Pemeriksaanfisik perlu dilakukan untuk memeriksa kondisi tubuh dan membantu dokter mendiagnosis penyakit. Bahkan jika tidak sakit, pemeriksaan ini perlu dilakukan rutin, agar risiko penyakit bisa diketahui lebih awal.
Tujuan prosedur pemeriksaan ini adalah untuk melihat bagian tubuh dan menentukan apakah seseorang mengalami kondisi tubuh normal atau abnormal. Itu sebabnya pemeriksa perlu mengetahui karakteristik normal dan abnormal tiap usia. Kondisi tubuh abnormal pada orang dewasa muda adalah kulit keriput dan tidak elastis karena kondisi ini umumnya dimiliki orang lanjut usia.
Inspeksi bisa dilakukan secara langsung (seperti penglihatan, pendengaran, dan penciuman) dan tidak langsung (dengan alat bantu). Saat palpasi dilakukan, tubuh akan diperiksa secara mendetail dan masing-masing sisi tubuh dibandingkan guna mendeteksi potensi kelainan. Ikuti instruksi dokter untuk memudahkan proses inspeksi.
Ini adalah pemeriksaan fisik lanjutan dengan menyentuh tubuh dan dilakukan bersamaan dengan inspeksi. Palpasi dilakukan hanya mengandalkan telapak tangan, jari, dan ujung jari. Tujuannya untuk mengecek kelembutan, kekakuan, massa, suhu, posisi, ukuran, kecepatan, dan kualitas nadi perifer pada tubuh.
Saat palpasi dilakukan, posisi harus rileks dan nyaman untuk mencegah ketegangan otot. Dokter menjelaskan apa yang akan dilakukan, alasan, dan apa yang dirasakan. Kamu juga diminta menghela napas agar lebih rileks dan berhenti jika merasakan nyeri saat pemeriksaan berlangsung.
Prosedurnya dilakukan dengan mendengarkan suara yang dihasilkan tubuh untuk membedakan suara normal dan abnormal. Auskultasi menggunakan alat bantu stetoskop. Suara yang didengarkan berasal dari sistem kardiovaskuler, respirasi, dan gastrointestinal.
Prosedur ini bertujuan mengetahui bentuk, lokasi, dan struktur di bawa kulit. Perkusi bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Perkusi secara langsung dilakukan dengan mengetukkan jari tangan langsung pada permukaan tubuh.
Sementara perkusi secara tidak langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah tangan non-dominan (biasanya tangan kiri) di permukaan tubuh yang akan diperkusi, kemudian jaringan tengah tangan dominan (biasanya tangan kanan) diketuk-ketuk di atas jari tengah tangan non-dominan untuk menghasilkan suara.
Pemeriksaan fisik selalu dimulai dengan memberi tahu dokter mengenai apa keluhan yang dirasakan, apa yang mengganggu, dan gejala apa yang dialami. Karena gejala yang dialami bisa bervariasi, pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter bisa jadi berbeda-beda, tergantung kondisi.
Selain itu, penting juga untuk menjelaskan sejak kapan gejala terjadi, apa yang dilakukan atau dikonsumsi sebelumnya, dan lain-lain. Selama tahap ini, dokter juga akan menanyakan hal-hal yang terkait dengan kondisi. Pastikan untuk menjawab semua pertanyaan secara jujur untuk memudahkan diagnosis.
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ bagian tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengatahuan perawat dalam melakukan pemeriksaan fisisk pada kasus kardiovaskuler di Rumah Sakit X. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode distribusi frekuensi. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit X pada tanggal 09-30 Juli 2020 di Ruang IGD, ICU dan Perawatan Interna. Dengan jumlah sampel sebanyak 47 responden. Dari penelitian ini diperoleh hasil tingkat pengatahuan perawat dalam melakukakan pemeriksaan fisik pada Sistem Kardiovaskuler di Ruangan IGD, ICU, dan Perawatan Interna RS X dari 47 perawat diteliti yang mempunyai pengatahuan tentang pemeriksaa fisik pada sistem kardiovaskuler termasuk kategori baik sebanyak 6 orang ( 12,8% ), cukup sebanyak 30 orang ( 63,8% ) dan perawat yang mempunyai pengatahuan tentang pemeriksaa fisik pada sistem kardiovaskuler termasuk kategori kurang sebanyak 11 ( 23,4% ). Jadi tingkat pengetahuan perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik pada sistem Kardiovaskuler di ruang IGD, ICU dan Perawatan Interna di rumah sakit X, termasuk kategori cukup.
Pemeriksaan fisik dada penting dilakukan untuk penegakan diagnosis berbagai penyakit yang menyebabkan gangguan sistem kardiorespirasi seperti gagal jantung, pneumonia, trauma dada, dan penyakit jantung bawaan.[1-3]
Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik dada, sediakan tempat yang privat bagi pasien, dengan penerangan yang baik, tenang, dan nyaman. Penjelasan dan persetujuan mengenai teknik pemeriksaan fisik dada harus diberikan kepada pasien sebelum meminta informed consent.
Pada pasien wanita, klinisi laki-laki dapat didampingi oleh tenaga medis perempuan sebagai saksi pemeriksaan klinis. Setelah pasien mengerti dan menyetujui prosedur pemeriksaan fisik, maka pasien diminta untuk melepas pakaian bagian atas. Klinisi kemudian dapat mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memulai pemeriksaan.[1-3]
Pola pernapasan yang dinilai mencakup kecepatan, ritme, dan volume pernapasan. Pola pernapasan normal (eupnea) adalah kecepatan 10-14 napas per menit dengan perbandingan inspeksi dan ekspirasi yaitu satu banding tiga (1:3).
Kecepatan napas di bawah normal disebut bradypnea. Beberapa keadaan, seperti penggunaan sedatif, narkotik, atau alkohol, dan kelainan neurologis atau metabolik, dapat menyebabkan bradypnea. Sebaliknya, keadaan seperti peningkatan aktivitas fisik, infeksi, dan gagal jantung kongestif. dapat menyebabkan peningkatan kecepatan respirasi, yang disebut sebagai hiperpnea.
Terdapat tiga khas pola pernapasan abnormal yang harus diperhatikan pada pasien, yaitu pernapasan Cheyne-Stokes, Biot, dan Kussmaul. Pernapasan Cheyne-Stokes merupakan pola pernapasan cepat dengan sifat kresendo-dekresendo yang diikuti periode apnea. Pola pernapasan Cheyne-Stokes dapat ditemukan pada pasien gagal jantung, peningkatan tekanan intrakranial, dan overdosis narkotik
Pola pernapasan Biot merupakan peningkatan kecepatan dan kedalaman pernapasan konstan yang diikuti periode apnea dengan durasi yang berbeda-beda. Beberapa kondisi, seperti peningkatan tekanan intrakranial dan meningitis, telah dihubungkan dengan pola pernapasan Biot.
Pernapasan Kussmaul memiliki ciri khas peningkatan volume tidal dengan atau tanpa peningkatan kecepatan pernapasan. Pola pernapasan ini sering kali ditemukan pada pasien ketoasidosis diabetik dan gagal ginjal [1,2,4]
Bentuk dada abnormal dapat ditentukan melalui inspeksi struktur tulang iga dan tulang belakang. Pectus excavatum memiliki karakteristik depresi sternum, yang umunya terjadi pada sternum bagian setengah bawah. Sebaliknya, kelainan dinding dada dengan karakteristik protursi sternum disebut sebagai pectus carinatum.
Selain itu, gambaran peningkatan diameter anteroposterior, yang disebut sebagai barrel chest, merupakan gambaran normal pada anak. Namun, pada dewasa gambaran ini menunjukkan hiperinflasi dada akibat penyakit paru obstruktif kronik.
Beberapa kelainan juga dapat terlihat melalui inspeksi dada, seperti lesi jinak maupun ganas. Lesi lainnya, seperti luka parut akibat trauma atau bekas operasi dan ginekomastia juga dapat ditemukan pada inspeksi dada.
Lesi spider naevi, yang ditandai adanya gambaran kumpulan pembuluh darah yang menyerupai sarang laba-laba, dapat ditemukan pada dada. Hal ini umumnya menunjukkan adanya perubahan hormon estrogen atau penyakit hati seperti sirosis atau gagal hati. [1,2]
Pada palpasi pemeriksaan fisik dada dilakukan pemeriksaan taktil fremitus dan ekspansi dada. Selain itu, deteksi abnormalitas, seperti massa atau krepitus tulang juga dapat dilakukan dalam pemeriksaan palpasi dada.
Taktil fremitus dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi perubahan intensitas vibrasi yang diciptakan saat pasien berbicara yang mengindikasikan adanya proses patologis pada paru. Berikut ini merupakan prosedur pemeriksaan taktil fremitus:
Peningkatan taktil fremitus mengindikasikan adanya jaringan paru yang lebih padat, seperti konsolidasi akibat pneumonia. Sedangkan penurunan taktil fremitus mengindikasikan adanya udara atau cairan pada ruang pleura atau penurunan densitas jaringan paru, seperti pada asthma atau penyakit paru obstruktif kronik.
Pada pasien normal akan ditemukan dada bergerak secara simetris. Apabila terdapat penurunan ekspansi dada unilateral, maka kemungkinan terdapat patologi pada daerah dada tersebut, seperti pneumothorax, efusi pleura, atau pneumonia. Penurunan ekspansi dada secara bilateral dapat menunjukkan kemungkinan terdapat asthma atau penyakit paru obstruktif kronik.
Denyut apeks jantung umumnya dapat ditemukan pada intercostals space 5 pada garis midklavikula. Tidak ditemukannya denyut apeks jantung dapat disebabkan oleh keadaan fisiologis seperti apeks jantung yang terletak pada belakang tulang rusuk, ataupun kondisi patologis seperti efusi pleura, efusi perikardial, dan emfisema.
Lokasi apeks jantung juga akan berpindah lebih ke bawah dan lateral pada pembesaran ventrikel kiri. Apeks juga bisa menjadi lebih lateral pada pembesaran ventrikel kanan jantung. Apabila amplitudo denyut apeks jantung terasa sangat kencang dan memanjang, maka hal tersebut disebut sebagai heaving apex yang dapat disebabkan oleh hipertrofi ventrikel. [3,7,10]
Perkusi dilakukan untuk mengetahui area di bawah lokasi yang diperkusi berisi jaringan paru dengan suara sonor, berisi cairan dengan suara redup, berisi padat atau darah dengan suara pekak, atau berisi udara dengan suara hipersonor. Berikut ini merupakan teknik perkusi:
Selain itu, perkusi dada juga dapat dilakukan untuk menentukan batas-batas jantung. Batas jantung kiri umumnya terdapat pada intercostal space (ICS) 4-6 linea midklavikularis kiri dan batas kanan jantung pada linea parasternalis kanan. Batas atas jantung umumnya terdapat pada ICS 2 kanan linea parasternalis kanan. Berikut ini merupakan prosedur perkusi dalam menentukan batas jantung kiri dan kanan pasien :
Auskultasi dada dilakukan dengan stetoskop dan dilakukan pada saat inspirasi dan ekspirasi paksa. Secara umum, bagian stetoskop yang digunakan untuk auskultasi adalah diafragma karena bagian diafragma lebih baik dalam menangkap suara nada tinggi Pemeriksaan auskultasi dada dapat digunakan untuk mendengar suara paru maupun suara jantung. Auskultasi dada lebih baik dilakukan pada suasana sunyi.
3a8082e126