SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.
"Embun Pagi," jawab Herman di luar mobil. "Tiga puluh kilo dari
Bukittinggi. Keluarlah, lihat ke bawah!"
Mirna keluar mendekat, mendadak terhenti. Di dasar lembah terhampar
danau, tenang tak beriak, airnya biru dipagari bukit hijau. Rumah
bertebaran di pinggir, juga masjid dan surau, atapnya seng berkilau
disinari matahari.
"Danau Maninjau." Herman tersenyum. "Indah, kan?"
"Indah!" Mirna tak membalas tatap lelaki itu. Ia amat terpesona.
Pikiran yang memberat oleh kesibukan dan kerisauan ibu melihat dia
masih sendiri di usia 33 luruh seketika. Ia tak sempat berpikir
bagaimana alam dapat meredam galau jiwa manusia, menenangkan hati dan
pikiran. Ia takjub, terus menatap; menampakkan garis kening, hidung,
bibir, dagu yang indah dari samping. Herman berdebar. Lalu dia
menggeleng, merasa diri sudah tak berhak. Perempuan ini bisiknya di
hati, niscaya bukan yang dulu lagi.
"Itu Sungai Batang," tunjuk Herman. "Di situ Hamka dan Noer Sutan
Iskandar lahir. Juga kampung penyair Samadi alias Anwar Rasjid."
Mirna menoleh, lalu kembali memandang danau.
"Itu Sigiran, kampung penyair Leon Agusta," sambung Herman. "Sebelah
situ Bayur. Desa kelahiran Jusuf Sou'yb, novelis dan penyair."
Kini Mirna menghadapkan wajah. Herman lagi-lagi merasa desir lama di
hati; bangkit dari lubuk yang dalam. "Tentu keindahan danau ini
membuat putra-putranya jadi seniman," balas Mirna.
"Mungkin. Novel Kemarau pun ditulis AA Navis sewaktu tinggal di
Maninjau masa PRRI. Inspirasinya dia peroleh setelah mengamati danau."
"Tapi, Maninjau bukan hanya melahirkan seniman," sambung Herman. "Juga
M. Natsir, Rasuna Said, ulama besar ayah Hamka, Syekh DR Abdul Karim
Amrullah. Dan, Buya Tuo AR Sutan Mansur. Beliau ini abang ipar Hamka,
pernah memimpin Muhammadiyah, dan ayah penyai Samadi."
Mirna manggut-manggut. Tiba-tiba, dipandangnya Herman. "Kukira kau mau
mengajakku ke kampungmu," katanya. "Apa namanya?"
"Saruaso."
"Tidak pernah kau sebut waktu kuliah. Di mana itu?"
"Dekat Pagaruyung. Eh, mengapa tertawa?"
Mirna menggeleng, tersenyum.
"Kamu tertawa!" Herman penasaran. "Ada apa?"
"Tidak. Hanya terpikir, mungkin karena dekat Pagaruyung aku tidak kau
bawa ke sana. Dekat pusat budaya Minang tentu adatnya kuat. Kau pasti
risi jalan dengan perempuan lain, takut dikira selingkuh."
"Bukan karena itu!" bantah Herman.
"Karena apa?"
"Jauh. Dan, kau suka danau. Lihat Lido saja dulu takjub, padahal danau kecil."
Sudah berapa tahunkah itu? Sepuluh? Sebelas? Lelaki itu masih ingat.
Saat itu libur kuliah dan mereka ke danau dekat Bogor itu. Tapi kenapa
merasa harus ada yang berarti bila orang ingat sesuatu, pikir Mirna.
Aku pun tetap ingat lelaki ini, kapan saja, di mana pun, padahal itu
sia-sia. Mustahil Herman masih sendiri, seperti masa kuliah.
"Ya, Lido kecil dibanding ini," kata Mirna. "Betul tidak ada danau di
Saruaso, Man? Danau Singkarak itu di mana?"
"Dekat Padang Panjang. Kalau kamu lama di Sumatera Barat kubawa ke
sana. Juga ke kampungku."
"Ke Saruaso?"
"Kenapa tidak?" sahut Herman. "Eh, mengapa terkejut?"
