Fwd: [inti-net] Operasi Sunyi Senyap di Tahun Politik

8 views
Skip to first unread message

Lukman Alu

unread,
May 14, 2013, 3:17:40 AM5/14/13
to planologi94


---------- Forwarded message ----------
From: Al Faqir Ilmi <alfaq...@yahoo.com>
Date: 2013/5/14
Subject: [inti-net] Operasi Sunyi Senyap di Tahun Politik
To:


 

Operasi Sunyi Senyap di Tahun Politik

by Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR RI

Menjelang tahun pemilu 2014 tensi politik akan meningkat dan suasana
akan semakin panas. Berbagai operasi untuk menjatuhkan lawan politik pun
digulirkan.

Operasi itu dapat dirasakan namun sulit
dibuktikan. Ibarat orang buang angin, kita hanya dapat mencium bau nya
tanpa bisa menunjuk hidung pemilik bau busuk tersebut.

Saya pertama kali mendengar informasi adanya satuan tugas operasi
intelejen yang dikendalikan orang-orang kuat dan tersohor pada
pertengahan tahun 2012. Sejumlah teman dari kalangan intelejen dan
informan sipil menuturkan bahwa ada kekuatan yang memainkan kegiatan
para-intelejen berkode ”Operasi Sunyi Senyap (SS)". Operasi itu
dilakukan dengan cara menghubungkan sejumlah politisi dengan kasus-kasus
yang berbau korupsi. Fitnah dan pembunuhan karakter lebih banyak
berperan di sana.

Syahdan, Operasi "SS" dilakukan untuk
menurunkan elektabilitas lawan politik (Parpol) pada Pemilu 2014. Jadi,
tujuan operasi ini ialah untuk menghancurkan partai politik yang
berpotensi menjadi ancaman bagi kekuasaan hari ini dengan cara membentuk
stigma buruk melalui kasus korupsi. Stigma jelek terlibat korupsi sama
seperti stigma ”kontra-revolusi” di masa demokrasi terpimpin dan stigma
”terlibat PKI” di masa orde baru.

Saya pikir, kalau memang
benar operasi tersebut ada, dan memang bernama demikian, nama itu
terbukti sangatlah tepat. Entah kebetulan atau apa. Nama itu
mengingatkan saya kepada partainya Adolf Hitler, SS Nazi, yang terkenal
dengan kelakuannya untuk menghalalkan segala cara. Persis sebagaimana
yang dilakukan para pelaku dan otak di belakang operasi tersebut.

Maka, sejumlah tokoh partai kemudian dinyatakan terjaring kasus
korupsi. Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan
Ishaaq, terjaring kasus suap impor daging. Wakil Ketua DPR dan Ketua DPP
Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, disebut-sebut terlibat kasus korupsi
pengadaan Al Quran. Nama Priyo sebetulnya hanya dicatut sejumlah pihak,
namun dianggaplah dia bagian dari kejahatan.Yang paling gila
adalah aksi ujug-ujug menguliti lagi kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Saya sangat setuju kasus BLBI diabongkar habis-habisan.
Tapi amat memuakan jika kasus ini dijadikan senjata politik belaka. Tak
tanggung-tanggung, dalam perkembangan di awal April 2013, Megawati
Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, Presiden RI kelima,
seakan-akan menjadi sasaran tembak. KPK menyatakan akan melakukan
penyelidikan terhadap penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) yang
membuat kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dihentikan
penyidikannya (SP3) oleh Kejaksaan Agung. Penerbitan SKL ini dilakukan
di masa kepresidenan Megawati.

Kasus-kasus tersebut hanyalah
sedikit contoh dari sekian banyak yang bisa diinventarisasi. Sekian
banyak contoh itu menegaskan bahwa ’operasi senyap’ itu hingga saat ini
pun terus berlangsung. Operasi itu juga dijadikan cara untuk membuat
kasus Century tetap tersaput kabut tebal. Dan membuatnya sebagai
persoalan menggantung yang diharapkan kian lama akhirnya akan dilupakan
orang.

