Dibulan Rajab, seorang muslim berkesempatan mendapat pahala berlipat ganda dengan melaksanakan berbagai amalan di setiap tanggalnya. Ada amalan yang bisa dilakukan pada setiap hari di bulan Rajab, misalnya pada 10 Rajab. Lantas, amalan apa saja yang bisa dikerjakan pada 10 Rajab?
Seperti diketahui, tanggal pada bulan Rajab mengacu pada penanggalan Hijriah yang digunakan oleh umat Islam. Sistem penanggalan ini berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi sehingga disebut juga dengan kalender qomariah, yang berarti bulan.
Namun, perlu diketahui bahwa pergantian dari tanggal 9 Rajab menuju 10 Rajab 1445 H terjadi pada Minggu malam. Maka, tanggal 10 Rajab akan berlangsung hingga matahari terbenam atau waktu maghrib di hari Senin, 22 Januari 2024. Hal ini berkaitan dengan sistem penanggalan Hijriah yang mengacu pada peredaran bulan.
Mengingat tanggal 10 Rajab 1445 H bertepatan pada hari Senin, umat Islam dianjurkan untuk mengamalkan puasa sunnah di hari tersebut. Hal ini sesuai dengan anjuran Sayyid Muhammad Az-Zabidi ketika menjelaskan keterangan Ihya' Ulumuddin dalam karyanya Ithafus Sadatil Muttaqin di bawah ini:
وكرِهَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رضوان الله عليهم أَنْ يُصَامَ شَهْرُ رَجَبَ كُلَّهُ حَتَّى لَا يُضَاهِيَ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَلَوْ صَامَ مِنْهُ أَيَّامًا وَأَفْطَرَ أَيَّامًا فَلَا كُرَاهَةَ. وَالْأَشْهُرُ الْفَاضِلَةُ الشَّرِيفَةُ أَرْبَعَةٌ: ذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبِ وَشَعْبَانَ وَأَفْضَلُهُنَّ المُحَرَّمُ كَمَا سُبِقَ عَنِ النَّوَوِيِّ وَقِيلَ رَجَبٌ وَهُوَ قَوْلُ صَاحِبِ البَحْرِ وَرَدَّهُ النَّوَوِيُّ كَمَا تَقَدَّمَ.
Artinya, "Sejumlah sahabat ridwanullahi alaihim (menyatakan makruh puasa) bulan (Rajab sebulan penuh agar tidak menyerupai Bulan Ramadhan). Namun, kalau seseorang mau berpuasa beberapa hari di Bulan Rajab dan tidak berpuasa beberapa hari, maka itu tidak makruh. (Bulan-bulan utama) yang mulia (itu) ada empat (Dzulhijjah, Muharram, Rajab, dan Sya'ban). Yang paling utama dari semua itu adalah Bulan Muharram sebagaimana penjelasan yang lalu dari Imam An-Nawawi. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang paling utama adalah Bulan Rajab, yaitu pendapat penulis kitab Al-Bahr. Tetapi pandangan ini ditolak oleh Imam An-Nawawi sebagaimana uraian yang lalu,"
Keterangan di atas belum menjelaskan secara detail ketentuan harinya. Mengutip laman NU Online, puasa Rajab bisa dikerjakan kapan saja asalkan masih di bulan Rajab. Oleh karena itu, umat Islam dapat memakai ketentuan hari-hari utama pada setiap bulan atau setiap pekan sesuai keterangan Imam Al-Ghazali berikut ini:
وأما ما يتكرر في الشَهْرِ فأوَّلُ الشَهْرِ وَأوَّسَطَهُ وَآخِرَهُ وَوَسَطَهُ الْأَيَّامُ الْبَيْضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَالرَّابِعَ عَشَرَ وَالْخَامِسَ عَشَرَ. وَأَمَّا فِي الْأُسْبُوعِ فَالِإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ وَالْجُمُعَةِ فَهَذِهِ هِيَ الْأَيَّامُ الْفَاضِلَةُ فِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الصِّيَامُ وَتَكْثِيرُ الْخَيْرَاتِ لِتُضَاعَفَ أُجُورُهَا بِبَرَكَةِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ.
Artinya, "Hari utama dianjurkan puasa pada setiap pergantian bulan, yaitu hari awal, pertengahan, dan akhir bulan. Pertengahan bulan adalah ayyamul bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15. Sementara (hari utama dianjurkan puasa) pada setiap pergantian pekan, yaitu Senin, Kamis, Jumat. Itu semua hari-hari utama yang dianjurkan untuk diisi dengan puasa dan memperbanyak amal baik lainnya karena kelipatan ganjarannya sebab keberkahan waktu utama tersebut,"
Apabila belum sempat berniat di malam hari, kamu tetap boleh menjalankan puasa Rajab asalkan belum makan dan minum sejak Subuh dan wajib berniat sebelum waktu dzuhur tiba. Adapun niat puasa Rajab di siang hari adalah sebagai berikut.
Karena istimewanya hari Jumat, Imam Ghazali bahkan menyarankan agar umat Islam mempersiapkan diri menyambut hari Jumat sejak hari Kamis, dimulai dengan mencuci baju, lalu memperbanyak membaca tasbih dan istighfar pada Kamis petang karena saat-saat tersebut sudah memasuki waktu keutamaan hari Jumat.
Selepas mandi, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah soal pilihan pakaian. Menghias diri dengan pakaian serbaputih adalah pilihan terbaik sebab merupakan pakaian yang paling dicintai Allah (ahabbuts tsiyb ila-Lh).
Bagaimana ketika kita telah sampai di masjid? Imam Ghazali mengatakan, carilah barisan paling awal. Bila masjid sudah tampak ramai, jangan melangkahi bahu-bahu mereka, jangan pula lewat di depan mereka yang sedang salat.
Cari lokasi duduk yang dekat dengan dinding atau tiang sehingga tak ada orang lalu lalang di hadapan kita. Sebelum duduk, sebaiknya laksanakanlah salat Tahiyyatul Masjid, yang utama empat rakaat. Tiap rakaat bakda al-Fatihah, bacalah surat al-Ikhlas sebanyak 50.
Setelah Salat Jumat, selepas mengikuti gerakan imam mulai dari takbiratul ihram hingga salam, jamaah tak dianjurkan langsung pergi begitu saja, kecuali bila ada urusan mendesak. Menurut Imam Ghazali, selepas salat, sebelum lisannya melontarkan apa pun, seseorang hendaknya merapalkan bacaan-bacaan berikut:
Artinya: Ya Allah, Yang Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Pencipta, Maha Kuasa Mengembalikan, Maha Penyayang, dan Maha Kasih. Cukupi aku dengan harta halal-Mu, bukan dengan yang haram. Isilah hari-hariku dengan taat kepada-Mu, bukan mendurhakai-Mu. Cukupi diriku dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.
Barangkali dengan tetap berada di masjid kita mendapati momen spesial itu pas ketika kita sedang khusyuk-khusyuknya, merendahkan diri kepada Allah. Selain itu, sang Hujjatul Islam menyarakan kita untuk melaksanakan salat sunnah dua rakaat atau enam rakaat (tiap dua rakaat salam) sebab Rasulullah pernah meriwayatkan tentang hal itu dalam berbagai kesempatan.
Dalam berbagai anjuran Imam Ghazali di atas cenderung tampak bahwa beliau mengkhususkan hari Jumat untuk lebih intensif beribadah melakukan amalan sunnah. Tentu hal ini dikarenakan sejumlah keistimewaan di dalamnya dibanding hari-hari yang lainnya. Ibarat puncak dari satu tahun kita dianjurkan taqarrub pada bulan Ramadhan, maka dalam satu minggu kita dianjurkan recharging ketaqwaan kita di hari Jumat.
1. Bersiap-sedialah untuk ketibaan hari Jumaat mulai hari Khamis lagi dengan membersihkan pakaian. Perbanyakkan tasbih dan istighfar pada petang Khamis kerana ia merupakan waktu yang kelebihannya menyamai suatu waktu dalam hari Jumaat. Niatkan untuk berpuasa pada hari Jumaat tetapi laksanakan bersama hari Khamis atau Sabtu kerana terdapat larangan berpuasa pada hari Jumaat sahaja.
7. Jangan duduk di hadapan orang yang sedang bersolat dan duduk di tempat yang berdekatan dengan dinding atau tiang supaya tiada orang yang melintasimu. Jangan duduk sehingga kamu menunaikan solat tahiyyatul masjid dahulu. Cara yang terbaik, kamu kerjakan solat empat rakaat dan membaca surah al-Ikhlas 50 kali selepas surah al-Fatihah dalam setiap rakaat kerana dinyatakan dalam sebuah hadis yang bermaksud:
Apabila imam telah keluar untuk berkhutbah, hentikan selawat dan percakapan serta sibukkan diri dengan menjawab azan. Kemudian mendengar khutbah dengan teliti serta mengambil pengajaran daripadanya. Tinggalkan seluruh percakapan sama sekali ketika khutbah kerana disebutkan dalam sebuah hadis bahawa:
Apabila kamu selesai solat dan memberi salam, bacalah surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas sebanyak tujuh kali setiap satunya sebelum bercakap kerana hal itu memelihara diri kamu daripada keburukan sejak dari satu Jumaat ke Jumaat seterusnya serta dapat menjadi benteng bagimu daripada syaitan.
Apabila setiap ilmu tidak mendorongmu untuk meninggalkan dunia menuju akhirat, maka sifat jahil lebih bermanfaat bagimu daripadanya. Oleh itu, berlindunglah dengan Allah daripada ilmu yang tidak bermanfaat.
Perbanyakkan doa ketika matahari terbut, gelincir, terbenam, ketika iqamat, khatib naik ke atas mimbar dan ketika orang mula berdiri untuk menunaikan solat. Besar kemungkinan waktu yang mulia itu berada di dalam salah satu daripada waktu-waktu ini.
Rajab, sebagai salah satu dari bulan-bulan mulia yang termasuk dalam kategori al-asyhur al-hurum, bersanding dengan bulan-bulan lainnya yang memiliki kedudukan istimewa dalam agama Islam. Umat Muslim didorong untuk menjalankan ibadah puasa sunnah selama bulan Rajab atau puasa Rajab, karena diyakini memiliki banyak keutamaan dan nilai spiritual yang tinggi.
Puasa Rajab dapat dilaksanakan dalam beberapa hari tanpa penentuan hari yang spesifik. Meskipun begitu, umat Islam dapat mengatur puasa Rajab dengan mengikuti hari-hari penting dalam setiap bulan atau minggu. Menurut Imam al-Ghazali, terdapat beberapa hari utama yang dianjurkan untuk berpuasa, yaitu pada awal, pertengahan, dan akhir bulan, serta pada hari-hari tertentu seperti Senin, Kamis, dan Jumat. Hari-hari tersebut merupakan waktu yang diberkahi dan memiliki ganjaran yang berlipat ganda. Nabi Muhammad SAW juga menyarankan agar puasa di bulan-bulan mulia, termasuk Rajab, tidak dilakukan secara terus-menerus, akan tetapi diberi jeda waktu.
Berdasarkan kalender Hijriah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI), tanggal 1 Rajab 1445 H bertepatan dengan hari Sabtu, 13 Januari 2024. Bulan Rajab di tahun tersebut dihitung berakhir pada tanggal 10 Februari 2024.
Di bulan Rajab, Allah SWT memberikan karuniaNya untuk mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuat, baik yang disengaja maupun tidak. Sebagai hasilnya, umat Muslim disarankan untuk lebih banyak melakukan istighfar dan introspeksi diri.
3a8082e126