FYI: dapet dari milist tetangga
************************************
Kartini dan Tengkulak Nasionalisme
Oleh: Dandhy D Laksono ;
dee...@yahoo.com
Raden Ajeng Kartini di Jepara jangan-jangan tak mengenal Cut Nyak Dien
sebaik dia mengenal Booij-Boissevain, Van Zeggelen, atau Estelle
Zeehandellar; sahabat pena tempatnya bercerita tentang diskriminasi
yang dialami perempuan Jawa.
Andaipun Kartini berkirim surat kepada Cut Nyak Dien, pastilah sulit
berbalas. Sebab, saat putri ningrat ini baru menikmati dihapusnya
tradisi pingit (1900) atas perintah Ratu Wilhemina, Cut Nyak Dien sudah
menggantikan Teuku Umar, suaminya, memimpin gerilya di belantara Aceh.
Dia bahkan sudah dua kali menjanda, jauh sebelum Kartini dipaksa kawin
dengan Bupati Rembang.
Entah apa yang membuat Kartini tak menulis surat ke perempuan-perempuan
pejuang di tanah air seperti halnya kepada nonik-nonik Belanda
terdidik. Padahal, Pati Unus yang sama-sama asal Jepara pernah
bertempur bersama kerajaan nusantara lain, menghadang Portugis di
Malaka (1513).
Tapi sejarah Indonesia terlanjur mencatat surat-surat Kartini sebagai
tonggak perjuangan emansipasi perempuan. Sejarah yang dibuat Jakarta,
sepertinya enggan menoleh terlalu ke belakang, saat Laksamana
Malahayati memimpin 2.000 pasukan Inong Balee mengacaukan barisan
Frederic Houtman pada 1599 di pesisir Banda Aceh. Peristiwa ini terjadi
300 tahun sebelum Kartini berkeluh kesah tentang tertindasnya perempuan
di Jawa.
Lalu di masa Indonesia ‘modern’ tahun 1999, (lagi-lagi di Jawa) orang
meributkan boleh tidaknya seorang perempuan menjadi presiden, hanya
karena ingin mengganjal Megawati Soekarnoputri. Sementara di Aceh abad
ke-17, Ratu Safiatuddin sudah memerintah disusul Ratu Nur Alam
Nakiatuddin, Inayat Zakiatuddin, dan Kumala Syah.
Itu belum termasuk 16 perempuan dari 73 orang yang duduk di Majelis
Mahkamah Rakyat (parlemen) antara tahun 1641-1675, jauh sebelum para
aktivis LSM di Jakarta menuntut kuota 30 persen keterwakilan perempuan
di DPR dengan rujukan gerakan emansipasi yang ‘diimpor’ dan bukannya
dari ‘produk lokal’.
Pemunculan ikon Kartini dan kampanye emansipasi di awal abad ke-20
sejatinya adalah buah dari strategi politik penyelamatan muka
pemerintah Belanda kepada dunia internasional. Belanda yang sudah
ratusan tahun mengkoloni nusantara, tak kunjung melahirkan perubahan
dan modernitas.
Bandingkan dengan Inggris yang juga menjajah India namun sudah
melahirkan tokoh-tokoh perempuan lokal seperti Pandita Ramabai yang go
internasional. Maka selamatlah wajah politik kolonial Inggris dari
tudingan penghisapan dan pembodohan negeri jajahan. Sementara reputasi
Belanda di Indonesia hanya sebatas tengkulak pala, lada, kopi, dan gula.
Dan tak ketinggalan: budaya pergundikan atau nyai.
Karena itu tak heran jika JH Abendanon, mantan Direktur Departemen
Pengajaran dari kubu liberal di Nederland, berinisiatif menerbitkan
surat-surat Kartini pada 1911 dalam sebuah buku berjudul Door
Duisternis tot Licht, yang diterjemahkan secara literal menjadi Habis
Gelap Terbitlah Terang. Ikon Kartini lalu dirangkai dengan kebijakan
Politik Etis (balas budi) dari Nederland kepada jajahannya, Hindia
Belanda.
Tentu saja Kartini yang bergerak di bidang sastra, bukan pepesan
kosong. Meski tak melakukan gerakan ‘konkret’ seperti Dewi Sartika yang
membuka sekolah rakyat di Jawa Barat, pemikiran Kartini telah menjadi
inspirasi gerakan perempuan di zamannya, hingga momentum Kongres
Perempuan I, 22 Desember 1928. Dari situlah tanggal Hari Ibu
ditetapkan, bukan adopsi dari perayaan Mother’s Day hasil impor.
Yang patut disayangkan, mengapa pemerintah hanya menggembar-gemborkan
Hari Kartini setiap tanggal 21 April yang notabene diambil dari tanggal
lahir satu tokoh pahlawan saja. Departemen Pendidikan dan para
menterinya di masa Orde Baru tentu harus menjelaskan sebelum orang
berpikir bahwa ini cuma politik jawa-centris –atau orang sudah berpikir
demikian?— di masa Soeharto berkuasa.
Politik yang memodifikasi strategi kolonial Belanda di awal abad 20.
Padahal, biasanya pemerintah cenderung mempahlawankan mereka yang
berjuang secara fisik, seperti Diponegoro, Hasanuddin, Imam Bonjol,
Pattimura, Sudirman, Oerip Soemohardjo, atau Bung Tomo, dibandingkan
misalnya Tirto Adhi Suryo (perintis pers).
Lantas mengapa ikon untuk pahlawan perempuan bukan laskar juga seperti
Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutiah, atau Christina Martha Tiahahu?
Mengapa saat menyebut pahlawan perempuan, justru yang dimajukan adalah seorang sastrawan. Bukan seorang petarung di mandala.
Institusi TNI sendiri tak pernah memberi nama kodam-kodamnya dengan
nama pahlawan perempuan, betapapun heroisme mereka mengalahkan kaum
pria di masanya.
Alam berpikir patriarki tanpa kita sadar tumbuh membiak dalam benak kita.
Nasionalisme & Militerisme
Hal itu biasanya terjadi karena kita sering merancukan antara
nasionalisme, patriotisme, dan kemiliteran. Tafsir atas nasionalisme
selama Orde Baru memang dimonopoli militer dan diarahkan ke
simbol-simbol aktivitas militer.
Rezim Soeharto, misalnya, tetap dianggap nasionalis karena menumpas
separatisme di Aceh, Papua, dan Timor Timur demi NKRI, meski memberikan
banyak sumur minyak dan konsesi pertambangan kepada
perusahaan-perusahaan asing.
Begitu juga dengan pemerintahan Megawati Soekarnoputri yang 'teruji'
ke-NKRI-annya karena memberlakukan Darurat Militer di Aceh untuk
menumpas GAM, meski di saat yang sama, pemerintahannya melego Indosat,
LNG Tangguh, atau mengekspor gas Arun ke luar negeri, di saat industri
dalam negeri sedang kesulitan pasokan.
Nasionalisme Indonesia memang penuh paradoks. Dalam aspek
sejarah saja, pemerintah menyembunyikan fakta bahwa sepanjang masa
penjajahan, banyak anak bangsa yang justru mendukung Belanda. Di
dinding Kerkhof di kota Banda Aceh, tertulis 2.200 nama serdadu Belanda
yang tewas di medan laga. Tapi bila diperhatikan secara seksama,
nama-nama itu tak hanya milik orang-orang bermata biru dan berambut
jagung, seperti Wiederholt atau Wetering. Tapi juga nama-nama jawa
seperti Soewadi, Raden Nembi, Kartopawiso, atau Lalawi.
Tentara KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) yang dibawa
Mayjen Kohler dari Batavia ke Aceh pada 1873 sejatinya memang terdiri
dari orang-orang Jawa, Maluku, dan Sunda. Tapi di buku-buku pelajaran
sekolah versi Depdibud atau Depdiknas, tak ada penerbit yang menyebut
bahwa 82 persen tentara KNIL adalah bangsa kita sendiri yang sebagian
besar bergabung karena motivasi ekonomi.
Demikian juga halnya dengan Divisi Marsosse (Marechaussee) yang
terkenal kejam. Tak ada kurikulum pemerintah yang mengajarkan kepada
murid SD bahwa gagasan pembentukan Marsose justru dari seorang pribumi
bernama Muhammad Arif, putra Minang berprofesi jaksa yang bertugas di
Aceh.
Kejujuran memang menyakitkan dan memalukan. Apalagi bila
generasi muda kita tahu bahwa pada tahun 1929, serdadu KNIL yang
mencapai 37.000 orang itu ternyata 45 persennya adalah orang Jawa.
Disusul orang Belanda sendiri (18 persen), lalu Manado (15 persen) dan
orang Ambon (12 persen).
Ketika untuk pertamakalinya KNIL dikirim ke Aceh pada 1873, Kohler
membawa 15.100 prajurit pribumi, sedangkan prajurit Eropa hanya 11.500.
Itu semua tak ada di kurikulum sejarah versi pemerintah.
Namun bila ada buku pelajaran sejarah yang tak mencantumkan PKI sebagai
dalang peristiwa 65, maka Kejaksaan Agung melarangnya, atau masyarakat
dari kelompok tetentu, membakarnya.
Orang Indonesia sepertinya lebih malu disebut komunis, daripada disebut
antek kolonial. Padahal, manuver kaum komunis, terjadi hanya dua kali
saja: 1948 dan 1965. Dan mereka sudah membayarnya dengan mahal,
termasuk anak cucu yang tak berdosa. Sementara Belanda telah membuat
kesengsaraan selama 350 tahun dari Merauke hingga Sabang. Tapi tak ada
keturunan KNIL yang KTP-nya diberi tanda: EK (eks KNIL).
Mantan KNIL bahkan menjadi presiden kita selama 32 tahun.
Premis-premis di atas tentu hanya simplifkasi dari kompleksnya realitas
dan provokasi logika berpikir belaka. Tapi dari permainan logika diaduk
fakta ini, kita bisa bercermin bahwa bangsa ini memang tidak konsisten
dan kerap memperdagangkan jargon-jargon nasionalisme.
Padahal, di Jakarta sendiri nasionalisme sudah lama bangkrut dan tinggal jadi komoditi politik belaka.
Sejak menjadi presiden pada 1967, hingga turun tahta pada Mei 1998,
sudah 30 kali Soeharto memimpin upacara kenegaraan 17 Agustus. Tapi
setelah lengser, upacara 17 Agustus 1998 pun tak dihadirinya. Padahal,
Sekretaris Negara selalu mengundang mantan presiden dan keluarganya.
Begitu pula dengan Presiden Gus Dur. Setelah turun tahta, Juli 2001,
alih-alih datang ke Istana, pada 17 Agustus tahun itu, Gus Dur malah
menggelar upacara tandingan di kediamannya di Ciganjur dan di sanalah
lagu Garuda Pancasila dipelesetkan. Padahal, aktivis KontraS, Ori
Rahman, pernah digebuki anggota Pemuda Panca Marga karena dianggap
gagal ‘tes nasionalisme’ gara-gara tak hafal lagu Indonesia Raya.
BJ Habibie juga sama saja. Alih-alih ikut upacara 17 Agustus di jajaran
bangku bekas presiden, sejak dipecat MPR pada 1999, dia bahkan tak
tinggal di negaranya sendiri dan memilih hidup di Eropa dengan berbagai
alasan.
Megawati juga setali tiga uang. Barangkali karena yang menjadi
inspektur upacara (presiden) adalah bekas anak buahnya, ketua umum
partai nasionalis itu tak pernah sekali pun menghadiri upacara 17
Agustus, baik tahun 2005, 2007, 2008, dan hampir pasti 2009 (kecuali
barangkali menang pilpres).
Kita akan lihat, apakah setelah tak menjabat menjadi presiden, Susilo
Bambang Yudhoyono masih akan ikut upacara 17 Agustus dan duduk di
bangku undangan.
Tentu jawaban para bekas presiden dan pendukungnya bisa seperti ini:
“Ah, nasionalisme kan tidak hanya diukur dari upacara bendera saja.”
Di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh (2003-2005), orang bisa
celaka hanya gara-gara tidak ikut upcara bendera karena dianggap tidak
NKRI. Harga yang mahal harus mereka bayar untuk merayakan
‘nasionalisme’ simbol ala Jakarta ini.
Ada juga calon presiden yang menolak hasil amandemen UUD 1945 dengan
alasan nasionalisme, sementara ketika konstitusi itu sedang dibahas
antara 1999-2004, dia sedang sibuk berbisnis dan hidup di Timur Tengah
(mungkin karena khawatir terimbas gerakan reformasi yang menuntut agar
kasus HAM masa lalunya diusut). Kini dia kembali dan banyak menjejali
publik dengan iklan kemandirian bangsa dan sentimen anti-asing.
Belajar dari catatan-catatan di atas, pemilih dalam pilpres nanti
agaknya perlu jeli terhadap barang dagangan para tengkulak
nasionalisme, yang hanya menjadikan gagasan luhur itu sebagai komoditi
politik untuk meraih suara, sembari mendiskreditkan pihak lain dengan
stigma sektarianisme.
Nasionalisme bukan monopoli jenderal (apalagi pensiunan) atau politisi sipil. Dan bukan pula monopoli jenis kelamin tertentu.
Selamat Hari Kartini (bagi yang merayakan)
**********************************************
--
Best Regards,
Lulut Joni Prasojo
Ph + 62 81 337 071 500