Senin, 02 Mei 2011
nilainya mencapai RP350 TRILIUN
ARIF RIZKI
PADANG - SINGGALANG Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan
Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Bila dikonversi dengan kurs saat ini,
jaminan utang tersebut senilai Rp350 triliun (RM125 miliar).
Upaya penukaran ringgit (1 RM = Rp2.800) ini heboh, karena diduga melibatkan
pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya
repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Dikutip dari Surat Kabar Kontan, edisi Minggu, 2 Mei 2011, seorang WNI,
E.Suharto menyebutkan adanya dokumen resmi tentang perjanjian
Malaysia-Indonesia tentang peminjaman emas oleh Malaysia ke Indonesia.
"Dokumen itu disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Dan
salinannya tersimpan di sebuah bank di Swiss," ujarnya.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak tadi malam
sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. "Saya tidak kenal, apa itu nama
asli atau samaran," kata dia.
Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun,
ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri
Sembilan memang erat.
Menurut Raudha ia belum tahu soal pinjaman itu. Yang ia tahu banyak orang
mengaku sebagai ahli waris Pagaruyung. "Setelah ini mungkin akan semakin
banyak yang mengaku," kata dia.
Ia meminta agar fakta dan data soal pinjam-meminjam antara Malaysia dan
Pagaruyung itu, diungkap dengan jelas, tidak ngambang.
"Pertanyaannya sekarang apa bisa ditelusuri?" Tanya Raudha pula.
Bagi dia, harus dicari kebenaran dari segala hal dan segala lini.Raudha
memamg belum pernah mendengar soal kasus Malaysia tersebut. Namun ia pernah
menerima cerita tentang harta Pagaruyung di Arab Saudi. "Tiap tahun kami
menerima kurma terbaik dari Taif," kata dia. Itu pertanda putih hati bahwa
tanah Pagaruyung yang dibeli di Arab Saudi, dipinjam pakai oleh kerajaan di
sana. Belakangan tanah itu dibeli, tapi uangnya tak pernah sampai ke
Pagaruyung. "Kabarnya urusannya ribet," kata dia.
Sejak 1955
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama
Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua
pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan
penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia
untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau
kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia
mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung.
Setelah kolateral emas itu diterima dibuatlah perjanjian, Malaysia harus
membayar pinjaman ini selama 30 hingga 40 tahun. Malaysia rutin membayar
sampai 1988. "Sayangnya setelah 1989 hingga 2010, Malaysia tidak melanjutkan
pembayaran," ujar E.Suharto kepada Kontan. Tabloid ini menghiasi sampul
depannya dengan judul : Menagih Harta Karun Pagaruyung. Lantas di sampul
yang sama dipampangkan gambar Istano Silinduang Bulan yang terbakar itu. Di
latarbelakang Istano, terpampang uang ringgit.
Mencapai RM125 miliar
Hingga 1988 terkumpul uang RM125 miliar, yang merupakan hasil pembayaran
emas. Namun uang tersebut, ringgit lama. Agar bisa dipakai untuk
bertransaksi, uang tersebut diremajakan dengan bantuan orang dekat Perdana
Mentri Malaysia Abdullah Badawi, Datuk Amir. Tahun 2003 silam ia meyakinkan
E.Suharto bisa menukar ringgit lama tersebut menjadi ringgit baru.
Menyadari, repatriasi ini urusan antarpemerintah, E.Suharto juga meminta
bantuan kepada pemerintah. "Saya membuat surat resmi kepada pemerintah untuk
bisa membantu proses repatriasi," ujarnya.
Dengan dimintanya bantuan tersebut, muncullah dua lembar protective
statement dari Bambang pada 2007 dan Sekretaris Kementrian Koordinator
Bidang Politik dan Keamanan Sudi Silalahi, pada 2003 silam. E.Suharto juga
ikut rapat di Depkeu untuk melancarkan repatriasi tersebut. Namun ia katakan
tidak ada kongkalingkong, meskipun ada isu tidak sedap mengenai komisi 15
persen.
"Dalam surat itu Bambang menyatakan, ia dapat saran dari Sekretaris Jenderal
Departemen Keuangan, Mulia P.Nasution agar ringgit itu tetap diletakkan di
Jakarta," ujarnya.
Baru-baru ini E.Suharto mengirim surat kepada PM Najib untuk melanjutkan
proses repatriasi. Ia ingin upayanya ini dilihat sebagai cara pengembalian
aset bekas kerajaan Indonesia pada negara.
Membantah
Para pejabat yang disebut-sebut dalam dokumen ini membantah adanya utang
kepada Kerajaan Pagaruyung tersebut. Sudi Silalahi mengaku mendengar kabar
tersebut dari media saja, tanpa bisa memastikan kebenarannya. Wakil Duta
Besar Malaysia di Jakarta Syed Muhammad Hasrin juga mengaku tidak mengetahui
isu repatriasi ini karena tidak pernah melihat surat-suratnya.
Begitu pula Mulia yang terkejut karena namanya disebut-sebut dalam dokumen
itu. "Hal seperti ini harus dicek serius, apalagi yang berkaitan dengan
kejayaan masa lalu," ujar Mulia.
Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas isu yang berkaitan dengan
Indonesia-Malaysia dinilai perlu diusut tuntas, karena isu mengenai harta
karun peninggalan sejarah tidak terdengar sekali ini saja.
Pengamatan Singgalang, Tabloid Kontan laris manis di beberapa titik di
Jakarta sepanjang Minggu. Di Bandara Soekarno Hatta, hampir semua penumpang
pesawat menuju Padang membelinya.
"Saya juga beli satu, tapi di lapak koran Imam Bonjol Padang," kata ahli
waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib alias Upita Agistin. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=6011
Wassalam
Nofend/34+/M-CKRG
=> MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!!
Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat
dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang,
Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi
Sumatera Barat.
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Nofendri T. Lare" <nofend@...> wrote:
>
> Mmmnnn..... banyak mah...
> -------------------------
>
> Senin, 02 Mei 2011
> nilainya mencapai RP350 TRILIUN
> ARIF RIZKI
>
> PADANG - SINGGALANG Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan
> Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Bila dikonversi dengan kurs saat ini,
> jaminan utang tersebut senilai Rp350 triliun (RM125 miliar).
> Upaya penukaran ringgit (1 RM = Rp2.800) ini heboh, karena diduga melibatkan
> pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, ...