Kita juga merasakan ada tangan-tangan kuat yang tak
terlihat terus berupaya mengkriminalisasi pihak-pihak yang hingga saat
ini tetap menuntut penyelesaian tuntas kasus Century. Kekuatan hitam itu
tampak jelas menginginkan agar perjuangan membongkar skandal keuangan
terbesar pasca reformasi itu berhenti. Mereka selalu menggelar
serangkaian operasi sunyi, agar kasus Century berhenti berbunyi.

Sejak Semula Sunyi Senyap

Kita tentu masih ingat, perilaku serba-sunyi senyap juga tampak sejak
awal pengucuran bailout Bank Century. Semua terkesan penuh intrik,
seperti sengaja disaput kabut. Bahkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar
sendiri kemudian sadar adanya keanehan manakala menghadiri undangan
rapat yang digelar di Istana, beberapa pekan sebelum bailout tersebut
dicairkan.

Rapat dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono itu dihadiri para pejabat tinggi negara, terutama yang terkait
pengelolaan keuangan negara kala itu. Ada Ketua BPK Anwar Nasution,
Jaksa Agung Hendarman Supandji, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso
Danuri, Kepala BPKP Didi Widayadi, dan Gubernur BI Boediono. Antasari
juga mengingat hadirnya beberapa anggota kabinet, meliputi Menko
Polhukam Widodo AS, Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, serta
Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa. Juru Bicara Presiden Andi
Mallarangeng dan staf khusus Denny Indrayana juga hadir.

Namun belakangan Antasari sadar ada figur penting yang disadarinya alpa dalam rapat tersebut. Wapres Jusuf Kalla.

Tampaknya Kalla memang sengaja tidak diundang. Kehadirannya rupanya
disadari pihak-pihak yang berkepentingan mengakali kebijakan untuk
menguras dana negara dengan memanfaatkan kondisi krisis global akan
mendapat tantangan.

Bukan apa-apa, sejak semula Kalla yang
sadar akan ketidakbergunaan program itu memang menolak tegas apa yang
disebut 'blanket guarantee' tersebut. Bagi sang tokoh publik tersebut,
kebijakan negara untuk selalu menalangi bank-bank yang bangkrut karena
kebodohan pengelolaan atau kelicikan itu bukan hanya tidak mendidik.
Cara itu, selain diskriminatif juga merugikan rakyat banyak, pemilik
sebenarnya dana-dana negara.

Menurut Kalla, saat itu dirinya
ditemui empat menteri, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,
Menteri Keuangan, Menteri Sekretaris Negara, dan Menteri Negara BUMN.
Para menteri ini meminta persetujuan "blanket guarantee" itu agar segera
diumumkan ke publik.

Masih segar dalam ingatan kita, Kalla
menolak keras permintaan itu karena menurutnya kebijakan seperti itulah
yang membangkrutkan negara tahun 1998. Kenapa semua kesalahan bank harus
ditanggung rakyat? Para pemilik bank itu lebih kaya dari rakyat. Kata
Kalla ketika itu.

Terkait bailout Century, Kalla juga
menyatakan adanya semacam ’operasi senyap’. Misterius. Bagaimana mungkin
untuk kasus sekrusial itu sebagai pejabat presiden--ketika SBY sedang
berada di AS-- dirinya tidak dilaporkan.

Lalu, Pada Januari
2010, beredarlah berita tentang testimoni Susno Duadji. Mantan
Kabareskrim ini mengaku, Bareskrim sudah menyidik kasus dugaan korupsi
bailout Bank Century yang mengarah ke Wakil Presiden Boediono. Munculnya
testimony ini dilatari oleh pemeriksaan keterangan oleh Pansus Bank
Century, pada Rabu 20 Januari 2010, terhadap Susno Duadji. Di sana,
Susno menyerahkan testimoni terkait sejumlah hal, antara lain mengenai
Century. Testimoni Susno ini juga menjelaskan, mengapa kasus skandal
Bank Century sampai jadi membesar.

Menurut Susno, sangat mudah
mencari kasus korupsi di balik bailout Bank Century. Tapi, Susno tidak
bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menyerahkan testimoninya tetapi
tidak bisa melanjutkan penyelidikan kasus korupsi Bank Century. Susno
kemudian mengaku, Bareskrim Polri kemudian memang tidak memprioritaskan
penyidikan kasus penyertaan dana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar
Rp 6,762 triliun karena alasan seperti ini:

"Ada di antara
anggota KSSK saat itu yang sedang mengikuti Pemilu Wakil Presiden,
kemudian menang, sehingga menunggu pelantikan Wakil Presiden, yang
tentunya kalau langsung disidik akan terjadi kehebohan. Walaupun
sebenarnya untuk membuktikan adanya korupsi dalam penyertaan PMS dari
LPS senilai Rp 6,762 triliun ke Bank Century tidak terlalu sulit."

Dalam testimoni itu juga, Susno menyatakan, ada dugaan pembiaran oleh
petinggi Bank Indonesia (BI) terhadap perilaku Robert Tantular, pemilik
Bank Century, yang melakukan berbagai tindakan melawan hukum. Menurut
Susno, BI tidak melapor ke polisi, seputar perilaku Robert, sampai Mabes
Polri kemudian menangkap Robert Tantular, pada 25 November 2008.
Itupun, pimpinan BI masih ragu dan menganggap belum cukup bukti,
sehingga mereka masih keberatan untuk dilakukan penangkapan." "Mereka
(pimpinan BI) menanyakan, apakah polisi sudah yakin Robert bersalah,"
ungkap Susno, dalam rapat Pansus Angket Century di DPR, Rabu 20 Januari
2010.

Laporan BI baru diberikan setelah Robert Tantular
ditahan, sekitar 2 hari kemudian. Padahal, ujar Susno, BI yang waktu
itu dipimpin Boediono, sudah mengetahui perbuatan jahat yang dilakukan
Robert Tantular sejak sebelum 2008.

Setelah itu, kita tahu nasib Susno setelah mengungkap kasus Century dalam testimoninya.

Begitulah. Petunjuk-petunjuk mejadi salah satu bukti yang akhirnya
membawa saya kepada kesimpulan bahwa kekuasaan terlihat gerah dengan
pengungkapan kasus Bank Century. Mereka tidak berpangku tangan dan
berdiam diri. Mereka melawan dengan segala cara.

Dan
pengungkapan kasus ini mungkin akan kian sulit. Mungkin banyak petunjuk
yang sudah hilang atau dihilangkan. Boleh jadi pula, ada sejumlah barang
bukti yang dimusnahkan. Siapa tahu, sudah ada banyak mulut yang
disumpal dan nyali yang dibikin gentar. Yang pasti, kasus ini seakan
dibuat terus semakin mengambang.

Setidaknya pula, sudah dua
orang yang mengetahui persis kasus ini, yang telah meninggal dunia. Pada
8 Agustus 2011, dari Rumah Sakit Premier, Surabaya, diberitakan jika
Boedi Sampoerna, mantan Presiden Komisari PT HM Sampoerna, meninggal
dunia. Kematian Boedi Sampoerna adalah pukulan bagi upaya pengungkapan
kasus bailout Bank Century. Boedi adalah deposan terbesar Bank Century,
dengan nilai Rp 2 triliun. Di saat yang hampir bersamaan, seorang Budi
lainnya, yang juga mengetahui persis proses bailout Bank Century, juga
meninggal dunia. Ia adalah Budi Rochadi, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Budi Rochadi meninggal di New York, pada Juli 2011. Semoga mereka
tenang di alam sana, kendati penuntasan kasus Century masih sebatas
wacana.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-...@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income
http://profitclickincome.blogspot.com/

NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
.

__,_._,___

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages