Cerpen : Kemilau Danau

142 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Dec 1, 2007, 2:03:41 AM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com, solok-...@yahoogroups.com
Oleh Adek Alwi

SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.

"Embun Pagi," jawab Herman di luar mobil. "Tiga puluh kilo dari
Bukittinggi. Keluarlah, lihat ke bawah!"

Mirna keluar mendekat, mendadak terhenti. Di dasar lembah terhampar
danau, tenang tak beriak, airnya biru dipagari bukit hijau. Rumah
bertebaran di pinggir, juga masjid dan surau, atapnya seng berkilau
disinari matahari.

"Danau Maninjau." Herman tersenyum. "Indah, kan?"

"Indah!" Mirna tak membalas tatap lelaki itu. Ia amat terpesona.
Pikiran yang memberat oleh kesibukan dan kerisauan ibu melihat dia
masih sendiri di usia 33 luruh seketika. Ia tak sempat berpikir
bagaimana alam dapat meredam galau jiwa manusia, menenangkan hati dan
pikiran. Ia takjub, terus menatap; menampakkan garis kening, hidung,
bibir, dagu yang indah dari samping. Herman berdebar. Lalu dia
menggeleng, merasa diri sudah tak berhak. Perempuan ini bisiknya di
hati, niscaya bukan yang dulu lagi.

"Itu Sungai Batang," tunjuk Herman. "Di situ Hamka dan Noer Sutan
Iskandar lahir. Juga kampung penyair Samadi alias Anwar Rasjid."

Mirna menoleh, lalu kembali memandang danau.

"Itu Sigiran, kampung penyair Leon Agusta," sambung Herman. "Sebelah
situ Bayur. Desa kelahiran Jusuf Sou'yb, novelis dan penyair."

Kini Mirna menghadapkan wajah. Herman lagi-lagi merasa desir lama di
hati; bangkit dari lubuk yang dalam. "Tentu keindahan danau ini
membuat putra-putranya jadi seniman," balas Mirna.

"Mungkin. Novel Kemarau pun ditulis AA Navis sewaktu tinggal di
Maninjau masa PRRI. Inspirasinya dia peroleh setelah mengamati danau."

"Tapi, Maninjau bukan hanya melahirkan seniman," sambung Herman. "Juga
M. Natsir, Rasuna Said, ulama besar ayah Hamka, Syekh DR Abdul Karim
Amrullah. Dan, Buya Tuo AR Sutan Mansur. Beliau ini abang ipar Hamka,
pernah memimpin Muhammadiyah, dan ayah penyai Samadi."

Mirna manggut-manggut. Tiba-tiba, dipandangnya Herman. "Kukira kau mau
mengajakku ke kampungmu," katanya. "Apa namanya?"

"Saruaso."

"Tidak pernah kau sebut waktu kuliah. Di mana itu?"

"Dekat Pagaruyung. Eh, mengapa tertawa?"

Mirna menggeleng, tersenyum.

"Kamu tertawa!" Herman penasaran. "Ada apa?"

"Tidak. Hanya terpikir, mungkin karena dekat Pagaruyung aku tidak kau
bawa ke sana. Dekat pusat budaya Minang tentu adatnya kuat. Kau pasti
risi jalan dengan perempuan lain, takut dikira selingkuh."

"Bukan karena itu!" bantah Herman.

"Karena apa?"

"Jauh. Dan, kau suka danau. Lihat Lido saja dulu takjub, padahal danau kecil."

Sudah berapa tahunkah itu? Sepuluh? Sebelas? Lelaki itu masih ingat.
Saat itu libur kuliah dan mereka ke danau dekat Bogor itu. Tapi kenapa
merasa harus ada yang berarti bila orang ingat sesuatu, pikir Mirna.
Aku pun tetap ingat lelaki ini, kapan saja, di mana pun, padahal itu
sia-sia. Mustahil Herman masih sendiri, seperti masa kuliah.

"Ya, Lido kecil dibanding ini," kata Mirna. "Betul tidak ada danau di
Saruaso, Man? Danau Singkarak itu di mana?"

"Dekat Padang Panjang. Kalau kamu lama di Sumatera Barat kubawa ke
sana. Juga ke kampungku."

"Ke Saruaso?"

"Kenapa tidak?" sahut Herman. "Eh, mengapa terkejut?"

Mirna menggeleng, kembali melihat danau. Senyum. "Menurutmu apa dengan
pergi berdua begini kita sudah selingkuh?" dia bilang.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Karena aku tak ingin ada yang dikhianati. Sakit dikhianati."

Herman tertegun. "Jadi, kamu merasa ada yang kita khianati di Jakarta?"

"Seperti yang di Saruaso?" balas Mirna tangkas.

Herman diam, melayangkan mata ke danau. Bagaimana ia jawab sindiran
itu? Masih berguna dijawab? Sepuluh tahun tidak jumpa bukan waktu yang
singkat. Pasti Mirna tidak sendiri lagi. Dengan ketenaran sebagai
doktor ekonomi, cantik, mustahil dia masih sendiri. Langkahnya pun
telah jauh, menjejak benua-benua asing, saat studi atau untuk
berseminar.


u

MENTARI mendekati tengah langit, cahayanya kemilau di permukaan danau.
Di Embun Pagi tetap sejuk. Herman merasa, saat ini yang terbaik adalah
minta maaf. Bukankah dulu dia lenyap begitu saja dari Jakarta, usai
wisuda, saat ayahnya wafat? Bukankah dia yang ingkar janji?

Walau janji bagi banyak orang kini diumbar lalu diingkari, tapi tidak
baginya. Herman tak setuju pemeo titian biasa lapuk, janji biasa
mungkir. Ia suka pemeo Tiongkok: sekali kata diucap, tiga ribu kuda
tak mampu menariknya kembali . Ia pun tahu, meski tak terlihat di
wajah Mirna saat jumpa kemarin, juga dalam kebersamaan mereka sejak
pagi tadi, Mirna terluka dia tinggalkan.

Ke siapa dia dulu cerita sebelum pulang? Tak ada. Semua serba tergesa.
Mirna mudik ke Jawa, dan dia panik mendengar kematian ayahnya,
pontang-panting mencari ongkos pulang. Lalu terikat di kampung, jadi
tiang keluarga, dengan ruh melayang ke Jakarta, juga Amerika,
mendengar Mirna studi di negeri jauh itu.

"Ayo ke bawah, Mir. Biar kamu lihat danau itu dari dekat," ajak Herman.

"Lewat jalan itu?"

"Namanya Kelok 44, karena ada empat puluh empat tikungan, dibangun
masa Belanda. Lewat di situ danau bak minta disentuh. Dan di bawah, di
Maninjau menanti makanan khas sini, palai rinuak, pepes ikan
kecil-kecil putih sepentul korek api. Ayo, kapan lagi kamu ke Ranah
Minang dan menikmati salah satu danaunya!"

"Kamu kenal betul daerah ini padahal jauh dari kampungmu," kata Mirna.

"Kamu lupa aku pengusaha hotel walau kelas melati?" Herman tertawa.

"Juga karena sering kemari?"

"Ya."

"Dengan istrimu?"

Herman tertegun. Nyeri. "Waktu SMA," katanya. "Lalu mengantar
wisatawan. Ayo!" Dia berjalan ke mobil, membuka pintu, dan Mirna
masuk. Wajahnya memerah seperti jambu. Hati Herman berdebar kembali,
namun lekas dia stater mobil.

Mirna lalu menikmati danau lewat jendela mobil yang terbuka. Danau
semakin indah; kadang di kiri, kanan, dan terus mendekat. "Dari siapa
kau tahu ada aku dalam seminar itu?" Mirna mengalihkan mata dari
danau.

"Kubaca iklannya di koran. Doktor Mirna Ciptarianing jadi pembicara."

"Kamu menyetir dari Padang ke Bukittinggi memastikan? Berapa jaraknya?"

"Sembilan puluh kilo. Aku ingin memastikan tidak ada yang berubah."

"Ternyata?"

"Ternyata... Doktor itu memang pembicara." Herman tertawa. "Walau
tentu ada yang berubah."

"Apa?" Suara Mirna bergetar. "Kamu tentu juga berubah, kan?"

"Ya, aku kini pengusaha hotel kecil." Herman ketawa lagi.

Mirna mencari mata lelaki itu tapi Herman melihat ke jalan. "Menurutmu
apa yang berubah padaku?" desak Mirna.

Herman berpikir. Akan ia katakan terus terang? Tidakkah jawaban Mirna
nanti menyakitkan? Bahwa, karena ia ingkar janji, lenyap begitu saja,
perubahan itu terjadi! Siapa sudi terus sendiri, menanti lelaki yang
tak jelas hutan rimbanya!

"Kamu... ya, seperti sekarang. Ekonom terkenal, tiap hari ditulis
koran, masuk televisi!" Herman membelokkan jawaban.