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=6031
Selasa, 03 Mei 2011
Padang, Singgalang. Isu tentang adanya utang emas oleh Malaysia kepada
Kerajaan Pagaruyung sebesar RM 125 miliar (setara dengan Rp350 triliun)
cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya di Sumbar. Hal ini karena
sejarah Sumatra Barat tidak bisa dilepaskan dengan Kerajaan Pagaruyung
tersebut.
Sampai tadi malam, masih banyak warga yang menanyakan kepastian kabar itu
kepada Singgalang. Para sejarawan dari Sumbar, tidak ketinggalan pula untuk
ikut berkomentar.
Sejarahwan sekaligus Ahli Filologi Minang, Suryadi mengatakan ia akan segera
meneliti kebenaran isu ini. Jika terbukti benar, katanya, hal ini akan
menjadi warna baru bagi sejarah Indonesia-Malaysia, yang selama ini tidak
terungkap.
"Ini adalah wacana yang menarik. Wacana seperti ini perlu dikaji dengan
pende-katan sejarah yang lebih komprehensif," ujar peniliti yang saat ini
mengajar di Leiden University, Belanda itu kepada Singgalang, dari Leiden,
Senin (2/5).
Untuk membuktikan hal ini, Suryadi berencana menelusuri data dan dokumen
transaksi di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Seperti yang
diberitakan oleh suratkabar Kontan Edisi Minggu, 2 Mei, seorang WNI bernama
E.Suharto mengaku mengetahui dokumen-dokumen tersebut disimpan di Mahkamah
Internasional di Den Haag di Belanda.
"Saya berharap dokumen-dokumennya bisa diakses, karena sejarah Indonesia
masih banyak yang belum terungkap dengan benar," ujar Suryadi.
Diragukan
Di lain pihak, sejarahwan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed
meragukan kebenaran isu tersebut. Yang meragukan baginya adalah lalu lintas
transaksi antar dua negara tersebut tidak jelas.
"Jika utang itu memang ada, siapakah yang menerimanya? Pemerintah atau
keturunan Pagaruyung?" ujar Mestika mempertanyakan. Meski demikian, Mestika
berargumen, isu seperti ini berkembang karena masyarakat terbiasa
membayangkan adanya harta karun di saat negara sedang dilanda krisis.
"Dalam pembelajaran sejarah, kita mengenal adanya fenomena ratu adil.
Orang-orang yang terjepit dalam kesusahan suka membayangkan kemunculan ratu
adil ini. Peninggalan Pagaruyung ini salah satu contoh yang cukup relevan
untuk hal ini," ujarnya.
Walaupun meragukan kebenaran wacana ini, Mestika mengatakan hal ini perlu
dibuktikan oleh yang lebih berkompeten di bidang sejarah Indonesia dan
Malaysia.
Soal utang-piutang ini diberitakan Kontan Minggu dan dikutip Singgalang
keesokan harinya. Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan
Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Utang tersebut diberikan dengan
jaminan senilai RM125 miliar (sekitar Rp350 triliun dengan kurs saat ini).
Upaya penukaran ringgit ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi
Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini
belum kunjung berhasil.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak sama-sekali tidak
mengenal nama E. Suharto. "Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau
samaran," kata dia. Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada
Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia,
terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama
Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua
pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan
penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia
untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau
kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia
mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung. (arif)
VIVAnews -- Negeri jiran Malaysia, dikabarkan memiliki sejarah utang pada
Kerajaan Pagarruyung, Sumatera Barat. Utang itu berupa emas, jumlahnya tak
main-main, diduga sampai Rp350 triliun, jika dikonversikan dengan nilai uang
saat ini.
Seperti dilansir koran Kontan, adalah E Suharto yang menyebut ada dokumen
resmi tentang peminjaman emas itu. Dokumen kini tersimpan di Mahkamah
Internasional Den Haag, Belanda, salinannya disimpan di sebuah bank di
Swiss.
Utang Malaysia pada Pagarruyung dikabarkan terjadi pada 1955. Diawali
pertemuan pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman dengan Presiden RI
Soekarno. Peminjaman terkait rencana kemerdekaan penuh Malaysia dari
Inggris. Pinjaman itu sempat dicicil sampai tahun 1989.
Bagaimana tanggapan pihak Pagarruyung?
Budayawan, Wisran Hadi, sekaligus suami pewaris Pagarruyung, Raudha Thaib
justru mengaku bingung dengan pengakuan seseorang bernama E Suharto. Sebab,
dalam silsilah yang berisi 33 generasi Pagarruyung, nama tersebut tidak ada.
Dari mana ia tahu keberadaan harta itu?
Namun, ia mengaku sempat mendengar isu harta karun. Namun versinya jauh
berbeda. "Dulu waktu perang Padri, memang ada 30 kuda beban mengangkut emas
dinyatakan hilang di rawa-rawa. Apakah emas ini yang sampai ke Malaysia,
atau masih terkubur? Tapi kalau sampai ke Malaysia kecil kemungkinan," kata
dia saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 3 Mei 2011.
Wisran menambahkan, kesahihan informasi tersebut masih dipertanyakan. Saat
mengajar di Akademi Seni Kebangsaan, Malaysia selama lima tahun, ia hanya
menemukan fakta bahwa Pagarruyung dan Negeri Sembilan masih satu keturunan.
Tak ada soal pinjam-meminjam emas.
Meski demikian, akan lebih baik jika harta itu benar ada. "Saya pernah
bilang ke istri saya, kalau benar ada, kita bangun jembatan ke Malaysia,"
kata dia, berkelakar.
Sementara, sejarawan Universitas Andalas Profesor Gusti Asnan mengaku sudah
mendengar isu tersebut sejak lama. Namun, hanya sekedar kabar angin, tak ada
bukti.
"Dari data dan fakta yang diteliti tak menemukan salah satupun bukti tentang
pengakuan utang piutang antara Pagarruyung dengan Malaysia," kata dia saat
dihubungiVIVAnews.com.
Gusti Asnan mengaku pernah meneliti sejarah Sumatera Barat tahun 2007 lalu.
Hasil-hasil penelitian ia tuangkan melalui buku, "Memikir Ulang
Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an".
Soal utang-piutang emas itu termasuk yang diteliti. Data-data pendukung
dikumpulkan, sampai ke Negeri Belanda. "Di Den Haag belum pernah ditemukan
arsip seperti itu. Kalau memang ada di Mahkamah Internasional, paling tidak
ada arsipnya di Kemenlu. Saat saya ke sana tidak ada," tambah dia.
Ditambahkan dia, Pagarruyung jatuh pasca perang Padri. Pada tahun 1850-an,
Pagarruyung hidup dari tunjangan yang diberikan pemerintah kala itu. Sejarah
RI merdeka, kerajaan menyatakan diri melebur dengan Indonesia. Dari
sejarahnya, raja-raja Pagarruyung sebatas simbol, tak punya tentara, tak
punya kekuasaan. Tapi punya pengakuan. Istana Pagarruyung pun baru dibangun
tahun 1970-an, era Soeharto.
Mungkinkan Pagarruyung punya simpanan emas sedemikian banyak?
Menurut Gusti Asnan, dilihat dari sejarah, Sumatera Barat dulu memang
merupakan daerah kaya emas. "Pada abad ke-16 dan abad ke-17. Abad ke-18
mulai menurun. Masuk ke abad-19, ada 17 tambang besar, namun itu dikelola
Belanda dan hasilnya dibawa ke Batavia. "Tak mungkin 1955 Kerajaan
Pagarruyung menyerahkan emas sebanyak itu ke pemerintah Malaysia. Tak masuk
akal," kata dia.
Informasi utang emas Malaysia pada Pagaruyung, tambah Gusti Asnan, harus
dibuktikan kebenarannya. "Bukannya saya merendahkan Pagarruyung, ini apa
adanya, faktanya seperti ini." (sj)
Laporan: Eri Naldi| Padang
http://nasional.vivanews.com/news/read/218131-malaysia-utang-emas-kerajaan-p
agaruyung-
===================
Tak Ada E Suharto di Silsilah Pagarruyung
Keturunan Pagarruyung di tanah Jawa, bisa saja terjadi.
SELASA, 3 MEI 2011, 16:56 WIB, Ita Lismawati F. Malau
VIVAnews - Usai melansir piutang Kerajaan Pagarruyung pada Malaysia senilai
Rp350 triliun, nama E Suharto menjadi tanda tanya besar bagi sejumlah
kalangan. Siapa E Suharto dan apa kedudukannya di Kerajaan Pagarruyung
sehingga bisa memiliki dokumen terkait utang-piutang itu?
Pakar budaya Wisran Hadi menerangkan tak ada nama E Suharto dalam silsilah
keluarga Kerajaan Pagarruyung hingga 33 generasi. Orang ini, menurut Wisran,
tidak tercatat dalam bagan silsilah di berbagai bahasa. "Ada yang berbahasa
Melayu dan berbahasa Arab," kata Wisran Hadi, Selasa, 3 Mei 2011.
Hal yang sama, kata Wisran, juga diakui Puti Reno Raudha Thaib, pewaris
Kerajaan Pagarruyung yang juga istrinya. Puti mengaku tidak kenal dan tidak
tahu nama E Suharto yang belakangan muncul memberi kabar segar terkait
piutang kerajaan.
Bahkan interpretasinya mengarah bisa jadi nama tersebut hanya samaran.
"Kebiasaan orang kita (Minang) kan begitu. Di negeri orang dia berganti
nama," katanya. Namun, Wisran pun belum bisa memastikan apakah silsilah Raja
Pagarruyuang yang dikumpulkannya beberapa tahun ini sudah lengkap.
Sejumlah kemungkinan terkait munculnya keluarga kerajaan berdarah Jawa bisa
dicerna akal sehat. Semasa perang Paderi, Belanda menangkap Sultan Alam
Bagagarsah dan membuangnya ke Batavia. "Dari sana diketahui keturunan beliau
juga banyak di Jawa, termasuk keraton," kata Wisran.
Selain di Jawa, keturunan Kerajaan Pagarruyung juga berkuasa di Negeri
Sembilan, Malaysia. Menurutnya, ikhwal kekerabatan dengan Raja Negeri
Sembilan di Malaysia jelas sekali. Raja Negeri Sembilan Teuku Ja'far
dikabarkan sering berkunjung ke Pagaruyung untuk mencari silsilahnya.
"Bahkan saat putera mahkotanya meninggal, pewaris Kerajaan Pagarruyung
diundang ke sana," aku Wisran. Tak adanya nama E Suharto dalam silsilah
nama-nama pewaris Kerajaan Pagarruyung ini membuat kebingungan sejumlah
pewaris kerajaan dan akademisi di Sumbar.
Wacana utang-piutang yang dihembuskan E Suharto perlu dibuktikan
kebenarannya. Sejarawan dari Universitas Andalas Profesor Gusti Asnan sempat
meneliti dokumen perkembangan Sumatera Barat era 1950-an. Namun, dia tidak
menemukan satu dokumen pun terkait piutang Kerajaan Pagarruyuang pada
Malaysia.
Laporan: Eri Naldi | Padang, umi
http://nasional.vivanews.com/news/read/218207-tak-ada-e-suharto-di-silsilah-
pagaruyuang
Oleh: Syofiardi Bachyul Jb
Saya senyum-senyum sendiri membaca berita spektakuler dalam tiga hari ini. Inilah berita yang bermula dari cover story Kontan Minggu, 1 Mei 2011 berjudul "Menagih Harta Karun Pagaruyung". Berita ini dikembangkan Harian Singgalang, lalu diikuti media lain, di antaranya Vivanews dan Okezone.
... dst ... lihat diMinang Forum:
http://www.minangforum.com/Thread-Mengkritisi-Berita-Utang-Malaysia-ke-Pagaruyung?pid=47175#pid47175
Itulah sebabnya secara spontan Nyit Sungut tadinya senyum nabi, diulang di sini:
> Hmmm..., Cerita Koyok?
Tahun 1953-54 kami pelajar SGA-Negeri Payakumbuh berwisata keliling Sumatera Barat. Tempat pertama yang dituju adalah Istana Pagaruyung. Kompleks Istana Pagaruyung yang kami harap dan akan saksikan ternyata sangat mengecewakan, bahkan menyedihkan kami. Tidak ada angin-angin atau lingkungan kerajaan besar ada di sana. Rumah-rumah gadangnya sama bobroknya dengan kebanyakan rumah-rumah gadang yang kemi lihat di mana-mana. Pekarangannya agak merimba, tidak terurus. Ada kuburan di pekarangannya (Kuburan Rajo?) juga tidak disiangi, seperti tidak ada yang merawat kompleks itu. Kampungnya juga sunyi seperti negeri tidak berorang, suasana murung sangat mencengkam.
Waktu kami naik rumah gadang (istana?), kami pun tacongang-congang melihat di dalamnya; kegelap-gelapan di siang hari itu. Rumahnya seperti rumah tinggal tidak terurus. Di dalamnya duduk seorang Perempuan Tua termenung-menung melihat ke lantai, hanya sedikit-sedikit melirik kedatangan kami; beliau seperti orang kebingungan. Pakaiannya pun tidak terurus, yah seperti pakaian usang Urang Gaek yang tidak terawat. Diberitakan kepada kami bahwa Beliau adalah Katurunan Rajo.
Kami kagum tacongang-congang bertanya-tanya di dalam hati. Ada seorang teman kami perempuan bertanya-tanya lambat-lambat keheranan kepada teman dekat saya, "Itu Rajo Awaak...? Baa mangko "saroman urang muno" tu eeh ...?" Teman yang ditanya pun tacongang-congang dan sayapun begitu. Bayangan pandangan saya yang terekam di mata waktu itu kembali jelas dalam kenangan saya sekarang, hampir enampuluh tahun kemudian ...
Itulah pertama kali kata "muno" saya dengar dalam hidup dan bagaimana bentuknya "urang muno" itu. Kedua kali beberapa waktu yang lalu saya dengar/baca di Lapau (Rantaunet) ini waktu Angku Saafaruddin Bahar mengatakan kutipan kata Pak Gubernur Harun Zain bahwa "Urang Awak alah muno" sasudah PRRI.
Apakah Raja Kita itu sadar bahwa beliau punya Pura Emas yang tidak ternilai dan siapa yang mengurus dan memain-mainkannya? Apakah mungkin dalam tahun 1955 itu Tengku Abdur Rahman dari Malaya akan mencerdiki, membujuk, dan mengeruk pinjam Pura Emas dari Raja kita yang keadaannya kami lihat seperti itu...
Saya kira Mustahil!
Bukan emas bertahil-tahil ...
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua, May 7, 2011
--- In Rant...@yahoogroups.com, "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote:
>
> Hmmm..., Cerita Koyok?
> --Nyit Sungut
>
| Soal hutang Malaysia ke Pagaruyung bukanlah cerita yang sekonyong-konyong datang dari langit atau isu yang berhembus dari semak belukar belaka. Buya Hamka, dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau sudah menceritakan ada penerimaan upeti dari Malaysia ke pewaris Pagaruyung. Tapi memang, Buya Hamka tidak menjelaskan secara detail dalam buku itu soal siapa pewaris Pagaruyung yang telah menerima upeti dari negeri Jiran tersebut.. Sila cari buku bukunya, dan dibaca.. Tak hanya itu, tokoh E Suharto yang mengaku pewaris Pagaruyung bukanlah tokoh fiktif yang tidak memiliki dasar untuk bercerita. Dalam beberapa dokumen menyebutkan, E Suharto memang melakukan korespondensi dengan Bank sentral Malaysia soal penukaran ringgit lama yang disebut milik dari kerajaan Pagarutyung. (Lihat lampiran). Apakah upeti Malaysia itu ada? Saya yakin itu ada, karena Buya Hamka dalam bukunya juga pernah menegaskan hal ini. Siapa yang menerima? Wallahualam.. Salam, Asnil Bambani --- Pada Sab, 7/5/11, sjamsir_sjarif <hamb...@yahoo.com> menulis: |
|
Sanak Asnil yth.
Ambo raso informasi iko paralu diverifikasi labiah lanjut. Dulu ado saketek diskusi di palanta :
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/83321, satidaknyo hinggo sabalun maso Paderi baitu kondisinyo.
Namun potensi Pagaruyuang maso saisuak manghimpun haroto (: emas) cukup besar, karono posisi sagitigo nan disabuik MakNgah mamiliki deposit emas nan gadang maso itu. Dan itu salah satu alasan perpindahan dari Dharmasraya. Ambo raso dominasi iko bakurang karono alah masuak pedagang-pedagang dari Arab, India, dll (buku C. Dobin). Salain itu ado upacara ameh manah tiang bubuq nan ado dalam wilayat Pagaruyuang, sarato babarapo cukai di pelabuhan melalui perjanjian Painan (16..) dengan Aceh. Dalam tambo Sangguno Dirajo disabuik ado ketentuan bagian 1/10 untuak rajo dalam satiok transaksi hasil bumi.
Ambo raso haroto itu alah habis ukatu peristiwa Kototangah atau jauah maso sabalun itu. Allahu alam.
Wassalam,
-datuk endang |
|
"Tuanku Amiruddin yang bergelar Panglimo Harimau Campo, Rajo Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus"
Masih adokoh kini Rajo Ibadat tu di Sumpu Kudus? Rancak awak tanyokan ka Buya Syafe'i Ma'arif atau Inal di Lapau ko. Ranak Angku Armen mananyoan pulo ka Walinagri Sumpu Kudus.
Dari:
http://www.kliksumbar.com/berita-726-eko-berjuang-emas-pagaruyung-demi-bakti-untuk-negeri.html
Eko Berjuang 'Emas Pagaruyung' Demi Bakti untuk Negeri
Kategori: Serba - Serbi - Dibaca: 260 kali
Eko Suharto
Jakarta, KlikSumbar
Berita Pemerintah Kerajaan Malaysia berhutang emas sebanyak 12 metrik ton kepada Kerajaan Pagaruyung, disikapi beragam, baik di ibukota mau pun di Sumatera Barat. Ada yang mengerutkan kening, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali. Biasalah.
Tetapi Eko Suharto, sang peniup kabar, lewat wawancara via BlackBerry Messenger dengan kliksumbar.com, tidak menggubris sama sekali ketidakpercayaan sebagian orang itu. "Tidak perlu banyak orang percaya, tapi perjuangan ini bagi saya adalah demi harga diri bangsa dan bakti untuk tanah bundo (Minangkabau-red)," ujar Eko Suharto, Jum'at (06/5) pagi.
Eko Suharto yang mengklaim dirinya adalah putra Minangkabau, anak Tuanku Amiruddin yang bergelar Panglimo Harimau Campo, Rajo Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus, menegaskan bahwa berita hutang emas Kerajaan Malaysia ini dibukanya pertama kali kepada publik atas permintaan Tabloid Kontan.
"Awalnya saya tidak mau, dan ingin perjuangan ini secara diam-diam tidak untuk dipublikasikan, tetapi kawan dari Tabloid Kontan mengatakan, sudah banyak pemberitaan di Malaysia tidak seimbang dan melecehkan martabat bangsa, maka saya harus ungkap ini semua ke publik," ujar Eko Suharto.
Percaya atau tidak percaya, Eko Suharto akan jalan terus. Pemberitaan di Tabloid Kontan menyebut-nyebut nama Mensesneg Sudi Silalahi. "Kalau informasi saya palsu atau tidak benar, pasti saya sudah diburu pihak keamanan. Tetapi sampai sekarang saya masih aman-aman saja," katanya.
Eko Suharto mengatakan, dia tidak minta dukungan atas perjuangan ini, karena semua dokumen yang dimilikinya legalitas internasionalnya tidak usah diragukan lagi. "Tekad saya hanya satu, dengan uang yang harus dibayar Malaysia itu saya ingin berbakti ke tanah bundo. Saya tidak akan biarkan orang kampung saya miskin lagi, mohon doanya," ujar Eko.
Dalam artikel salanjuiknyo Eko ka pai ka Swis hari Sabtu ko:
umat, 06 Mei 2011 - 08:30:51 WIB
Eko, Sabtu Terbang ke Swiss Mengurus 'Emas Pagaruyung'
Kategori: Serba - Serbi - Dibaca: 226 kali
Swiss
Jakarta, KlikSumbar
Perburuan hutang emas Kerajaan Malaysia kepada Kerajaan Pagaruyung, tampaknya tidak main-main bagi Eko Suharto. Lelaki yang mengaku sebagai keturunan Raja Ibadat Sumpur Kudus, akan terbang ke Swiss, negara tempat penyimpanan 12 matrik ton emas itu. "Sabtu ini saya akan ke Swiss untuk memperjelas masalah ini," kata Eko Suharto via BlackBerry Messe
http://www.kliksumbar.com/berita-727-eko-sabtu-terbang-ke-swiss-mengurus-emas-pagaruyung.html
Interestiang ...
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Rang Bunian Rimbo Sumpu
> From: Datuk Endang <datuk_endang@...>
> To: rant...@googlegroups.com
> Sent: Thursday, May 12, 2011 23:19:17
> Subject: [R@ntau-Net] Re: Malaysia Berutang Emas pada Pagaruyung
>
>
> Sanak Asnil yth.
> Ambo raso informasi iko paralu diverifikasi labiah lanjut. Dulu ado saketek
> diskusi di palanta :
> http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/83321, satidaknyo hinggo sabalun
> maso Paderi baitu kondisinyo.
> Namun potensi Pagaruyuang maso saisuak manghimpun haroto (: emas) cukup besar,
> karono posisi sagitigo nan disabuik MakNgah mamiliki deposit emas nan gadang
> maso itu. Dan itu salah satu alasan perpindahan dari Dharmasraya. Ambo raso
> dominasi iko bakurang karono alah masuak pedagang-pedagang dari Arab, India, dll
> (buku C. Dobin). Salain itu ado upacara ameh manah tiang bubuq nan ado dalam
> wilayat Pagaruyuang, sarato babarapo cukai di pelabuhan melalui perjanjian
> Painan (16..) dengan Aceh. Dalam tambo Sangguno Dirajo disabuik ado ketentuan
> bagian 1/10 untuak rajo dalam satiok transaksi hasil bumi.
> Ambo raso haroto itu alah habis ukatu peristiwa Kototangah atau jauah maso
> sabalun itu. Allahu alam.
>
> Wassalam,
> -datuk endang
>
> --- On Thu, 5/12/11, asnil bambani <asnil_bambani@...> wrote:
> >
> >>
> >>Soal hutang Malaysia ke Pagaruyung bukanlah cerita yang sekonyong-konyong datang
> >>dari langit atau isu yang berhembus dari semak belukar belaka.
> >>
> >>
> >>Buya Hamka, dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau sudah menceritakan ada
> >>penerimaan upeti dari Malaysia ke pewaris Pagaruyung. Tapi memang, Buya Hamka
> >>tidak menjelaskan secara detail dalam buku itu soal siapa pewaris Pagaruyung
> >>yang telah menerima upeti dari negeri Jiran tersebut.. Sila cari buku bukunya,
> >>dan dibaca..
> >>
> >>Tak hanya itu, tokoh E Suharto yang mengaku pewaris Pagaruyung bukanlah tokoh
> >>fiktif yang tidak memiliki dasar untuk bercerita. Dalam beberapa dokumen
> >>menyebutkan, E Suharto memang melakukan korespondensi dengan Bank sentral
> >>Malaysia soal penukaran ringgit lama yang disebut milik dari kerajaan
> >>Pagarutyung. (Lihat lampiran).
> >>
> >>Apakah upeti Malaysia itu ada?
> >>Saya yakin itu ada, karena Buya Hamka dalam bukunya juga pernah menegaskan hal
> >>ini.
> >>
> >>Siapa yang menerima?
> >>Wallahualam..
> >>
> >>Salam,
> >>Asnil Bambani
> >>
> >>--- Pada Sab, 7/5/11, sjamsir_sjarif <hambociek@...> menulis:
Sanak di lapau,
Nan jaleh dinasti Pagaruyuang dulu cukuik kayo balindak juo. Saksi mata Thomas Diaz (atau Dias), orang putih pertama yang melawat ke pedalaman Minangkabau pada 1684 menyebut2 kekayaberlindakan Pagaruyung itu dalam catatan hariannya. Diaz diterima oleh raja Pagaruyung di istananya yang asli di Sumaniak. Katanya, istana itu manguniang ameh. Kama diadok'an paliektan, apo lai interior istana, kuniang sadonyo. Soal apakah Thomas Diaz mengada-ngada atau bicara jujur, ndak jaleh dek kito (baa caronyo kito mambuktikan kini? Sejarawan bukan batugas maluruihan sejarah, tapi untuak merekonstruksi masa lalu berasarkan data-data nan tatulih atau visual atau lisan; bukan tugehnyo mambaliak'an wakatu untuk mengecek apokoh data tu, sarupo nan ditulih dek Diaz, misalnyo, batua atau indak; sejarawan bukan malekaik). Tapi untuak apo lo si Diaz mengada-ngada? Nan jaleh
urang sarupo Diaz pasti tahu kekayaan alam Minangkabau. Ameh Gunung Ophir di Pasaman lah diabuik2 di Eropa sajak abad ke 16, seperti dapek dikesan dalam puisi panjang Luis de Camoes, Os Lusiadas. Camoes adolah seorang penyair kenamaan Portugis yang terkenal, terutama karena karya monumentalnya, Os Lusiadas. Dalam Os Lusiadas dia menyebut2 gunung emas Ophir.
Baco pulo kesaksian Ida Pfeiffer (l. Vienna, 14 Oktober 1797 in Vienna - w. Vienna, 27 Oktober 1858), penjelajah wanita dari Austria, yang hampir sampai ke dekat Danau toba pada awal 1850-an (wakatu tu urang Batak masih suko makan urang, sampai di pedalaman Tanah Batak tu, dagiang kaki si Ida ko lah melepuh dalam sipatu e dan batih e lah merah dek darah, dek talampau banyak dipanjek acek). Waktu lewat di Agam si Ida ko takulenjek maliek banyak padusi Minang pakai 'KUKU AMEH', yaitu kuku imitasi nan dibuek dari ameh. Kecek si Ida nan baraninyo co urang jantan ko (inyo pai bagai manjalajah Amerika Latin), makin panjang kuku ameh nan dipakai dek sorang padusi, makin naiak gengsinyo. Jadi, heran juo koh kito kalau sampai kini padusi Minang ko suko baameh-ameh? Kok dapek sarupo toko ameh bajalan, apo lai kalau ka pai panggilan ka rumah mintuo. Bini mamak batandiang mamanggank'an perhiasan amehnyo. Sisa terakhir dari
kejayaan maso ameh ko adolah tadisi anak daro Minang mamakai GALANG GADANG nan masih tampak sampai tahun 1960-an atau 70-an (tolong cari gambar GALANG GADANG ko di lapau Mak Google).
Kumbali ka carito tentang si Diaz, inyo kecek'an bahaso inyo disambuik dek penguasa Pagaruyuang jo adat kebesaran katiko datang, baitu juo kutiko ka babaliak. Katoko datang inyo disambuik jo payuang kuniang barumbai2 ameh, rajo kalua jo pangiriangyo nan cukuik banyak. Ka pulang baitu juo: inyo dianta sampai bareh rimbo gadang, sabalun turun ka batang ayia. Harap dicatat, Diaz masuk ke pedalaman Minangkabau dari arah timur. Paja ko adolah MORADOR (penjaga Pos VOC) asal Portugis yang ditempatkan di Patapahan (Pinggir Sungai Tapung Kiri, hulu Sungai Siak) (referensi terkait, liek De Haan 1897, Bosch 1931, juga artikel Timothy P. Barnard, "Mestizos as Middlemen: Thomas Días and his Travels...." ).
Satau ambo nan bodoh ko, nan AMEH kan indak bisa luruh doh. Nan ka mungkin bisa balain bantuak jadinyo (misalnyo dipadu baliak dek pancilok) atau baraliah tangan nan mamacik. Nan ameh Pagaruyuang tu misalnyo, berdasarkan catatan2 sejarah, ambo yakin pasti ado agak SABUNGKAH - DUO BUNGKAH, tatap juo ameh, walau mungkin bapindah ka tangan kaum Pidari, ka tangan urang Ulando, atau ka tangan Malaysia, atau ka tangan sia-sia.
Masalahnyo, indak di urang, indak di awak, kalau lah manyabuik ameh babungkah, urang biasonyo babisiak2, baanok2, marosok2 sarupo urang juabali taranak di Pakandangan, atau aniang....indak babuni. Sabab...dek ameh sagalo kameh.
Wassalam,
Suryadi
|
Mungkin si Ida nan co jantan tu salah caliak Urang Padusi bakuku ameh tu? Kuliner Urang Awak kan banyak pakai kunik? Mungkin kuku Rang Padusi ko kanai kunik ...
Panah ko adidusnanak kito mandanga kato "Labuang"? MakNgah cari-cari di Kamus Nyiak Thaib, indak basuo doh. Tapi kato tu tampaknyo masih hiduik dalam masyarakat, satidak-tidaknyo lai tadanga dek MakNAgah waktu ketek-ketek. Ucapan ungkapan agak bavariasi, "Amehilabuang", "Ameh-i-labuang", atau "Ameh di labuang".
Dalam kalimat nan mungkin direkonstruksi dapek babunyi,
"Elok-elok bajalan dalam samak tu, beko tapijak amehilabuang!" ...
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, Lies Suryadi <niadilova@...> wrote:
>
> Sanak di lapau,
>
> Nan jaleh dinasti Pagaruyuang dulu cukuik kayo balindak juo. Saksi mata Thomas Diaz (atau Dias), orang putih pertama yang melawat ke pedalaman Minangkabau pada 1684 menyebut2 kekayaberlindakan Pagaruyung itu dalam catatan hariannya. Diaz diterima oleh raja Pagaruyung di istananya yang asli di Sumaniak. Katanya, istana itu manguniang ameh. Kama diadok'an paliektan, apo lai interior istana, kuniang sadonyo. Soal apakah Thomas Diaz mengada-ngada atau bicara jujur, ndak jaleh dek kito (baa caronyo kito mambuktikan kini? Sejarawan bukan batugas maluruihan sejarah, tapi untuak merekonstruksi masa lalu berasarkan data-data nan tatulih atau visual atau lisan; bukan tugehnyo mambaliak'an wakatu untuk mengecek apokoh data tu, sarupo nan ditulih dek Diaz, misalnyo, batua atau indak; sejarawan bukan malekaik). Tapi untuak apo lo si Diaz mengada-ngada? Nan jaleh urang sarupo Diaz pasti tahu kekayaan alam Minangkabau. Ameh Gunung Ophir di Pasaman lah
> diabuik2 di Eropa sajak abad ke 16, seperti dapek dikesan dalam puisi panjang Luis de Camoes, Os Lusiadas. Camoes adolah seorang penyair kenamaan Portugis yang terkenal, terutama karena karya monumentalnya, Os Lusiadas. Dalam Os Lusiadas dia menyebut2 gunung emas Ophir.
>
> Baco pulo kesaksian Ida Pfeiffer (l. Vienna, 14 Oktober 1797 in Vienna - w. Vienna, 27 Oktober 1858), penjelajah wanita dari Austria, yang hampir sampai ke dekat Danau toba pada awal 1850-an (wakatu tu urang Batak masih suko makan urang, sampai di pedalaman Tanah Batak tu, dagiang kaki si Ida ko lah melepuh dalam sipatu e dan batih e lah merah dek darah, dek talampau banyak dipanjek acek). Waktu lewat di Agam si Ida ko takulenjek maliek banyak padusi Minang pakai 'KUKU AMEH', yaitu kuku imitasi nan dibuek dari ameh. Kecek si Ida nan baraninyo co urang jantan ko (inyo pai bagai manjalajah Amerika Latin), makin panjang kuku ameh nan dipakai dek sorang padusi, makin naiak gengsinyo. Jadi, heran juo koh kito kalau sampai kini padusi Minang ko suko baameh-ameh? Kok dapek sarupo toko ameh bajalan, apo lai kalau ka pai panggilan ka rumah mintuo. Bini mamak batandiang mamanggank'an perhiasan amehnyo. Sisa terakhir dari kejayaan maso ameh ko adolah tadisi
> anak daro Minang mamakai GALANG GADANG nan masih tampak sampai tahun 1960-an atau 70-an (tolong cari gambar GALANG GADANG ko di lapau Mak Google).
>
> Kumbali ka carito tentang si Diaz, inyo kecek'an bahaso inyo disambuik dek penguasa Pagaruyuang jo adat kebesaran katiko datang, baitu juo kutiko ka babaliak. Katoko datang inyo disambuik jo payuang kuniang barumbai2 ameh, rajo kalua jo pangiriangyo nan cukuik banyak. Ka pulang baitu juo: inyo dianta sampai bareh rimbo gadang, sabalun turun ka batang ayia. Harap dicatat, Diaz masuk ke pedalaman Minangkabau dari arah timur. Paja ko adolah MORADOR (penjaga Pos VOC) asal Portugis yang ditempatkan di Patapahan (Pinggir Sungai Tapung Kiri, hulu Sungai Siak) (referensi terkait, liek De Haan 1897, Bosch 1931, juga artikel Timothy P. Barnard, "Mestizos as Middlemen: Thomas Días and his Travels...." ).
>
> Satau ambo nan bodoh ko, nan AMEH kan indak bisa luruh doh. Nan ka mungkin bisa balain bantuak jadinyo (misalnyo dipadu baliak dek pancilok) atau baraliah tangan nan mamacik. Nan ameh Pagaruyuang tu misalnyo, berdasarkan catatan2 sejarah, ambo yakin pasti ado agak SABUNGKAH - DUO BUNGKAH, tatap juo ameh, walau mungkin bapindah ka tangan kaum Pidari, ka tangan urang Ulando, atau ka tangan Malaysia, atau ka tangan sia-sia.
>
> Masalahnyo, indak di urang, indak di awak, kalau lah manyabuik ameh babungkah, urang biasonyo babisiak2, baanok2, marosok2 sarupo urang juabali taranak di Pakandangan, atau aniang....indak babuni. Sabab...dek ameh sagalo kameh.
>
> Wassalam,
> Suryadi
>
> --- Pada Sab, 14/5/11, Syofiardi BachyulJb <bachyul@...> menulis:
Salam
Andiko
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
--
Sent from my mobile device
Dari Darek di Ampek Angkek sampai ka Pasisia ka Tiku Piaman, lah sabunyi tu mah pangaratian Ameh di Labuang tu! Zirit.
Mungkin ado verifikasi di tampek lain?
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, Arfi Bambani <a_bambani@...> wrote:
>
> Batua Uda Andiko tu... Labuang itu kalau di Tiku berarti rawa bakau, airnyo payau. Jadi di Tiku itu, ado jorong nan banamo Ujuang Labuang, yang berarti pangka dari labuang yang ado di Tiku.
>
> Kalau manuruik ambo, 'ameh di labuang' itu semacam panghalusan terhadap "cirik manusia". Tiku ko, urang buang air gadang acok di tapi labuang karena itulah semacam sungai bagi urang di sinan. Indak ka ado bagai ameh sabana ameh di sinan tu doh hehehehe...
>
> tabik
>
> Arfi, urang Tiku
> ________________________________
> From: andi ko <andi.ko.ko@...>
> To: rant...@googlegroups.com
> Sent: Saturday, May 14, 2011 2:31 PM
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Malaysia Berutang Emas pada Pagaruyung
>
> Kato labuang iko ambo danga di daerah kampuangnyo ajo Duta yang
> merujuk ke daerah antaro lauik jo darek, semacam daerah rawa bakau.
>
> Salam
>
> Andiko
>
> On 5/14/11, sjamsir_sjarif <hambociek@...> wrote:
> > Angku Suryadi,
> > sarto Rang Lapau nan Basamo,
> >
> > Mungkin si Ida nan co jantan tu salah caliak Urang Padusi bakuku ameh tu?
> > Kuliner Urang Awak kan banyak pakai kunik? Mungkin kuku Rang Padusi ko kanai
> > kunik ...
> >
> > Panah ko adidusnanak kito mandanga kato "Labuang"? MakNgah cari-cari di
> > Kamus Nyiak Thaib, indak basuo doh. Tapi kato tu tampaknyo masih hiduik
> > dalam masyarakat, satidak-tidaknyo lai tadanga dek MakNAgah waktu
> > ketek-ketek. Ucapan ungkapan agak bavariasi, "Amehilabuang",
> > "Ameh-i-labuang", atau "Ameh di labuang".
> >
> > Dalam kalimat nan mungkin direkonstruksi dapek babunyi,
> > "Elok-elok bajalan dalam samak tu, beko tapijak amehilabuang!" ...
> >
> > Salam,
> > --MakNgah
> > Sjamsir Sjarif
> >
> >> --- Pada Sab, 14/5/11, Syofiardi BachyulJb <bachyul@> menulis:
Apo ndak ado hubungannyo tu jo ZIRIT NAGAN yang memang biaso muncul di aia payau.
Salam,
|
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Maliek fakta nan ado di Sumaniak, iyo jauuh panggang dari api satantangan nan sanak aampaikan di bawahko.
"..... Saksi mata Thomas Diaz (atau
Dias), orang putih pertama yang melawat ke pedalaman Minangkabau pada 1684 menyebut2 kekayaberlindakan Pagaruyung itu dalam catatan hariannya. Diaz diterima oleh raja Pagaruyung di istananya yang asli di Sumaniak. Katanya, istana itu manguniang ameh. Kama diadok'an paliektan, apo lai interior istana, kuniang sadonyo. Soal apakah Thomas Diaz mengada-ngada atau bicara jujur, ndak jaleh dek kito (baa caronyo kito mambuktikan kini? "
Sanak Suryadi, sanak2 sadonyo,
Indak ado fakta nan manyatokan pernah ado Istana Rajo di Sumaniak, apolai manguniang jo ameh. Bahkan keberadaan Makhudum di Sumaniak nan ambo tahu dan caliak indak sa masahua Angku Titah nan di Sungai Tarab. Mungkin kiniko masih cukuik berpengaruh di Sungai Tarab dan sekitarnya.
Gadangnyo pangaruah keberadaan Angku Titahko sempat ambo rasokan wakatu membutuhkan tanah kaparaluan kantua tahun '93. Mambutuahkan wakatu cukuik lamo dan konsultasi barulangkali jo Angku Titah ko hingga tanah dapek dibali di Sungai Tarab. Diawal proses sekitar Juli/Agustus 1993 ambopun sempat sakali berkonsultasi jo Angku Titah ko di kantua ambo di Padang, sasudahtu ambo pindah ka Jakarta.
Baliak ka Sumaniak, ambo caliak kebesaran namo Makhudum indak ado tabao dalam kehidupan bermasyarakat anak nagari Sumaniak. Apokah mungkin karano Makhudum ko adolah Bendahara Kerajaan Pagaruyuang, sahinggo dalam kehidupan anak nagari/adat indak ado nampak pangaruahnyo ?
Nan istana Rajo pun indak ado bekasnya. Rumah gadang (bagonjong) nan dinyatokan Rumah Gadang Makhudum pun hanyo rumah gadang biaso sajo samo jo rumah gadang - rumah gadang lainnyo. Bahkan labiah tamasahua rumah sambilan ruang milik kaum Zulidamel dari suku Mandahiliang.
Di Sumaniak satahu ambo katiko ketek2, hampia kasado rumah adolah rumah gadang (bagonjong). Kiniko lah banyak ambruk, tamasuak rumah keluarga/kaum ambo. Rumah non/tidak bagonjong baru muncul tahun '50-an.
Bagi sanak nan tahu di maa Sumaniak ko, akan paham bana bahwa Sumaniak ko indak kayo jo Sumber Daya Alam. Memang sawah dan ladang cukuik terbentang luas, namun indak seperti halnya nagari tetangga Sungai Tarab.
Dulu sabalun tahun '70, nan tamasahua di Sumaniak adolah cangkeh, mungkin baradiak kakak jo Koto Anau. Anak nagari Sumaniak mengalami masa keemasan cangkehko. Baa kecek anak nagari waktu itu, bir dipakai untuak mancuci tangan (faktanyo iyo indak ado bir ko do). Sajak cangkeh mati awal '70-an lah tabang ambuah anak nagari marantau karano indak ado sumber daya alam lain nan bisa dharokkan, hanyo cangkeh sajo dan alah banyak mati. Ditaman baliak, mati mudo.
Barangkali mr Diaz ko datang ka Sumaniak di zaman cangkeh menjadi hasil pertanian anak nagari Sumaniak, itupun kalau batua apo nan ditulih mr Diaz ko.
Nan Rajo di Sumaniak, itupun tando tanyo Gadang.
Pewaris rajo (istano silinduang bulan) Pagaruyuang nan kiniko iyo babako ka Sumaniak. Da Taufik sarato jo adiak2 beliau ba bako ka Sumaniak.
Sabagai panutuik, katu ketek (pertengahan '60-an) katiko ambo sikolah di kampuang (ambo kelas 5 & 6 SD di Sumaniak, SMP di Batusangka, sabalun dan sasudah tu tingga Padang)pernah juo danga carito ado nan mancaliak kudo ameh tabang manuju luak tampek pamandian (lupo namonyo), tampekko cukuik dikenal sati, manuruik carito acok urang tasapo dek makhluk halui disiko. Sahinggo dulu urang Sumaniak mangecek-an tampek pamandian ko manyimpan kandungan ameh. Kebenaran carito kudo ameh ko nampaknyo iyo indak masuak diaka.
Sakitu dulu sanak.
Mooa/Maaf bilo ado nan kaliru dan indak berkenan.
Zalmahdi, Jkt.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Powered by Telkomsel BlackBerry®

| Bang Sofyardi, Alah ambo baleh soal pagaruyuang di situs abang tuha.. Intinyo, ambo mandambakan pembuktian yang ilmiahnyo bang. Sia bana E Suharto tu? jiko Abang paralu dokumen tentang korespondensi inyo jo Bank Negara Malaysia, beko ambo bantu. Kalau nio basobok samo E SUharto ko, beko ambo bantu pulo... Salam, Asnil --- Pada Sab, 14/5/11, Afrinaldi Nal <rina...@yahoo.co.id> menulis: |
*alhaqirwalfaqir* AnwarDjambak43-Pyk-Kualalumpur-Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone
*alhaqirwalfaqir* AnwarDjambak43-Pyk-Kualalumpur-Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone
Wa’alaikum salam ww,
Uda Anwar, dek salamoko lai ado nan manjago Istano sabalun tabaka mungkin labiah rancak kok ado diantaro kito nan bisa bakomunikasi jo nan gaib ko baa bana jalan curitonyo mangko Istano bisa tabaka. Apo dibaka urang atau memang baakibat paristiwa alam.
Rancak juo ditanyoan baa mangko panjago ko pai maninggaan Istano, apo mereka kalah parang jo nan gaib nan lain nan dipunyoi urang lain atau mereka lah ingkar ateh pituah rajo sainggonyo nyo tinggaan Istano nan baakibaik tabakanyo Istano Basa dek indak ado lai nan manjago.
Mananti malah kito sakutiko kaba baiak baimbauan go.
Wassalam
Batuduang Ameh (44) Pekanbaru
2011/5/14 zsyam...@yahoo.com.sg <zsyam...@yahoo.com.sg>
".....Saksi mata Thomas Diaz (atau
Dias), orang putih pertama yang melawat ke pedalaman Minangkabau pada 1684 menyebut2 kekayaberlindakan Pagaruyung itu dalam catatan hariannya. Diaz diterima oleh raja Pagaruyung diistananya yang asli di Sumaniak. Katanya, istana itu manguniang ameh. Kama diadok'an paliektan, apo laiinterior istana,kuniangsadonyo. Soal apakah Thomas Diaz mengada-ngada atau bicara jujur, ndak jaleh dek kito (baacaronyo kito mambuktikan kini? "
Sanak Suryadi, sanak2 sadonyo,
……………………………… bakuduang