. Tapi dicigok di etalase, kok kurang tabik salero. Nampak juo SMS (sate mak Syukur). Tapi ambo kurang berminat. Akhirnya mampir
> di RM Sunda ala pransmanan.
>
>
> -----------------------------------------------------------------------------------------------
> Selamat 'Idulfitri 1434 H Mohon Maaf Lahir Bathin Atas Kesalahan
> dan Kekeliruan. Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT. Amin
> Wassalaamu'alaikum
> Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
> 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
> Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
> Jakarta - Sterling, Virginia USA
> ------------------------------------------------------------
>
> 2013/9/3 St. eF Al Zain Sikumbang <efmuh...@gmail.com>
>
> DARI pelosok kampung di Sumatera Barat, warung minang menyebar bagai organisme makhluk hidup. Warung-warung itu berbiak di mana saja, mulai dari Jakarta sampai mancanegara. Setiap saat, "tambuah ciek lai" alias tambah satu lagi.
>
> Tanah Minang seolah pindah ke jalur pantura, Jawa Barat. Begitulah kesan yang kami tangkap ketika menyusuri jalur itu awal Agustus lalu. Betapa tidak, mulai dari perempatan Tol Cikampek-Cikopo hingga Indramayu, lebih dari seratus warung minang berdiri di sisi kiri dan kanan jalur tersebut.
>
> Warung-warung itu sebagian tampil amat dominan. Papan-papan namanya besar-besar seolah hendak menenggelamkan warung jawa, sunda, atau cirebon yang jumlahnya dari tahun ke tahun kian sedikit. Ukuran warungnya pun tergolong raksasa. Tengoklah RM Taman Selera di Losarang, Indramayu, milik Rusdi Safry (48) yang luasnya 4 hektar.
>
> Empat hektar? Ya, 4 hektar! Rusdi bahkan berencana membuat satu lagi warung padang di dekat Pintu Tol Palimanan seluas 7 hektar. Alamak! Warung minang tambuah ciek.
>
> Dengan luas 4 hektar, Taman Selera mirip Terminal Bus Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kamis malam pukul 23.00, awal musim mudik Lebaran, puluhan bus Sinar Jaya masuk-keluar area parkir rumah makan itu. Setiap mampir, bus-bus memuntahkan puluhan penumpang.
>
> Rusdi mengatakan, setiap malam ada 400-an bus Sinar Jaya yang singgah di warungnya. Pada musim mudik Lebaran, Agustus lalu, setiap bus terisi penuh 60 penumpang. Dengan begitu, Rusdi melayani sekitar 24.000 penumpang sehari semalam. Setengah dari mereka atau 12.000 orang hampir pasti makan besar.
>
> KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7/2013). Nagari Kapau menjadi asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
> Satu porsi nasi dan lauk di Taman Selera dibanderol rata-rata Rp 20.000. Jadi, uang yang masuk dari penjualan nasi sebanyak 12.000 porsi setidaknya Rp 240 juta sehari. Belum lagi pemasukan dari penjualan minuman, mi instan, makanan ringan, rokok, hingga pemakaian toilet yang dibanderol Rp 2.000 untuk sekali buang air kecil.
>
> Rusdi adalah generasi kedua pengusaha warung minang asal Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang menggarap jalur pantura. Pelopornya bernama almarhum Edy Johniwar yang membuka RM Citra Rasa di Indramayu awal tahun 1980-an ketika warung minang di kawasan itu masih bisa dihitung jari. Ketika sukses, Edy membawa sejumlah warga Sumpur untuk bergabung. Salah seorang di antaranya adalah Rusdi yang masih terhitung keponakan Edy.
>
> Rusdi bekerja sekitar tiga tahun di Citra Rasa. Setelah itu, ia memberanikan diri membuka warung minang sendiri tahun 1988. Ketika warung itu sukses, ia membuka pintu lebar-lebar bagi warga sekampung yang ingin bekerja di warungnya. ”Asal mau kerja silakan datang,” katanya.
>
> Saat ini ada 15-20 orang Sumpur yang bekerja di rumah makannya. Sisanya sebanyak 180-an orang berasal dari Indramayu. Dulu, kata Rusdi, ada banyak anak muda Sumpur yang bekerja di RM miliknya. Beberapa di antara mereka memisahkan diri dan menjelma jadi juragan warung minang baru. Salah seorang di antaranya adalah Nedy (42), yang kini berkibar di pantura dengan Singgalang Jaya dan Alam Wisata.
>
> Rusdi mengatakan, sekarang ada 12 warung minang di jalur pantura yang pemiliknya dari Nagari Sumpur, antara lain Rancak Minang, Minang Permai, Sabana Minang, Sinar Minang A dan B, Pesona Minang, dan Permata Minang. ”Kami tak bersaing, justru saling menguatkan. Saya percaya setiap orang punya rezeki sendiri,” ujar Rusdi.
>
> Begitulah, satu warung menetaskan sekian warung atau cabang baru. Jangan kaget jika di pantura ada RM Mitra 1, 2, 3, 4; Siang Malam 1, 2; dan Bagadang 1, 2, 3.
>
> Warung-warung nasi kapau di kawasan Pasar Senen, Jakarta, berbiak dengan cara serupa. Andau, warga Nagari Kapau, Kota Bukittinggi, menceritakan, pada tahun 1977, adiknya, Erni, membuka warung kapau di pasar itu. Setelah usaha itu maju, Andau diajak bergabung. Tahun 1981, satu petak warung Erni berbiak menjadi 14 petak. Beberapa di antaranya dikelola Andau.
>
> KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Nagari Kapau menjadi asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
> Beberapa tahun belakangan, muncul belasan warung nasi kapau lain di Pasar Senen dan Kramat Raya. ”Tapi, warung kapau Kramat Raya yang dimiliki orang asli Kapau cuma dua. Sisanya milik orang Jawa atau orang Minang dari nagari lain yang pernah bekerja di warung nasi kapau,” kata Andau, yang turun-temurun berdagang nasi mulai dari ayah, mertua, istri, ipar, kakak, adik, anak
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

--
st. eF Al Zain Sikumbang
Kuala Lumpur

Maturidi Donsan

unread,
Sep 3, 2013, 10:42:55 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Kawan-kawan sanak sapalanta  dan pengelola RMP/RMM n..a.h

Kita besyukur  Rumah Makan Padang atau Rumah Makan Minang (dominan masakan asli Minang)  sudah berkembang di Nusantara dan mulai merambah keluar negeri. Dengan banyak permohonan maaf dengan tidak bermaksud meninggikan atau merendahkan, peminat makanan minang ini mungkin (sekali lagi mungkin) bisa dibagi menjadi 3 kelas.
1. Karena  dalam perjalanan, sudah lapar tak pilih warung, kebetulan stop di  RMP/RMM.
2. Karena dalam perjalanan ,datang jadwal makan, cari warung yang sesuai dengan selera.
3. Baik dalam perjalanan atau tidak, ingin mencoba makan di rumah makan.

Cara penghidangan: RMP/RMM kecil penghidangan ala warteg. RMP/RMM menengah, ruangan  belum memadai, hidangan makanan dibawa sekali banya lalu digelontorkan di meja  dimana tamu menunggu. RMP/RMM besar, hidangan  menggunakan kerta sorong  ala rumah sakit membagikan obat ke pasien.
Diantara 3 kelas peminat RMP/RMM ini, peminat yang ke 3 mungkin agak beda.Peminat kelas ini umumnya kelas menengah keatas, pada tingkat ini kebersiha pelayanan sangat diperhatikan. Karena kebersihan ini akan mengikuti  dampak kesehatana berikutnya. Maff sekali lagi maaf, mungkin pernah kita melihat , mungkin juga anggota RN ada yang pernah melihat, makanan yang sudah selesai dari meja tamu sisanya kembali keruang/loket makanan, kemudian yang masih utuh tetap di kereta, yang telah berkurang (misalnya goreng ayam tadinya 2 potong, tinggal 1 potong) ditambah dengan kelebihan dari kereta lain, kalau gorengan masih kering, kalau gulai... Memang ini tak bisa dihindari karena sistim penghidangan yang dipakai Bagaimanapun kalau makan sudah dihadapan tamu yang siap makan, mesti ada saja yang pegang-pegang atau pilih-pilih besar atau kecil,masak atau kurang masak dengan membalik-balik dsb yang ujungnya hampir semua lauk pauk yang dihidangan itu sudah terpegang jari jemari tamu sebelumnya meskipun disediakan sendok dan garpu, syukur kalau habis oleh tamu kalau tersisa maka yang tersisa inilah kembali keloket untuk digabung dengan sisa kereta lainnya. Yang mungkin menganggu  pemikiran bagi tamu yang sedang duduk menunggu datangnnya  hidangan, para tamu ini juga memperhatikan makanan yang mondar mandir di kereta sorong ini. Lebih fatal lagi kalau minta tambahan lauk, diambilkan dari makan yang barusan tersisa dari tamu yang baru meninggalkan meja. Memang suatu hal yang tidak mungkin  bagi pengelola RMP/RMM dengan gaya hidangan sampai  sekarang  untuk membuang makanan yang tersisa dari meja sebelumnya tapi masih utuh, kalau lauk pauk kering masih mending, kalau yang berupa gulai-gula, pernah dijamah... .
Hanya karena penghidangan secara gelontoran, semua lauk pauk yang layak,  dihidangkan kedepan tamu,   kadang lebih dari 5 macam lauk pauk, terserah tamu suka atau tidak.
Kedepan secara bertahap, sekali lagi secara bertahap, menengok kondisi,  mungkin mulai dipikirkan oleh pengelola RMP/RMM untuk mengurangi hal-hal yang disebutkan  kurang menimbulkan selera diatas.
Saran kita, sambil  melihat kondisi dan situasi,  kedepan mungkin secara bertahap ada baiknya, beberap RMP/RMM  demi kebersihan dan kesehatan memulai merobah cara pelayanan, dari penggelontoran makana  didepan meja tamu dirobah menjadi: makanan yang dihidangkan hanya yang dipesan dengan demikian tak ada makanan yang kembali. Ini tentu banyak effisiensi.
Kekurangannya mungkin ada tapi jauh lebih baik dari segi kebersihan dan efisiensi pelayanan. Biasanya pemesan  bayar duluan sesuai apa yang dipesan, hanya RPM/RMM menyedakan  makanan imitasi  di etalase makanan.

Mohon maaf kalau saran ini belum berkenan

wass.

Maturidi (75)
Asal  Talang Solok- Kutianyia
Duri- Riau

  

ajo duta

unread,
Sep 3, 2013, 10:54:59 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Sanak ambo,

Waktu ambo sempat bakuliliang di KalimantaN Barat dan makan di RMP.
Ambo perhatikan caronyo babeda. Palanggan datang ka etalase. Maminta
apo nan kadimakan atau malah maambiak surang. Salasai tingga mambayia 
kakasir. Baitu juo kondisi di Sabah dan Brunei dan di Semenanjung sekalipun.
jadi indak ado nan piriang baisi gulai nan babaliak.

Caro mahidang piriang banayk di meja pasti indak di approved di Amerika dan
nagari maju lain. RMP di di NY pesan dari daftar menu. Kemudian nan dipesan diolah dulu. kalau indak abih buliah dibungkuih bawo pulang. You pay what you order.


-----------------------------------------------------------------------------------------------
Sukseskan Halal bil Halal dan Peringatan 20 Tahun Rantau Net
Hari/Tanggal: Sabtu, 28 September 2013
Jam: 09:00-15:00
Tempat:
Rumah DAMAI Indonesia
Jl H Saabun No 20 (Mangga Besar)
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
Biaya: Badoncek 

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
Jakarta - Sterling, Virginia USA
------------------------------------------------------------


2013/9/4 Maturidi Donsan <matur...@gmail.com>

andi...@gmail.com

unread,
Sep 3, 2013, 11:41:58 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Om Duta dan Maturidi

Hal seputar RMP awak ko. Memang lah banyak di bahas disiko..dari segala aspekny mulai, bisnis ekonomi, pelayanan, kebersihan. masakan, gizi, kesehatan dll

Lah barulangkali bahasan nan cukuik komplit tapi sayang ndak terdokumentasi khusus hal iko...ambo sabananyo sangat tertarik dan menaruh minat dalam seni kuliner ranah minang sampai ka usahonyo melalui RM dan Resto2, tapi yo itu tadi ndak talalu banyak ambo copas lalu ambo save satiok pandapek members.

Mungkin suatu saat...ado waktu ambo bongka2 baliak apopun carito, komen dan pandapek seputar iko

Luar biaso ambo caliak satiok pandangan2 dari members yang beragam latar belakang disiplin ilmunyo kalo lah manyangkuik seni kuliner ranah minang dengan segala produknyo serta usaho2 yang memberikan nilai ekonomi bagi para pelakunyo dengan segala kelemahan-kekuatan, kelebihan - kekurangannya

Takadang ambopun heran..lingkungannyo lapau buruak, jauh dari barasiah secara umum..tapi kok masakannyo lamak...tetap juo di buru penggemarnyo..paling tidak "kalau lari stelan paruik/saleronyo makan ditempat" ..biaso di bungkuih baok pulang.

Selagi gak masalah dengan kesehatan..semisal sakik paruik, diare, muntah2 keracunan dll..nan konsumen kalo lah masalah "los lambuang" ko walau lingkungan tampek manggaleh kurang rancak atau bahkan RM nyo "basilemak peak sajo" kalau kito alah kabalakang bagian dapuanyo tetap juo rami..jadi ambo pikia iko masalah "taste" masalah selera...yang enak tetap enak..yang namanya selera tidak pernah bohong

Memang segala sesuatu labiah ka konsumen banyak pilihan dan pertimbangan..kalo nan "jajok dan gali" indak namuah mambali ka RMP nan agak kurang dalam pelayanan, lingkungan kebersihan, tapi labiah banyak pulo nan indak "jajok dan gali" konsumennyo.

Nan paliang babahoyo bagi ambo segala kekurangan dan kelemahan RMP kito adolah kalau konsumen keracunan karano samba2 lah basi, terkontaminasi zat2 beracun dll..dari segi estetika memang apo nan dicaritokan Pak Maturidi perlu kironyo jadi perhatian RMP di berbagai kelas terutama menengah ke bawah

Tapi kalo segi selera dan cita rasa...lah paten mah....dari dulu2 hingga kini dan seterusnya begitulah masakan minang/padang sepanjang masa, sudah menjadi bagian lidah dari semua suku masyarakat di nusantara, terutama

Saya pikir hanya masakan minang s secara umum sudah menjadi "lidah rasa" bagi semua suku...nan agak dakek2 dan sebanding adolah masakan Sunda

Wass-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: ajo duta <ajo...@gmail.com>
Date: Wed, 4 Sep 2013 09:54:59 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Warung Minang "Tambuah Ciek"

andi...@gmail.com

unread,
Sep 3, 2013, 11:43:14 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Maaf ado nan lupo dan ralat

Maksud ambo : Om Duta dan Pak Maturidi ( tatulih dek ambo namo beliau sajo...nan seharusnyo ambo harus panggia Pak)

Salam-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rina Permadi

unread,
Sep 3, 2013, 11:56:14 PM9/3/13
to rant...@googlegroups.com
Mak tanyo ciek,
Bantua ndak tu kalo masakan di RMP tu rato2 diagiah daun ganjo ?
Sahinggo rasonyo sangat lamak dan kalo makan lamak jadi nio
batambuah-tambuah dek raso kanyang lamo taraso.

Atau iko hanyo rumor nan nio mandiskreditkan RMP sajo ?

Wassalam
Rina, 35, Batam

-----Original Message-----
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of andi...@gmail.com
Sent: Wednesday, September 04, 2013 10:43 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Warung Minang "Tambuah Ciek"

Powered by Telkomsel BlackBerryR

Maturidi Donsan

unread,
Sep 4, 2013, 12:10:27 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com
Ndak apo-apo sanak Jepe n.a.h,
Kalau tak salah ado juo sabagian jurnalis mangatokan dalam koperpondensi, kalau didepannyo lah ado kato sandang untuk panggilan seperti om, tante dsb  maka nan barikutnya tak perlu diberi sandangan lagi walaupun sambungannnyo dengan koma atau dan..
Nan labieh ahli mungkin sanak kito MM.

wass.
Maturidi (75)
Talang - Solok -Kutianyia
Duri Riau


st. eF Al Zain Sikumbang

unread,
Sep 4, 2013, 12:11:00 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com
kaba no masakan aceh iyo lo ndak ni???
kalau untuak bumbu masak lai ndak ba a duh??

st. eF Al Zain Sikumbang
Kuala Lumpur


Tasrilmoeis

unread,
Sep 4, 2013, 12:18:18 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com

Restoran Pagi Sore nan ado di Rawamangun dimuko pasa Sunan Giri dan kini bukak pulo di Kalimalang. Nan di Kalimalang ko suasana no babedo bana jo rumah makan Padang biaso, interior no sabana sajuak, full ac, ado kolam jo aia mancua. Makanan no pun banyak variasi  dan nan anti kolesterol pun ado pilihan.

 

Tan Ameh

fashrid...@gmail.com

unread,
Sep 4, 2013, 12:20:56 AM9/4/13
to Rantaunet, St. EF Al Zain Sikumbang, Rina Permadi
Sanak Rina, St. EF, jo sanak2 sa palanta yth.
Rasonyo RMP indak ado nan pakai daun ganja (ganjo) doh, dek karano bukan tanaman nan banyak tadapek di ranah Minang.
Tapi masakan Aceh iyo ado nan pakai ganja. Dulu ambo pernah makan gulai (kare) kambiang Aceh di rumah dunsanak di Medan. Lamak rasonyo. Indak lamo sasudah makan mato sabana mangantuak.....lamak lalok...mungkin dek efek tranquilizer/penenang dari daun ganja itu.
Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: "st. eF Al Zain Sikumbang" <efmuh...@gmail.com>
Date: Wed, 4 Sep 2013 12:11:00 +0800

fashrid...@gmail.com

unread,
Sep 4, 2013, 12:34:10 AM9/4/13
to Rantaunet, Ajo Mardin
Ajo Duta jo sanak2 sapalanta yth.
Palanggan mamintak apo nan ka dimakan atau maambiak sorang itu mungkin salah satu caro mambayia sabanyak nan didapek (you pay what you get)...mungkin sambia batanyo bara aragonyo ciek2.
Caro baidang sapanuah meja rawan kanai pakuak dek karano maetongnyo nampaknyo kadang2 capek2 bana jo palanggan sagan pulo mananyokan tagihannnyo.

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: ajo duta <ajo...@gmail.com>
Date: Wed, 4 Sep 2013 09:54:59 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Warung Minang "Tambuah Ciek"

hyv...@yahoo.com

unread,
Sep 4, 2013, 12:43:46 AM9/4/13
to milis rang minang
Salam sanak sadonyo.

Cerita 1 :
Ado nan batanyo ka ambo. " Bu masakan Padang itu pakai ganja ya. Saya kalau makan sebungkus bisa tahan sampai malam.

" lho...iya ..namanya aja ganja paruik ", kato ambo

" ah masak sih bu. Pantasan saja uenak. Gak takut sama aparat ?

" ngapain takut. Wong mereka juga doyan ! Karena kekenyangan.

" serius, dimana ngedapatin ganja itu ?

" ya itu,., ada pada citra.,.rasa.,, karya juru masaknya. Campurannya terasa asamnya. Terasa asinny. Ada rasa manis dan lebih lebih rasa gurihnya. Rona dan aromanya menantang selera. Kami gak menyebut mak nyus tapi " badaceh",
Orang Padang itu penganut " selera yang tau rasa ".

" lhaah..kapan ganja di masukkan ?

" ya itu saat anda makan ketika makanan sampai keperut anda. Makanan itulah yang akan jd ganjal perut hingga larut malam,

Jadi.., ? Ganja paruik = ganjal perut ?

Iya,.. (y).

Salam

Evy Nizhamul


"
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "Rina Permadi" <ri...@rantaunet.org>
Sender: rant...@googlegroups.com

andi...@gmail.com

unread,
Sep 4, 2013, 1:22:16 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com
Hehehehe..lucu carito ganja nyo

Disilaiang jadul jaman oto bis sasak angoknyo mandaki..baserak-serak ganja dijalan diseputaran siliang lembah anai tu :-)

manuruik ambo Nakan Rina, yo ndak ado dalam tradisi seni kuliner ranah minang niniak2 kito mamasuakan atau ganja sebagai bumbu atau bahan penyedap berupa dedaunan dalam masakannyo

Nan tasabuik yo kuliner aceh (iko antah iyo antah indak pulo) kini nan cukuik marak dan terkenal dimasyakat dalam ber wiskul, masakan acehnyo yaitu mie aceh..kecek urang pakai bumbu ganja kalau nan lamak, managiah tu

Ambo ingin juo batanyo,, ganja dalam kapasitasnya sebagai bumbu penyedap bukan narkoba yang memabukan..apo buliah atau baa hukumnya lai indak haram


Maksud ambo semisal ganja ko identik kiro2 dengan ruku2, berupa tanaman, dedaunan, dipakai dalam jumlah yang pas daun ganja ko tapi lebih kepada penyedap sebagaimana daun ruku2 dan masakan jadi enak, tapi indak memabukan "fly" baa kiro2

Wass-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

st. eF Al Zain Sikumbang

unread,
Sep 4, 2013, 2:04:47 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com

Para pencinta kuliner lamak di palanta n.a.h

ko dapek dari eramuslim ambo copas masalah ganjo dalam makanan

------------------------------

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz yand dimuliakan Allah. Saya sering mendengar kata orang bahwa ada beberapa masakan tertentu, untuk penyedap rasa dan agar pelanggan ketagihan, mereka menggunakan daun ganja sebagai salah satu bumbunya, tentunya mungkin dalam kadar tertentu. Bagaimana tanggapan ustadz mengenai hal ini? Terima kasih.

Wassalamualikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ketika Allah SWT mengharamkan khamar di Al-Quran, semua orang lantas menghukumi bahwa khamar itu haram. Namun khamar yang dikenal oleh bangsa Arab saat itu adalah perasan buah kurma atau anggur yang mengalami proses fermentasi hingga level tertentu.

Di luar itu, bangsa Arab tidak mengenal jenis minuman keras lain. Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa beer, vodka, brandy, mansion atau cognac. Lalu atas dasar apakah minuman tersebut bisa ikut dikategorikan sebagai khamar?

Para ulama ushul mencoba mencari ‘illat ketika mengqiyas antara khamar dengan minuman keras lainnya. Dan disimpulkan bahwa ‘illatnya bukan pada nama, atau jenis buah tertentu, melainkan pada efek yang ditimbulkan, yaitu mabuk (iskar). Dari ‘illat yang telah disepakati ini, kemudian dikembangkan sebuah ta’rif (definisi) dari khamar, secara lebih luas dan tidak terbatas pada perasan kurma atau anggur saja. Definisinya adalah segala yang bila diminum/ dikonsumsi akan mengakibatkan iskar (mabuk).

Maka yang termasuk khamar tidak lagi terbatas pada minuman, tetapi juga apa saja yang dimakan bahkan apa yang dihirup. Maka minuman tadi karena bisa mengakibatkan iskar, bisa dimasukkan ke dalam kategori khamar.

Bahkan daun ganja yang diproses sedemikian rupa lalu dibakar dan asapnya dihisap hingga mabuk, sudah termasuk kategori khamar. ‘Illatnya adalah karena asap ganja itu mengakibatkan mabuk (iskar) bila dihisap.

Kurma dan Anggur Sebelum Jadi Khamar

Kemudian timbul masalah, bagaimana dengan kurma atau anggur yang diperas namun belum sampai kepada kategori memabukkan? Misalnya masih berupa air fermentasi pada level tertentu yang bila diminum masih menyegarkan, manis dan enak tanpa efek memabukkan.

Dalam hal ini para ulama sepakat mengatakan hukumnya halal. Sebab batasan atau ‘illat haramnya khamar bukan pada jenis buahnya, melainkan pada efek mabuk (iskar) yang ditimbulkannya. Selama buah kurma dan anggur masih tidak memabukkan bila dimakan atau diolah, maka statusnya bukan khamar dan hukumnya halal.

Kemudian kita beralih pada daun ganja, bagaimana hukumnya?

Daun ganja bila diolah sedemikian rupa menjadi lintingan rokok, dibakar lalu asapnya dihirup, akan menimbulkan iskar (mabuk). Dengan demikian jelas termasuk khamar.

Tetapi bagaimana dengan daun ganja yang baru dipetik dan diolah bukan untuk menjadi zat yang memabukkan, adakah daun itu sudah langsung bisa dicap sebagai khamar?

Pertanyaan ini akan melahirkan dua pendapat yang berbeda, ada yang mengatakan tidak bisa dibilang khamar. Sebaliknya ada yang tetap menetapkannya sebagai khamar.

a. Pendapat pertama

Logikanya, selama daun ganja itu belum diolah menjadi zat yang memabukkan, dan bila dimakan sama sekali tidak menimbulkan efek mabuk dalam arti yang sesungguhnya, kecuali hanya sekedar menambah lezat, maka tidak ada alasan untuk menggolongkannya sebagai khamar.

Sebab efek mabuk (iskar) tidak terjadi, meski dimakan banyak atau sedikit. Sedangkan efek ketagihan tentu bukan ‘illah dari keharaman. Sebab banyak zat lain yang bila diminum atau dimakan bisa membuat orang ketagihan, tetapi bukan termasuk khamar.

b. Pendapat kedua

Mereka mengatakan bahwa daun ganja itu tetap haram hukumnya, meski digunakan bukan untuk mabuk.

Karena secara umum telah digunakan sebagai zat yang memabukkan. Ketika menjadi lintingan yang dihirup asapnya, daun itu adalah khamar dan hukumnya haram dihirup serta najis. Maka sejak masih jadi daun di pohonnya, benda itu sudah dianggap khamar dan najis, meski belum memberi efek mabuk.

Bagi pendapat ini, ketika digunakan untuk bumbu penyedap, tetap terhitung sebagai khamar yang haram hukumnya. Meski tidak menghasilkan efek mabuk.

Logika pendapat yang kedua adalah logika yang digunakan untuk menajiskan tubuh anjing. Meski hadits yang menetapkan kenajisan anjing hanya sampai sebatas air liurnya saja, namun para ulama yang menajiskan tubuh anjing mengambil kesimpulan bila air liurnya najis, maka tempat asal air liur itu najis juga.

Maka dalam hal ini perut anjing sebagai sumber air liur hukumnya najis. Dan kalau perut anjing itu najis, maka apapun yang keluar dari perutnya juga najis. Air keringat anjing sumbernya juga dari perut, maka air keringatnya najis. Dan air keringat itu keluar lewat pori-pori, kulit, daging, otot dan lainnya, maka semuanya juga ikut najis.

Dengan demikian, kita dihadapkan pada dua pilihan hukum, yang memang diperdebatkan oleh para ulama. Perbedaannya berangkat dari logika penarikan hukum, meski sumber dalilnya sama. Dan fenomena khilaf seperti ini seringkali terjadi.

Adapun bila masakan yang menggunakan daun ganja sebagai penyedap itu memberikan efek iskar (mabuk), maka kita semua sepakat mengharamkannya. Maka masalah akan terpulang kepada si pengolah masakan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

----------------------------------------------------------------

sumber :http://www2.eramuslim.com/makanan/daun-ganja-untuk-masakan.htm#.UibMEH-NDTF

kalau ragu2 ancak ditinggakan dahulu..

wassalam,



st. eF Al Zain Sikumbang
Kuala Lumpur


Asmardi Arbi

unread,
Sep 4, 2013, 10:22:24 AM9/4/13
to rant...@googlegroups.com

Sanak pacinto kuliner,

Wakatu ambo batugeh di Takengon , Aceh Tangah, ado namo desa banamo
Ronga2, kiro2 pas ditangah rute Takengon -Biruen. Disitu ado warung
makan nan sambanyo hanyo samacam sajo yaitu Gulai Ayam nan potongannyo
cukuik gadang tapi dagiangnyo empuk bana, rasonyo iyo sabana lamak..
Nasi maambiak surang2 barabuik sabara talok . Manuruik carito urang nan
ba etnis Gayo itu gulainyo baisi bumbu daun ganja. SaSampai dirumah mato
taraso mangantuak , iyo batarui an jo lalok lamak. Sasudah propinsi NAD
badiri, kalau waruang di Ronga2 tu masih bukak sarupo dulu, itu tando
lai HALAL gulai ayam babumbu daun ganja tu ma.
Iko sekedar panjawek tanyo ragu nakan JP., indak lamak kalau dianokan sajo.

Wassalam,
AA

Sjamsir Alam

unread,
Sep 4, 2013, 11:32:37 PM9/4/13
to rant...@googlegroups.com
Sato ciek Rin. Ndak batua tuh. Rang wak ndak kenal ganjo. Kok Aceh iyo
Mak Sati
Lk2, Galuang, Sungai Pua, Agam
02-03-1937

Rina Permadi <ri...@rantaunet.org> wrote:

>Mak tanyo ciek,
>Bantua ndak tu kalo masakan di RMP tu rato2 diagiah daun ganjo ?
>Sahinggo rasonyo sangat lamak dan kalo makan lamak jadi nio
>batambuah-tambuah dek raso kanyang lamo taraso.
>
>Atau iko hanyo rumor nan nio mandiskreditkan RMP sajo ?
>
>Wassalam
>Rina, 35, Batam
>

>-----Original Message-----
>From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On
>Behalf Of andi...@gmail.com
>Sent: Wednesday, September 04, 2013 10:43 AM

>To: rant...@googlegroups.com
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Warung Minang "Tambuah Ciek"
>

Sjamsir Alam

unread,
Sep 4, 2013, 11:38:29 PM9/4/13
to rant...@googlegroups.com
Ndak batua. Kok Aceh iyo.

Zubir Amin

unread,
Sep 5, 2013, 12:15:31 AM9/5/13
to rant...@googlegroups.com
Pak Sjamsir Alam nn baik n sanak palanta nn alun tau.
Di Jakarta Pak,Rumah makan/Restoran nn mulo2 pakai daun ganja sakitar thn '80an,ado di Krekot Bundar(Kota) cq Resto Medan Raya sampai kini.Kalaulah namo'e gulai santan kapalo lauak di resto tu,pasti ditambah jo daun ganja.Rasonyo lain dgn gulai santan biaso tanpa ganja. Sudah tu resto Medan Raya,diseberang Hotel Majapahit,jln Veteran,dakek Istiqlal.
Nan kini ado,resto Medan Baru di komplek pertokkoaan Puri Indah,Jakbar.
Kok nio ingin tahu pak Sjamsir gulai ikan tu pakai ganja,kubiklah kepala pelayan nn menghidangkan makanan tuk dimeja awak n sambia 'babisiak' kecekkan: 'gulai kapalo ikan ko "baisi" yo.Kecekkan pulo'lamak banagulai 'e'.Kuncinyo cieklai pak Sjamsir,bagi lidah Minang nn terlatih,pasti tahu gulai santan nn baisi ganja jo nn indak dicampua.
Jadi resto2 Minang di Jakarta ado nn pakai ganja n adolo nn indak pakai.Kemungkinan besar resto2 Minang nn gadang2 di kota2 besar di Ina dicampua jo daun ganja.Kaa baa awak lai Pak Sjamsir.
JB,DtRJ,74thn,di Bonjer,Jak bar.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: Sjamsir Alam <sjams...@yahoo.com.sg>
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Thu, 05 Sep 2013 10:32:37
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com

Darwin Chalidi

unread,
Sep 5, 2013, 12:47:27 AM9/5/13
to Rantau Net Minang

Sanak Palanta RN NAH. Manyolo wak sakaki.

Batua bana tuu ajo buyuang. Kalau kawan2 nan lamo di Pakanbaru bisa bana mambedakan gulai nan baisi daun2 nantun jo gulai biaso.
Kami tabiaso makan di RM Kota Buana thn 70an. Bisa makan gulai ayam 5 potong sakali makan. Di Duri ado pulo khas gulai cancang di Subarang Pipa.
Tapi sajak heboh daun itu masuak jadi barang haram, gulai2 RM2 itu jadi hamba sajo rasonyo.

Salam. Darwin Chalidi. 64. Tangsel

Darwin Chalidi

zhen...@yahoo.com

unread,
Sep 5, 2013, 1:09:09 AM9/5/13
to rant...@googlegroups.com
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهْ.

Sabagai tukuak tambahno, kalau nan. Ganjo nan dimukasuk tu adolah Ganja (dalam baso iindonesia) iyo alun ado nan tadanga lapau nasi urang awak mamakai no.

Ado pulo ganjo (daun) nan dipakai urang awak, biasono tumbuah dihalaman rumah (palambahan). Bantuak ampia saroman jo Ganja, namun tumbuahno randah. Ganjo ko rancak bana dipagunokan bagi urang nan sadang paneh dalam, sampai mangaluakan darah malalui iduang. Juo capek untuak ubek urang sakik mato, khususno sakik mato nan payah dibukak karano malakek dek ado kotoran nan kalua di mato (cirik mato)
Ciek lai manfaatno adolah untuak ubek luko
Jadi nan Ganjo juo ado dan tapakai diawak, tapi bukanno Ganja



والسلام عليكم  ورحمته الله وبركا ت



Z. Bandaro. Labiah

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sjamsir Alam <sjams...@yahoo.com.sg>
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Thu, 05 Sep 2013 10:38:29
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages