
Foto: Bondan W
Jakarta
- Di Jalan Kramat Raya, tidak jauh dari perempatan Senen-Kwitang, sekitar gedung
bioskop Rivoli, sejak lama dikenal sebagai tujuan utama bagi mereka yang
mendambakan nasi kapau di Jakarta. Nasi kapau adalah referensi untuk masakan
khas dari Kapau, sebuah desa di pinggiran Bukittinggi, Sumatra Barat. Setiap
nagari (desa) di Sumatra Barat selalu memiliki ciri kuliner khas masing-masing,
misalnya: itiak lado mudo daro Kotogadang, pangek pisang dari Kinari, randang
runtiah dari Payakumbuh, pauh ikan dari Pariaman, dan lain-lain. Demikianlah,
Kapau pun memiliki ciri khasnya.
Menurut informasi yang saya kumpulkan, ada beberapa lauk khas Kapau, yaitu:
gulai tambusu (usus sapi/kerbau diisi campuran telur, kentang, dan tahu) serta
gulai tunjang (lutut dan kikil sapi). Sayur nangka muda khas
Kapau pun beda, karena memakai tambahan rebung dan kacang panjang.
Sekalipun buka tiap hari -sejak petang hingga lewat tengah malam - tetapi
kawasan ini selalu ekstra ramai pada saat Ramadhan.
Puluhan lapak pedagang kudapan dan makanan tertebar di ruas jalan yang tidak
terlalu panjang itu. Beberapa meja makan dengan kursi-kursi ditata di atas kaki
lima. Siap menyambut para tamu yang akan berbuka puasa di sana.
Setiap penjual mempunyai hidangan andalan masing-masing. Misalnya, satu kedai
dianggap paling terkenal untuk gulai tunjang dan gulai tambusu-nya. Kedai yang
lain menampilkan urap dan ikan bilis balado sebagai sajian utama. Di tempat
lain lagi diantre orang yang ingin makan ayam bakar dan ikan bakarnya.
Masing-masing pelanggan sudah tahu apa yang akan mereka cari bila mereka
berkunjung ke salah satu lapak.
Percayalah, Anda akan kebingungan memilih makanan apa yang akan disantap untuk
berbuka. Semua yang tersaji di sana terlihat sangat menggiurkan. Bawal
panggang, ikan kembung panggang, dan ayam panggang yang tergantung-gantung tampak
bagai melambai-lambai. Berbagai panci berisi bermacam-macam gulai membuat liur
Anda mengembang di rongga mulut. Belum lagi dendeng batokok, sambal goreng
udang, rendang, dan belasan jenis masakan yang semuanya ingin dipilih. Petai
rebus, petai bakar, bahkan petai mentah yang bergantungan di sana pun berebut
minta perhatian.
Sepuluh menit menjelang saat Magrib, para pedagang semakin sibuk mempersiapkan
makanan untuk disantap di tempat. Para tamu sudah duduk manis menghadapi
segelas minuman panas, berbagai kudapan manis sebagai tajil, dan juga seporsi
nasi dan lauk-pauknya.
Suasana berbuka puasa di sudut Jalan Kramat Raya itu
memang sungguh meriah. Beberapa meja 'diduduki' oleh sekelompok warga keluarga
besar yang merayakan buka puasa dengan penuh keakraban. Bahkan orang yang belum
saling mengenal pun menjadi akrab setelah duduk semeja. Berbagai hidangan lezat
terus mengalir ke meja-meja panjang yang semakin dipadati pengunjung.
Begitu azan terdengar berkumandang, pengunjung segera membatalkan puasa dengan
minum air, diiringi berbagai kudapan yang banyak dijajakan di sana. Kudapan yang paling populer adalah lamang jo tapai dan bubur kampiun.
Kudapan khas Minang lainnya adalah lupis ketan, lapek bugih, serabi, jongkong,
keripik sanjai (dari singkong berbumbu pedas), dan karak kaliang. Onde mande,
lamaknyo!
Jangan lewatkan katupek katan yang khas Kapau, yaitu ketupat ketan berukuran
kecil yang dimasak dalam santan berbumbu. Ketupat ketan adalah versi rebus dari
lemang. Paling cocok ketupat ketan ini dipakai untuk makan itiak lado mudo yang
juga merupakan salah satu sajian populer di "Zona Buka Puasa Kramat
Raya" ini. Rata-rata, untuk berbuka puasa di sini, setiap orang
menghabiskan antara Rp 25-50 ribu – bergantung jenis dan jumlah lauk yang
diambil.
Para pedagang makanan di sudut Jalan Kramat Raya ini akan terus berjualan
sampai saat makan sahur. Selain untuk berbuka puasa, tempat ini juga ramai
dikunjungi orang untuk makan sahur pada dini hari.
Ramadhan kareem, saudaraku.
(Bondan Winarno)