Mirna menggeleng, kembali melihat danau. Senyum. "Menurutmu apa dengan
pergi berdua begini kita sudah selingkuh?" dia bilang.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena aku tak ingin ada yang dikhianati. Sakit dikhianati."
Herman tertegun. "Jadi, kamu merasa ada yang kita khianati di Jakarta?"
"Seperti yang di Saruaso?" balas Mirna tangkas.
Herman diam, melayangkan mata ke danau. Bagaimana ia jawab sindiran
itu? Masih berguna dijawab? Sepuluh tahun tidak jumpa bukan waktu yang
singkat. Pasti Mirna tidak sendiri lagi. Dengan ketenaran sebagai
doktor ekonomi, cantik, mustahil dia masih sendiri. Langkahnya pun
telah jauh, menjejak benua-benua asing, saat studi atau untuk
berseminar.
u
MENTARI mendekati tengah langit, cahayanya kemilau di permukaan danau.
Di Embun Pagi tetap sejuk. Herman merasa, saat ini yang terbaik adalah
minta maaf. Bukankah dulu dia lenyap begitu saja dari Jakarta, usai
wisuda, saat ayahnya wafat? Bukankah dia yang ingkar janji?
Walau janji bagi banyak orang kini diumbar lalu diingkari, tapi tidak
baginya. Herman tak setuju pemeo titian biasa lapuk, janji biasa
mungkir. Ia suka pemeo Tiongkok: sekali kata diucap, tiga ribu kuda
tak mampu menariknya kembali . Ia pun tahu, meski tak terlihat di
wajah Mirna saat jumpa kemarin, juga dalam kebersamaan mereka sejak
pagi tadi, Mirna terluka dia tinggalkan.
Ke siapa dia dulu cerita sebelum pulang? Tak ada. Semua serba tergesa.
Mirna mudik ke Jawa, dan dia panik mendengar kematian ayahnya,
pontang-panting mencari ongkos pulang. Lalu terikat di kampung, jadi
tiang keluarga, dengan ruh melayang ke Jakarta, juga Amerika,
mendengar Mirna studi di negeri jauh itu.
"Ayo ke bawah, Mir. Biar kamu lihat danau itu dari dekat," ajak Herman.
"Lewat jalan itu?"
"Namanya Kelok 44, karena ada empat puluh empat tikungan, dibangun
masa Belanda. Lewat di situ danau bak minta disentuh. Dan di bawah, di
Maninjau menanti makanan khas sini, palai rinuak, pepes ikan
kecil-kecil putih sepentul korek api. Ayo, kapan lagi kamu ke Ranah
Minang dan menikmati salah satu danaunya!"
"Kamu kenal betul daerah ini padahal jauh dari kampungmu," kata Mirna.
"Kamu lupa aku pengusaha hotel walau kelas melati?" Herman tertawa.
"Juga karena sering kemari?"
"Ya."
"Dengan istrimu?"
Herman tertegun. Nyeri. "Waktu SMA," katanya. "Lalu mengantar
wisatawan. Ayo!" Dia berjalan ke mobil, membuka pintu, dan Mirna
masuk. Wajahnya memerah seperti jambu. Hati Herman berdebar kembali,
namun lekas dia stater mobil.
Mirna lalu menikmati danau lewat jendela mobil yang terbuka. Danau
semakin indah; kadang di kiri, kanan, dan terus mendekat. "Dari siapa
kau tahu ada aku dalam seminar itu?" Mirna mengalihkan mata dari
danau.
"Kubaca iklannya di koran. Doktor Mirna Ciptarianing jadi pembicara."
"Kamu menyetir dari Padang ke Bukittinggi memastikan? Berapa jaraknya?"
"Sembilan puluh kilo. Aku ingin memastikan tidak ada yang berubah."
"Ternyata?"
"Ternyata... Doktor itu memang pembicara." Herman tertawa. "Walau
tentu ada yang berubah."
"Apa?" Suara Mirna bergetar. "Kamu tentu juga berubah, kan?"
"Ya, aku kini pengusaha hotel kecil." Herman ketawa lagi.
Mirna mencari mata lelaki itu tapi Herman melihat ke jalan. "Menurutmu
apa yang berubah padaku?" desak Mirna.
Herman berpikir. Akan ia katakan terus terang? Tidakkah jawaban Mirna
nanti menyakitkan? Bahwa, karena ia ingkar janji, lenyap begitu saja,
perubahan itu terjadi! Siapa sudi terus sendiri, menanti lelaki yang
tak jelas hutan rimbanya!
"Kamu... ya, seperti sekarang. Ekonom terkenal, tiap hari ditulis
koran, masuk televisi!" Herman membelokkan jawaban.
"Ngenyek!" Mirna meninju lengannya. Hati Herman berdebar pula. Tapi
naluri pemilik hotel dan pemandu wisata dia beri peluang bereaksi.
"Ini Kelok 13," katanya. "Saat perang saudara dibuat orang pasar di
sini. Hubungan putus dengan Bukittinggi, kota kabupaten. Penduduk dan
para pemimpin PRRI yang mengungsi ke sini terisolir. Daerah Maninjau
dihujani mortir dari Embun Pagi. Korbannya, ya, rakyat."
"Selalu rakyat jadi korban," sahut Mirna.
"Ya. Bagaimana menurutmu danau itu dari sini?"
"Makin indah!"
"Ya, dari tiap kelok danau itu kian indah."
"Sering kamu bawa istrimu kemari?"
Herman melihat jalan. Tahukah dia, mendengar itu wajahnya yang
terbayang? Ah, akan dia katakan saja sekarang? Masih bergunakah? Tak
lebih menyakitkan? Hm, ada baiknya belajar pada alam, renung Herman.
Pada danau yang menerima segalanya dengan tabah. Lihat, danau tetap
teduh-indah meski sungai yang mengaliri tentu tidak hanya membawa air.
Juga yang serba tak sedap.
u
MEREKA sampai di kelok pertama, gerbang kota kecil Maninjau. "Belok
kiri ke kampung Hamka, Leon Agusta," Herman menjelaskan. "Kita ke
kanan arah Bayur. Ada restoran di tepi jalan, sebagian bangunannya di
atas danau, makanya makanannya enak. Mata leluasa memandang danau,
telinga mendengar riak-riak yang lunak."
"Kamu pemandu wisata profesional," puji Mirna. "Aku menurut saja." Ia
tahu Herman belum menjawab pertanyaannya tapi matanya berbinar. Danau
dua-tiga meter di kiri. Di seberang terlihat rumah penduduk, juga di
kanan jalan. Bebukitan hijau di belakang danau melingkar menjaga
keasrian.
Di mana ada keteduhan begini? Mirna ingat, dia pernah ke Bali saat
galau hati tak tertanggung. Tapi ada yang khas pada Maninjau, tak
ditemui pada danau di Bali.
Herman memarkir mobil di muka restoran berarsitektur Minang. Mirna
keluar, melepas sepatu, lari mencelupkan kaki ke air. Tepi danau tak
berpasir, cuma batu-batu kecil, dan ikan di selanya. Saat ia angkat
muka ia lihat Herman di atas depan restoran, tersenyum. Hati Mirna
teriris. Tak mungkin lelaki itu masih sendiri di negeri elok ini.
Tapi, ia kini bersamanya. Apakah ia telah mendorong Herman
mengkhianati istrinya?
Herman mendekat lewat tangga batu, berseru, "Makan dulu, nanti ke situ!"
Mirna menarik kaki dari air dengan patuh, menjinjing sepatu dan
bersijingkat di bebatuan. Mereka duduk dekat jendela di restoran,
memandang danau.
"Permai?"
"Sangat indah!" Mata Mirna bercahaya. "Sering kamu ajak istrimu ke sini?"
Herman menatap. Lalu menyahut, dengan getar suara yang nyata, "Satu kali."
"O, ya?" Mirna coba tersenyum, tapi gagal. "Saat kalian baru... menikah?"
Herman terus memandang. "Bukan. Saat ini!" Mirna kaget. Jarinya
bergetar di meja, ditariknya ke pangkuan.