"Ngenyek!" Mirna meninju lengannya. Hati Herman berdebar pula. Tapi
naluri pemilik hotel dan pemandu wisata dia beri peluang bereaksi.
"Ini Kelok 13," katanya. "Saat perang saudara dibuat orang pasar di
sini. Hubungan putus dengan Bukittinggi, kota kabupaten. Penduduk dan
para pemimpin PRRI yang mengungsi ke sini terisolir. Daerah Maninjau
dihujani mortir dari Embun Pagi. Korbannya, ya, rakyat."

"Selalu rakyat jadi korban," sahut Mirna.

"Ya. Bagaimana menurutmu danau itu dari sini?"

"Makin indah!"

"Ya, dari tiap kelok danau itu kian indah."

"Sering kamu bawa istrimu kemari?"

Herman melihat jalan. Tahukah dia, mendengar itu wajahnya yang
terbayang? Ah, akan dia katakan saja sekarang? Masih bergunakah? Tak
lebih menyakitkan? Hm, ada baiknya belajar pada alam, renung Herman.
Pada danau yang menerima segalanya dengan tabah. Lihat, danau tetap
teduh-indah meski sungai yang mengaliri tentu tidak hanya membawa air.
Juga yang serba tak sedap.

u

MEREKA sampai di kelok pertama, gerbang kota kecil Maninjau. "Belok
kiri ke kampung Hamka, Leon Agusta," Herman menjelaskan. "Kita ke
kanan arah Bayur. Ada restoran di tepi jalan, sebagian bangunannya di
atas danau, makanya makanannya enak. Mata leluasa memandang danau,
telinga mendengar riak-riak yang lunak."

"Kamu pemandu wisata profesional," puji Mirna. "Aku menurut saja." Ia
tahu Herman belum menjawab pertanyaannya tapi matanya berbinar. Danau
dua-tiga meter di kiri. Di seberang terlihat rumah penduduk, juga di
kanan jalan. Bebukitan hijau di belakang danau melingkar menjaga
keasrian.

Di mana ada keteduhan begini? Mirna ingat, dia pernah ke Bali saat
galau hati tak tertanggung. Tapi ada yang khas pada Maninjau, tak
ditemui pada danau di Bali.

Herman memarkir mobil di muka restoran berarsitektur Minang. Mirna
keluar, melepas sepatu, lari mencelupkan kaki ke air. Tepi danau tak
berpasir, cuma batu-batu kecil, dan ikan di selanya. Saat ia angkat
muka ia lihat Herman di atas depan restoran, tersenyum. Hati Mirna
teriris. Tak mungkin lelaki itu masih sendiri di negeri elok ini.
Tapi, ia kini bersamanya. Apakah ia telah mendorong Herman
mengkhianati istrinya?

Herman mendekat lewat tangga batu, berseru, "Makan dulu, nanti ke situ!"

Mirna menarik kaki dari air dengan patuh, menjinjing sepatu dan
bersijingkat di bebatuan. Mereka duduk dekat jendela di restoran,
memandang danau.

"Permai?"

"Sangat indah!" Mata Mirna bercahaya. "Sering kamu ajak istrimu ke sini?"

Herman menatap. Lalu menyahut, dengan getar suara yang nyata, "Satu kali."

"O, ya?" Mirna coba tersenyum, tapi gagal. "Saat kalian baru... menikah?"

Herman terus memandang. "Bukan. Saat ini!" Mirna kaget. Jarinya
bergetar di meja, ditariknya ke pangkuan.

"Kenapa kamu kira aku punya istri?" Herman menuntut -ia tak tahu dari
mana datang keberanian. "Karena meninggalkanmu? Ayahku meninggal, Mir.
Aku tertahan di kampung, mengurus ibu, adik-adik."

Mirna masih terpana, lalu senyum. "Dan, kamu," balasnya dengan suara
nyaris tidak terdengar. "Mengapa menduga ada yang kukhianati di
Jakarta?"

Tak perlu lagi jawaban, penjelasan. Mata Herman bersinar. Danau kian
indah kilau-kemilau memantulkan berkas cahaya.

--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 9/11/07
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/11/index.html

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 1, 2007, 6:10:56 AM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,

Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.

zul amry piliang

unread,
Dec 1, 2007, 7:25:33 AM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saaf dan sanak palanta Yth :

Ambo tambahkan ciek lai Cerpen nan bernuansa Minang , tapi yang satu
ini lebih khusus ditujukan untuk para manula yang telah memasuki masa
pensiun .


Judul Cerpen : Mimpi Tua
Ditulis Oleh : Abdullah Khusairi
Dimuat : Jawapos Minggu 25 Nopember 2007


Baginya, membuat pagi menjadi indah cukup cuci muka, kopi dan rokok
kretek yang dinyalakan lalu dihisap. Maka merebaklah aroma racikan
tembakau ke seluruh ruangan dihembus gemulai angin pagi bersama aroma
kopi hangat. Dan pagi sangat indah sekali terasa...??

Begitulah, aktivitas pagi hari Tuan Leman semenjak masuk masa pensiun
beberapa tahun silam. Menikmati embun dan harum melati di beranda
bersama sang istri. Mengenang masa muda yang bergelora, masa jaya
yang bergairah. Pagi dengan rindang pepohonan di halaman rumah,
mentari mengintai di balik daun-daun Melinjo. Kuning keemasan
sinarnya menerpa kaca jendela yang kusam, lama tak dibersihkan. Keok
ayam dan itik memberikan nada desa yang pasrah.

Kakek enam cucu dari lima anak ini benar-benar sangat menikmati hari-
hari setelah pengabdiannya sebagai seorang pejabat. Sisa ketampanan
di raut wajahnya masih tampak tegas. Gaya berbicara yang dulu berapi-
api sesekali masih tampak. Kini sudah bertambah pula dengan nyinyir.
Pertanda melewati usia tua.

Sayangnya, selama pensiun, tak lagi ada tempat resmi untuk berbicara
di depan khalayak. Hanya sesekali ia mendapat kesempatan bisa
mengekspresikan dirinya secara tidak resmi jika bertemu teman lama
atau kedatangan tamu. Satu tempat yang sering menjadi ajang pertemuan
itu adalah tempat mengambil dana pensiun. Bila bulan muda tiba,
semangat muda juga datang, maka ia berangkat ke bank itu dengan
segala keceriaan pagi. Di sana ia bertemu teman lama.

Dan, menjelang siang, dia akan bercerita panjang lebar tentang dunia
yang pernah di dalam kantong celananya. Di hari-hari biasa, ia lebih
banyak membaca koran, mendengar radio, menonton televisi. Sesekali
melagukan dengan sumbang tembang lama yang populer pada masa mudanya.
Begitulah lelaki berkaca mata tebal ini menelan hari demi hari. Tak
banyak lagi kesibukan menghukumnya. Dari luar tampak ia menyimpan
kebahagiaan dan ketentraman.
***
Kedamaian Tuan Leman tiba-tiba terusik beberapa hari terakhir. Ia
diusik oleh mimpi yang berkelibat setiap tidurnya yang sudah beberapa
kali datang. Mimpi ini membuat Tuan Leman berkeringat dingin sesudah
mimpi berlalu. Bagaimana tidak? Tuan Leman didatangi seorang laki-
laki yang menawarkan Tuan Leman menjadi tuhan. Persyaratannya tidak
terlalu susah untuk dipenuhi Tuan Leman. Begitu persyaratan dipenuhi,
ia segera menjadi tuhan.

Dipilihnya Tuan Leman karena ia pernah menduduki jabatan strategis di
masa-masa sulit. Ia berhasil membawa masyarakat hidup makmur.
Begitulah lelaki dalam mimpi itu memberi alasan.

"Untuk itu, tak ada alasan, Anda segera menjadi tuhan dan penuhi
persyaratannya!" Lelaki itu berlalu dan Tuan Leman terjaga. Tak ada
kesempatan Tuan Leman untuk bertanya lebih lanjut ketika laki-laki
itu datang. Bila ia terjaga, keringat dingin mengucur deras dari
tubuhnya yang segera ringkih. Wajahnya pasi.

"Benar-benar konyol. Tak mungkin, itu tak mungkin." Tuan Leman
menyatakan keresahannya sambil geleng-geleng kepala.

"Ah, jangan terlalu percaya. Mimpi adalah bunga tidur, kenapa diambil
pusing pula," sang istri menyela. Ia mencoba untuk menenangkan
suaminya.

Ia tahu suaminya tak bisa begitu saja terpengaruh. Hanya saja,
suaminya acap terjebak dengan hal-hal sepele. Itu sering terjadi.

"Tetapi, jika mimpi itu bunga tidur. Bukankah sering terjadi, mimpi
juga akan berbuah kenyataan? Nah…," ungkap Leman membantah kenyataan
demi kenyataan dan hukum akal yang bermain di kepalanya.

Sang istri yang mengerti luar dalam tentang suaminya mengurut dada.
Ia memahami ambisi masa muda sang suami memang belum pudar, walau
waktu memakan usia. Ia tahu betul, obsesi, harapan, apa saja atas
nama untuk ketenaran dan kekuasaan membuat dada suaminya panas.
Keinginan berkuasa Tuan Leman ini memang besar. Ia dengan strategi
apa pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan seni
dan strategi perang ala Sun Tzu. Dalam banyak pidato ia mengutip Sun
Tzu: Pertahanan yang baik adalah menyerang. Sadar posisi diri, kawan
dan lawan. Naluri yang tajam dan peka terhadap kompetisi politik.
***
Mimpi itu terus-menerus mengganggu Tuan Leman. Sayang sekali, setiap
mimpi itu datang, Tuan Leman tak bisa berbicara dan berkomunikasi
dengan laki-laki dalam mimpi itu. Lama-lama Tuan Leman jadi
ketakutan, keheranan bercampur dalam kebingungan.

Dalam pemikiran sehat yang datang pada Tuan Leman, orang kaya pemilik
tanah dan sawah ini memang tak bisa menerima apa pun terhadap mimpi
itu. Ia berusaha untuk melupakannya. Tetapi, sejauh ia berusaha untuk
melupakannya, sedekat itu pula ingatannya datang terhadap mimpi itu.
Diam-diam ia jadi tertarik untuk menjalankan tawarannya itu. Menjadi
tuhan? Sesuatu yang sangat tak mungkin, tetapi betapa hebatnya kalau
itu bisa terjadi.

"Itu benar-benar bunga tidur. Tidak akan pernah berbuah," tegas Tuan
Leman dalam ragu dan mau yang mengganggu. Enggan berkelindan
menggerus rayu mendayu. Tuan Leman berjalan di pematang yang kecil
ketika padi masih baru ditanam, angin deras seperti segera badai. Ia
seperti ayam termakan sepotong rambut. Diam merenungi mimpi yang
selalu datang.

Melihat gelagat yang tidak baik akhir-akhir ini suaminya, sang istri
resah. Gelisah. Ada keinginan untuk memanggil psikiater untuk
suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ingin juga menelepon anak-
anak di kota, tapi apakah itu mungkin, Lebaran saja mereka jarang
pulang. Karena takut, ia coba memendamkan semua kemauannya demi
menjaga hati suaminya yang sedang dihadang gelombang.

Sebenarnya, ia bangga sekali dengan kesuksesan sang suami. Hingga
saat ini ia kagum dengan nama besar suami tercintanya itu. Amat
banyak pujian untuk suaminya, ia dengar langsung dari orang-orang
yang datang kepadanya. Walau tetangga sempat mengungkapkan kalau-
kalau suaminya mengidap post power syndrom. Ketika kekuasaan tak ada
lagi di tangan, membuatnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan.

"Tetapi aneh, kenapa baru sekarang. Ia sudah lama pensiun. Lima tahun
lalu," sang istri mencoba mengungkap alasan kepada dirinya sendiri.

Orang mengenal Tuan Leman seorang yang sukses dalam banyak hal. Ia
kaya pengalaman baik-buruk, asam-garam dunia. Tetapi yang sangat
diingat orang, ketika ia sedang berkuasa, perintah yang datang dari
mulut dan telunjuknya harus diselesaikan sesuai dengan maunya. Tak
mau mendengar alasan jika ada kegagalan. Sungguh kadang-kadang tidak
masuk akal. Satu lagi, ia paling tak suka orang yang membantah. Ia
benar-benar sok tahu. Padahal, mungkin saja dalam banyak hal bisa
diketahuinya, tetapi dalam satu hal harusnya ia belajar dan bertanya
pada ahlinya. Itulah yang tidak berlaku pada Tuan Leman. Tetapi,
kelebihannya, ia solider. Kalau ada temannya yang sedang kesusahan,
bukan kepalang dia akan menolong. Ia tak perhitungan kalau sudah
begitu. Sayangnya, kalau sudah dirayu dan dipuji, ia sering kali lupa
diri, maka alamat habislah dana taktis yang harusnya ia manfaatkan
untuk hal yang lebih baik. Itulah beberapa hal dari sekian banyak
ingatan orang terhadap Tuan Leman yang sukses. Sekali lagi, masa
lalunya adalah pahit, manis, dan getir..?

Suatu hari pernah terjatuh akibat sakit kepala yang sangat parah
bersamaan dengan naiknya asam urat yang ada di tubuhnya. Ini persis
seperti orang besar seperti Napoleon Bonaparte, yang tak takut dengan
seribu tentara, tetapi sangat takut dengan surat kabar. Tuan Leman
memang tak kuat dikritik, ia jatuh ketika membaca tajuk rencana
sebuah surat kabar yang menusuk dadanya.

Orang besar tak selalu berdjiwa besar. Orang pintar seringkali
bertingkah seperti kekanak-kanakan. Orang bidjak memang banjak tapi
soesah dicari. Karena itu, kekoeasaan itu candoe, ia tak bisa lepas
setelah mendapatkannya. Orang-orang jang selalu meminta pengakoean
atas kepintarannja. Biasanja adalah orang bodoh. Dan, orang yang
selaloe berkoar-koar sok tahoe biasanja dia tidak tahoe apa-apa. Dan,
amatlah soesah saat ini, mencari orang yang adil kepada seorang
moesoeh, sebuah tindakan terpoeji pada zaman nabi. Wahai bapak
pedjabat! Bersikap baik, lebih baik dari pada memboeat diri menderita
dan orang lain tertawa. Walau kau bentji pada seseorang, djangan
sesekali berboeat tidak adil padanja, karena, doa orang jang
dizhalimi sungguh didengar-Nja. Itulah seboeah derita ketika
kedjoedjoeran mendjadi djalan hidoep nantinja. Wahai, boeka kaca mata
keloearlah dari roeanganmu, pandanglah doenia.

Akibat membaca tulisan itu, Tuan Leman dibawa ke rumah sakit. Ia
terbaring selama empat hari. Pulang sebelum benar-benar pulih karena
permintaan anak bungsunya yang bongsor. Itulah salah satu episode
hidup sang tuan yang waktu itu cukup mengerikan bagi banyak orang.

"Ia cukup tegar," cerita salah seorang temannya. Hanya saja, begitu
ia pensiun, satu satu orang-orang terdekat Tuan Leman menghilang bak
ditelan bumi. Semua saluran komunikasi putus. Hal ini membuatnya
pulang ke kampung halaman dan menghuni rumah tua yang sudah lama
ditinggalkan sanak saudaranya dulu. Cucu dan anak-anaknya pun tak
banyak memberikan support, hanya sapaan lewat telepon seadanya, jika
diperlukan.
***
"Kalau memang benar mimpi itu, saya tunggu nanti malam. Saya bersedia
memenuhi persyaratannya," ujar Tuan Leman di tengah kebingungannya.
Istrinya tambah bingung.

"Pak, coba Bapak ke orang pintar dulu," usul istrinya, sambil melirik
polos ke sang suami. Sisa kemesraan masa muda yang masih mengilau.

"Untuk apa kalau hanya membuat mereka tertawa. Sekarang saya akan
menikmati mimpi itu kalau ia datang. Saya siap lahir batin,"
ungkapnya yakin dan tak goyah sedikit pun. Masih tetap ada nada
kebimbangan.

Malam yang gelap. Kelam yang hitam. Entah kenapa mimpi itu tak pernah
datang. Tuan Leman menanti-nanti dan mencoba untuk tidur secepatnya,
namun percuma mimpi itu tak pernah datang. Hal ini pula yang membuat
Tuan Leman bertambah bingung. Ketika kemauannya menjadi tuhan
memuncak, justru mimpi itu tak datang-datang. Diam-diam, istrinya
lega dengan mimpi yang tak pernah datang lagi ke suaminya.

Bagi Tuan Leman, ini seperti sebuah penghinaan kepada dirinya. Tetapi
siapa yang harus dimarahi? Ketika mimpi itu tak datang lagi untuknya.

"Ke mana kau wahai laki-laki dengan wajah kelam?" ujarnya geram,
ketika akan tidur. Matanya tak mau terpejam. Diam-diam Tuan Leman
beranjak bangkit dari pembaringan. Ia keluar kamar hati-hati sekali,
takut istrinya bangun. Ia ke dapur mencari sesuatu. Malam amat pekat.
Ia meraba-raba dan mendapatkan hulu belati.

"Crassh." Ia menusuk dadanya dengan belati itu. Di gelap malam yang
hening, Tuan Leman menggelepar-gelepar di dapur meregang nyawa. Darah
mulai berceceran dari ujung hulu belati yang tertancap di dada
kirnya. Lantai merah, mengalir, kental. Tuan Leman telentang sesekali
ngorok, satu-satu napasnya dapat ditarik. Ia kalah dengan mimpi yang
pernah datang kepadanya. Di akhir sekarat Tuan Leman, seperti ada
tangis yang tertahan dari tenggorokan sang tuan. Malam menggigil,
satu-satu gerakan Tuan Leman, lalu diam selama-selamanya. Kini rohnya
benar-benar menuju tuhan. ***
Padang, 15 Oktober 2005


--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR"

<saaf10leo@...> wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,
>
> Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini.
Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
>

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 1, 2007, 9:41:06 AM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Sanak Zul Amri Piliang,

Kasihan juga tu pak Leman. Mudah-mudahan saya tak dihinggapi mimpi buruk seperti beliau. Namun memang ada orang pensiunan seperti itu, yang terkena apa yang disebut  'post power syndrom'. Masih banyak kegiatan produktif yang dapat dikerjakan setelah pensiun.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
juga akan berbuah kenyataan? Nah�," ungkap Leman membantah kenyataan
wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,
>
> Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini.
Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
>
> "Nofend St. Mudo" wrote:
> Oleh Adek Alwi
>
> SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
> berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.




Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

dutamardin umar

unread,
Dec 1, 2007, 10:38:36 AM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
Alaikumsalam sanak.,
 
Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad
teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak
Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.
 
Tarimo kasih St. Mudo
 
Wassalam
ajoduta

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo,

Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

"Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote:

Oleh Adek Alwi

SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.

----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------


Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 1, 2007, 12:33:19 PM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote:

chaidir latief

unread,
Dec 1, 2007, 7:19:12 PM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
para dunsanak
 
Banyak urang baduyun duyun mengumpuakan pttih untuam masakik. Ambo  pulang bersama cucu a,bo sabalun ambo sakik Balla;i;imh Sumatra Barat Cucu ambo menetap di Inggros  Adp petanyaan nan indak bisa ambo jawab
Dibanyak tempat ado  bankalaian masajik jan indak sudah ayau ingak sudah sudah Masajik hanyo ramai kalau hari jumaat Hari hari biaso paling banyak satu duo saf Kok mic nyo io basahitan Dia membanca banyak tentang Minangkabau yentang ABBSK dll Dia liat pula pergaulan di Pang Kok beda ya apa  yang dibaca dan apa  yang saya aksikan
 
Chaidir N Latief

dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote:

chaidir latief

unread,
Dec 1, 2007, 7:29:52 PM12/1/07
to Rant...@googlegroups.com
pak Saf dan para rekan
 
Ambo setuju banget cerpen bernuasan Momng didorong todak hanya oleh manula tapi malah olah rang mudo mudo Akan lebih baik kalau dalam bahasa Minang sekalian melestarikan bahas Minang
Chaidir N Latief

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 5:58:49 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>


____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 6:03:36 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>


____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut! Let your teams follow you
with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 6:06:32 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>


____________________________________________________________________________________


Get easy, one-click access to your favorites.
Make Yahoo! your homepage.

http://www.yahoo.com/r/hs

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 2, 2007, 6:08:51 AM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah,

Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi  Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote:

AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok

berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>


____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut! Let your teams follow you
with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

zul amry piliang

unread,
Dec 2, 2007, 6:19:44 AM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf10leo@...>
wrote:

>
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah,
>
> Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih
penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh
kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi Hayati dan
Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya
Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari
William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar

Pak Saaf ! koreksi snek dih , satahu ambo carito novel Jayaprana dan
Layonsari barasa dari Singaraja Buleleng Bali .

zul amri piliang

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 7:27:36 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 7:28:09 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 7:31:17 AM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok
berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin----------

> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>


____________________________________________________________________________________


Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 2, 2007, 8:41:07 AM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih Sanak. Rasonyo jalan caritonyo kurang labiah samo. Mungkin di daerah atau di negara lain ado kisah nan sarupo.


Wassalam,
Saafroedin Bahar

zul amry piliang <uda...@plasa.com> wrote:

--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR"

chaidir latief

unread,
Dec 2, 2007, 12:05:48 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com, rek...@unand.ac.id, shofw...@yahoo.com, iasma-...@yahoogroups.com
Pak Saf yang baik dan para dunsanak
 
Ambo indak maikuti lagi perlembanhgan rencana seminar Tuanku Imam Bonjol Setelah kalua rumah sakik banyk juo kawan kawan nan datang dan bacarito  macam macan Antaro lain masalah Pengalaman nan pak Saf alami sediri mengenai  PUNAH, Harto Pusako Kawin sasuku dll nan indak dimanagarati lagi oleh generasi sekarang
Kalau sasarannyo pembenahan kembaki ADAT MINANGKABAU rasonyo ambo sependirian akan terlalu jauh kebelakang kalau star lagi dari Imam Bonjol dengan Kesepakan Marapalam dll
Akan lebih praktis dimulai sajo dari ABSSBK nan alah beberapa kali dikupas tapi rasonyo ALUN TUNTAS Setidaknya apo sajo nan alah disepakati apo sajo nan alun Iko Satahu ambo indak ado dokumentasi yang lengkan apo nan alah dibahas itu Satau ambo a nan dibicarokan di Bukittinggi Batusangkan bahkan dengan yang serem serem seperti Minagkabau di tepi jurang dll dll masih bacarai barai Dibahal lagi baru bilo takana Akhirnyo kito baputa outa jalan ditampekl Yang dibicarokan sabananyo itu kaiyu juo
Ambiak lah seminanr di Padang Apakah ado prosedingnyo Apakan sebelumnyo disampaikan dan dievaluasi apo sajo nan alah dibicarokan sebelumnyo Terus terang ambo paning ota itu kaitu membahas a nan takana drngan versi apo nan ado dikapalonyo saat itu  Ini berlaku denga apo nan dibahas di Bukittinggi Batusangka Tidak pernah dijadikan rujukasn Ambo alah bicaro dengan Rektor Unand dan Dekan Fakultas Sasta yang akan bersedias mengomulasinya 
Mohonlah pak Saf pertimbangkan Rasonyo bola adp ditangan pak Saf UNand akan ada dibelakannya
Chaodor N Latief

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 2, 2007, 1:40:12 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Pak Chaidir,

Ambo basyukur pak Chaidir alah aktif baliak. Sakadar info untuak pak Chaidir tantang pakambangan kini, izinkan  ambo manyampaikan sabagai baikuik.
1.   Ronde pambicaraan nan kini adolah sabagai respons dari gugatan surang nan banamo Ir Mudy Situmorang, nan maminta supayo gala 'Pahlawan Nasional' dari Tuanku Imam Bonjol dicabuik, karano baliau malanggar HAM sanak kito dari Batak. Info tantang gugatan baliau ko ko disampaikan surang sanak kito malalui Rantau Net. Basamoan jo itu kini alah tabik cetakan kaduo dari buku 'Tuanku Rao" karangan Ir Mangaraja Onggang Parlindungan, nan mabahas serangan Tentara Paderi ka Tanah Batak. Sairiang jo itu tabik pulo buku sarupo karangan Basyiral Hamdy Harahap, dosen sejarah UI, nan bajudul 'Greget Tuanku Rao' nan isinyo kurang baliah samo.
2. Saketek babeda jo para sanak kito nan lain, nan nampaknyo salain sakadar protes jo bangih-bangih sajo di balakang, atau takuik dan khawatir bilo diadokan seminar bisa-bisa  'tukang panciang dilarikan ikan', ambo sacaro langsuang manghubungi Sdr Mudy jo babagai fihak takaik supayo masalah ko dibahas sacaro akademik di perguruan tinggi. Kalau dipalapeh baitu sajo, bisa-bisa jadi masalah SARA. Baliau tu satuju.
3.  Sabalun ambo manghubungi salah satu perguruan tinggi, kabatulan dalam kesempatan ambo manyarahkan arsip Papua -- sabagai mantan Asisten Menteri Sekretaris Negara -- ambo tanyokan ka Kapalo Arsip Nasional apo baliau basadio mamfasilitasi diskusi panel manganai Tuanku Imam Bonjol, karano manyangkuik aspek sejarah. Di lua dugaan ambo, baliau manyambuik jo senang hati, dan manugehkan Dra Mona Lohanda, surang deputi beliau untuk melaksanakannyo. Jiko indak ado aral malintang, diskusi panel Parang Paderi itu akan diadokan di Gedung Arsip Nasional tanggal 22 Januari 2008. Rapek koordinasi antaro ambo ditambah utusan panguruih Gebu Minang jo Ibu Mona Lolanda akan diadokan hari Jumat tanggal 7 Desember jam 09.30 WIB di Lt IV Gedung Arsip Nasional. Kok lai ado kaluangan pak Chaidir, ambo undang pak Chaidir hadir.
4. Sahubungan jo itu, karano baliau akan dinas ka nagari Balando, dan Bu Mona jugo sibuk, ambo buek draft Kerangka Acuan, dan draft itu ambo sebarluaskan, antaro lain ka pak Bachtiar Abna SH MH dari LKAAM Sumbar dan Ibu Dra Adriyetti Amir SU Dekan Fakultas Sastra Unand. Kaduo baliau tu manyambuik baiak, dan akan mangadokan focus group discussion tantang Parang Paderi dan ABS SBK ko tanggal 14 sora dan 15 Desember pagi di Padang. Insya Allah ambo akan hadir di Padang pado tanggal tu. Kalau pak Chaidir alah sehat bana, ado rancaknyo pak Chaidir meninjau untuak mangatahui sampai dima parsiapan makalah di duo limbago itu.
5. Samantaro tu, Gebu Minang Pusat alah maminta kapado Prof Dr Asmaniar Idris dan Dra Amrin Imran -- para panulis buku 'Sejarah Minangkabau' (1970)--  untuak mambuek makalah tantang Parang Paderi ko untuak disajikan dalam diskusi panel bulan Januari 2008 di Arsi;p Nasonal. Makalah ko alah salasai, alah dipaparkan di rapek pengurus Gebu Minang, dan sadang dipeloki. Pak Chaidir bisa mintak makalah tu ka Bu Warni.
6. Di nagari Balando ado sanak kito nan sadang maambiak S3, yaitu Drs S Suryadi, nan bamimat kuaik dalam soal sejarah ko, dan kini sadang mancari dokumen sejarah tentang ado indaknyo 'Piagam Bukik Marapalam' tu. Manuruik baliau ado tando-tando baiak dari catatan urang Balanda nan maadokan panalitian ka Sumatera Barat tahun 1833-1838.
7. Tantang ABS ~SBK memang alah acok bana kito bahas, dan ujuang-ujuangnyo memang ado duo faham nan sampai kini alun bisa juo didakekkan. Baitu kasimpulan buku LKAAM tahun 2002, dan baitu juo kasimpulan semiloka masyarakat hukum Minangkabau nan ambo prakarsai sebagai komisioner Komnas HAM di Unand bulan Juni 2007.Baitu juo kasimpulan kito di Rantau Net kon.. Kini tingga duo pilihan kito: 1) akan kito parambunkan sajo saparati itu atau 2) kito tuntaskan pembahasannyo. Sacaro pribadi ambo alah baulang-ulang manyarankan dalam Rantau Net ko supayo kito susun 'Kompilasi Hukum ABS SBK' sabagai salah satu wujud panyalasaian, tapi sakuaik tu ambo manyarankan, sakuaik tu tu pulo babarapo sanak kito manantangnyo. Indak ado kasimpulan apo-apo. Karano itu rancak kito baok ka nan rami dan dibahas dek limbago nan bawenang, yaitu LKAAM dan MUI Sumbar. Momennyo kini, dalam rangko mambahas Parang Paderi, karano ABS SBK tu kan salah satu 'hasil' Parang Paderi. Ambo mamiliah kito tuntaskan kini, dan pandapek ambo ko  disambuik baiak dek LKAAM Sumbar nan akan maadokan  FGD tanggal 15 Desember nan kadatang.
Ringkasnyo pak Chaidir, parsiapan nan kini ko labiah baiak dari sagalo wacana dan diskusi nan salamo ko kito adokan. Faktor nan baru adolah digunokannyo pendekatan ilmiah kesejarahan dan akan mandatangkan para ahli. Walau ambo indak bamimpi masaalah ko akan salasai sakali lacuik, paling tidak akan jaleh si upiak atau si buyuangnyo, nan bisa ditindaklanjuti tanpo ragu sasudah tu.
Sakian sajo dahulu info untuak pak Chaidir.

PS: Tantang masalah-masalah nan disampaikan dek kawan-kawan pak Chaidir, saparati soal punah, kawin sasuku atau harato pusako tun nan salamo ko ambo jadikan 'entry point' untuak mambahas adat Minangkabau, dapek ambo jalehkan bahaso inti masalahnyo adolah: dima bana lataknyo posisi Manusia Minangkabau dalam duo sistem nilai dan struktur sosial manuruik adat Minangkabau dan  manuruik agamo Islam nan banyak bana bedonyo. Iko bana nan alun salasai. Apo alun wakatunyo masalah mendasar ko kito tangani sacaro mendasar pulo ? Apo akan kito wariskan bangkalai ko ka anak cucu kito sahinggo mereka tatap juo bapacah balah sarupo kito ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 6:09:21 PM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
Alquran jg memuat kisah tentang cinta yaitu pd surat Yusuf, yang meng ilhami habbiburrahman pengarang ayat2 cinta. Bgt ktnya ktk temu penggemar di bengkulu. Crt ttg cinta tdk pernah habis selama dunia terkembang. Jadi ladang bisnis yg bagus. Novel ayat2 cinta sangat mendidik dan menyentuh. Sangat cocok dibaca oleh anak gadis. Semua tlsn habiburrahman sangat indah dan menyentuh. Ada crt ketika pudarnya pesona cleopatra, ktk cinta bertasbih dll. Tp ifah belum baca tt ktk cnt ... Bagi ifah novel2 tsb ikut membantu dlm membentuk pribadi remaja yg bernuansa islami. Alhamdulillah. Wass hanifah

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi  Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:

> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.

> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>


____________________________________________________________________________________


Be a better pen pal.

Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 6:36:05 PM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
Alquran jg memuat kisah tentang cinta yaitu pd surat Yusuf, yang meng ilhami habbiburrahman pengarang ayat2 cinta. Bgt ktnya ktk temu penggemar di bengkulu. Crt ttg cinta tdk pernah habis selama dunia terkembang. Jadi ladang bisnis yg bagus. Novel ayat2 cinta sangat mendidik dan menyentuh. Sangat cocok dibaca oleh anak gadis. Semua tlsn habiburrahman sangat indah dan menyentuh. Ada crt ketika pudarnya pesona cleopatra, ktk cinta bertasbih dll. Tp ifah belum baca tt ktk cnt ... Bagi ifah novel2 tsb ikut membantu dlm membentuk pribadi remaja yg bernuansa islami. Alhamdulillah. Wass hanifah

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi  Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:

> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.

> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>


____________________________________________________________________________________


Be a better pen pal.

Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 6:44:10 PM12/2/07
to saaf...@yahoo.com, Rant...@googlegroups.com
Alquran jg memuat kisah tentang cinta yaitu pd surat Yusuf, yang meng ilhami habbiburrahman pengarang ayat2 cinta. Bgt ktnya ktk temu penggemar di bengkulu. Crt ttg cinta tdk pernah habis selama dunia terkembang. Jadi ladang bisnis yg bagus. Novel ayat2 cinta sangat mendidik dan menyentuh. Sangat cocok dibaca oleh anak gadis. Semua tlsn habiburrahman sangat indah dan menyentuh. Ada crt ketika pudarnya pesona cleopatra, ktk cinta bertasbih dll. Tp ifah belum baca tt ktk cnt ... Bagi ifah novel2 tsb ikut membantu dlm membentuk pribadi remaja yg bernuansa islami. Alhamdulillah. Wass hanifah

Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Waalaikumsalam w.w. Nanda Hanifah, Romantis sih penting juga, tapi sama pentingnya -- mungkin jauh lebih penting -- adalah nuansa kemanusiaannya itu. Saya selalu tersentuh oleh kisah-kisah seperti itu, antara lain seperti kisah tragedi  Hayati dan Zainuddin dalam novel 'Tenggelamnya Kapal van der Wijk' karangan Buya Hamka yang saya baca sewaktu saya di SMP. Atau Romeo and Juliet dari William Shakespeare, atau Jayaprana dan Layonsari dari Jawa. Wassalam, Saafroedin Bahar hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote: AWW bapak saaf n ajo duta. Menurut ifah pengarangnya tdk salah. Rasanya HP baru merakyat didaerah2 di indonesia sejak 8 tahun yll. Jadi saat mereka kul n wisuda mrk tdk punya HP. kepulangan mendadak dan pindah membuat satu sama yg lain kehilangan kontak. Jd crt tsb msh masuk akal bagi orang daerah di
> indonesia. Eh eh kalau ifah perhatikan usia jelang 17 tahun serupa dengan jelang 71 tahun ya? Sama2 senang cerita romamtis. Maaf bpk jangan marah. Tapi kalau bpk tdk keberatan u crt kisah cinta di jaman perang PRRI dulu jg boleh pak. Wass. Hanifah. Ngirim dr HP Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Betul juga Dinda Ajoduta. Apa mereka berdua sama sekali tak ada kontak sebelum itu?  Apa pertemuannya kebetulan ? Ya sudahlah, namanya juga cerpen, terserah maunya pengarang. Saya ingat sebuah film yang judulnya kalau tak salah 'Forever Young', yang kisahnya mirip cerpen ini. Asyik juga. Wassalam, Saafroedin Bahar dutamardin umar wrote: Alaikumsalam sanak.,   Iyo menyentuh. Tapi rada tak masuk akal. Masa diabad teknologi hubungan cinta kasih bisa terputus dalam jarak Sumbar-Jakarta. Kalau terjadi dimasa Siti Nurbaya bolehlah.   Tarimo kasih St. Mudo   Wassalam ajoduta "Dr.Saafroedin BAHAR" wrote:

> Assalamualaikum w.w. Sanak Nofend St Mudo, Terima kasih atas pemuatan cerpen-cerpen bernuansa Ranah ini. Manusiawi sekali, dan perlu diperbanyak. Wassalam, Saafroedin Bahar "Nofend St. Mudo" wrote: Oleh Adek Alwi SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna. ----ambo kuduang, takuik dikatokan anggota RN tak disiplin---------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ Be a better pen pal.

> Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
>

Darul M

unread,
Dec 2, 2007, 7:28:59 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com

 

 


From: Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Monday, December 03, 2007 1:40 AM

 

Assalamualaikum w.w. Pak Chaidir,

==============kuduang=================


PS: Tantang masalah-masalah nan disampaikan dek kawan-kawan pak Chaidir, saparati soal punah, kawin sasuku atau harato pusako tun nan salamo ko ambo jadikan 'entry point' untuak mambahas adat Minangkabau, dapek ambo jalehkan bahaso inti masalahnyo adolah: dima bana lataknyo posisi Manusia Minangkabau dalam duo sistem nilai dan struktur sosial manuruik adat Minangkabau dan  manuruik agamo Islam nan banyak bana bedonyo. Iko bana nan alun salasai. Apo alun wakatunyo masalah mendasar ko kito tangani sacaro mendasar pulo ? Apo akan kito wariskan bangkalai ko ka anak cucu kito sahinggo mereka tatap juo bapacah balah sarupo kito ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar

Walaikumussalam WW

 

Pak Saaf dan sanak sapalanta nan ambo hormati.

 

Ambo mandukuang dan sangat batarimo kasih usaho pak Saaf dalam jalan manuju panyalasaian ABSBSK. Awak mamandang sangat paralu dituntaskan, tapi saying, nan sabanano punyo kemampuan dan punyo kekuasaan untuak mandorong terlaksananyo kajiko. Nan punyo kekuasaan dan kito harokanko adolah pihak Pemda Sumbar. Iyo banyak nan diharapkan ka Pemda ko, dek mereka dipiliah kan untuak itu.

 

Nan sabanano, si pemdako kan mambari dukuangan dan legalisasi ka pihak kampus, pihak kampus melaksanakan dan kudian hasiano di sosialisasikan dan diuasahokan untuak dilegalisasikan. Tanpa legalisasi dan sosialisai hasia akhirno nantik akan jadi tumpukan kertas seminar yang tidak pernah disentuh. Sayangkan. Saparati kecek pak Chaidir, baa mangko satiok acara indak dibuek sambuang manyambung, saroman kaidah ilmu pengetahuan.

 

Sambuang manyambuang dengan merujuk dan memperbaiki pertemuan atau seminar sabalunno, sahinggo didapek kesimpulan nan dapek diapatangguangjawabkan sacaro akademis dan hukum adapt tantuno.

 

Taruihlah pak Saaf, kalau indak dilakukan bilo dan oelh sia lai.

 

Wassalam WW

Darul St Parapatiah

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 2, 2007, 7:45:24 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. pak Darul,

Tarimo kasih ateh dorongan sumangaik dari pak Darul. Tantang patanyoan pak Chaidir menganai prosiding seminar di Padang, dapek ambo sampaikan bahaso kini ko sagalo makalah tu sadang disunting dek Sdr Nanang Subekti, SE, staf Mahkamah Konstitusi. Kalau salasai, taba bukunyo k.l 390 halaman dan akan ditabikkan dek Sekretariat Jenderal dan Pusat Kajian Mahkamah Konstitusi, sabanyak 2000 (duo ribu) eksemplar. Judul bukunyo: "Membangun Masa`Depan Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia". Ambo akan mausahokan 100 (saratuih) buku untuk Gebu Minang.

Baa mako Mahkamah Konstitusi nan manabikkan ? Karano manuruik Pasal 51 Undang-undang Nomor 24 Tahun 23 tentang Mahkamah Konstitusi, masyarakat hukum adat adolah marupokan salah satu fihak nan bisa jadi Pemohon, sadangkan masyarakat hukum adat ko indak banyak nan mamparatikan. Saparati pak Darul katahui, ambo manangani hak masyarakat hukum adat ko di Komnas HAM sajak 2004 - 2007, dan karano indak banyak bahan, ambo adokan rangkaian pangkajian dan ambo tabikkan babarapo buku soal iko. [Sayangnyo, indak banyak pamangku adat kito nan baminat dalam soal kajian masyarakat hukum dalam perspektif HAM, babeda jo sanak kito dari Riau. Karano tu, ambo dukuang posisi Riau sabagai lokasi Sekretariat Nasional Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Hukum, nan akan dikukuhkan dek Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Ashshiddiqie tanggal 10 desember 2008 jam 19.30 di Lt 1 Gedung Mahkamah Konstitusi. Kok pak Darul baminat,ambo kirimkan undangan ciek].

Insya Allah ambo akan jalan taruih, salain karano pananganan masalah ko adolah legal dan halal, ituang-ituang sabagai 'amal jariah' dari ambo.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

Darul M <da...@dr-net.biz> wrote:

Afda Rizki

unread,
Dec 2, 2007, 8:25:49 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Ibu Hanifah -

Kabarnya tanggal 19 Desember ini Film yang diangkat dari novel best
seller dengan setting Mesir ini akan dirilis di Bioskop Indonesia.
Semoga film nya tidak "mengecewakan" lah karena di novelnya nuansa
Islami begitu kental sekali. Bila bukunya pernah dilabeli "must read
book" semoga filmnya juga bisa dilebeli senanda.

Wassalam,
--
Afda Rizki

********

chaidir latief

unread,
Dec 2, 2007, 8:58:56 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saf yang baik
 
Kawan kawan tu manyampaikan ka ambo karena mereka tau hubungan ambo dengan pak Saf  Prosiding di Padang kan salah salah satu kasus Kan alah sangat banyak sebelumnya piliran pikiran nan sangat berguna dan berharga Ambo imgat malahan ado pulo yang juga diadakan oleh pak Syaf bersama oak Muchtar Naim Ado juo di Bukittinggi  di Batusangka bahkan di Jakarta  Iko yang tidak terkompi;asi dengan baik dan menjadi rujukan dalam kiro membicarakan seperti di ZPadang itu Kalau itu dirangkum kembali kan dapat ditelusuri dima nan masih bisa diperbaharui ' sakali aia gadang sakali tapian barubah " Harto pusako sajo dalam perkembangan alah disesuaikan drngan pusako tinggi dan pusako randah Mohon pak Saf melihat apo nan disampaikan kawan kawan tu dari aspek yang kontrutif
Chaidir N Latief

Darul M <da...@dr-net.biz> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 2, 2007, 9:24:25 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Chaidir yang baik,

Pakaro manangani masalah Minangkabau sacaro bakasinambungan sacaro teknis sabananyo indak sulik. Insya Allah ado babarapo di antaro kito nan mangikuti masalah ko, dan labiah dari basadio untuak manindaklanjutinyo -- sacaro perai -- tamasuak ambo. Bahan-tu umumnya masih tapaliharo baiak.

Nan jadi hambatan gadang kito ado tigo 1)  urang Minang indak punyo institusi nan basifaik supra-nagari, sahinggo sadonyo kito bapikia sakuduang-sakuduang pado tingkek nagarinyo surang-surang; 2)  tiok kito mambuek limbago nan basifat supra-nagari, sarupo LKAAM nan panah pak Chaidir pimpin atau Gebu Minang nan kini, dalam operasionalnyo susah bana maambiak prakarsa nan baukuran gadang; 3) kalau ado urang nan mancubo marintis mambahas masalah mandasar tingkek Minangkabau, sabagian gadang curiga dulu, dan babisiak-bisiak di balakang mananyokan apo motifnyo dan kama awak ka baonyo koh. Ringkasnyo: labiah syuudzon daripado husnudzon.

Baa caro ambo maadoki gajala ko ? Ambo jalan taruih sajo, jo bismillah, dan ambo latakkan dalam konteks babangso dan banegara. Kan itu judul buku ambo (2004) "Masih Ada Harapan: Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara". Itupun ado pulo sanak pak Chaidir nan mayusun buku "Duabelas Jurus Pertahanan Melawan Serangan". Heran, kan?

Ambo alah kanyang bawacana jo kawan-kawan pak Chaidir tu. Indak bisa kambang lai, alah buntu. Nan paliang akhir ambo sarankan sajo supayo kito jalan surang-surang dan balomba kito dalam kabaikan sasuai jo ajaran Islam. Fastabiqul khaifraat. Ka baa juo lai.

Maaf kalau ambo bakato bukak kulik tampak isi sajo. Mungkin bawaan karajo ambo nan lamo.

 Wassalam,
Saafroedin Bahar.

hanifah daman

unread,
Dec 2, 2007, 10:49:43 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Semoga saja begitu sanak Afda.
Maunya ada bintang yang bermain lebih setidaknya sama seperti  yang digambarkan pengarangnya. Afda pengagum Ayat-Ayat Cinta juga ya ?.
Saya mula-mula membacanya di koran Republika di hari minngu saja (beli korannya tiap minggu saja), lalu ketika beberapakali baca langsung tertarik. Akhirnya langganan setiap hari sampai tamat. Wah waktu pertama baca, hampir tiap hari keluar air mata. Kadang di ketawain si Dilla .. " mama nangiiisss ". Begitu sudah jadi novel, kami mengholeksinya
 
Si Dilla anak gadis kami juga sudah ngasih tau tentang film tsb. Dan dia sudah minta di beliin novel " Ketika cinta bertasbih 2". (kayaknya belum sampai ke Bengkulu). Tapi kayaknya sudah tidak ada bioskop lagi di kota Bengkulu. Habis sudah lama sekali tidak nonton di bioskop.
 
 
Wass
 
Hanifah Damanhuri

M. Zaki S

unread,
Dec 2, 2007, 11:02:24 PM12/2/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Admin Rantau Net.
Mohon di bantu di keluarkan kan ambo dari Milist ini.
Karena Kudo nan ambo pakai kini lah dimintak dek urang punyo nyo.
 
Mohon maaf untuak kasadonyo, dan tarimo kasih banyak, lah banyak ilmu nan ambo dapek salomo
bagabuang di Milist ko.
 
Ambo mohon juo ka Dunsanak, nan bisa mambantu ambo untuak mancarikan karajo, ambo tunggu
di No Hp ambo. Background ambo Maintenance Planner & Material/Ware Hose.
 
Wassallam
Zaki #0852 7131 3890

 

chaidir latief

unread,
Dec 3, 2007, 7:55:22 AM12/3/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Darul yang baik
Alah sampai bara anggota melis yang mendaftar Baa caronyo dapek alamatnyo Tarimo klasih
Chaidir N Latief

Darul M <da...@dr-net.biz> wrote:

chaidir latief

unread,
Dec 6, 2007, 6:07:50 AM12/6/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saf yang baik
 
Tewrusterang kalau pak Saf yidak memulai ranya debat dan wacana berjepanajang
Pemagaman adat budata Minang itu bana yang makin menipis
 
Chaidir N Latief

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
See how.
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.
Try it now.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 6, 2007, 9:11:08 AM12/6/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Chaidir yang baik, mohon maaf agak kurang jaleh dek ambo apo inti pasan pak Chaidir dalam posting nan kini. Tolong pak Chaidir tambahkan penjelasannyo: apo sabaiaknyo ambo hantikan sajo mambahas masalah Minangkabau ko, supayo salasai sandiri ? Atau ambo taruihkan sampai salasai ? 

Bahaso pemahaman adat sudah samakin tipis alah jaleh. Kok indak, indak katabik buku terbaru dari pak Amir MS Dt Manggung nan Sati, nan bajudul kalau ambo indak salah "Adat Minangkabau di Tepi Jurang Kehancuran". Sabagai penganut 'positive thinking' ambo indak sacameh itu bana, jo duo syarat 1)  janiahkan bana apo nan kito mukasuik jo ABS SBK; 2) latakkan Minangkabau tu dalam konteks NKRI. Kan itu judul buku ambto tahun 2004 dahulu.

Namun, manuruik rencana ambo, kalau diizinkan Allah swt,sasudah salasai diskusi panel Perang Paderi tanggal 22 Januari 2008 nanti, atau paliang lamo bulan Juni 2008, ambo akan mangurangi kegiatan 'baminang-minang'  sacaro malimbago saparati salamo ko sampai tingkek minimum,  karano 1)  ambo maanggap sumbangan konseptual ambo sacaro mandasar  untuak Ranah Minang rasonyo alah salasai, sakadar sabagai baleh budi ka Ranah; 2)  wacana tantang Minangkabau ko alah sulik untuk bakambang karano konservatisme masih sangat kental; 3) untuk maagiah kesempatan ka nan mudo-mudo untuak mangambangkan maso depannyo surang, dan 4)  karano ambo akan memasuki karir kaampek ambo, yaitu bakiprah di Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat nan akan dikukuhkan tanggal 10 Desember 2007 malam di Mahkamah Konstitusi, sambia tatap manjadi dosen di UGM dan Lemhannas.

Tantu sabagai perseorangan, akan tetap ambo bantu Ranah kito tu sapanjang takao dek ambo

Wassalam,
Saafroedin Bahar


chaidir latief <chaidir...@yahoo.com> wrote:

Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

chaidir latief

unread,
Dec 6, 2007, 7:23:33 PM12/6/07
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saf yang baik
 
Sabananyo alah mulai banayk nan mangkristal permasalahan adat Miangkabau bermuaro dari ABSSBK Banyak sekali hal hal menarik nan sangat esendiasl nan mulai dapat di pegang Tapi kan alun tuntas juo Kalau ditarik lagi kebelakangg ke Tuanku Imam Bonjol karano anrara lain serangan Situmorang apo ingak maabihkan energi mengabirkan apo nan alah kita capai Anak anak muda bank nan indak tau atau mau tahu sedangkan masa bajalan juo  Ambo hanyo melihat dari segi praktis waktu dan jumlah urang nan peduli Prof Buchari pernah basalero mengkopulasi Terus terang lamo lamo mundur pulo karano bantuan nan tageh tu bana nan makin saketek
Chaidir N Latief 

Zulidamel

unread,
Dec 7, 2007, 2:23:06 AM12/7/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum WW.
Sabalunnyo ambo minta maaf manyalonong kasiko. Ambo siso generasi terakhir keturunan kerajaan Minangkabau di Sumaniak-Batusangka. Ambo salah seorang pewaris gelar adat Dt. Maradjo Kayo dari Rumah Gadang Sambilan Ruang. Cucu dek Dt. Indo Maradjo karano itu kalau nan gaek-gaek maimbau ambo Dt. Indo.
 
Soal adat ambo kurang mangarati tapi nan jaleh Adat Minangkabau jo kenyataan nan ambo adok-i indak basuo, talalu banyak nan manyimpang. Taruih tangiang-ngiang di talingo ambo senanduang niniak ambo "Rumah Gadang Sambilan Ruang, Salajang kudo balari, Boto pacah minyak tatuang, Harum baserak ka Nagari" tapi apo nan ambo caliak diwajahnyo tampak duka yang sangek mandalam, bukan suka!.
 
Taruih tarang!. Indak ado mamak nan bisa ambo banggakan, sadonyo terjerumus dalam kebodohan nan talena dek harato pusako. Jeritan parasaan ambo marajuik kato "Baka sajolah Rumah Gadang tu!, indak ado gunonyo".  Ma'af mamak! Bukan ambo durako tapi muak mancaliak parangai mamak, nan indak mambimbiang kami. Jaan salahkan kami sahinggo kami indak mamahami adat Minangkabau.
 
Nampaknyo mamak Dr.Saafroedin BAHAR yo lah kapayahan pulo dalam mampajuangkan Adat/Budaya Minang Kabau. Ma'af mak, ambo yo alun mangarati jo  ABS SBK tu mak. Apo gunonyo tu mak?...
 
Barek bana, dek ambo untuak bacarito manyangkuik adat ko, tapi karano ambo masih maraso urang Minang ingin tahu juo apo nan dikarajokan dek dunsanak ambo, tampaknyo Ranah Minang samakin tapuruak. Baru kini ambo mandanga Busuang Lapa, Orang Minang Kurang Gizi dll. Organisasi Orang Minang kini hanyo bersifat lokal. BA'A KABA GEBU MINANG?, lah lamo pulo indak ambo danga, masih ado apo indak.
 
wassalam
Zulidamel.
 
----- Original Message -----
From: Dr.Saafroedin BAHAR
To: Rant...@googlegroups.com
Sent: Thursday, December 06, 2007 9:11 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Tuanku Imam Bonjol versus ABSSBK


Pak Chaidir yang baik, mohon maaf agak kurang jaleh dek ambo apo inti pasan pak Chaidir dalam posting nan kini. Tolong pak Chaidir tambahkan penjelasannyo: apo sabaiaknyo ambo hantikan sajo mambahas masalah Minangkabau ko, supayo salasai sandiri ? Atau ambo taruihkan sampai salasai ? 

Bahaso pemahaman adat sudah samakin tipis alah jaleh. Kok indak, indak katabik buku terbaru dari pak Amir MS Dt Manggung nan Sati, nan bajudul kalau ambo indak salah "Adat Minangkabau di Tepi Jurang Kehancuran". Sabagai penganut 'positive thinking' ambo indak sacameh itu bana, jo duo syarat 1)  janiahkan bana apo nan kito mukasuik jo ABS SBK; 2) latakkan Minangkabau tu dalam konteks NKRI. Kan itu judul buku ambto tahun 2004 dahulu.

==============di kuduang=================

Tantu sabagai perseorangan, akan tetap ambo bantu Ranah kito tu sapanjang takao dek ambo

Wassalam,
Saafroedin Bahar


chaidir latief <chaidir...@yahoo.com> wrote:
Pak Saf yang baik

Tewrusterang kalau pak Saf yidak memulai ranya debat dan wacana berjepanajang
Pemagaman adat budata Minang itu bana yang makin menipis

Chaidir N Latief

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
==============di kuduang=================

chaidir latief <chaidir...@yahoo.com> wrote:
Pak Saf yang baik
==============di kuduang=================

arul M <da...@dr-net.biz> wrote:





From: Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Monday, December 03, 2007 1:40 AM



Assalamualaikum w.w. Pak Chaidir,

==============di kuduang=================

Rahima

unread,
Dec 7, 2007, 4:20:47 AM12/7/07
to Rant...@googlegroups.com
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuh

Pak Saaf dan dunsanak kasodonyo.

Saya bisa merasakan apa yang pak Saaf rasakan. Dan
saya bisa merasakan apa yang dirasakan sanak
Zulidamel.

Tapi,...kondisi memang dah semacam itu.
Sekarang, apa yang dapat kita lakukan,dari perbuatan
baik dan bermanfaat lakukan sajalah, ngak usah pandang
A, I, U, E, O. Apa kata orang. Ingat cerita keledai
dan tuannya, serta sang anak, apa-apa salah toh dalam
pandangan orang yang melihatnya.

Yang pasti satu kita ingat, apa yang kita kerjakan,
apa tujuannya, hanya Allah sajalah yang maha tau.
Biarkanlah Allah yang menilainya. Kalau kita nilai
buruk, jangan-jangan malah kita yang menilainya buruk,
malah kita yang berdosa, kita terkena hukum firman
Allah :"buruk sangka".

Saya terkadang sedikit lucu juga, katanya urang Minang
terkenal dengan "Raso jo Pareso", sependek yang saya
alami, aneh bin ajaib, kadang bukan hak kita, kita
ambil juga, kadang bukan tanah milik kita kita
letakkan juga barang2 kita disana.Katanya lamak
diurang katuju diawak, atau katuju diawak lamak
diurang?

Terkadang kita ingin orang melakukan apa yang kita
inginkan, sementara kita sendiri tak melakukan apa
yang diinginkan orang lain. Atau sebaliknya, kita tak
ingin orang melakukan apa yang kita tak sukai, padahal
diri kita sendiri melakukan hal sama yang tak disukai
itu.

Selama paling tidak 6 thn (kalau dihitung2),dalam
waktu yang berbeda-beda saya hidup di Minangkabau ini,
saya dah dapat merasakan apa sebenarnya yang telah
terjadi dengan diri orang Minang itu sendiri. Hanya
pada Allah saja kita bertawakkal. Cuma itu yang dapat
saya sampaikan.

Wassalamu'alaikum. Rahima.


--- Zulidamel <zuli...@yahoo.co.id> wrote:


____________________________________________________________________________________


Be a better friend, newshound, and

know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 7, 2007, 8:07:53 AM12/7/07
to Rant...@googlegroups.com, Warni DARWIS
Assalamulaalaikum w.w. Nanda Rahima dan Zulidamel,

Tidak ada yang perlu saya tambahkan terhadap pandangan Nanda berdua. Menurut penglihatan saya memang demikianlah keadaannya. Sebagai seorang yang sejak tahun 1987 mulai bergelimang dalam penelitian -- sampai saya menyelesaikan S3 pada tahun 1996 -- apalagi sejak saya menjadi anggota Komnas HAM sejak tahun 1965, sungguh risau saya melihat gejala kemunduran Minangkabau dalam hampir di segala bidang, dan tertarik sekali untuk mencari faktor penyebabnya. Dari rangkaian pengkajian dan pengamatan yang ada, rasanya saya sudah menemukan akar penyebab kemundruran Minangkabau tersebut dan seiring dengan itu saya sudah menyampaikan saran perbaikan semampu saya.

Sudah barang tentu ada reaksi setuju dan ada reaksi menentang terhhadap pandangan saya. Hal itu adalah wajar.. Kedua jenis reaksi tersebut saya pelajari baik-baik, sesuai dengan etika ilmuwan yang saya anut. Mana yang benar saya benarkan, dan mana yang tidak benar, saya tolak dengan argumen.

Dalam tahun 2004 dengan sengaja saya memilih tema hak masyarakat hukum adat sebagai bidang saya di Komnas HAM. Dalam tugas tersebut, saya mengadakan pengkajian masyarakat hukum adat, termasuk masyarakat hukum adat Minangkabau. Puncaknya adalah semiloka masyarakat hukum adat Minangkabau di FH Unand, 19-21 Juni 2007 di Padang, yang bukunya sedang naik cetak. Dari rangkaian pengkajian ini, semakin jelas 'isi perut' masalah yang dihadapi masyarakat hukum adat Minangkabau, khususnya jika ditinjau dari perspektif hak asasi manusia.

Suatu kesimpulan saya dari rangkaian pengkajian dan pengamatan ini  adalah bahwa masyarakat hukum adat Minangkabau sungguh sangat resisten terhadap perubahan apapun, konservatif, dan ,maaf, cenderung reaksioner. Dari kesimpulan tersebut, masalah berikutnya yang harus saya jawab adalah apakah akan saya teruskan langkah saya mengajukan saran perbaikan terhadap Minangkabau atau saya hentikan saja. Kalau saya teruskan, menghadapi konservatisme dan sikap reaksioner yang masih demikian kental, pertanyaannya adalah apakah akan ada manfaatnya, karena sekarang ini usia saya sudah 71 tahun.  Saat ini saya cenderung menghentikan kegiatan saya tersebut dalam tahun 2008, setelah selesai diskusi panel Perang Paderi tanggal 22 Januari 2008 di Arsip Nasional, Jakarta.

 Namun saya percaya tidak seorangpun yang akan dapat menentang terbitnya matahari. Minangkabau sudah, sedang, dan akan berubah secara terus menerus, terlepas dari apakah saya -- atau pengeritik-pengeritik Minangkabau lainnya -- menulis apa tidak. Apalagi di bawah permukaan, telah terlihat bekerja unsur-unsur pembaharu di Minangkabau sendiri, yang terdiri dari kaum muda, kaum perempuan, kaum cerdik pandai, para alim ulama, dan para perantau, khususnya kaum saudagar, yang mau tidak mau harus melihat ke depan.Selama ini mereka terkesan bungkam, tetapi keadaan itu tak akan berlangsung lama. Hal yang serupa juga saya lihat terjadi di kalangan Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.

Tugas`saya sebagai ilmuwan telah selesai sewaktu pendapat telah saya kemukakan, dan saran sudah saya sampaikan. Saya bukan pemimpin masyarakat Minangkabau atau pejabat pemerintahan daerah Sumatera Barat.Saya hanya bergerak dalam beberapa LSM Minangkabau di Rantau, seperti Gebu Minang dan MAPPAS. Terserah kepada para pemimpin masyarajat Minangkabau di Ranah untuk mengambil keputusan, menerima atau menolak pandangan saya, dan dengan sendirinya memikul tanggung jawab sejarah serta tanggung jawab politik terhadap seluruh keputusannya itu.

Dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang, jika diizinkan Allah swt, sambil meneruskan kegiatan saya sebagai dosen S2 Etnisitas dan Integrasi Nasional di UGM Yogyakarta, serta sebagai penulis lepas dari beberapa jurnal, saya akan lebih banyak berkiprah dalam Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat yang untuk  sementara ini berpusat di Pekanbaru, Riau. Rasanya lumayan banyak yang dapat saya kerjakan secara konstruktif dan bermanfaat dalam lembaga baru ini, bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan bagi masyarakat hukum adat Indonesia pada khususnyaa.

Wallahualambissawab.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Dec 7, 2007, 8:48:22 AM12/7/07
to Rant...@googlegroups.com
 Pak Chaidir yang baik,

Dalam semiloka di Universitas Andalas bulan Juni 2007 nan lalu tadapek kasan bahaso masih duo faham tantang ABS SBK tu. Kito cubo mandapekkan dalam diskusi Perang Paderi, karano ABS SBK tu dipandang lahir pado akhir Perang Paderi. Kok kusuik di ujuang pai ka pangka, bak kato pak Chaidir juo.

Anzori

unread,
Dec 9, 2007, 7:54:53 PM12/9/07
to Rant...@googlegroups.com
Sanak kasadonyo,
Ambo raso Penjelasan mengenai ABSSBK dikaitkan dengan sejarah TIB penting dibahas panjang lebar, agar catatan sejarah tidak terputus-putus dan berkelanjutan, jadi seminar bulan Januari perlu sekali diadakan.

chaidir latief <chaidir...@yahoo.com> wrote:

Anzori

unread,
Dec 9, 2007, 7:55:10 PM12/9/07
to Rant...@googlegroups.com
Sanak kasadonyo,
Ambo raso Penjelasan mengenai ABSSBK dikaitkan dengan sejarah TIB penting dibahas panjang lebar, agar catatan sejarah tidak terputus-putus dan berkelanjutan, jadi seminar bulan Januari perlu sekali diadakan.

chaidir latief <chaidir...@yahoo.com> wrote:
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages