Diawal film, saya bingung dan bertanya-tanya: apa hubungannya antara konflik ideologi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1960-an dengan seorang ronggeng? Kenapa harus ronggeng? Kenapa bukan profesi lain seperti penjahit?
Setelah menonton, saya jadi paham bahwa ronggeng adalah simbol perlindungan. Di Dukuh Paruk (latar tempat film), ronggeng sangat dimuliakan dan diperlakukan seperti nabi. Tugas-tugas yang dijalankan seorang ronggeng dipercaya merupakan tugas suci yang bertujuan untuk menghormati leluhur, sehingga Dukuh Paruk dan segenap isinya senantiasa diberi keberkatan.
susah bgt g ngebandingin film ama material aslinya. ini terasa seperti simplikasi dari trilogi. walau emang trilogi aslinya terasa sangat luas dan mengadaptasinya menjadi singkat sangat gk mudah. tapi setidaknya film ini berhasil senafas dengan aura dan emosi bukunya. penabrakan budaya lama dan baru yang dibalut konflik. naifnya dukuh paruk yang akhirnya membawa petaka. semua terasa sangat cepat. oka antara disini hebat banget sebagai rasus. tatapan kosongnya seperti membawa sejuta pikiran dan khayalan. prisia membawakan peran ronggeng juga dengan sangat tegas dan halus. persis seorang ronggeng. seorang wanita yang kehidupannya bukan bukan lagi milikinya melainkan milik bersama. menggoda pria adalah kesehariannya. ronggeng adalah napas dukuh paruk. tanpa ronggeng, maka dukuh paruk adalah mati suri.
Sang Penari sweeps viewers off their feet with its unique love story, a rare find in Indonesian cinema. Prisia Nasution's performance shines, alongside beautiful production design that adds to the film's charm. Despite my limited historical knowledge, this film deserves applause and further attention.
a tragic love story between Srintil and Rasus, Ronggeng as villagers' belief, and political condition of Indonesia were powerfully and bitterly wrapped in Sang Penari. hands down to Prisia Nasution and Oka Antara's top-notch performance. the extras also play their role well. and the music, damn, it's so great.
Pada pesonanya yang paling terakhir pun, Srintil tetap saja kalah pada kelelakian, pada kelamnya sejarah kekuasaan atau kalah dari tatapan-tatapan mata yang tak tahu lagi betapa pentingnya menghargai martabat dan ketulusan seorang perempuan.
Bagussss
Oka Antara mukanya melas semelas-melasnya orang melas. Ditambah logat ngapaknya itu lho, dan pembawaanya yang rada bungkuk takut-takut. Ya ampun, kuat banget karakternya! Cara dia bersandar di dada Srintil (Prisia Nasution) pas lagi mandi di pancuran itu ya ampun lemah bener kayak anak kucing. Terus lambat laun menjelma jadi tentara yang tegas dan pengen move on tapi gagal mulu. Gemesin bangeeeettttt aku jadi makin ngefanssssss.
Prisia Nasution, aaah ini mbak keren banget. Aku sesak kebanyakan kata-kata yang pengen aku ungkapkan sama mbak ini. Sama film ini. Sama chemistrynya dengan Oka Antara sebagai Rasus. Prisia dan Srintil benar-benar bisa menyampaikan kalau cintanya terhalang ritual buka kelambu. Lalu cita-citanya terhenti karena politik kelam. Cinta dan cita-citanya tak mulus.
Novel ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI di Jakarta, Februari 2003. Novel isi berisi 408 halaman dan ISBN 978-979-22-7728-9. Novel ini yakni penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun.
Novel ini mengisahkan kehidupan masyarakat suatu pedesaan yang masih tenggelam dengan kebudayaan leluhur, yakni Dukuh Paruk. Dengan tokoh yang bernama Srintil ini yang mana ia adalah sebuah ronggeng, lebih tepatnya dijadikan ronggeng oleh kakeknya yang sejak pertama kali melihat Srintil menari pertama kali saat bermain dengan teman-temannya yaitu Rasus, Warta, dan Darsun di bawah pohon nangka pedesaan itu. Kakek Srintil pun Sakarya tidak pernah tahu bahwa Srintil bisa menari, dan berpikir dengan kepercayaan kuat pedukuhan bahwa Srintil kemasukkan roh indang yaitu semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Setelah melihat kejadian itu, kakek Srintil ini yang bernama Sakarya langsung mengabari Kartareja, lelaki hampir sebaya dengan Sakarya yang merupakan seorang turun-temurun dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Dan setiap ada ronggeng, ia pun bersama istrinya yaitu Nyai Kartareja yang mengasuh ronggeng di pedukuhan. Dan pedukuhan tersebut sudah mati karena sudah lama tidak ada ronggeng, semenjak kejadian besar yang dikarenakan hasil penjualan ayah dan ibu Srintil yang menjual tempe bongkrek dan mengakibatkan kematian pada warga Dukuh Paruk termasuk ayah dan ibu Srintil.
Novel ini sebagian besar mempunya sisi kewanitaan pada tokoh Srintil. Dalam menjadi ronggeng di Dukuh Paruk ini tentunya mempunyai persyaratan yang sudah ada sejak turun-temurun. Tanpa terkecuali seseorang yang ingin menjadi ronggeng harus mengikuti dan menjalakan persyaratan turun-temurun, yakni dengan pemandian di pemakaman Ki Secamenggala yakni leluhur dipedukuhan tersebut dan tragedi Bukak Kelambu, tak dihiraukan walaupun Srintil masih berusa belasan tahun harus tetap mengikuti persyaratan tersebut. Pada novel tersebut dijelaskan bahwa Bukak kelambu merupakan seyembara yang mana seorang ronggeng harus menyerahkan keseluruhan dirinya termasuk keperawanan kepada seorang laki-laki yang berhasil memberikan taruhan yang diminta oleh dukun ronggeng tersebut. Tragedi ini diperlihatkan kenafsuan masyarakat pedukuhan itu. Teman kecil Srintil yaitu Rasus ia mempunya pikiran bahwa kenapa harus diadakannya Bukak Kelambu untuk seorang ronggeng, dan dengan opini nya yang tidak menyukai bahwa seorang ronggeng harus mengikuti persyaratan Bukak Kelambu akhirnya Rasus pergi dari pedukuhan tersebut untuk menjalani kehidupan baru dipedesaan lain dan meninggalkan seorang neneknya sendirian di Dukuh Paruk.
Wilayah kecamatan Dawuan ialah yang menjadi tempat singgah Rasus selama kepergian dari pedukuhan tempat lahirnya. Tahun 1960 wilayah tersebut tidak aman karena adanya perampokan dan kekerasan senjata yang terjadi. Karean tragedi tidak aman itu, Rasus memikirkan untuk kembali ke Dukuh Paruk atau pergi dari pasar yang ia tinggali di Dawuan. Saat pergi meninggalkan pasar Dawuan pun harus ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lain bersama sekelompok tentara yang di bawah pimpinan Sersan Slamet. Dalam tragedia itu, Rasus diajak untuk ikut bersama sekelompok tentara. Sersan Slamet telah menjerat agar Rasus ikut bekerja bersamanya sebagai seorang tobang, yaitu menjadi kacung yang harus melayani diri serta seluruh anggota pasukannya. Akhirnya Rasus pun ikut dalam sekelompok tentara Sersan Slamet dan meninggalkan pekerjaan nya yang diawal menjadi seorang penjual maupun pengupas singkong.
Ronggeng Dukuh Paruk ini telah membuat Srintil menjadi kehilangan jati dirinya, karena usia yang masih belasan tahun sudah kehilangan kewanitaannya dan bahkan istri dari dukun ronggeng yakni Nyai Kartareja sudah membuat agar Srintil tidak bisa hamil. Novel ini telah mengantarkan pembaca tentang gambaran kesalahan masyarakat terhadap seksualitas perempuan. Kejadian ini berhubungan dengan politik tahun 1965 dari sisi kewanitaan yang mana Srintil digambarkan sebuah tokoh perempuan yang selalu ditindas dan dimanfaatkan oleh Nyai Kartareja agar bisa hidup dan melangsungkan kehidupan tanpa harus bekerja. Dan masih adanya kepercayaan terhadap hal mistis yang percaya bahwa masih terikat dengan leluhur yaitu Ki Secemenggala.
Dalam tragedi yang terjadi di pedukuhan tersebut membuat Srintil kehilangan jati dirinya maupun setelah kehilangan teman kecilnya si Rasus yang membuat pikirannya bercabang. Ia terus memikirkan ibunya dan memikirkan nasibnya yang tidak mungkin bisa menjadi seorang ibu. Srintil menyesal akan perbuatannya dan mengakibatkan ketenaran sebagai ronggeng jatuh, yang selama ini di agung-agungkan kini ia di cemooh sebagai sanksi sosial. Akhirnya Srintil memohon ampun atas apa yang dilakukannya dan atas apa yang telah diperbuat. Ronggeng Dukuh Paruk merupakan sebuah pedesaan yang memiliki keterbelakangan yang mana Srintil sebagai tokoh utama mengalami penderitaan sebagai penari perempuan atau disebut ronggeng. Perempuan yang masih belasan tahun yang masih bermain dengan teman-temannya, kini kehidupannya sudah dituntut menjadi ronggeng dipedesannya.
Pesan yang dapat diambil dari kisah cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk ini ialah jangan pernah memandang rendah perempuan untuk bisa memanfaatkan dengan kepentingan pribadi. Hal ini pun tak terlepas dari kasus-kasus perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga ataupun pelecehan seksual, dan kisah inipun berkenaan dengan perkara persetubuhan (eksploitasi) antar tokoh utama Srintil dengan masyarakat pedukuhan. Untuk itu kehidupan lelaki dan perempuan ialah kehidupan yang sepadan diantara keduanya dan jangan sekali-kali untuk mendiskriminasi adanya gender. Pesan yang terkandung dalam novel ini yaitu nilai yang mengandung hubungan yang sangat mendalam pada suatu masyarakat dan kebudayaan.
Bagi pecinta buku dengan tema klasik, ada satu judul yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, karya sastra ini terbit pada tahun 2003 dan dari pertama dipasarkan langsung banyak menyita perhatian pecinta sastra, namun akhirnya menemui pro dan kontra.
Ahmad Tohari menceritakan dengan sangat rinci setiap bagian sehingga pembaca terasa ikut hadir dalam setiap segmen dari alur dalam buku ini. Cerita yang disuguhkan kental dengan tradisi yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat, termasuk pergolakan politik yang saat itu terjadi.
Dalam buku yang ditulis ini, Ahmad Tohari berusaha untuk membuka tabir tentang kejadian di masyarakat yang saat itu masih ditutupi namun sebenarnya terjadi. Novel ini pernah dilarang beredar karena dianggap memuat hal-hal yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Saat ini Anda bisa mendapatkan karena kembali dijual bebas. Tertarik dengan isi buku karya Ahmad Tohari ini? Berikut review-nya:
Ahmad Tohari dalam Buku Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tiga bagian yang saling menyambung. Bagian pertama Ronggeng Dukuh Paruk yang mengisahkan tentang Srintil, seorang kembang desa dari awal hingga menjadi ronggeng yang banyak digandrungi.
3a8082e126