KERENDAHAN HATI YOSUA
Ayat bacaan: Yosua 3:10
=======================
"Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.."
"Bisa
apa mereka tanpa saya?" kata seorang dosen di tempat saya mengajar pada
suatu ketika. Ia sedang kesal karena merasa dikecewakan oleh kampus di
tempat kami sama-sama mengajar. Memang ia merupakan salah satu dosen
yang baik dalam mengajar, dan saya pun menyayangkan terjadinya
peristiwa yang membuatnya kecewa seperti itu.
Terkadang ketika kita
kesal atau emosi, kita lupa untuk mengontrol kata-kata yang keluar.
Seperti teman dosen ini, memang dia kecewa, tapi kata-kata yang keluar
tidaklah baik untuk dikatakan. Ketika kita diberkati dengan talenta
tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dalam pekerjaan, adalah
pantas jika kita syukuri.
Namun jangan lupa, bahwa semua itu merupakan
anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri.
Kenyataannya ada banyak orang yang lupa diri ketika sudah sukses, dan
mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. Tentu
saja kita bekerja keras, berusaha dan belajar untuk bisa mencapai suatu
tingkatan tertentu yang baik, tapi jangan lupa bahwa semua itu tetap
merupakan berkat dari Tuhan. Memang apa yang dikatakan teman dosen saya
itu merupakan luapan kekesalan, tapi jika tidak hati-hati, kita bisa
terjerumus ke dalam kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan.
Nasihat untuk rendah hati telah berulang kali diingatkan kepada kita.
Kepada jemaat Efesus firman Tuhan disampaikan lewat Paulus seperti ini:
"Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Kepada jemaat Filipi dikatakan "..tidak
mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya
hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih
utama dari pada dirinya sendiri" (Filipi 2:3).
Kepada jemaat Kolose berbunyi seperti ini: "Karena
itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan
dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati,
kelemahlembutan dan kesabaran." (Kolose 3:12).
Ada banyak lagi nasihat untuk rendah hati, dan ini penting bagi kita, karena "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus
4:6, 1 Petrus 5:5).
Ada banyak orang yang terjatuh dalam dosa
kesombongan setelah sukses, karenanya ketika kita mulai menapak naik,
nasihat untuk rendah hati ini harus selalu kita ingat.
Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar salah satunya
lewat sikap Yosua. Apa yang terjadi pada Yosua tidaklah kecil. Ia
ternyata dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa
Israel. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula
ketika ia masih menjadi abdi Musa. Lalu Yosua pun dipilih Tuhan untuk
menggantikan Musa. Ini sebuah kehormatan yang sangat besar. Yosua bisa
menjadi sombong karenanya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda
kesombongan sama sekali.
Mari kita lihat sepenggal kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa
Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum
memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. "Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau." (ay
7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan
menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan
menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai
Yordan.
Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun segera
menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel. Tapi perhatikan apa
yang dikatakan Yosua kepada bangsa Israel. "Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu
dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het,
orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu
dari depan kamu." (ay 10).
Perhatikan, Yosua tidak berkata
"lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan
namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian.." Yosua tidak
berkata, "akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan
jika kalian selamat itu semua berkat saya." Tidak, sama sekali tidak.
Apa yang dikatakan Yosua adalah "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu."
Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan itu kepada bangsa
yang dipimpinnya, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah
hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya
bangsa Israel akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena
penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya
sendiri melainkan kepada Tuhan.
Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya
yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan
terjadi. Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan.
Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus
menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa
yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena
kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.
Ketika kita diberkati dan mengalami peningkatan, bersyukurlah kepada
Tuhan. Berikan kemuliaan hanya bagiNya dan jangan merebut hak Tuhan
dengan memegahkan diri sendiri. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita
dengan jelas
"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di
luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Dan lewat Paulus firman Tuhan berkata: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1 Korintus 1:31).
Bahkan jauh sebelumnya hal ini pun sudah diingatkan. "Beginilah
firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena
kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya,
janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau
bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan
mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan
dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah
firman TUHAN." (Yeremia 9:23-24).
Tanpa Tuhan kita bukanlah
apa-apa, karena meski kita wajib untuk bekerja keras dan melakukan
segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, semua itu tetap dimungkinkan
lewat anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada kita. Hari ini ketika anda
mengalami kemajuan dalam pekerjaan, promosi atau
peningkatan-peningkatan lainnya, berikanlah kemuliaan hanya untuk
Tuhan. Sudahkah anda memuliakan Tuhan atas segala anugerahNya atas diri
anda hari ini?
Belajarlah dari kerendahan hati Yosua dan jangan rebut kemuliaan yang menjadi milik Tuhan
PELAYANAN OIKUMENE FELLOWSHIP PASAR MODAL
(Renny Puspita)