Putut Trihusodo
(Sebuah pendapat Pribadi)
Putut Trihusodo. Selanjutnya saya singkat PTH. Pertama kali saya dengar nama ini dari sahabat senior kita di Stanplat AE Priyono. Suatu hari kami bertemu di rumah usaha Andy Yoes di Utan Kayu Jakarta Timur, 2 tahun silam. Waktu itu kami sedang memetakan kemungkinan menambah jaringan SDM asal Temanggung untuk memperkuat Stanplat. Mas AE menyebut nama putut sebagai wartawan Majalah Garta. Tentu kami tertarik dan waktu itu berharap segera bisa berkumpul untuk kerja bakti bersama memperkuat Stanplat yang waktu itu baru terbit satu edisi. Sebelumnya, nama PTH sebenarnya sayup-sayup pernah saya dengar dari teman-teman aktivis di Jakarta dan teman dari Majalah Gatra. Yang saya tahu waktu itu PTH adalah seorang pekerja pers yang "melek" pada politik, jurnalisme dan gerakan sosial. Ini dibuktikan dengan keterlibatannya di LSM Reform Institute.
"Naas", pertemuan dengan PTH tidak secepat
yang kami harapkan, padahal waktu itu sahabat kita Tri Agus juga sudah
mengenalnya. Tapi itu kemudian tidak jadi masalah karena cuma soal waktu. Beberapa bulan kemudian, PTH mengundang kami
bertemu di Restoran Nyam-nyam, mengajak bicara soal Stanplat sekaligus
membicarakan embrio kelahiran Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan (PIKATAN).
Ya, kemudian pertemuan di suatu malam dengan beberapa teman Stanplat itulah yang membuat PTH kenal dengan kita semua, bergabung dengan Stanplat, berkontribusi aktif dan serius mendorong kita semua. Sekalipun sampai detik ini saya tidak tahu apa gerakan yang membuat PTH tertarik banget dengan gerakan STanplat, itu tak pernah saya persoalkan. Apakah karena dia wartawan sehingga merasa perlu kontribusi kepada Stanplat? Atau apakah karena ia lebih tertarik pada gerakan sosial yang kita tawarkan waktu itu? Atau karena kedua-duanya? Entahlah, saya tak terlalu memikirkan.
Yang saya tahu tentang PTH dari pergaulan selama dua tahun terakhir ini bahwa dia seorang yang memiliki semangat sosial yang tinggi, bernalar intelektual, dan ingin memberikan kontribusi dengan rekan-rekan yang lebih muda agar semakin serius bekerja di Stanplat/PIKATAN.
Tiga hal ini yang menurut saya perlu disampaikan secara terbuka.
Semangat sosial PTH barangkali bagi dirinya sendiri tidak dirasakan, tapi sangat terasa bagi para pengelola Stanplat/PIKATAN. Bagi orang yang tahu resiko bergaul dengan para aktivis sosial masuk PIKATAN sebenarnya sangat "beresiko." Pertama akan banyak menguras waktu (yang mungkin akan dianggap tidak produktif secara ekonomi). Kedua, selain tenaga dan waktu masih harus rela keluar uang, entah transport, nraktir atau urunan kala keuangan organisasi membutuhkan biaya. PTH tidak pernah merewelkan hal ini. Bahkan ia merasa menikmati bergaul bersama dengan teman-teman yang lain.
Bernalar Intelektual. Bagi saya nalar intelektual PTH bukan dilihat dari jabatannya sebagai Wapimred Gatra melainkan pada artikulasi pemikiran yang dapat kita lihat dari tulisan-tulisan di Majalah Gatra. Jujur saya adalah pembaca Gatra, selain Majalah Tempo. Dugaan saya, sebagai wapimred PTH cukup memainkan peranan yang banyak dalam mendesain konten Gatra yang lebih menekankan visi kebudayaan ketimbang investigasi politik ala Majalah Tempo. PTH sangat kuat dalam visi kebudayaan. Ini adalah suatu modal besar seorang anggota Parlemen, sebab seorang politik yang baik menurut saya memang harus berangkat dari paradigma berpikir makro/general, baru kemudian masuk ke dalam bingkai spesialisasi. Sebagai calon politisi yang akan menghadapi banyak masalah, pendekatan kebudayaan adalah mutlak diperlukan saat ini. Pengalaman PTH sebagai wartawan adalah bekal tersendiri karena selama menjadi wartawan ia sudah bergaul dengan banyak orang. Di balik kelemahan (kecil secara umum) yang ada pada diri pekerja pers, biasanya seorang wartawan secara alamiah akan memiliki pengalaman pergaulan, loby dan dari situlah ia akan membentuk kepribadian di tengah-tengah keragaman banyak karakter manusia. Karena itu, PTH selain sudah diterpa oleh nalar intelektual melalui bacaan, ia juga sudah ditempa oleh pergaulan yang luas.
Kontribusi sosial PTH selain di Stanplat/PIKATAN juga sudah dibuktikan di lingkuangan pergaulannya. Mas AE barangkali lebih tahu soal ini. Kesadaran konstribusi secara sosial jelas sangat penting untuk menjadi politisi yang baik. PTH memiliki keberpihakan yang jelas. Sekalipun artikulasi bicaranya tidak meledak-ledak, namun saya sudah merasakan dengan jelas bahwa PTH memiliki sikap yang tegas, ya atau tidak, benar dan salah terhadap sesuatu. Modal sosial ini menurut saya menjadi lengkap ketika saya melihat PTH memang banyak memiliki modal kepemimpinan yang baik. Pengelaman memimpin majalah Gatra jelas akan menjadi modal sosial yang berguna baginya kelak ketika menghadapi banyak orang, terutama saat debat di parlemen.
Sebagai
seorang yang punya minat besar terhadap dunia politik saya merasa perlu
mendorong sahabat PTH untuk masuk parlemen. Kedekatannya dengan elit PDIP buat
saya adalah sisi lain yang sangat menentukan bagi masa depan PTH di Parlemen
maupun di Partai. Karena itu saya mendorong agar nanti setelah jadi DPR, ia
tidak nanggung posisinya hanya sebagai anggota DPR, melainkan juga menjadi
pengurus PDI Perjuangan. Politik butuh totalitas jika tidak ingin menjadi intelektual
yang selalu kalah bertarung mengeksekusi kebijakan.
Mas Putut, saya tidak bisa nyangoni apa-apa kecuali apresiasi ini. Majulah. Politik bukan barang kotor. Politik adalah alat paling efektif untuk mengubah keadaan. Indonesia 2004 dengan 2009 sudah mulai membaik, dan saya percaya akan semakin baik di masa mendatang. Tidak usah muluk-muluk dalam hal mengubah dunia Indonesia di tengah-tengah kebrengsekan ini. Cukuplah dengan berpijak pada paradigma "kontribusi." Kalau masing-masing individu kontribusi secara baik, niscaya kebaikan akan melimpah. Kalau Anda bukan putra daerah tentu saya tidak akan mengapresiasi secara khusus soal ini. Buat saya, karena Anda adalah putra daerah, maka kita pun perlu mendukung. Selama ini caleg-caleg non daerah asal nyaris tidak mengenal daerahnya, bahkan sampai mereka menjabat 5 tahun jadi DPR-RI. Karena itu tidak ada salahnya saya dan kami berharap dikau serius memperjuangkan daerah Jateng 6.
Selamat berjuang…..
Yang lain boleh mendukung PTH boleh tidak. Boleh optimis boleh pesimis. Ini pendapat pribadi saja. Bagi yang ingin mendapat apresiasi panjang, silahkan maju nyaleg, nanti kita apresiasi bersama. Mas papang tidak salah apresiasi, lah wong ora sido nyaleg.....haha....
Mas Khadzik malah nyaleg di Dapil Tuban Bojonegoro, ya tidak relevan kalau saya apresiasi di sini. Biarlah diapresiasi orang Tuban dan Bojonegoro.
Salaman
Faiz
NB:
=========================
Curriculum Vitae PTH
Nama
: Putut Trihusodo
Pekerjaan : Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan (MBM) GATRA
Alamat : Jalan Tanjung 14/Blok D nomor 6, Rancho Indah, Jakarta Selatan
Tempat dan tanggal lahir : Temanggung, 23 Juni 1959
Isteri : Bunga C. Kejora
Anak : Keningar Rindang Arum (07-08-1990), Katon M. Kanigara (29-10-94)
Pendidikan : SD Negeri 5 Temanggung lulus 1971
SMPN 2 Temanggung lulus 1974
SMAN Temanggung lulus 1977
Meteorologi Pertanian IPB (Institut Pertanian Bogor) lulus 2003
Sekolah Ilmu-Ilmu Sosial (SIS) Padi dan Kapas, Jakarta, 1989-1990
Pekerjaan :
Wartawan Majalah Tempo 1984-1994, menjalani tugas sebagai redaktur bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), lingkungan hidup, olah raga dan politik.
Wartawan Majalah GATRA 1994 - sekarang : pernah menduduki posisi sebagai redaktur bidang Iptek, lingkungan hidup, ekonomi-bisnis, dan redaktur bidang politik. Wakil pemimpin redaksi (wapimred) 2004-2004, redaktur senior (2004-2006) dan wakil pemimpin redaksi lagi sejak 2006 hingga sekarang.
Simposium dan lokakarya :
Bidang Biotechnology di Griffith University, Brisbane (Australia), 1988, satelit komunikasi di Markas Aerospatiale, Paris, 1990; satellite komunikasi di ArianeSpace HQ, Paris, 1991; Water Management di Munchen 1993; telephony internet di Bell Laboratories, New Jersey AS, 1998; Climate Change di Singapura 2001, dll.
Lain-lain :
Menjadi editor
di sejumlah buku.
Perkenalkan nama saya Muhammad Al Khadziq. Dahulu nama panggilanku KHADZIQ, tapi demi memudahkan konstituen mengingat namaku, maka panggilanku sekarang MUHAMMAD. SEBAGAI putra daerah Temanggung, saya juga berdoa semoga para putra daerah yang tahun ini "nyaleg" dapat tercapai cita-citanya. Memang idealnya, para wakil rakyat itu memang betul-betul merepresentasi rakyat. Jadi bagaimana akan merepresentasi rakyat jika asal daerahnya saja sudah beda. Ya... kalaupun pada akhirnya tidak benar-benar mewakili rakyat dalam arti yang sesungguhnya, minimal asal daerahnya sama dengan rakyat yang diwakilinya. AKAN halnya diri saya yang akhirnya "kleleran" sampai mencalonkan diri di Dapil Jatim IX dari Partai Demokrat, itu semua tentu ada ceritanya. Tapi jangan kaget. Di Bojonegoro dan di Tuban saya juga mengaku putra daerah. Setiap bertemu orang di sana saya selalu berpesan: UNTUK DPR PUSAT, PARTAIKU PARTAI DEMOKRAT, CALONKU CAK MUHAMMAD, ASLI PUTRA DAERAH.... (maksudnya putra daerah temanggung gitu....) LHA saya kan ngga bohong to kalau di Bojonegoro dan di Tuban saya mengaku sebagai putra daerah. Wong saya tidak menyebut secara spesifik putra daerah mana. JADI intinya, setiap warga Temanggung wajib hukumnya mendukung caleg yang asli Temanggung. Baik yang "nyaleg" di Temanggung maupun di luar Temanggung. Bahkan kalau ada putra Temanggung yang "nyaleg" lewat Partai UMNO di Malaysia, atau partai Thai Rak Thai di Thailand, atau Partai LDP di Jepang, atau Partai Komunis di China, menurut saya wajib didukung juga.... --- Pada Kam, 9/10/08, Faiz Manshur <nyon...@gmail.com> menulis: |
Ketika kita bicara tentang wakil rakyat, maka sangat menarik. Mengapa? karena kualitas wakil rakyat sangat menentukan bagaimana mereka dapat mewakili kita. Karena saya dengar dari milist ini kang Putut Trihusodo akan menjadi calon wakil rakyat, maka saya merasa perlu memberikan informasi apa adanya sejauh yang saya ketahui kepada masyarakat.
Sebelum usia 5 tahun, saya tidak mengenalnya. Namun setelah berumur 5 tahun dia masuk sekolah anak-anak di Taman Kanak-Kanak Pertiwi. Lokasinya sekolah tersebut berada disisi sebelah timur, lingkungan rumah dinas bupati Tmg saat ini, Tentu kondisinya sangat berbeda. Kantor Kabupaten Temanggung kala itu habis dibumi hangus, yang tertinggal adalah kandang kereta kuda, dua ruang. kandang kereta tersebut yang digunakan sebagai Taman Kanak-Kanak Pertiwi.
Putut Trihusodo anak baru TK Nol Kecil, duduk bersama anak-anak lainnya Bambang Pujo Waluyo, Harjono, Listiandari, Endri Suwasono Dekrita, Edy Darmono dll. Saat itu tahun 1964. Putut Trihusodo, seperti anak-anak yang lainnya, suka bermain tanah, mobil-mobilan dari batu, dan jika kelas dibersihkan maka menyusun kursi hingga tinggi merupakan keasyikannya. Bakat dan minat belum terlihat, semua berjalan apa adanya. Namun, kerapian pakaian dan kebersihannya menandakan bahwa dia dari keluarga yang terdidik. Sementara yang lainnya, termasuk saya, adalah anak-anak yang identik dengan anak-anak laskar pelangi.
Setalah 2 tahun menjalani pendidikan di Nol kecil dan Nol besar, maka pada tahun 1965 anak-anak dinyatakan tamat, dan tahun 1966 masuk di SD no 5 Temanggung. (SD ini terletak di belakang Rumah Dinas Bupati saat ini).Dulu SD 5 dikenal dengan nama SD Pungkuran, karena diungkurke (dibelakangi) Kabpaten. Sementara yang ada di depan kabupaten adalah SD 4 atau dikenal SD USDEK. Saat kelas 2 SD, seorang Putut Trihusodo telah mulai nampak bakatnya. Saat ini Putut Trihusodo nampak sebagai seorang anak yang cerdas dan berwawasa. Ketika jam istrirahat dia menjadi pencerita yang memiliki banyak pendengar setia. materi yang diceritakan antara lain Apollo, perang timur tengah, dan hal-hal lain yang bagi anak-anak belum menjadi hal yang menarik untuk dibaca. Kemampuan membacanya sangat baik, demikian pula kemampuan menceritakannya kepada orang lain. Bukan hanya itu, pelajaran berhitung, ping-lan-poro-sudo, dia kuasi dengan benar sehingga dia menjadi rujukan bagi
teman-temannya yang kesulitan dan terutama yang berpenyakit malas, seperti saya. Dia dapat dengan baik membedakan baik dan buruk,dan ibadahnya tertip. Kemampuan dasar ini nampaknya berhasil dipupuk dan dikembangkan hingga saat ini. Buktinya, dia bisa menjadi wartawan dari koran/majalah ternama (sejak Tempo hingga kini) dan menduduki jajaran Pimpinan Redaksi. Hal lain yang dapat kita ketahui adalah selama ini belum terdengar kabar miring darinya.
Saat ini kita membutuhkan wakil rakyat, tapi bukan sembarang wakil rakyat. Wakil rakyat yang kita butuhkan adalah yang cerdas, berwawasan luas, mempunyai kemampuan analisa, bisa membedakan baik buruk, bermoral baik, jujur, dan memikirkan rakyat kecil. Menurut hemat saya, Putut Trihusodo dapat merepresentasi persyaratan tersebut. Apapun partainya, siapapun pendukungnya, saat ini yang lebih penting adalah orang nya. Karena dia yang akan menjalankan peran sebagai wakil rakyat.
Terimakasih. |
Dari: Faiz Manshur <nyon...@gmail.com> |
|
|
|
|
|
|
|
|
| Dasar pak Muhammaaaaad, nek kelingan pas atahiyat nyebut Muhammadurrosululloh jadi gak jejek atine lha wong koyo ngono kok statemene rayuan! Koyo pas Suharto wae bar arep di ujek-ujek baru ada penambahan nama ben rodo amaaaaaaannn. MUHAMMAD SUHARTO! Ben terpujiiiiii. Rasah merajuuuuk, sopo wae sing arep kepingin dadi tukang plintar-plintiring ndonyo yo mesti sing kudu konsekwen! Huak kak kak aku ndaftar dadi tim sukses yo gelem. Latihan plintar plintir sing cantik! --- On Sun, 10/12/08, my landrover <landro...@yahoo.co.id> wrote: |