Dilansir dari laman uinsa.ac.id, kata manaqib berasal dari bahasa Arab berdasar lafadz naqaba, naqabu, naqban yang memiliki makna menyelidiki, melubangi, memeriksa, membahas dan menggali. Jika diartikan secara umum hal ini bermakna adanya unsur riset, penggalian informasi dan penyelidikan tentang sesuatu yang pada awalnya masih samar-samar.
Sedangkan manaqib merupakan bentuk jamak dari lafadz manqiban yang merupakan isim makan dari lafadz naqaba. Jadi, manaqib sama halnya dengan wahana atau media penuangan hasil penelitian tentang seseorang atau sesuatu. Bisa juga disebut dengan biografi seseorang.
Liputan6.com, Jakarta - Manaqib, sebuah kata yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Kata ini berasal dari "manqabah," yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai perilaku baik seseorang. Manaqib artinya mengacu pada sifat terpuji atau akhlak yang baik yang dimiliki oleh seorang individu.
Manaqib juga sering kali dikenal sebagai sebuah kitab yang memuat riwayat hidup seseorang. Kitab ini menjadi jendela yang mengungkapkan sisi-sisi terbaik dari karakter dan perjalanan hidup seseorang. Dalam Islam, manaqib adalah juga tentang memahami dan merenungkan akhlak yang mulia dari para tokoh agama dan individu yang saleh.
Menurut penjelasan dalam buku "Hujjah Amaliyah Ahlusunnah Waljama'ah" (2022) oleh Muhammad Ropi'i, manaqib secara harfiah berarti meneliti dan menggali. Ini mengisyaratkan bahwa membaca bacaan manaqib adalah sebuah upaya untuk lebih mendalami dan memahami kebaikan seseorang, terutama dalam hal budi pekerti dan akhlak yang luhur.
Membaca manaqib, pada dasarnya, adalah membaca sejarah hidup seseorang dalam konteks budi pekerti dan kebaikannya. Ini bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan merupakan upaya untuk mengeksplorasi karakter dan perilaku yang patut dijadikan teladan. Manaqib adalah cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh individu-individu yang berjasa dalam agama dan masyarakat.
Salah satu tujuan utama penulisan kitab manaqib adalah untuk menciptakan tabaruk, tawasul, dan mengenal orang-orang shalih. Tabaruk adalah pencarian berkah melalui jejak-jejak kebaikan yang ditinggalkan oleh orang-orang saleh. Sementara tawasul adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara orang yang dianggap memiliki akhlak yang mulia.
Dalam buku "Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah: Studi Etnografi Tarekat Sufi Di Indonesia" oleh Emawati, Syukran Makmun, dan Gunawan Anjar Sukmana, manaqib juga dikaitkan dengan upaya untuk mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah SWT dengan memahami kebaikan para wali yang dicintai-Nya. Membaca manaqib, umat Islam berharap untuk mendapatkan berkah dan hidayah dari Tuhan.
Dalam suasana manaqib, pembaca kitab biasanya adalah seorang kiai atau tokoh agama yang dihormati. Para jemaah, dengan khidmat, mendengarkan dengan seksama dan secara aktif memuji Allah dengan kalimat-kalimat yang terdapat dalam Asmaul Husna. Ini adalah sebuah momen spiritual yang sarat makna, keberkahan dan kebijaksanaan Allah SWT dirasakan oleh semua yang hadir.
Jadi, membaca manaqib adalah lebih dari sekadar membaca teks. Ini adalah perjalanan untuk memahami, merenung, dan mencari berkah dalam akhlak yang luhur dan keteladanan para tokoh agama. Dalam proses ini, umat Islam dapat memperoleh kebijaksanaan dan berkat dalam perjalanan hidup mereka.
c80f0f1006