Bau Subjektifitas sangat menyengat di PYIT

0 views
Skip to first unread message

Dadan Abu Abdillah

unread,
Jul 13, 2012, 11:01:22 PM7/13/12
to py...@googlegroups.com
Assalamualaykum 
Apapun teori pendidikannya sangat tidak relevan nasib naik tidaknya seorang anak hanya ditentukan oleh sebuah rapat singkat dengan satu senjata "tidak dinaikkan karena akhlak"  , sangat mendzolimi ..mari perbaiki ..ingat ini pesantren ummat bukan pesantren "pribadi" segala unsur "like dislike" lebih mendominasi 

Dedis Rahadian

unread,
Jul 16, 2012, 9:39:54 AM7/16/12
to py...@googlegroups.com

Ahsanta….

Memang dalam standar penilaian, sebenarnya ada beberapa perangkat adminstrasi yang harus disiapkan guru di awal semester diantaranya :

Buku Agenda Harian Guru

Daftar Hadir Siswa

Buku Daftar Nilai

Catatan sikap/perilaku siswa

Buku Catatan Tugas

 

Jadi seorang anak dilihat apakah selalu hadir dalam jam tatap muka

Apakah mengikuti semua ujian, apakah selalu mengerjakan tugas yang diberkan guru, dan terakhir SETIAP GURU MENUNJUKAN CATATAN SIKAP DAN PRILAKU SETIAP SISWA.

Barangkali point terakhir inilah yang perlu diseriusi dan dikaji, SIKAP DAN PRILAKU seperti apakah yang bias MENJERUMUSKAN seseorang sehingga seorang siswa tidak berhak untuk mengikuti pembelajaran di jenjang berikutnya.

 

Mari ….. mari…

pak Abbas

unread,
Jul 19, 2012, 1:12:14 AM7/19/12
to py...@googlegroups.com
Komentar saya yang awam dalam bidang psychologi pendidikan (makanya gak jadi guru):
 
1. Kalau pada akhirnya siswa gagal karena dihakimi akhlaq nya yang salah, tinggal kita lihat berapa lama siswa tersebut dibawah tarbiyah kita.  kalau baru setahun dua tahun, ya jangan-jangan lingkungan pendidikan sebelumnya (orang tua) patut diduga berkontribusi atas kejelekan akhlaqnya. Tetapi kalau sejak SD, SMP dan SMA dibawah tarbiyah kita artinya lebih lama dilingkungan kita dibanding dirumah orang tuanya, apalagi boleh dibilang 0% adanya dugaan pengaruh luar karena si siswa tak pernah bisa pulang kampung misalnya, lah masak kesalahan orang tua?.  Tidakkah sebaiknya kita mengatakan itu hasil tarbiyah kita-kita juga?

2. Dua kali berturut-turut dihukum dengan kekurangan/kesalahan dalam klausul yang sama .... barangkali boleh-boleh saja dihukum mati sekalipun, tapi hukuman yang mematikan (karena akan berakibat luntang-lantungnya seseorang) karena kesalahan dengan klausul yang berbeda maka orang awam (saya) bilang ini namanya pen Dholiman karena sangat kentara memang Subyektifitasnya, mbok ya dikasih kesempatan sekali lagi, napa seh, apakah kalau tidak di enyahkan akan berakibat merusak yang lain, misalnya seperti karena kesalahan terkait dengan prostitusi dan sejenisnya.?

3. Mudah2an siswa (yatim atau non) yang terdholimi tidak segera mengangkat tangannya.

'ala kulli hal  ... hanya komentar koq ... harap jangan terlalu diambil hati.-
wassalamu'alaikum.-



2012/7/16 Dedis Rahadian <dedis.r...@gmail.com>
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages