Bola.com, Jakarta - Drama adalah satu di antara kegiatan yang mungkin kerap dilakukan saat masih duduk di bangku sekolah. Bahkan istilah drama kerap digunakan untuk memberikan diksi terhadap cerita dalam kehidupan seseorang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.
Ada seorang pemuda yatim piatu yang sangat miskin yaitu bernama Tuba. Tuba tinggal di sebelah utara Pulau Sumatra seorang diri. Ia menjalani kehidupannya dengan bertani dan memancing di laut. Pada suatu hari, Tuba memancing di laut dan menadapatkan seekor ikan yang aneh.
Putri ikan: Iya betul. Aku adalah seekor ikan emas, dulunya aku dikutuk oleh dewa karena melanggar suatu aturan. Nah, jika tubuhku tersentuh tangan maka wujud aku akan berubah seperti makhluk yang sudah menyentuh tubuhku. Karena kamu telah menyentuhku maka wujudku berubah sepertimu, yaitu manusia.
Tuba: Aku akan menjaga rahasia ini kepada siapa pun. Kemudian mereka pun menikah. Dari pernikahannya Tuba dan Putri ikan dikaruniai satu anak. Namun, anak tersebut selalu merasa lapar dan setelah diberi makan pun, tetap saja merasa lapar.
Hingga pada suatu hari dia menghabiskan makanan yang ada di meja untuk orang tuanya. Ketika ayahnya pulang dari ladang dan merasa lapar, ternyata di mejanya tidak ada makanan sedikit pun. Akhirnya Tuba tidak bisa mengontrol amarahnya hingga dia memarahi anak tersebut.
Tuba memarahi anaknya, hingga keluar kata-kata, "dasar anak ikan makanya kau tidak pernah merasa kenyang". Setelah itu anaknya pergi dan menangis menyusul ibunya di ladang. Tuba baru sadar kalau dia telah melanggar janjinya, membuka rahasia.
Akhir cerita, Putri ikan dan anaknya pergi ke atas langit dan meninggalkan Tuba. Di tempat berdirinya sang istri Tuba dan anak laki-lakinya, tiba-tiba keluar air yang makin lama makin deras hingga menenggelamkan Tuba dan menjadi sebuah danau.
Pada suatu hari, sedang diadakan ujian semester di sekolah. Mata pelajaran yang diujikan yaitu matematika. Adi, Banu, Sita, Dini, dan Budi yang duduk saling berdekatan mengadakan suatu percakapan, dikarenakan mereka kewalahan melihat soal di kertas ujian yang cukup sulit.
Setelah Budi menyelesaikan ujiannya, ia ikut keluar dan menghampiri keempat kawan serta ikut hormat seperti sahabat-sahabatnya. Akhirnya mereka menjalani hukuman bersama dan menyadari akan kesalahannya.
Malin Kundang adalah seorang anak tunggal dari seorang ibu yang bernama Mande. Lantaran di tanah kelahirannya mereka hidup susah, Malin Kundang memutuskan pergi kota untuk mengadu nasib dan mencari pekerjaan.
Akhirnya, Malin Kundang menjadi seorang yang sukses dan menikah dengan saudagar kaya. Ketika ia kembali ke kampung halamannya bersama sang istri. ia sudah tidak mengakui ibu kandungnya. Kemudian ibu Malin Kundang berdoa, akhirnya Malin Kundang dan istrinya tersambar petir dan anehnya tubuh mereka berubah menjadi batu.
Malin: Dasar wanita tua. Jangan sekali-kali kau mengaku kalau aku ini adalah anakmu. Ibuku bukan seorang wanita tua renta sepertimu, ia sudah meninggal sejak aku masih kecil. Pergilah dari sini, jangan sampai mengotori kapal milikku.
Mande: (Mendengar kata-kata umpatan dari anak laki-lakinya ia menangis dan menahan kesedihan). Kemudian Ia menengadahkan tangan ke atas sambil berdoa kepada Tuhan. Ya Tuhan, kenapa anakku berubah seperti itu, apa salahku? Jika memang dia bukan anakku maka maafkanlah kesalahan pemuda itu. Namun, jika ia adalah anakku maka hukumlah dia karena ia telah durhaka kepada ibunya.
Tiba-tiba datang suara gemuruh dan petir pun menggelegar. Badai sangat besar itu menyambar kapal Malin Kundang dan kemudian terbalik. Sedangkan petir menyambar tubuh Malin dan istrinya. Anehnya tubuh Malin dan istrinya tiba-tiba berubah menjadi batu.
Pada suatu pagi yang cerah. Aprilia dan Veronika sedang di perpustakaan membaca buku Biologi. Pasalnya, di siang hari akan diadakan ulangan mata pelajaran Biologi. Kemudian tiba-tiba datang sahabat mereka, yaitu Anggi.
Pada jam istirahat, Wantara memilih diam dan duduk di bangkunya karena belum memiliki teman. Semua teman-temannya juga masih sungkan untuk mendekatinya. Tiba-tiba Aprilia, Veronica, dan Anggi menghampirinya dan mengajak kenalan.
Bu Guru: Oh, begitu ya? Wantara merupakan salah satu korban tsunami Sulawesi beberapa bulan lalu yang selamat. Kedua orang tuanya meninggal karena amukan ombak tsunami. Kini tinggal ia dan adik perempuannya yang masih kelas 4 SD, sekarang sekolahnya juga pindah di kota ini.
Di sini mereka tinggal bersama keluarga pamannya. Namun, pamannya tadi pagi bercerita sama ibu, kalau keluarganya ini tidak mampu. Jadi tidak bisa memberikan uang saku kepada ponakannya tersebut. Jadi, Wantara suruh berhemat dan dibawakan bekal nasi agar tidak kelaparan di sekolah.
Ya sudah, ibu hanya ingin cerita begitu sama kalian. Jadilah teman yang baik untuk Wantara agar ia tidak merasa kesepian. Akhirnya ketiga sahabat ini terus memikirkan Wantara dan mereka memiliki ide untuk membawa bekal makan agar bisa menikmati makan bersama.
Semenjak itu, Wantara merasa memiliki keluarga baru dan ia makin kuat menjalani hari-harinya. Banyak teman-teman di kelas yang juga ikut membawa bekal dan pada jam istirahat mereka makan bersama-sama, suasana di kelas itu makin menyenangkan.
Pernahkah detikers membaca novel? Tak sedikit novel ditulis berdasarkan cerita fiksi. Selain novel, contoh cerita fiksi juga bisa ditemukan dalam cerita pendek, roman, dan naskah drama.
Secara garis besar, cerita fiksi adalah cerita yang dibuat oleh pengarang yang tidak benar-benar berdasarkan kisah nyata atau kenyataan. Cerita fiksi sering kali mencakup unsur-unsur imajinatif seperti karakter, plot, dan setting yang dibuat oleh pengarang, meskipun kadang-kadang cerita fiksi dapat mengambil inspirasi dari kehidupan nyata atau sejarah.
Cerita fiksi dapat dibagi menjadi beberapa genre seperti fiksi ilmiah, fantasi, misteri, roman, horor, dan banyak lagi. Setiap genre memiliki ciri khas dan konvensi yang berbeda yang membedakannya dari yang lain. Namun, semua cerita fiksi memiliki satu kesamaan yaitu, tidak terikat pada kisah atau peristiwa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga pengarang memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi imajinasinya dan membuat cerita yang unik dan menarik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V fiksi bermakna cerita rekaan berupa roman, novel, dan sebagainya. Sedangkan cerita fiksi dalam buku Arif Cerdas untuk Sekolah Dasar Kelas 4 bermakna cerita yang tidak nyata dan bersifat khayalan atau imajinatif sesuai dengan imajinasi sang pengarang.
Banyak cerita fiksi yang ditulis berdasarkan kisah yang nyata. Namun sang pengarang hanya menggunakan kisah nyata itu menjadi landasan cerita yang kemudian mengubahnya sesuai imajinasinya.
Dalam cerita fiksi terdapat dua unsur yang membangun. Pertama unsur intrinsik dan kedua unsur ekstrinsik.
Unsur intrinsik sendiri memuat berbagai unsur lagi yakni tema, tokoh, latar, alur, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik terbagi menjadi beberapa unsur yakni kondisi masyarakat, pengaruh karya lain, dan psikologi.
Alkisah, ada anak bernama Malin Kundang. Karena ingin hidup sukses, dirinya memutuskan untuk merantau. Di perantauan Malin Kundang menikahi seorang gadis yang kaya raya dan menjadi menantu gadis itu. Alhasil dirinya menjadi kaya raya dan sukses.
Saat telah sukses, dirinya kembali ke kampung halaman. Namun, ia menjadi anak durhaka sebab tidak mengakui sang Ibu dan mengusirnya. Ibunya pun berdoa agar Malin Kundang dikutuk menjadi sebuah batu karang. Hingga kini, batu tersebut masih berdiri di sebuah pantai.
Suatu hari, Bawang Putih mendapatkan sebuah labu berisi emas dari seorang nenek sihir. Melihat itu, Bawang Merah merasa iri dan serakah sehingga meminta juga. Sayang yang didapatkan Bawang Merah malahan ular berbisa. Hal itu dikarenakan sifat jahat, iri, dan serah yang dimiliki oleh Bawang Merah.
Purbasari yang hidup di luar istana pun bertemu dengan seekor lutung. Ternyata, lutung tersebut merupakan jelmaan pangeran dari istana khayangan dan tengah mencari istri. Dari pertemuan itu, mereka pun bersama-sama mencari keadilan dengan merebut tahta kerajaan kembali.
Pada zaman dahulu, ada sebuah cerita tentang seorang putri dari Jawa Barat bernama Dayang Sumbi. Dia memiliki seorang putra bernama Sangkuriang. Suatu hari, Sangkuriang sedang berburu dengan kapal tundanya. Sangkurian juga tidak mengetahui bahwa sang anjing itu adalah titisan dari Parlemen dan ayahnya.
Saat itu, Tumang tidak mau menuruti perintah pertandingan dengan So Courier. Kemudian Tumanga didorong ke dalam hutan. Kemudian, Sangkuriang kembali ke istana dan memberitahu ibunya. Kemudian Dayang Sumbi tiba-tiba marah dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok di tangannya.
Sangkuriang tersinggung dan kecewa dengan perlakuan ibunya dan memutuskan untuk mengembara. Setelah kejadian itu, ibunya merasa kasihan padanya. Lalu sang ibu selalu berdoa dan bertapa. Suatu ketika akhirnya para dewa memberi mukjizat dengan memberinya kecantikan yang abadi. Setelah bertahun tahun mengembara, Sangkuriang kemudian berniat untuk kembali ke istana, yakni ke tanah airnya sendiri.
Namun. rupanya keadaan kerajaan sudah berbeda dan telah berubah total sejak kepergian Sangkuriang dahulu. Sampai akhirnya ia bertemu gadis cantik dan sangat mempesona, yang ternyata adalah dayang sumbi (ibunya sendiri). Atas kecantikannya, Sangkuriang pun terpesona dan segera melamarnya. Suatu hari, Sangkuriang mengucapkan selamat tinggal pada perburuan dan memintanya untuk memangkas rambut calon suaminya.
Namun, Dayang Sumbing terkejut karena menemukan bahwa bekas luka di kepalanya identik dengan bekas luka putranya, dan ketika dia mengamatinya, itu sangat mirip. Setelah itu, Dayang Sumbing mencari cara untuk mengakhiri pernikahannya. Jika Ia ingin mengubur kisah tragisnya dengan sang anak, maka harus mengarungi sungai Citarum dan membuat penyeberangan sungai besar harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang mengerjakan hal tersebut tidak sendiri, namun di bantu oleh para makhluk ghaib. Rupanya Dayang Sumbing mengintip atas pekerjaan Sangkuriang yang hampir selesai. Kemudian Dia memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain merah di sebelah timur kota agar terlihat terang. Melihat hal itu Sangkuriang mengira hari sudah pagi dan ia pun marah besar. Ia pun menendang sampan buatannya tersebut dengan kekuatannya hingga sampan raksasa tersebut tiba di sebuah gunung yang akhirnya gunung tersebut diberi nama tangkuban perahu.