Minangkabau secara umum terdiri dua bagian yaitu daerah luhak dan
rantau. Pembagian wilayah tersebut telah mempengaruhi corak
pemerintahan tradisional lokal yang ada di daerah luhak dan rantau.
Masing-masing daerah tersebut memiliki corak pemerintahan yang
berbeda. Daerah luhak biasanya dipimpin oleh seorang penghulu,
sedangkan rantau dipimpin oleh raja. Hal itu berkaitan dengan
ketentuan adat yang berkembang di Minangkabau, yakni Luhak Ba
Panghulu, Rantau Ba Rajo. Artinya, kekuasaan raja hanyalah berlaku di
rantau sedangkan di luhak penghulu yang menjabat sebagai kepala
pemerintahan.
Salah satu daerah yang berada di luar luhak nan tigo adalah Alam
Surambi Sungai Pagu, daerah ini bukanlah daerah rantau. Dengan
demikian, ketentuan di atas tidak berlaku di Alam Surambi Sungai Pagu,
karena Alam Surambi Sungai Pagu bukan daerah rantau. Daerah ini
disebut sebagai ikua darek kapalo rantau. Artinya, tidak termasuk
daerah darek dan tidak termasuk pula pada daerah rantau. Daerah ini
memiliki corak kekhasan tersendiri karena secara kultural daerahnya
berada di bawah pemerintahan tradisional.
Kekhasan corak pemerintahan daerah Alam Surambi Sungai Pagu ini
dibuktikan dengan adanya pemerintahan raja yang berempat (rajo nan-4)
sebagai elit tradisional selain penghulu. Raja nan-4 tersebut yakni
Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah,
Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo, Raja Ibadat Tuanku
Rajo Batuah, dan Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang. Keempat
pemimpin tradisional ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan di Alam Surambi Sungai Pagu. Keberadaan pemimpin
tradisional ini telah dimulai sejak zaman Islam di Minangkabau dan
eksistensinya masih coba dipertahankan sampai sekarang.
Sistem kelarasan yang dianut oleh masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu
berbeda dengan sistem kelarasan yang dianut secara umum oleh
masyarakat Minangkabau. Mereka tidak menganut sistem kelarasan Bodi
Caniago dan juga bukan pengikut kelarasan Koto Piliang. Salah satu
kemungkinan adalah mereka menggunakan sistem kelarasan dengan
menggabungan sistem kelarasan Bodi Caniago dengan kelarasan Koto
Piliang. Pepatah Minangkabau mengatakan “Pisang Sikalek-kalek hutan,
pisang batu nan bagatah, Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo
antah”. Hal ini terlihat dari corak pemerintahan tradisionalnya yang
menggunakan raja dan penghulu secara bersama-sama.
Masing-masing raja nan-4 mewakili suku-suku induk yang ada di Alam
Surambi Sungai Pagu.. Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar
Tuanku Rajo Disambah berasal dari suku Melayu. Raja Adat Yang
Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo berasal dari suku Kampai 24. Raja
Ibadat Tuanku Rajo Batuah berasal dari suku Panai Tigo Ibu, dan Rajo
Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang berasal dari suku Tigo Lareh
Bakapanjangan.
Keempat raja yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu memiliki kekuasaan
yang sama. Masing-masing raja memiliki fungsi tersendiri. Namun
demikian, Rajo Alam Tuanku Rajo Disambah dapat dikatakan sebagai pucuk
pimpinan dari tiga raja lainnya. Hal tersebut terlihat dari gelar yang
dipakai oleh Raja Alam Tuanku Rajo Disambah, yaitu Daulat Yang
Dipertuan Sultan Besar. Akan tetapi ada kesan seolah-olah raja ini
sama kedudukannya dengan ketiga raja yang lain. Padahal menurut
struktur yang hirarkis posisi Raja Alam Tuanku Rajo Disambah memang
menjadi pucuk pimpinan di Alam Surambi Sungai Pagu, daerah yang
dijuluki Nagari 1000 Rumah Gadang itu karena biasanya Raja Alam adalah
posisi pucuk dari struktur kepemimpinan tradisional Minangkabau.
Terlepas dari persoalan siapa yang menjadi pucuk pimpinan di antara
empat raja di Sungai Pagu yang jelas keberadaan mereka merupakan
sesuatu fenomena menarik untuk sebuah kajian ilmiah budaya
Minangkabau.(*)
http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?sumbar=artikel&id=149
Selasa, 17/03/2009 19:48 WIB
Assalamualaikum ww
Sanak Nofend St. Mudo sarato mamak & dunsanak palanta nan dirahmati Allah
Wilayah Minangkabau memang tabagi duo yaitu Luhak dan Rantau dimano dikatokan Luhak ba-pangulu rantau dibari ba-rajo
Baik Luhak maupun rantau ada yang bercorak Koto Piliang ado pulo Bodi Caniago adopulo gabungan kaduonyo namun apapun corak yang dianut kesemuanya baik luhak maupun rantau tetap berdaulat ke Istano Rajo Alam Minangkabau di Gudam Balai Janggo Kapalo Koto Pagaruyuang tamasuak Rajo Disambah Surambi Alam Sungai Pagu yang juo samo posisi-nyo dengan yang lain seperti Yang Dipituan Kinali di Kinali Pasaman atau Rajo Kuwantan Nan Kurang Aso Duopuluah di Cerenti Riau atau Rajo Rokan Ampek Koto di Rokan Tinggi Riau atau Rangkayo Basa 2X11 Anam Lingkuang Kayu Tanam karena memang begitu hiearchi-nya ke Gudam Balai Janggo
Yang tidak termasuk daftar rantau Minangkabau adalah Kerajaan Kurinci walau disebut sebagai daerah Takluk Minangkabau
Kerajaan Kerinci memang dibawah pengaruh Pagaruyuang bahkan sebahagian kerabat Istana Alam Pagaruyuang yang tidak mau masuk Islam dizaman Sultan Alif mula masuk Islam mengungsi ke Istana kerabat di Kerinci Sungai penuh
Gelar2 Bangsawan Istana Kerinci terdengar ber-bau Jawa Mojopahit, maklum baik Raja Adityawarman Kerajaan Pagaruyuang maupun Kerajaan Kerinci masih sama2 kerabat Istana Mojopahit yang tergusur dulu sewaktu Adityawarman dianggap pusat sebagai pemberontak yang harus diperangi
Apakah kerabat Istana Kerinci penganut matriachat sebagaimana juga pertanyaan untuk kerabat Istano Alam di Gudam masih menunggu jawab, namun mungkin saja sebagian kawula rakyat di Kurinci ada juga yang matriachat sebagaimana dunsanak-nya di-Ranah Bundo
Kok iyo, apo sukunyo? (samo juo tanyo ka Gudam)
Mungkin ado mamak dan dunsanak nan ber-asal dari Kurinci atau pernah bermukim disana bantu menjelaskan? wasalam abp-57 |