(Carl Gustav Boberg, 1859-1940)
Bagaimana jika saat Saudara mau berangkat ke gereja lalu Saudara
bertemu dengan teman-teman dan mereka membujukmu untuk pergi
bersenang-senang di tempat lain? Bagaimana jika Saudara seorang pemuda
dan teman-temanmu memintamu membatalkan kegiatan gerejamu, “Ayolah kita bersenang-senang dulu, ada cewek-cewek cantik yang akan ikut kita, lupakan dulu kegiatan gerejamu itu”. Apa tanggapan Saudara terhadap ajakan teman-temanmu itu? Apakah hal itu akan sangat menggodamu?
Ada seorang pemuda yang mengalami godaan seperti itu. Dia sebenarnya
seorang Kristen ‘KTP’, yang pergi ke gereja hanya sebagai rutinitas
belaka. Tetapi saat dia berumur 19 tahun, dia mendengar ada seorang
pengkhotbah yang datang ke gerejanya dan pengkotbah itu memang pernah
menyentuh hatinya. Namun saat pemuda ini sedang berjalan kaki menuju
gerejanya, dia bertemu dengan beberapa temannya. Mereka mengajaknya
untuk pergi ke tempat lain dan bersenang-senang dengan beberapa pemudi.
Pemuda ini mengalami pergumulan batin yang cukup hebat. Tetapi akhirnya
dia tetap pada niatnya semula. Dia tidak mau mengikuti ajakan
teman-temannya, dan tetap pergi ke gereja.
Pemuda itu bernama Carl Gustav Boberg.
Dan firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkhotbah hari itu sangat
menyentuh hatinya.Setelah ibadah selesai, Carl Boberg berjalan-jalan
tanpa tujuan sambil terus memikirkan khotbah di gerejanya tadi. Sesampai
di padang rumput dia berlutut berdoa kepada Tuhan, mengakui
dosa-dosanya yang memalukan. Selama dua minggu, hatinya terasa berat,
karena dia belum merasa yakin, apakah Tuhan sudah mengampuni dosanya.
Lalu Carl Boberg mendengar seorang anak laki-laki sedang menghafalkan
ayat Yohanes 14:13 yang berbunyi : “Apa saja yang kamu minta dalam
namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak”.
Semakin sering ia mendengar ayat Alkitab itu, semakin dia percaya
isinya. Maka dengan penuh iman, Carl Boberg minta pengampunan dan
menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya. Seketika itu juga kedamaian
dari Allah memenuhi jiwanya.
Terciptanya ‘How Great Thou Art’
Carl Boberg lahir di tahun 1859 di Monsteras, daerah pantai selatan
Swedia. Ayahnya adalah seorang tukang kayu di perusahaan perkapalan.
Rumah pondok tempat keluarga Boberg tinggal menghadap ke pelabuhan.
Seperti halnya anak-anak Swedia pada abad itu, Carl Boberg selalu dibawa
ke gereja oleh orangtuanya. Dan jadilah dia seorang Kristen tapi hanya
sebatas Kristen ‘KTP’, sampai pada peristiwa pertobatannya di usia 19
tahun. Setelah bertobat, Carl Boberg merasa bahwa Tuhan memanggil dia
untuk melayani sepenuh waktu. Selama dua tahun berikutnya dia masuk
sekolah Alkitab, untuk mempersiapkan diri menjadi pendeta. Kemudian di
usia 22 tahun dia mulai berkhotbah. Pada awalnya ada orang yang
mengejeknya karena masih muda dan belum banyak pengalaman. Namun lambat
laun dia diterima sebagai hamba Tuhan yang berbobot.
Pada
musim panas tahun 1885, saat Carl Boberg berumur 26 tahun, pendeta yang
masih muda ini pergi dengan beberapa temannya menghadiri suatu
pertemuan di sebuah desa yang letaknya tiga kilometer dari tempat
tinggalnya. Saat mereka pulang, beberapa jam kemudian lagu ‘How Great
Thou Art’ ditulis Pdt. Carl Boberg. Di Refrain nya, berulang-ualng dia
memuji kebesaran Sang Pencipta.Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu ?
Apa yang dilihat dan didengar serta dirasakan oleh Carl Boberg menjelang
senja itu sehingga terdorong untuk memindahkan semua itu dalam bentuk
lirik lagu ? Buku Story behind The Song terbitan Yis Production
mendeskripsikan saat-saat menjelang ’lahir’ nya lagu itu.
Beberapa bulan kemudian, syair rohani tersebut diterbitkan dengan
memakai bahasa Swedia, diberi judul ‘O Store Gud’ yang artinya ‘O Great
God’ (Oh Allah Yang Besar) oleh surat kabar setempat. Setelah beberapa
tahun, seiring dengan berlalunya waktu, syair rohani itu tidak pernah
lagi terdengar. Tetapi beberapa tahun kemudian, saat menghadiri
pertemuan Kristen di daerah lain, Carl Boberg mendengar sidang jemaat di
situ menyanyikan syair rohani karangannya dengan memakai melodi lagu
rakyat Swedia.
Pada tahun 1891, saat Carl Boberg menjadi
penyunting surat kabar Kristen mingguan Witness of Truth (Saksi
Kebenaran), dia menuliskan syair rohaninya itu lengkap dengan melodinya.
Namun lagu rakyat yang telah dipasangkan dengan syairnya itu mirip
sebuah lagu dansa. Karena lagu itu memakai birama 3/4 dan iramanya
cepat. Syukurlah tiga tahun kemudian ada seseorang yang namanya tidak
dikenal, yang mengubah kembali not-not itu ke dalam birama 4/4, sehingga
melodi dan cara menyanyikannya lebih pantas bagi sebuah nyanyian
rohani.
Diterjemahkan Ke Bahasa Inggris
Pada tahun-tahun berikutnya, yaitu mulai tahun 1911 dan
seterusnya, Pdt. Carl Boberg menjadi anggota MPR di Swedia mewakili
daerahnya. Sedangkan syair rohaninya yang sudah menjadi lagu rohani
menjadi berkat dibeberapa tempat di negerinya.
Pada tahun 1923 ada seorang utusan Injil dari Inggris yaitu Stuart Hine,
yang pergi ke Uni Soviet bersama istrinya. Dalam pelayanan mereka
menemukan sebuah lagu rohani yang indah dalam bahasa Rusia. Berkali-kali
mereka menyanyikannya dalam pelayanan sebagai duet. Mereka tidak
menyangka kalau lagu itu aslinya berasal dari Swedia.
Stuart Hine kemudian menerjemahkan lagu tersebut ke dalam bahasa
Inggris, kemudian menyadur bait kedua dan ketiga agar lebih menyentuh
hati orang Kristen. Selanjutnya bait ke-4 nya dia buat sendiri setelah
mendengar kesaksian dari seorang pria Rusia yang terpisah dengan
isterinya akibat kerusuhan perang. Dulu istrinya percaya Tuhan Yesus,
tetapi dia tidak. Baru kemudian di pengungsian pria ini percaya Tuhan
Yesus. Sampai saat itu dia belum pernah bertemu istrinya lagi. “Tapi
saya percaya bahwa saat Tuhan Yesus datang kembali nanti... saya akan
diantar masuk Surga dan dengan penuh sukacita bertemu istri saya di
Sana”. Keyakinan pria itu oleh Stuart Hine dituangkan dalam bait
ke-4 lagu tersebut. Pdt. Carl Boberg sendiri melayani sebagai anggota
MPR sampai tahun 1924. Beberapa tahun kemudian dia mengalami sakit dan
pada tahun 1937 separuh badannya lumpuh. Beliau kemudian dipanggil Tuhan
di tahun 1940 pada usia 79 tahun. Meskipun beliau telah pulang ke rumah
Bapa, namun perjalanan syair lagunya yang akan menjadi berkat bagi
jutaan orang di seluruh dunia baru saja dimulai.
Pada
tahun 1949, Stuart Hine menerbitkan lagu karangan Carl Boberg itu dengan
judul bahasa Inggris ‘How Great Thou Art’ dan juga dalam bahasa Rusia.
Lagu itu dimuat dalam majalah penginjilan yang berpusat di Inggris. Lalu
para misionaris Inggris menyebarkan lagu itu ke negara-negara jajahan
mereka, termasuk India. Lagu tersebut mendapat sambutan yang hangat.
Surat-surat berdatangan meminta agar halaman majalah yang memuat lagu
itu dicetak ulang.
Dr. J. Edwin Orr,
dari Fuller Theological Seminary, mengadakan pelayanan di India. Dia
begitu terharu saat mendengar lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara
dari suku Naga yang berasal dari pedalaman, sehingga ia membawa lagu itu
ke Amerika. Ia menghubungi penerbit pujian Kristen, kemudian lagu itu
dipublikasikan tahun 1954.
Dr. Billy Graham,
penginjil yang terkenal di seluruh dunia, bersama timnya menemukan lagu
itu di tahun yang sama yaitu tahun 1954. Dia berkata : “Saya
menyukai lagu itu karena Tuhan yang dipermuliakan, bukan manusia. Saya
jarang campur tangan dalam urusan musik untuk KKR, tetapi saya minta
dengan khusus kepada rekan-rekan supaya lagu itu dinyanyikan sesering
mungkin”. Sejak itu lagu tersebut selalu disertakan dalam KKR Billy Graham di berbagai belahan dunia.
Perkembangan kepopuleran lagu ‘How Great Thou Art’ sangat luar biasa
saat itu. Pada tahun 1953, lagu tersebut belum masuk hitungan. Tetapi 20
tahun kemudian yaitu di tahun 1973, dalam angket yang menanyakan lagu
rohani terpopuler dan disukai anggota gereja, lagu tersebut menduduki
posisi nomor satu di seluruh dunia.
Bisa kita bayangkan,
andaikata Carl Boberg saat berumur 19 tahun mengikuti keinginan
dagingnya untuk pergi bersenang-senang dengan teman-temannya, tidak jadi
ke gereja dan tidak mengalami sentuhan Tuhan yang mengubah hidupnya,
mungkin dia tidak akan pernah mengarang syair lagu ‘How Great Thou Art’.
Syukurlah dia lebih mengikuti Roh Kudus dan memilih tetap pergi ke
gereja untuk mendengarkan dan meresponi Firman Tuhan yang mengubah
seluruh arah hidupnya. Melalui pilihannya itu dia telah meninggalkan
warisan yang terus menguatkan jutaan orang percaya berpuluh-puluh tahun
setelah kematiannya.
Bagaimana dengan pilihan hidup
Saudara setiap harinya? Ingatlah bahwa keputusan yang Saudara ambil
sangat penting, karena dapat memberi pengaruh dan warisan terhadap
banyak orang. Carl Boberg telah memilih yang tepat pada hari itu untuk
hidupnya, dan keputusannya tersebut membawa dampak bagi hidupnya, bahkan
menghasilkan karya lagu terbesar yang pernah ada di dunia ini. Lagu
‘How Great Thou Art’ tersebut kini dinyanyikan oleh ribuan bahkan jutaan
orang dan membawa kekaguman akan kebesaran Tuhan. (sumber : Praise #4).
(Buku ‘Story Behind The Song’ terbitan Yis Production tahun 2011
mengulas dengan lebih lengkap proses dikarangnya lagu tersebut berikut
foto-fotonya).
Lirik & Chord lagu ini dapat dilihat di SONGS
HOW GREAT THY ART
O Lord my God! When I in awesome wonder
Consider all the works Thy hand hath made.
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.
Refrain:
Then sings my soul, my Saviour God, to Thee;
How great Thou art, how great Thou art!
Then sings my soul, my Saviour God, to Thee:
How great Thou art, how great Thou art!
When through the woods and forest glades I wander
And hear the birds sing sweetly in the trees;
When I look down from lofty mountain grandeur
And hear the brook and feel the gentle breeze:
(Repeat Refrain.)
And when I think that God, His Son not sparing,
Sent Him to die, I scarce can take it in;
That on the cross, my burden gladly bearing,
He bled and died to take away my sin:
(Repeat Refrain.)
When Christ shall come with shout of acclamation
And take me home, what joy shall fill my heart!
Then I shall bow in humble adoration,
And there proclaim, my God, how great Thou art!
(Repeat Refrain.)
Terjemahan bahasa Indonesia (Reff nya saja) Lengkapnya di buku PW1Plus
Kami Memuji KebesaranMu
Kami memuji kebesaranMu
Ajaib Tuhan ajaib Tuhan
Kami memuji kebesaranMu
Ajaib Tuhan ajaib Tuhan
Halleluya. JBU.