"Kemewahan" itu akhirnya didapat
Djoko Malis Mustafa. Kemewahan itu bukan sedan Mercedes SLK terbaru, bukan
pula rumah megah di Menteng, jantung Jakarta, tapi bisa berkumpul dengan
keluarga. "Itu sesuatu yang mahal," kata Djoko saat ditemui Tempo.
Dunia sepak bola telah memisahkan Djoko dengan
keluarganya. Selama tiga tahun terakhir ia melatih Persmin, klub dari Minahasa,
Sulawesi Utara. Namun, kini statusnya sebagai pelatih di klub itu masih
mengambang.
Azan asar yang berkumandang telah menghentikan
semua kegiatannya pada Kamis lalu. Ia pun salat khusyuk di musala mini
di rumahnya yang sejuk di Jombang, Jawa Timur. "Saya sekarang banyak
waktu beribadah, kebetulan momentumnya pas bulan puasa," kata Djoko,
yang kini banyak merenung itu. Dunia sepak bolanya adalah dunia yang sunyi.
Mantan dedengkot Persebaya Surabaya dan Niac
Mitra itu kini sedang menunggu statusnya. Ketua Umum Persmin yang juga
Bupati Minahasa, Stevanus Vreeke Runtu, menyatakan memberi waktu untuk
istirahat sementara. Namun, manajer tim, Ricky Pontoh, menyebutkan Djoko
telah dinonaktifkan.
Keputusan yang simpang-siur itu berawal saat
Persmin ditahan imbang 1-1 oleh tim tamu Persebaya Surabaya pada lanjutan
kompetisi Liga Djarum Indonesia, Agustus lalu. Hasil seri itu tidak memuaskan
jajaran pengurus klub karena Persebaya dianggap tim lemah di grup timur.
Djoko dituding "menjual" partai tersebut dengan kompensasi tertentu.
Kedekatan Djoko dengan Persebaya pada masa lalu serta asal-usulnya sebagai
orang Surabaya pun diungkit.
Tudingan itu membuat hati Djoko terasa teriris.
Lelaki itu mengaku selama tiga tahun terakhir ini telah menyerahkan semua
energinya untuk Persmin. Pada 2005, Djoko membangun klub itu dengan materi
pemain yang punya keahlian pas-pasan saat baru promosi ke divisi utama.
Setahun kemudian, tangan dingin Djoko berhasil
membawa Persmin menyodok ke posisi empat besar. Dari pencapaian itu, target
pun dinaikkan. Djoko dibebani membawa Persmin meraih gelar juara kompetisi.
"Saya menerima tugas itu dengan totalitas
sebagai pelatih," kata Djoko. Namun, semua yang telah ia susun berantakan
di tengah jalan.
Djoko menduga hasil seri dengan Bajul Ijo
itu hanya alat untuk menggeser dirinya. Lelaki yang pernah membawa Persebaya
meraih gelar juara kompetisi Perserikatan 1977 itu tidak yakin sanksi penonaktifan
yang ia terima semata-mata karena hasil seri tersebut. Djoko kemudian membeberkan
latar belakang pencopotannya, tapi ia tak mau ceritanya diungkap di koran.
Tiga tahun bergelut bersama Persmin adalah
saat yang menyenangkan. Djoko berusaha menghadapi masalah ini dengan sabar.
Lelaki berpenampilan kalem itu kini sering merenung dan banyak menghabiskan
waktunya untuk membaca Al-Quran. Ia juga kembali membolak-balik buku-buku
sepak bola koleksinya. Djoko punya banyak koleksi buku sepak bola keluaran
FIFA yang belum semuanya sempat ia baca.
"Kalau malam saya sering merenung untuk
introspeksi, jangan-jangan semangat profesionalisme yang saya usung ini
malah menyakiti hati orang lain," ujarnya.
Keputusan manajemen Persmin itu membuat Djoko
benar-benar patah arang. Ia tak mau lagi menjadi pelatih. Ia ingin merintis
kesibukan baru sebagai agen pemain dan konsultan pembentukan klub. Djoko
punya mimpi membangun base camp di Jombang plus lapangan untuk menggembleng
pemain-pemain yang akan dijual ke klub.
Modalnya? "Sudah ada," jawab Djoko.
Menurut dia, ada investor yang siap menyokong usahanya. Djoko juga tengah
menjalin hubungan dengan para agen pemain di Brasil dan Argentina. Kukuh
S Wibowo
Pelatih dengan Segepok Konsep
Tujuh bundel tulisan dan kliping artikel
sepak bola itu tertumpuk di meja. Semuanya berkisah tentang konsep kepelatihan
Djoko Malis selama ini di Persmin. Ia juga menyimpan dokumentasi berita
pertandingan yang dimainkan Persmin.
Di bundel itu Djoko menuliskan semua strategi
melatih dan langkah-langkah untuk menggapai gelar juara. Djoko mengadopsi
teori-teori sepak bola itu dari literatur asing dipadu dengan teori manajemen
yang ia pelajari.
Tulisan itu dilengkapi dengan analisis pergerakan
masing-masing pemain di klub Real Madrid, Manchester United, dan tim nasional
Brasil. Analisis meliputi bagaimana mereka bertahan dan kapan saat tepat
untuk menyerang. Sebuah tulisan yang ilmiah yang jarang dihasilkan oleh
seorang pelatih, apalagi pelatih lokal.
Djoko benar-benar membangun klubnya dengan
konsep yang matang. Contohnya, ia tidak mau main comot pemain hanya dengan
melihat pemain itu terampil mengolah bola. Semua pemain yang masuk timnya
harus lolos tes psikologi. Dari tes itu akan terlihat tingkat kecerdasan,
tingkat emosional, dan kepribadian pemain.
Pemain yang hasil tesnya kurang bagus terpaksa
ia tolak, tidak peduli mereka adalah pemain bintang. Saat menyeleksi pemain
Persmin, misalnya, Djoko melibatkan bagian psikologi kepolisian daerah
setempat untuk menggelar tes psikologi. "Sehingga saya tahu kualitas
dan karakter pemain saya," katanya.
Djoko mencontohkan saat ia menyeleksi pemain
Mitra Surabaya melalui tes psikologi pada 1991. Saat itu Djoko berkukuh
memilih pemain yang belum terkenal tapi hasil tesnya bagus daripada pemain
bintang, tapi nilai tesnya merah.
Terbukti pemain-pemain saringan Djoko tersebut
masih eksis menjadi tulang punggung tim hingga kini. Mereka di antaranya
I Putu Gede (Persita Tangerang), Harianto (Persik Kediri), dan Hendro Kartiko
(Arema Malang). "Pemain bola tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan,
tapi juga visi di lapangan," kata Djoko.
Selain menulis konsep melatih, Djoko rajin
mendokumentasikan hasil-hasil pertandingan yang dimainkan klubnya. Ia mengulas
permainan anak-anak asuhnya dan memberinya catatan bila terdapat kekurangan.
Misalnya mengapa si A tidak dimainkan, mengapa si B diganti, dan mengapa
si C tidak dipakai.
Semua disertai dengan alasan ilmiah. Tak
mengherankan bila evaluasi permainan Persmin selama mengarungi kompetisi
terdata semua. Dokumentasi itu juga dilengkapi dengan grafik permainan
setiap bulannya secara terperinci. "Tapi tidak semua orang senang
terhadap cara saya itu," kata Djoko. Kukuh S Wibowo
Nama : Djoko Malis Mustafa
Tempat dan tanggal lahir : Surabaya, 30 September
1957
Karier sebagai pemain:
PS Angkatan Darat (1973-1980)
Persebaya Surabaya (1976-1978)
Niac Mitra (1980-1981)
Yanita Utama (1981-1985)
Tim nasional (1976-1978)
Karier sebagai pelatih:
Mitra Surabaya (1991-1992)
Asisten pelatih tim U-20 (2003-2004)
Persmin Minahasa (2005-2007)
koran