"Kenapa kamu kira aku punya istri?" Herman menuntut -ia tak tahu dari
mana datang keberanian. "Karena meninggalkanmu? Ayahku meninggal, Mir.
Aku tertahan di kampung, mengurus ibu, adik-adik."
Mirna masih terpana, lalu senyum. "Dan, kamu," balasnya dengan suara
nyaris tidak terdengar. "Mengapa menduga ada yang kukhianati di
Jakarta?"
Tak perlu lagi jawaban, penjelasan. Mata Herman bersinar. Danau kian
indah kilau-kemilau memantulkan berkas cahaya.
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 9/11/07
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/11/index.html
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.
Ambo tambahkan ciek lai Cerpen nan bernuansa Minang , tapi yang satu
ini lebih khusus ditujukan untuk para manula yang telah memasuki masa
pensiun .
Judul Cerpen : Mimpi Tua
Ditulis Oleh : Abdullah Khusairi
Dimuat : Jawapos Minggu 25 Nopember 2007
Baginya, membuat pagi menjadi indah cukup cuci muka, kopi dan rokok
kretek yang dinyalakan lalu dihisap. Maka merebaklah aroma racikan
tembakau ke seluruh ruangan dihembus gemulai angin pagi bersama aroma
kopi hangat. Dan pagi sangat indah sekali terasa...??
Begitulah, aktivitas pagi hari Tuan Leman semenjak masuk masa pensiun
beberapa tahun silam. Menikmati embun dan harum melati di beranda
bersama sang istri. Mengenang masa muda yang bergelora, masa jaya
yang bergairah. Pagi dengan rindang pepohonan di halaman rumah,
mentari mengintai di balik daun-daun Melinjo. Kuning keemasan
sinarnya menerpa kaca jendela yang kusam, lama tak dibersihkan. Keok
ayam dan itik memberikan nada desa yang pasrah.
Kakek enam cucu dari lima anak ini benar-benar sangat menikmati hari-
hari setelah pengabdiannya sebagai seorang pejabat. Sisa ketampanan
di raut wajahnya masih tampak tegas. Gaya berbicara yang dulu berapi-
api sesekali masih tampak. Kini sudah bertambah pula dengan nyinyir.
Pertanda melewati usia tua.
Sayangnya, selama pensiun, tak lagi ada tempat resmi untuk berbicara
di depan khalayak. Hanya sesekali ia mendapat kesempatan bisa
mengekspresikan dirinya secara tidak resmi jika bertemu teman lama
atau kedatangan tamu. Satu tempat yang sering menjadi ajang pertemuan
itu adalah tempat mengambil dana pensiun. Bila bulan muda tiba,
semangat muda juga datang, maka ia berangkat ke bank itu dengan
segala keceriaan pagi. Di sana ia bertemu teman lama.
Dan, menjelang siang, dia akan bercerita panjang lebar tentang dunia
yang pernah di dalam kantong celananya. Di hari-hari biasa, ia lebih
banyak membaca koran, mendengar radio, menonton televisi. Sesekali
melagukan dengan sumbang tembang lama yang populer pada masa mudanya.
Begitulah lelaki berkaca mata tebal ini menelan hari demi hari. Tak
banyak lagi kesibukan menghukumnya. Dari luar tampak ia menyimpan
kebahagiaan dan ketentraman.
***
Kedamaian Tuan Leman tiba-tiba terusik beberapa hari terakhir. Ia
diusik oleh mimpi yang berkelibat setiap tidurnya yang sudah beberapa
kali datang. Mimpi ini membuat Tuan Leman berkeringat dingin sesudah
mimpi berlalu. Bagaimana tidak? Tuan Leman didatangi seorang laki-
laki yang menawarkan Tuan Leman menjadi tuhan. Persyaratannya tidak
terlalu susah untuk dipenuhi Tuan Leman. Begitu persyaratan dipenuhi,
ia segera menjadi tuhan.
Dipilihnya Tuan Leman karena ia pernah menduduki jabatan strategis di
masa-masa sulit. Ia berhasil membawa masyarakat hidup makmur.
Begitulah lelaki dalam mimpi itu memberi alasan.
"Untuk itu, tak ada alasan, Anda segera menjadi tuhan dan penuhi
persyaratannya!" Lelaki itu berlalu dan Tuan Leman terjaga. Tak ada
kesempatan Tuan Leman untuk bertanya lebih lanjut ketika laki-laki
itu datang. Bila ia terjaga, keringat dingin mengucur deras dari
tubuhnya yang segera ringkih. Wajahnya pasi.
"Benar-benar konyol. Tak mungkin, itu tak mungkin." Tuan Leman
menyatakan keresahannya sambil geleng-geleng kepala.
"Ah, jangan terlalu percaya. Mimpi adalah bunga tidur, kenapa diambil
pusing pula," sang istri menyela. Ia mencoba untuk menenangkan
suaminya.
Ia tahu suaminya tak bisa begitu saja terpengaruh. Hanya saja,
suaminya acap terjebak dengan hal-hal sepele. Itu sering terjadi.
"Tetapi, jika mimpi itu bunga tidur. Bukankah sering terjadi, mimpi
juga akan berbuah kenyataan? Nah…," ungkap Leman membantah kenyataan
demi kenyataan dan hukum akal yang bermain di kepalanya.
Sang istri yang mengerti luar dalam tentang suaminya mengurut dada.
Ia memahami ambisi masa muda sang suami memang belum pudar, walau
waktu memakan usia. Ia tahu betul, obsesi, harapan, apa saja atas
nama untuk ketenaran dan kekuasaan membuat dada suaminya panas.
Keinginan berkuasa Tuan Leman ini memang besar. Ia dengan strategi
apa pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan seni
dan strategi perang ala Sun Tzu. Dalam banyak pidato ia mengutip Sun
Tzu: Pertahanan yang baik adalah menyerang. Sadar posisi diri, kawan
dan lawan. Naluri yang tajam dan peka terhadap kompetisi politik.
***
Mimpi itu terus-menerus mengganggu Tuan Leman. Sayang sekali, setiap
mimpi itu datang, Tuan Leman tak bisa berbicara dan berkomunikasi
dengan laki-laki dalam mimpi itu. Lama-lama Tuan Leman jadi
ketakutan, keheranan bercampur dalam kebingungan.
Dalam pemikiran sehat yang datang pada Tuan Leman, orang kaya pemilik
tanah dan sawah ini memang tak bisa menerima apa pun terhadap mimpi
itu. Ia berusaha untuk melupakannya. Tetapi, sejauh ia berusaha untuk
melupakannya, sedekat itu pula ingatannya datang terhadap mimpi itu.
Diam-diam ia jadi tertarik untuk menjalankan tawarannya itu. Menjadi
tuhan? Sesuatu yang sangat tak mungkin, tetapi betapa hebatnya kalau
itu bisa terjadi.
"Itu benar-benar bunga tidur. Tidak akan pernah berbuah," tegas Tuan
Leman dalam ragu dan mau yang mengganggu. Enggan berkelindan
menggerus rayu mendayu. Tuan Leman berjalan di pematang yang kecil
ketika padi masih baru ditanam, angin deras seperti segera badai. Ia
seperti ayam termakan sepotong rambut. Diam merenungi mimpi yang
selalu datang.
Melihat gelagat yang tidak baik akhir-akhir ini suaminya, sang istri
resah. Gelisah. Ada keinginan untuk memanggil psikiater untuk
suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ingin juga menelepon anak-
anak di kota, tapi apakah itu mungkin, Lebaran saja mereka jarang
pulang. Karena takut, ia coba memendamkan semua kemauannya demi
menjaga hati suaminya yang sedang dihadang gelombang.
Sebenarnya, ia bangga sekali dengan kesuksesan sang suami. Hingga
saat ini ia kagum dengan nama besar suami tercintanya itu. Amat
banyak pujian untuk suaminya, ia dengar langsung dari orang-orang
yang datang kepadanya. Walau tetangga sempat mengungkapkan kalau-
kalau suaminya mengidap post power syndrom. Ketika kekuasaan tak ada
lagi di tangan, membuatnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan.
"Tetapi aneh, kenapa baru sekarang. Ia sudah lama pensiun. Lima tahun
lalu," sang istri mencoba mengungkap alasan kepada dirinya sendiri.
Orang mengenal Tuan Leman seorang yang sukses dalam banyak hal. Ia
kaya pengalaman baik-buruk, asam-garam dunia. Tetapi yang sangat
diingat orang, ketika ia sedang berkuasa, perintah yang datang dari
mulut dan telunjuknya harus diselesaikan sesuai dengan maunya. Tak
mau mendengar alasan jika ada kegagalan. Sungguh kadang-kadang tidak
masuk akal. Satu lagi, ia paling tak suka orang yang membantah. Ia
benar-benar sok tahu. Padahal, mungkin saja dalam banyak hal bisa
diketahuinya, tetapi dalam satu hal harusnya ia belajar dan bertanya
pada ahlinya. Itulah yang tidak berlaku pada Tuan Leman. Tetapi,
kelebihannya, ia solider. Kalau ada temannya yang sedang kesusahan,
bukan kepalang dia akan menolong. Ia tak perhitungan kalau sudah
begitu. Sayangnya, kalau sudah dirayu dan dipuji, ia sering kali lupa
diri, maka alamat habislah dana taktis yang harusnya ia manfaatkan
untuk hal yang lebih baik. Itulah beberapa hal dari sekian banyak
ingatan orang terhadap Tuan Leman yang sukses. Sekali lagi, masa
lalunya adalah pahit, manis, dan getir..?
Suatu hari pernah terjatuh akibat sakit kepala yang sangat parah
bersamaan dengan naiknya asam urat yang ada di tubuhnya. Ini persis
seperti orang besar seperti Napoleon Bonaparte, yang tak takut dengan
seribu tentara, tetapi sangat takut dengan surat kabar. Tuan Leman
memang tak kuat dikritik, ia jatuh ketika membaca tajuk rencana
sebuah surat kabar yang menusuk dadanya.
Orang besar tak selalu berdjiwa besar. Orang pintar seringkali
bertingkah seperti kekanak-kanakan. Orang bidjak memang banjak tapi
soesah dicari. Karena itu, kekoeasaan itu candoe, ia tak bisa lepas
setelah mendapatkannya. Orang-orang jang selalu meminta pengakoean
atas kepintarannja. Biasanja adalah orang bodoh. Dan, orang yang
selaloe berkoar-koar sok tahoe biasanja dia tidak tahoe apa-apa. Dan,
amatlah soesah saat ini, mencari orang yang adil kepada seorang
moesoeh, sebuah tindakan terpoeji pada zaman nabi. Wahai bapak
pedjabat! Bersikap baik, lebih baik dari pada memboeat diri menderita
dan orang lain tertawa. Walau kau bentji pada seseorang, djangan
sesekali berboeat tidak adil padanja, karena, doa orang jang
dizhalimi sungguh didengar-Nja. Itulah seboeah derita ketika
kedjoedjoeran mendjadi djalan hidoep nantinja. Wahai, boeka kaca mata
keloearlah dari roeanganmu, pandanglah doenia.
Akibat membaca tulisan itu, Tuan Leman dibawa ke rumah sakit. Ia
terbaring selama empat hari. Pulang sebelum benar-benar pulih karena
permintaan anak bungsunya yang bongsor. Itulah salah satu episode
hidup sang tuan yang waktu itu cukup mengerikan bagi banyak orang.
"Ia cukup tegar," cerita salah seorang temannya. Hanya saja, begitu
ia pensiun, satu satu orang-orang terdekat Tuan Leman menghilang bak
ditelan bumi. Semua saluran komunikasi putus. Hal ini membuatnya
pulang ke kampung halaman dan menghuni rumah tua yang sudah lama
ditinggalkan sanak saudaranya dulu. Cucu dan anak-anaknya pun tak
banyak memberikan support, hanya sapaan lewat telepon seadanya, jika
diperlukan.
***
"Kalau memang benar mimpi itu, saya tunggu nanti malam. Saya bersedia
memenuhi persyaratannya," ujar Tuan Leman di tengah kebingungannya.
Istrinya tambah bingung.
"Pak, coba Bapak ke orang pintar dulu," usul istrinya, sambil melirik
polos ke sang suami. Sisa kemesraan masa muda yang masih mengilau.
"Untuk apa kalau hanya membuat mereka tertawa. Sekarang saya akan
menikmati mimpi itu kalau ia datang. Saya siap lahir batin,"
ungkapnya yakin dan tak goyah sedikit pun. Masih tetap ada nada
kebimbangan.
Malam yang gelap. Kelam yang hitam. Entah kenapa mimpi itu tak pernah
datang. Tuan Leman menanti-nanti dan mencoba untuk tidur secepatnya,
namun percuma mimpi itu tak pernah datang. Hal ini pula yang membuat
Tuan Leman bertambah bingung. Ketika kemauannya menjadi tuhan
memuncak, justru mimpi itu tak datang-datang. Diam-diam, istrinya
lega dengan mimpi yang tak pernah datang lagi ke suaminya.
Bagi Tuan Leman, ini seperti sebuah penghinaan kepada dirinya. Tetapi
siapa yang harus dimarahi? Ketika mimpi itu tak datang lagi untuknya.
"Ke mana kau wahai laki-laki dengan wajah kelam?" ujarnya geram,
ketika akan tidur. Matanya tak mau terpejam. Diam-diam Tuan Leman
beranjak bangkit dari pembaringan. Ia keluar kamar hati-hati sekali,
takut istrinya bangun. Ia ke dapur mencari sesuatu. Malam amat pekat.
Ia meraba-raba dan mendapatkan hulu belati.
"Crassh." Ia menusuk dadanya dengan belati itu. Di gelap malam yang
hening, Tuan Leman menggelepar-gelepar di dapur meregang nyawa. Darah
mulai berceceran dari ujung hulu belati yang tertancap di dada
kirnya. Lantai merah, mengalir, kental. Tuan Leman telentang sesekali
ngorok, satu-satu napasnya dapat ditarik. Ia kalah dengan mimpi yang
pernah datang kepadanya. Di akhir sekarat Tuan Leman, seperti ada
tangis yang tertahan dari tenggorokan sang tuan. Malam menggigil,
satu-satu gerakan Tuan Leman, lalu diam selama-selamanya. Kini rohnya
benar-benar menuju tuhan. ***
Padang, 15 Oktober 2005
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR"
<saaf10leo@...> wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,
>
> Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini.
Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
>
juga akan berbuah kenyataan? Nah�," ungkap Leman membantah kenyataan
wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,
>
> Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini.
Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
>
> "Nofend St. Mudo" wrote:
> Oleh Adek Alwi
>
> SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
> berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,
Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
"Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote:
Oleh Adek Alwi
SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.
----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut! Let your teams follow you
with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Get easy, one-click access to your favorites.
Make Yahoo! your homepage.
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut! Let your teams follow you
with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ
Pak Saaf ! koreksi snek dih , satahu ambo carito novel Jayaprana dan
Layonsari barasa dari Singaraja Buleleng Bali .
zul amri piliang
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR"
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.
> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.
> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu? Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak., Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah. Tarimo kasih St. Mudo Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.
> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>
From: Dr.Saafroedin
BAHAR
Sent: Monday, December 03, 2007
1:40 AM
Assalamualaikum w.w. Pak Chaidir,
==============kuduang=================
PS: Tantang masalah-masalah nan disampaikan dek kawan-kawan pak Chaidir,
saparati soal punah, kawin sasuku atau harato pusako tun nan salamo ko ambo
jadikan 'entry point' untuak mambahas adat Minangkabau, dapek ambo jalehkan
bahaso inti masalahnyo adolah: dima bana lataknyo posisi Manusia Minangkabau
dalam duo sistem nilai dan struktur sosial manuruik adat Minangkabau dan
manuruik agamo Islam nan banyak bana bedonyo. Iko bana nan alun salasai. Apo alun wakatunyo masalah mendasar ko kito tangani
sacaro mendasar pulo ? Apo akan kito wariskan
bangkalai ko ka anak cucu kito sahinggo mereka tatap juo bapacah balah sarupo
kito ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
Walaikumussalam WW
Pak Saaf dan sanak sapalanta nan ambo hormati.
Ambo mandukuang dan sangat batarimo kasih usaho pak Saaf dalam jalan manuju panyalasaian ABSBSK. Awak mamandang sangat paralu dituntaskan, tapi saying, nan sabanano punyo kemampuan dan punyo kekuasaan untuak mandorong terlaksananyo kajiko. Nan punyo kekuasaan dan kito harokanko adolah pihak Pemda Sumbar. Iyo banyak nan diharapkan ka Pemda ko, dek mereka dipiliah kan untuak itu.
Nan sabanano, si pemdako kan mambari dukuangan dan legalisasi ka pihak kampus, pihak kampus melaksanakan dan kudian hasiano di sosialisasikan dan diuasahokan untuak dilegalisasikan. Tanpa legalisasi dan sosialisai hasia akhirno nantik akan jadi tumpukan kertas seminar yang tidak pernah disentuh. Sayangkan. Saparati kecek pak Chaidir, baa mangko satiok acara indak dibuek sambuang manyambung, saroman kaidah ilmu pengetahuan.
Sambuang manyambuang dengan merujuk dan memperbaiki pertemuan atau seminar sabalunno, sahinggo didapek kesimpulan nan dapek diapatangguangjawabkan sacaro akademis dan hukum adapt tantuno.
Taruihlah pak Saaf, kalau indak dilakukan bilo dan oelh sia lai.
Wassalam WW
Darul St Parapatiah
Kabarnya tanggal 19 Desember ini Film yang diangkat dari novel best
seller dengan setting Mesir ini akan dirilis di Bioskop Indonesia.
Semoga film nya tidak "mengecewakan" lah karena di novelnya nuansa
Islami begitu kental sekali. Bila bukunya pernah dilabeli "must read
book" semoga filmnya juga bisa dilebeli senanda.
Wassalam,
--
Afda Rizki
********
See how.
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
Pak Saaf dan dunsanak kasodonyo.
Saya bisa merasakan apa yang pak Saaf rasakan. Dan
saya bisa merasakan apa yang dirasakan sanak
Zulidamel.
Tapi,...kondisi memang dah semacam itu.
Sekarang, apa yang dapat kita lakukan,dari perbuatan
baik dan bermanfaat lakukan sajalah, ngak usah pandang
A, I, U, E, O. Apa kata orang. Ingat cerita keledai
dan tuannya, serta sang anak, apa-apa salah toh dalam
pandangan orang yang melihatnya.
Yang pasti satu kita ingat, apa yang kita kerjakan,
apa tujuannya, hanya Allah sajalah yang maha tau.
Biarkanlah Allah yang menilainya. Kalau kita nilai
buruk, jangan-jangan malah kita yang menilainya buruk,
malah kita yang berdosa, kita terkena hukum firman
Allah :"buruk sangka".
Saya terkadang sedikit lucu juga, katanya urang Minang
terkenal dengan "Raso jo Pareso", sependek yang saya
alami, aneh bin ajaib, kadang bukan hak kita, kita
ambil juga, kadang bukan tanah milik kita kita
letakkan juga barang2 kita disana.Katanya lamak
diurang katuju diawak, atau katuju diawak lamak
diurang?
Terkadang kita ingin orang melakukan apa yang kita
inginkan, sementara kita sendiri tak melakukan apa
yang diinginkan orang lain. Atau sebaliknya, kita tak
ingin orang melakukan apa yang kita tak sukai, padahal
diri kita sendiri melakukan hal sama yang tak disukai
itu.
Selama paling tidak 6 thn (kalau dihitung2),dalam
waktu yang berbeda-beda saya hidup di Minangkabau ini,
saya dah dapat merasakan apa sebenarnya yang telah
terjadi dengan diri orang Minang itu sendiri. Hanya
pada Allah saja kita bertawakkal. Cuma itu yang dapat
saya sampaikan.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
--- Zulidamel <zuli...@yahoo.co.id> wrote:
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