Menurut Wikipedia, "Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai `Raja Angkatan Balai Pustaka' oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Berikut Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka yang saya kutip dari :
Merari Siregar
* Azab dan Sengsara (1920)
* Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
* Cinta dan Hawa Nafsu
Marah Roesli
* Siti Nurbaya (1922)
* La Hami (1924)
* Anak dan Kemenakan (1956)
Muhammad Yamin
* Tanah Air (1922)
* Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
* Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
* Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
Nur Sutan Iskandar
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
* Cinta yang Membawa Maut (1926)
* Salah Pilih (1928)
* Karena Mentua (1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
* Hulubalang Raja (1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
Tulis Sutan Sati
* Tak Disangka (1923)
* Sengsara Membawa Nikmat (1928)
* Tak Membalas Guna (1932)
* Memutuskan Pertalian (1932)
Djamaluddin Adinegoro
* Darah Muda (1927)
* Asmara Jaya (1928)
Abas Soetan Pamoentjak
* Pertemuan (1927)
Abdul Muis
* Salah Asuhan (1928)
* Pertemuan Djodoh (1933)
Aman Datuk Madjoindo
* Menebus Dosa (1932)
* Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
Kalau kita perhatikan nama-nama di atas, hanya Merari Siregar yang bukan orang Minang, Djamaluddin Adinegoro, atau yang lebih dikenal publik sebagai Adinegoro, adalah adik dari tokoh nasional Muhammad Yamin. Adinegoro juga dikenal sebagai pendiri kantor berita PIA (Persbiro Indonesia), yang di zaman Bung Karno berkuasa dilebur ke KB Antara.
Saya dulu membaca potongan-potongan dari karya sastra di atas pernah dimuat dan merupakan bagian dari buku bacaan di sekolah rakyat dengan judul dalam bahasa Belanda, yang saya tidak ingat lagi cara mengejanya, yang arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih berarti "Bunga Rampai Melayu". Di buku tersebut juga ada`potongan isi buku "Penghulu Wijk X" yang "memperolokkan" seorang kaya di Padang—yang kebetulan berasal dar Nias—yang suka berlagak sebagai seorang Penghulu (Kepala) Wijk, yang dari judulnya sudah terlihat, karena ketika itu di Padang hanya ada sembilan wijk. Dan dari membaca potongan "Katak Hendak Menjadi Lembu" saya ketahui bahwa cerita itu berlatar belakang bumi Parahiyangan.
Aman Datuk Madjoindo, juga dikenal sebagai penulis "Si Doel Anak Betawi" yang kemudian difilemkan dengan apik oleh Syumanjaya, dengan Rano Karno yang ketika itu masih kecil sebagai si Doel. sementara "Sengsara Membawa Nikmat"-nya Tulis Sutan Sati, dan "Siti Nurbaya"-nya Marah Roesli di awal tahun 1990-an. pernah digarap TVRI dengan dengan sangat baik menjadi sinetron berseri.
Di sinetron "Sengsara Membawa Nikmat", Midum, tokoh utamanya yang diperankan oleh Sandia Nayoan menyebuat ABS-SBK dengan ungkapan yang berbeda, yaitu "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Adat,.yang tentunya bersumber dari bukunya. Penulisnya yang notabene orang Minang itu tentu tidak akan secara sembarngan menulis.
Pertanyaannya tentu, ungkapan yang manakah yang diikrarkan di Marapalam sekitar dua abad yang lalu itu?
Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67)
Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat
Rupanya ada yang tertinggal dari posting saya (Maklum sudah gahat):
Tertulis: Berikut Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka yang saya kutip dari:
Seharusnya: : Berikut Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka yang saya kutip dari Wikipedia:
Sehingga tidak nyamBung (meminjam ejaan Nyik Sungut) :)
Tetapi terlepas dari itu—masih menurut Wikipedia—Roestam Effendi termasuk kategori Pujangga Baru. Di kelompok ini ada Buya Hamka dan Sutan Takdir Alisjahbana, kelahiran Natal, Tapsel, namun menurut sebuah artkel yang pernah saya baca, berasal dari Minangkabau.
Di kelompok ini yang kurang jelas bagi saya adalah Sariamin Ismail alias Selasih, yang juga mertua tokoh pers dan wakil pemred Harian KAMI (almarhum) Ismid Hadad, apakah beliau orang Melayu Riau atau orang Minang yang lahir/tinggal di Pekanbaru.
Wassalam, St Bandaro Kayo
--- In Rant...@yahoogroups.com, surapati effendi <effendis41@...> wrote:
>
> Hollo Bung,
> Saya kira Roestam Effendi orang minang dan beliau pernah tulis beberapa buku.
> Kalau ingatan tidak salah, salah satu buku yg beliau tulis:"Bebas sari".
> Tolong di check.
> Wassalam,
>
> Surapati Effendi
>
>
>
>
> ________________________________
> Da: Darwin <dbahar@...>
Wassalam, St Bandaro Kayo
--- In Rant...@yahoogroups.com, Abraham Ilyas <abrahamilyas@...> wrote:
>
> Angku St. Bandaro sarato dunsanak di palanta yth.
>
> Beliau, Selasih bukan berasal dari Melayu Riau, tapi menetap/meninggal di
> Pekanbaru, dan berasal dari Talu sekolah di Pd. Panjang saat usianya masih
> remaja sekali
>
........................................
> Salam
>
> AI
>
> --
| Thx infonya Mak.. Bagaimana dengan saat ini. Sebenarnya banyak sekali novelis dan cerpenis asal Minang yang mewarnai kancah Sastra di Indonesia. Baik yang muncul dengan novel populer, maupun muncul dengan karya sastra baik cerpen atau novel. Pada era 90-an, Gus Tf Sakai, Wisran hadi, Darman Moenir, Harris Effendi Thahar dan sebagainya, sangat disegani dalam dunia sastra republik ini. Namun beliau-beluai tersebut memang bukan bermain di ranah novel populer sehingga mungkin bagi sebagian awam tidak terlalu mengenal beliau. Di era 2000-an, mulai bermunculan novelis-novelis muda yang mulai ebrmain di ranah POpuler. Mereka memang bukan dibesarkan dalam tempaan sastra Minang, namun tetap membawa romantisme Minang dalam karya-karyanya, antara lain; Es Ito (Rahasia Meede dan Negara Kelima), Ahmad Fuadi (Negeri Lima Menaranya), Helvi Tiana Rossa (Novelis dan Cerpenis cerita religi), dsb. Satu kebanggan tersendiri ketika masih bertugas di Bali, saya bercakap-cakap dengan salah seorang seniman Bali yang kebetulan juga rekan satu kantor, dimana ia mengatakan bahwa Sastra di Minangkabau adalah salah satu kiblat arah pengembangan sastra di Bali, karena sama-sama menggunakan adat dan budaya sebagai sentra inspirasinya. Ternyata... Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 |
mestika zed