
SEJAK 1825 orang Minangkabau sudah mengenal pendidikan sekuler, Pada tahun itu didirikan sebuah sekolah ala Belanda di Padang atas rekomendasi Gubernur Jendral H.J.J.L. Ridder de Stuers. Kali ini pembaca Singgalang Minggu kami suguhi sebuah foto klasik murid-murid Kweekschool (Sekolah Radja) di Fort de Kock (Bukittinggi). Sekolah ini adalah salah satu sekolah sekuler yang terkenal di Minangkabau. Murid-muridnya, yang berasal dari berbagai daerah di Sumatra dan Kalimantan, banyak yang sukses ‘menjadi orang’ dan bekerja di berbagai tempat di Hindia Belanda.
Sekolah Radja di Fort de Kock didirikan tahun 1856 atas nasehat seorang penasehat pendidikan kolonial Belanda: pendeta S.A. Buddingh. Sekolah itu dikepalai oleh asisten-resident J. A. W. van Ophuijsen, dibantu oleh seorang guru pribumi bernama “‘Abdoe’llatif, anak Toeankoe-Imam di-Kota Gedang” ([Nawawi dan Kramer], 1908:10) Mula-mula muridnya hanya 10 orang saja. Antara 1856-1866 hanya 49 murid yang lulus dari sekolah ini, 12 orang di antaranya menjadi guru, sisanya menjadi jurutulis,pakhuismester (kepala gudang kopi), menteri cacar, menteri kopi, dll. Tahun 1869 guru Abdoe’llatif sakit dan ia digantikan oleh Saidina Asin asal Koto Laweh, Padang Panjang, yang sebelumnya jadi guru Melayu di Bengkulu.
Selanjutnya di http://niadilova.blogdetik.com/2010/10/31/minang-saisuak-22-murid-murid-sekolah-radja-di-fort-de-kock/#more-533
Nofend, Suryadi, dan Dunsanak Sadonyo.Yang menarik di ambo, Sekolah di Padang ini didirikan tahun 1825, dberarti alam periode Perang Bonjol.Apakah pendiri sekolah dan para siswanya tidak "takut" dengan perang yang terjadi di daerah yang jaraknya cuma beberapa puluh kilometer?Atau "gaung" Perang Bonjol ini tidak sampai ke Padang? Atau ke daerah asal siswa tersebut (sehingga para orang tua tidak takut menyekolahkan anaknya ke "wilayah perang")Riri48/L/bekasi.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sekolah sekuler ala Belanda pertama di Padang memang 1825. Dari kalangan pribumi waktu itu baru beberapa orang anak datuak2 dan rajo kecil di Padang yang masuk. Jelas waktu itu anak2 datuak2 dari darek belum ada yang dikirim ke sekolah itu. Konon juga kebanyakan anak itu agak malas2an sekolah. Para orang tua mereka sebenarnya juga enggan memasukkan anaknya ke sekolah itu, tapi mereka terpaksa karena mereka bekerja dengan pemerintah kolonial. Sampai lama kemudian, seperti dicatat oleh Marah Soetan, banyak orang Minang percaya bahwa siapa yang tangannya pandai menulis Latin nanti di akhirat akan dipotong jarinya oleh Allah SWT.
Wassalam,
|
Z, artinyo dek karano jaraknyo 2 hari perjalanan, para pendiri dan siswa sekolah (serta orangtuanya) ndak maraso takuik?
Mereka ndak khawatir 2 hari lai parang tu merembet ka Padang?
Riri
48/L/bekasi
Iko ado tambahan kelanjutan dari sejarah sekolah raja nan di lewakan Suryadi sampai kini jadi SMA 2 Birugo Bukittinggi.
*SEKOLAH RAJA*
Berdasarkan hasil pengamatan pendeta Budingh, pemerintah Belanda dapat
mengetahui bahwa pendidikan anak negeri di Hindia Nederland masih
rendah. Begitu pula kepandaian guru-guru Melayu Gevernemet Pesisir Barat
Pulau Perca (Sumatera) tidaklah mencukupi. Oleh sebab itu tahun 1855
pemerintah Belanda merencanakan untuk mendirikan Sekolah Raja untuk
medidik anak negeri. Surat keputusan pendiri Sekolah Raja itu
dikeluarkan pada tanggal 1 April 1856.
Sekolah ini dipimpin oleh Van Ophuysen dan dibantu oleh seorang guru
melayu bernama Abdul Latif, Anak Tuanku Imam dari Koto Gadang. Jumlah
muridnya sepuluh orang, Mereka dididik untuk menjadi guru. Lamanya
pendidkan tiga tahun.
*KWEEK SCHOOL*
Setelah melihat perkembangan sekolah Raja selama tujuh belas tahun,
timbullah niat pemerintah Belanda untuk mengadakan perubahan-perubahan.
Awal tahun 1873 sekolah Raja lama diperbaiki. Tepatnya tanggal 1 Maret
1873 sekolah raja diubah nama menjadi *KWEEKSCHOOL*. Guru kepala D.
Gerth diubah menjadi Van Wijk. Guru Belanda yang menjadi guru kedua
yaitu Weide. Murid-muridnya diasramakan dekat sekolah. Murid-muridnya
ini diawasi oleh guru Melayu yang bernama Raja Medan.
Tahun 1877 D Gerth Van Wijk diangkat menjadi kepala di sekolah Gymnasium
Willen III di Betawi. Jabatannya sebagai guru kepala digantikan oleh
J.L. VanDer Toorn, dengan guru kedua D. Grivel.
Tahun 1883 salah seorang murid Kweekschool bernama *NAWAWI* diangkat
pula menjadi guru bantu. Beliau bekerja dengan giat dan rajin. Lama
pendidikan yang pada mulanya tiga tahun kemudian menjadi empat tahun.
Awal tahun 1890, murid Kweekschool, semakain banyak. Mereka datang dari
berbagai daerah seperti : Aceh, Lampung, Tapanuli, Sumatera Timur,
Bangka, Belitung, Palembang, Bengkulu, dan Sumatera Barat sendiri.
Selain mengadakan tenaga Guru, pemerintah juga memerlukan ambtenar bumi
putera yang pandai. Sejak tahun 1904 murid Kweekscool terbagi dua.
Pertama, murid yang bakal menjadi guru, kedua murid yang bakal menjadi
ambtenar.
Dalam pendidikan perkembangannya murid yang akan menjadi guru lama
pendidikanya enam tahun, sedangkan yang akan menjadi ambtenar dididik
selama lima tahun. Tanggal 5 Agustus 1908 pendidkan ambtenaar ditiadakan.
*HOLLASCHE INLANDSCHE KWEEKSCHOOL ( HIK )*
Lama pendidikan HIK enam tahun, yang terbagi atas dua jenjang :
a. Persiapan, lama pendidikan tiga tahun
b. Lanjutan, tiga tahun
Sekolah Raja Bukittinggi dijadikan sekolah HIK persiapan sedangkan
lanjutannya di Jawa. Siswa terakhir HIK diterima tahun 1932. Sekolah ini
ditutup pada tahun 1935.
*
BEBERAPA NAMA UNTUK PENGGANTI HIK*
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, banyak perubahan
yang terjadi. Perubahan itu bukan saja di bidang politik dan
pemerintahan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bidang
pendidikan. Sekolah sekolah yang vakum karena adanya pergolakan untuk
merebut kekuasaan, dihidupkan kembali. Bahan disempurnakan setelah
kekuasaan berada di tangan bangsa sendiri. Gedung Sekolah Raja atau
Kweekschool masih tetap berdiri megah, mulai tahun 1946 diaktifkan
kembali sebagai tempat pendidikan bagi anak negeri.
*Dalam pertumbuhan banyak terjadi perubahan dan pergantian nama lembaga
pendidikan ini sebagai berikut :*
1. Tahun 1946 didrikan Sekolah Menengah Tinggi / SMT Sekolah ini
dipimpin oleh Bapak Dr. Roesma. Lama Pendidikan tiga tahun.
2. Tahun 1950 SMT diubah namanya menjadi Sekolah Menengah Atas /
SMA. Sekolah ini dipimpin oleh Bapak Manan. Lama pendidikan juga
tiga tahun. Tahun 1951 sekolah ini dibawah pimpinan bapak Nasir
Sutan Mudo.
3. Tahun 1954 SMA dibagi dua menjadi : SMA I B yang dipimpin oleh
bapak Sabirin - SMA II AC pimpinannya adalah Bapak Adam Saleh.
Tahun 1958 SMA IB dipimpin oleh Nasir Sutan Rajo Intan, sedangkan
SMA II AC dipimpin oleh R. Kardan. Lama pendidikan tiga tahun.
4. Tahun 1960 SMA II AC dipecah lagi menjadi : - SMA II C yang tetap
dipimpin oleh R. Kardan - SMA Teladan A dipimpin oleh Bapak Tobing
5. *Tahun 1962 SMA II C diubah menjadi SMA 2 Bukittinggi*
*PIMPINAN SMA NEGERI 2 BUKITTINGGI*
Setelah SMA II C berubah nama menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi, sampai
sekarang telah tercatat beberapa nama yang pernah menjabat sebagai
pimpinan. Nama- nama pimpinan itu adalah sebagai berikut.
1. Dr. Roesma tahun 1946 - 1949
2. Nazir St. Rajo Mudo tahun 1950 - 1954
3. Adnan Saleh tahun 1954 - 1958
4. Sabirin tahun 1958 - 1959
5. R. Kardan tahun 1959 - 1966
6. Rusli Missi Lanjumin tahun 1966 - 1967
7. Yaflis tahun 1967 - 1975
8. Nursamin tahun 1975 - 1984
9. Amir Umar Dt. Bunsu tahun 1984 - 1990
10. Drs. Usman Luthan tahun 1990 - 1992
11. Syarfi Mahmud tahun 1992 - 1995
12. H. Rifa'i tahun 1995 - 1995 - 1998
13. Drs. Ali Umar tahun 1998
14. Drs. Zulkifli Johneva, SH tahun 1999 - 2001
15. Drs. Yunis Faisal, SH., MM tahun 2001 - 2005
16. Drs. H. Muslim, MM tahun 2005 sampai ....
Dan iko foto bangunan nan ado di Birugo kini

Wassalam
Tan Ameh (52+)
Ketua Alumni SMA 2 Birugo Bukittinggi
Z, memang ambo ndak bapikia kalau 1825 itu lah ado alat komunikasi canggih.
Tapi “juru kaba” atau dalam istilah romawi kuno “audito” (asal kato/ konsep auditing dari itu) pun lah ado sistem penyampaian berita.
Tapi OK lah, yang jaleh iko bukan berarti Perang Bonjol itu “ndak bergaung” kan ya L
Riri
28/L/bekasi
.