Rumah Pramoedya Ananta Toer

0 views
Skip to first unread message

Armonia Bunda

unread,
Aug 4, 2024, 6:07:04 PM8/4/24
to powsmaworkpon
Kirakira dua puluh lima tahun lalu, saya berkunjung ke rumah sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya bertandang ke sana bersama kawan saya, Amsar A. Dulmanan. Saya, saat itu, masih seorang aktivis yang terpukau oleh buku-buku Marxisme dan bacaan-bacaan kiri.

Hampir dua jam saya berada di rumah Pram, mendengar banyak kisah dari dia, sebagian besar mengenai pengalamannya yang amat pedih di Pulau Buru, bagaimana proses lahirnya novel tetralogi Pulau Buru yang masyhur itu, serta perasaan marah dan sakit yang ia rasakan karena seabrek dokumen penting mengenai sejarah dan sastra Indonesia yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun dihancurkan oleh tentara pada zaman Orba dulu.


Hari ini, Minggu, 12/1/2020, dalam perjalanan dari Rembang ke Kediri, saya, bersama Mbak Admin Ienas Tsuroiya, mampir ke rumah adik Pramudya, yaitu Soesilo Toer. Niat untuk dolan ke rumah Pak Soes muncul saja secara tiba-tiba setelah saya memasuki kota Blora. Tak sulit mencari rumahnya, karena info memgenainya banyak bertebaran di Google.


Kebetulan yang menakjubkan adalah bahwa kakek Pram dan Pak Soes berasal dari Pare, Kediri. Kakek mereka, yaitu Imam Bajuri, adalah seorang penghulu. Bapaknya Pak Soes, yaitu Mastoer, juga menikah dengan seorang puteri penghulu di Rembang. Jadi, Pram dan Soesilo Toer adalah orang-orang dengan darah penghulu yang kuat.


Saya katakan suatu kebetulan, karena saya sedang menuju ke Kediri dan tiba-tiba mampir di rumah Pramoednya Ananta Toer yang ternyata memiliki darah seorang penghulu dari Kediri. Di perjalanan ke Kediri, saya merenung sambil tersenyum: benar-benae kebetulan yang ajaib.


Hari ini 6 Februari 2023 merupakan hari ulang tahun ke-98 sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Untuk memperingatinya, digelar bakti lingkungan pramis dengan bersih-bersih di halaman rumah masa kecil Pram.


"Pagi ini kita lakukan kerja bakti, bersih-bersih. Ada dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup) itu tim satgas saber sampah," jelas anggota Lembaga Konservasi Lingkungan Hijau Blora Indonesia, Eko Arifianto, saat diwawancarai di lingkungan rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer, Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Senin (6/2/2023).


Adapun yang terlibat dalam kegiatan ini selain Lembaga Konservasi Lingkungan Hijau Blora Indonesia dan DLH Blora, dari kelompok para pecinta karya-karya Pramoedya Ananta Toer (Pramis) dan serta Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) sebagai tuan rumah.


"Tujuan ke depan kita mencoba membumikan apa yang menjadi pemikiran Pramoedya Ananta Toer, yaitu terkait semangat membangun negeri salah satunya dengan menjaga lingkungan agar tetap lestari dan bersih," terangnya.


Sementara itu, adik Pram, Soesila Toer (86) mengaku tidak ingat dengan ulang tahun kakaknya. "Tadinya saya kaget kok ada kayak gini, saya sendiri lupa kalau Pram hari ini lahir," ucapnya yang kerap disapa Mbah Sus ini.


Rumah masa kecil Pram, lanjut Sus, dibangun tahun 1923 dan rampung dikerjakan tahun 1925. Sus mengatakan, ayahnya yaitu Mastoer mendirikan sekolah Institut Budi Utomo yang saat ini menjadi SMPN 5 Blora.


"Iya, ini rumah masa kecil Pram dibangun tahun 23 (1923), jadi tahun 25. Pram lahir bukan di sini tapi di Jalan Gerdu Grenduwo. Ketika (rumah) jadi tahun 25 Pram pindah ke sini. Sampai tamat SD Institut Budi Utomo sekolah bapaknya. Dulu itu sampai Kelas VII," tambah Sus pemulung bergelar doktor ini.


Berdasarkan pantauan di lokasi sejumlah tim gabungan membersihkan sampah di halaman rumah Pramoedya yang saat ini dirawat oleh adiknya yaitu Soesila Toer. Tim pembersih sampah ada yang menyabit semak-semak, ada juga yang menyapu, membersihkan sampah plastik yang sudah membusuk, juga ada membersihkan rumput dengan alat pemotong.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages