Bumi Manusia Pdf Download

0 views
Skip to first unread message

Channing Rupnick

unread,
Aug 4, 2024, 5:43:53 PM8/4/24
to raismarvelpvi
BumiManusia (secara internasional The Earth of Mankind) adalah sebuah film biografi sejarah epos Indonesia tahun 2019 yang disutradarai Hanung Bramantyo dan ditulis Salman Aristo. Film ini dialihwahanakan dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Film ini dibintangi Iqbaal Ramadhan, Mawar de Jongh, dan Sha Ine Febriyanti. Film ini menceritakan kegamangan Minke antara kemajuan Eropa dan perjuangan membela tanah airnya serta hubungannya dengan Annelies.

Proses produksi Bumi Manusia bermula ketika Falcon Pictures mendapatkan hak alih wahana novel Bumi Manusia dan Perburuan pada 2014. Penggarapan dimulai ketika Anggy Umbara ditunjuk menjadi sutradara pada 2015, tetapi tidak kunjung terlaksana. Kursi sutradara berganti kepada Hanung dua tahun kemudian, dengan Salman sebagai penulis. Para pemain film mulai terungkap ketika Sha dipilih memerankan Ontosoroh pada Mei 2018, yang disebutnya sebagai keterlibatan pertamanya dalam industri komersial. Iqbaal, Mawar, Ayu Laksmi, dan Donny Damara terpilih memerankan Minke, Annelies, ibu Minke, dan ayah Minke beberapa hari kemudian, disusul pemeran lainnya di kemudian hari. Pemilihan pemeran ini mendapatkan tanggapan yang biasa saja, kecuali Iqbaal yang memantik pelbagai tanggapan dari warganet. Pemilihan Iqbaal ini juga mementahkan persyaratan awal yang ditetapkan, karena tidak berhasil mendapatkan aktor yang tepat di kemudian hari.


Pengambilan gambar dilakukan pada akhir Juli hingga Agustus 2018 di Studio Gamplong, Yogyakarta; Semarang, Jawa Tengah; dan Belanda. Rumah Ontosoroh yang dibangun untuk produksi film dijadikan museum pada tahun berikutnya. Dalam proses produksi film, Hanung sempat melakukan kekerasan fisik terhadap Iqbaal dan Annelies, walau mereka menganggap tindakan itu lebih kepada pendalaman peran alih-alih hanya kekerasan fisik. Film ini menghabiskan biaya sekitar Rp30 miliar.


Bumi Manusia ditayangkan pada 15 Agustus 2019 bersamaan dengan Perburuan, setelah penayangan perdana pada 9 Agustus 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Film ini sempat menguasai perolehan jumlah penonton terbanyak selama dua minggu berturut-turut sebelum digantikan Gundala. Film ini menjaring 1.316.583 penonton dengan perkiraan pendapatan kotor sekitar Rp52,7 miliar. Film ini mendapatkan sambutan positif dari kalangan pejabat politik dan masyarakat serta ulasan beragam dari kalangan pengulas film. Film ini dinominasikan di dua belas kategori Festival Film Indonesia 2019. Direncanakan film ini akan menjadi film pertama dari trilogi.


Pada suatu hari di Surabaya, Minke (Iqbaal Ramadhan), seorang pribumi, diajak Robert Suurhof (Jerome Kurnia) melawat ke rumah keluarga Mellema, Boerderij Buitenzorg di Wonokromo. Kedatangan Minke disambut dengan penuh kecurigaan oleh Robert Mellema (Giorgino Abraham) yang justru menyambut Suurhof dengan penuh keakraban, tetapi sebaliknya dengan adiknya Annelies Mellema (Mawar de Jongh) serta ibunya Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) yang menerima Minke dengan gembira. Minke mulai menjalin hubungan mesra dengan Annelies dan Ontosoroh, walau Annelies sempat merasa belum terbiasa dengan Minke. Saat makan malam, ayah Annelies Herman Mellema (Peter Sterk) pulang kerumah dan ketika ia melihat Minke bersama putrinya, ia menjadi marah dan menyebut Minke sebagai "monyet", sebuah ucapan yang sangat menghina bagi pribumi. Keributan itu diakhiri dengan Ontosoroh yang menyuruh Herman masuk ke dalam kamarnya.


Keesokan harinya, Minke yang saat itu bersekolah di Hogereburgerschool (HBS) berkhayal Ontosoroh menghampirinya ketika Magda Peters (Angelica Reitsma) menerangkan pelajaran, sehingga Magda menyadarkan Minke yang diikuti dengan tertawaan kawan-kawannya, termasuk Suurhof. Sepulang sekolah, Minke menghampiri kawannya berkebangsaan Prancis bernama Jean Marais (Hans de Kraker) yang melukis dan anaknya May Marais (Ciara Nadine Brosnan). Keesokan harinya, Annelies menceritakan kehidupan ibunya, Sanikem, yang kemudian mengganti namanya menjadi Ontosoroh yang dijual oleh ayahnya dan menjadi wanita simpanan Herman Mellema. Minke terilhami dan menulis artikel di koran Surabaya dengan nama samaran Max Tollenaar. Malam harinya, Minke tiba-tiba ditangkap polisi karena tulisannya tempo hari yang lalu. Minke akhirnya kembali ke rumah dan disambut dengan kemarahan ayahnya karena berhubungan dengan Annelies; hubungan itu dinilai ayahnya meninggalkan budaya dan tradisi Jawa. Pada saat yang sama di Wonokromo, Ontosoroh menenangkan Annelies yang menangisi kepergian Minke, tetapi Annelies langsung pergi meninggalkan Ontosoroh. Minke mulai dihadapkan dengan perkara yang sudah lama mengganggu hatinya, yang tak lain antara jurang pemisah antara kaum yang "terperintah" (bumiputra) dan "memerintah" (Eropa), serta hubungannya dengan Annelies. Keesokan harinya, ayah Minke diangkat menjadi bupati. Beberapa hari kemudian, Minke meninggalkan ayahnya ke rumah Annelies dan merasa dibuntuti Gendut Sipit di kereta api yang ditumpangi. Di sekolah, identitas Minke sebagai akan Max Tollenaar dibocorkan oleh Suurhof, yang kemudian berujung dengan sebuah perkelahian.


Annelies yang berkeliling pertanian tiba-tiba pingsan, sehingga Annelies dirawat Martinet. Minke tidur sekamar dan bersetubuh dengan Annelies. Keesokan harinya, Minke mengaku kepada Martinet bahwa Minke bukanlah orang pertama yang menyetubuhi Annelies karena sebelumnya Robert pernah memperkosa Annelies. Ketika berangkat ke sekolah, Minke tiba-tiba meminta Darsam kembali ke rumah Annelies dan memutuskan menghabiskan waktu bersama Annelies di sana.


Suatu hari, Gendut Sipit (Edward Suhadi) didapati penjaga rumah Annelies sedang memata-matai rumah itu, sehingga memancing Darsam, Minke, dan Annelies mengejarnya hingga rumah pelacuran. Di sana, Darsam menemukan Herman yang tewas karena keracunan dan maiko melarikan diri. Pada akhirnya, Minke harus mengikhlaskan keberangkatan Annelies ke Belanda yang disebabkan karena pernikahan Ontosoroh dan Herman diputuskan tidak sah oleh hakim pengadilan, sehingga Annelies harus diserahkan kepada walinya di Belanda. Beberapa hari kemudian, Minke yang membawa buku berdiri di depan tebing pantai, diiringi dengan senandika dari Minke.


Pada 2014, Falcon Pictures membeli hak alih wahana untuk novel Bumi Manusia bersamaan dengan karya Pramoedya Ananta Toer lainnya Perburuan.[2] Falcon kemudian menunjuk Anggy Umbara sebagai sutradara film ini pada tahun yang sama. Proyek yang digarapnya masih dalam tahap awal pengembangan, sehingga jadwal produksi berikut aktor dan aktris yang terlibat belum ditentukan.[3] Jujur Prananto mengaku sempat menerima panggilan dari Anggy untuk terlibat dalam produksi film, tetapi akhirnya tidak jadi. Namun, proyek yang digarap Anggy surut di pertengahan jalan.[4]


Pada Februari 2017, Hanung mengunggah sebuah gambar di status Instagram yang menampilkan novel ini, yang menyiratkan dirinya akan menyutradarai film ini.[5] Pada Oktober 2017, Bumi Manusia dipastikan disutradarai dan ditulis Hanung Bramantyo serta Salman Aristo yang juga menulis naskah untuk film ini.[6] Hanung sendiri mengaku karakter Minke sama seperti dirinya yang berketurunan campuran Jawa-Tionghoa.[7] Hanung menyatakan kesempatan menyutradarai film yang dialih wahana dari novel yang digemarinya adalah mimpi yang menjadi kenyataan;[8] adik Pramoedya, Soesilo, menganggap Hanung berani mengambil langkah menyutradarai film ini.[9] Hanung pernah membaca novel itu semasa menjalani pendidikan di sekolah menengah atas, kemudian membaca lagi ketika berkuliah;[8] bahkan sempat tercetus ide untuk membuat film pendek mengenai Sanikem sebagai keperluan ujian tengah akhir semasa berkuliah. Hanung juga sempat membuat catatan-catatan atas setiap karakter seolah-olah hendak mengalih wahana novel itu.[7] Hanung menambahkan bahwa baginya kesempatan ini bukanlah semata pekerjaan, melainkan ibadah.[10] Ketika berusia 17 tahun, Hanung harus membaca novel itu secara sembunyi-sembunyi karena takut ditangkap polisi.[11] Hanung sendiri mengutarakan langsung keinginannya semasa melawat ke rumah Pramoedya, tetapi Pramoedya menolak keinginannya. Peluang itu datang kembali ketika Hanung baru saja merampungkan produksi film Ayat-ayat Cinta (2008), tetapi hilang begitu saja. Kesempatan itu datang sekali lagi ketika seorang kawannya yang tidak disebutkan namanya menawarkan novel Bumi Manusia untuk difilmkan. Hanung mengaku langsung bersujud syukur dan menghubungi kawannya, Salman Aristo, saat itu juga untuk menawarkannya sebagai penulis skenario, tetapi Salman menolak karena merasa belum siap.[12] Setelah itu, Hanung mulai membuat film bertema biografi, mulai dari Sang Pencerah (2010), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Kartini (2017), hingga Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018). Beberapa tahun kemudian, tawaran menyutradarai film ini kembali menghampiri Hanung. Hanung menawarkan lagi kepada Salman, lalu Salman mengaku tak kuasa menolak tawaran Hanung. Hanung menambahkan bahwa jika seandainya Salman langsung menerima tawaran pertamanya, maka film ini akan menjadi film periode pertama yang Hanung garap dan tidak akan maksimal karena masih belajar.[8] Seperti halnya beberapa film sejarah karya Hanung sebelumnya, Catherine Quirine van Heeren kembali terlibat dalam produksi film ini sebagai asisten sutradara untuk menangani para pemain Belanda.[13]


Penulisan naskah dimulai sejak awal 2017, yang diakui Salman begitu sulit mengingat alur novel cenderung maju-mundur, sementara ia menggunakan alur maju untuk film.[14] Selain dari novel asli, Salman juga menggunakan rujukan yaitu buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Max Lane. Penulisan naskah juga melalui banyak perdebatan manakala Hanung menginginkan naskah disesuaikan dengan zaman sekarang.[15]


Pada Februari 2018, Salman memastikan seorang pemeran yang dikatakannya sebagai pemain baru.[16] Pada 8 Mei, Falcon mengumumkan Sha Ine Febriyanti akan terlibat sebagai pemain film walau belum diketahui karakter apa yang akan diperankan. Medcom melemparkan kemungkinan besar Sha akan memerankan Ontosoroh atau Magda Peters seperti perannya di pertunjukan panggung Bumi Manusia pada 2006.[17] Sha kemudian membenarkan pengumuman itu dan menyebut tidak akan memerankan Magda Peters, tetapi belum membuka suara terkait karakter sebenarnya yang akan diperankannya.[18] Sha juga menyebut keterlibatannya dalam produksi film ini adalah pertama kalinya dalam film komersial, mengingat sebelumnya ia hanya berperan di film karya Djenar Maesa Ayu dan Aria Kusumadewa serta terlibat dalam pertunjukan panggung.[19] Sha mengaku memerankan Ontosoroh sudah menjadi impiannya sejak dua puluh tahun yang lalu.[20]

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages