Profile Joko Malis

210 views
Skip to first unread message

andry....@power.alstom.com

unread,
Aug 1, 2008, 7:36:40 AM8/1/08
to PSIS Semarang Google Milist, PSIS-Semarang Yahoo Milist

Kalo mo search di google dgn keyword 'Joko Malis' ada bbrp... Salah satunya adalah spt dibawah

Wrm Rgds,

...:: Andry @ Sby ::...

-----Original Message-----


http://www.korantempo.com/korantempo/2007/10/07/Olah_Raga/krn,20071007,8.id.html

Djoko Malis Mustafa

Pelatih di Dunia Sunyi



"Kemewahan" itu akhirnya didapat Djoko Malis Mustafa. Kemewahan itu bukan sedan Mercedes SLK terbaru, bukan pula rumah megah di Menteng, jantung Jakarta, tapi bisa berkumpul dengan keluarga. "Itu sesuatu yang mahal," kata Djoko saat ditemui Tempo.

Dunia sepak bola telah memisahkan Djoko dengan keluarganya. Selama tiga tahun terakhir ia melatih Persmin, klub dari Minahasa, Sulawesi Utara. Namun, kini statusnya sebagai pelatih di klub itu masih mengambang.

Azan asar yang berkumandang telah menghentikan semua kegiatannya pada Kamis lalu. Ia pun salat khusyuk di musala mini di rumahnya yang sejuk di Jombang, Jawa Timur. "Saya sekarang banyak waktu beribadah, kebetulan momentumnya pas bulan puasa," kata Djoko, yang kini banyak merenung itu. Dunia sepak bolanya adalah dunia yang sunyi.

Mantan dedengkot Persebaya Surabaya dan Niac Mitra itu kini sedang menunggu statusnya. Ketua Umum Persmin yang juga Bupati Minahasa, Stevanus Vreeke Runtu, menyatakan memberi waktu untuk istirahat sementara. Namun, manajer tim, Ricky Pontoh, menyebutkan Djoko telah dinonaktifkan.

Keputusan yang simpang-siur itu berawal saat Persmin ditahan imbang 1-1 oleh tim tamu Persebaya Surabaya pada lanjutan kompetisi Liga Djarum Indonesia, Agustus lalu. Hasil seri itu tidak memuaskan jajaran pengurus klub karena Persebaya dianggap tim lemah di grup timur. Djoko dituding "menjual" partai tersebut dengan kompensasi tertentu. Kedekatan Djoko dengan Persebaya pada masa lalu serta asal-usulnya sebagai orang Surabaya pun diungkit.

Tudingan itu membuat hati Djoko terasa teriris. Lelaki itu mengaku selama tiga tahun terakhir ini telah menyerahkan semua energinya untuk Persmin. Pada 2005, Djoko membangun klub itu dengan materi pemain yang punya keahlian pas-pasan saat baru promosi ke divisi utama.

Setahun kemudian, tangan dingin Djoko berhasil membawa Persmin menyodok ke posisi empat besar. Dari pencapaian itu, target pun dinaikkan. Djoko dibebani membawa Persmin meraih gelar juara kompetisi.

"Saya menerima tugas itu dengan totalitas sebagai pelatih," kata Djoko. Namun, semua yang telah ia susun berantakan di tengah jalan.

Djoko menduga hasil seri dengan Bajul Ijo itu hanya alat untuk menggeser dirinya. Lelaki yang pernah membawa Persebaya meraih gelar juara kompetisi Perserikatan 1977 itu tidak yakin sanksi penonaktifan yang ia terima semata-mata karena hasil seri tersebut. Djoko kemudian membeberkan latar belakang pencopotannya, tapi ia tak mau ceritanya diungkap di koran.

Tiga tahun bergelut bersama Persmin adalah saat yang menyenangkan. Djoko berusaha menghadapi masalah ini dengan sabar. Lelaki berpenampilan kalem itu kini sering merenung dan banyak menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran. Ia juga kembali membolak-balik buku-buku sepak bola koleksinya. Djoko punya banyak koleksi buku sepak bola keluaran FIFA yang belum semuanya sempat ia baca.

"Kalau malam saya sering merenung untuk introspeksi, jangan-jangan semangat profesionalisme yang saya usung ini malah menyakiti hati orang lain," ujarnya.

Keputusan manajemen Persmin itu membuat Djoko benar-benar patah arang. Ia tak mau lagi menjadi pelatih. Ia ingin merintis kesibukan baru sebagai agen pemain dan konsultan pembentukan klub. Djoko punya mimpi membangun base camp di Jombang plus lapangan untuk menggembleng pemain-pemain yang akan dijual ke klub.

Modalnya? "Sudah ada," jawab Djoko. Menurut dia, ada investor yang siap menyokong usahanya. Djoko juga tengah menjalin hubungan dengan para agen pemain di Brasil dan Argentina. Kukuh S Wibowo

Pelatih dengan Segepok Konsep

Tujuh bundel tulisan dan kliping artikel sepak bola itu tertumpuk di meja. Semuanya berkisah tentang konsep kepelatihan Djoko Malis selama ini di Persmin. Ia juga menyimpan dokumentasi berita pertandingan yang dimainkan Persmin.

Di bundel itu Djoko menuliskan semua strategi melatih dan langkah-langkah untuk menggapai gelar juara. Djoko mengadopsi teori-teori sepak bola itu dari literatur asing dipadu dengan teori manajemen yang ia pelajari.

Tulisan itu dilengkapi dengan analisis pergerakan masing-masing pemain di klub Real Madrid, Manchester United, dan tim nasional Brasil. Analisis meliputi bagaimana mereka bertahan dan kapan saat tepat untuk menyerang. Sebuah tulisan yang ilmiah yang jarang dihasilkan oleh seorang pelatih, apalagi pelatih lokal.

Djoko benar-benar membangun klubnya dengan konsep yang matang. Contohnya, ia tidak mau main comot pemain hanya dengan melihat pemain itu terampil mengolah bola. Semua pemain yang masuk timnya harus lolos tes psikologi. Dari tes itu akan terlihat tingkat kecerdasan, tingkat emosional, dan kepribadian pemain.

Pemain yang hasil tesnya kurang bagus terpaksa ia tolak, tidak peduli mereka adalah pemain bintang. Saat menyeleksi pemain Persmin, misalnya, Djoko melibatkan bagian psikologi kepolisian daerah setempat untuk menggelar tes psikologi. "Sehingga saya tahu kualitas dan karakter pemain saya," katanya.

Djoko mencontohkan saat ia menyeleksi pemain Mitra Surabaya melalui tes psikologi pada 1991. Saat itu Djoko berkukuh memilih pemain yang belum terkenal tapi hasil tesnya bagus daripada pemain bintang, tapi nilai tesnya merah.

Terbukti pemain-pemain saringan Djoko tersebut masih eksis menjadi tulang punggung tim hingga kini. Mereka di antaranya I Putu Gede (Persita Tangerang), Harianto (Persik Kediri), dan Hendro Kartiko (Arema Malang). "Pemain bola tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga visi di lapangan," kata Djoko.

Selain menulis konsep melatih, Djoko rajin mendokumentasikan hasil-hasil pertandingan yang dimainkan klubnya. Ia mengulas permainan anak-anak asuhnya dan memberinya catatan bila terdapat kekurangan. Misalnya mengapa si A tidak dimainkan, mengapa si B diganti, dan mengapa si C tidak dipakai.

Semua disertai dengan alasan ilmiah. Tak mengherankan bila evaluasi permainan Persmin selama mengarungi kompetisi terdata semua. Dokumentasi itu juga dilengkapi dengan grafik permainan setiap bulannya secara terperinci. "Tapi tidak semua orang senang terhadap cara saya itu," kata Djoko. Kukuh S Wibowo

Nama : Djoko Malis Mustafa

Tempat dan tanggal lahir : Surabaya, 30 September 1957

Istri : Sufie Etina

Anak :
Suko Wisesa Prasetya
Jacqueline Marsha Melisha
Intan Triyasmina Atiga

Karier sebagai pemain:
PS Angkatan Darat (1973-1980)
Persebaya Surabaya (1976-1978)
Niac Mitra (1980-1981)
Yanita Utama (1981-1985)
Tim nasional (1976-1978)

Karier sebagai pelatih:
Mitra Surabaya (1991-1992)
Asisten pelatih tim U-20 (2003-2004)
Persmin Minahasa (2005-2007)
koran
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages