Rekan semua
Di hari-hari lembur saya mengedit dan menulis panjang melelahkan selama tiga bulan terakhir ini, saya mendapatkan satu pengalaman berharga, yakni sebuah kebutuhan akan penulisan masa lalu kehidupan personal.
Saya mendadak merasakan ini sebagai sebuah kebutuhan karena dua hal yang mendasar:
Pertama, saat saya sedang mengedit sebuah novel karya penulis ternama yang akan segera diterbitkan dalam bahasa Inggris, menyimpulkan bahwa naskah-naskah tentang kehidupan desa baik pada masa 1970an atau masa kecil saya, akhir 1970-1988 masih jarang dituliskan oleh orang Indonesia. Kisah kisah personal selama ini memang banyak betebaran di berbagai blog tetapi hasil pengamatan saya dan teman-teman penulis kebanyakan hanya bercerita tentang masa kini, sedangkan masa lalu mereka masih belum terlacak melalui tulisan-tulisan pribadinya.
Saya menyimpulkan ada pikiran bahwa penulisan sifatnya personal memang terkadang menjurumuskan pada sikap narsisme sehingga para penulis pun terkadang menghindari hal itu. Tetapi penulis seperti Andrea Hirata misalnya telah membuktikan, -dengan cara penulisan yang polos,- justru memiliki nilai lebih. Saya kira letaknya bukan masalah apakah persoalan pribadi itu tidak penting bagi orang lain, melainkan lebih bagaimana cara kita mengungkapkan disertai menjelaskan potret kehidupan sosial yang melingkupi kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu pembaca tidak sekadar dijadikan tong sampah keluh kesah atau cerita pribadi penulis, melainkan juga mendapat pemahaman tentang hal;-hal yang sifatnya lebih umum.
Kedua, kebutuhan menulis masa lalu ini dengan cara mengungkapkan pengalaman personal ini menurut saya sangat penting dilakukan untuk mengambarkan realitas sosial melalui laku/amal manusia, bukan sekadar melalui teropong ilmu pengetahuan yang justru sering membosankan itu. Laku personal ini memang terkadang dianggap tidak penting relevanasinya manakala isi tulisan tidak menyertakan hubungan pribadi penulis dengan lingkungan social. Buku diare misalnya, karena cenderung hanya tempat keluh kesah akhirnya secara umum kurang bermakna bagi orang lain.
Menurut saya, dengan banyaknya penulisan "pengalaman personal yang terkait dengan persoalan sosial secara umum" ini akan menjadikan kekayaan sejarah di Indoensia semakin banyak. Bahkan saya prediksikan, ketika penulisan bidang sosial Indonesia tetap minim sementara penelitian juga tak kunjung berkembang, penulisan personal akan menjadi solusi untuk mengenal dunia yang tidak pernah kita alami ini terus ditingkalkan oleh usia.
Saya sangat berharap jika di antara kita menulis pengalaman-pengalaman personal masa lalu, katakanlah pada tahun 1970an atau 1980an. Dari sisi sejarah, mungkin angka tahun ini belum terlalu tua, bahkan sangat muda. Kenapa demikian? Ya karena kita melihatnya dari sisi sejarah kehidupan masyarakat. Tetapi kalau kita melihat dari sisi sejarah hidup manusia, jelas rentang waktu 20-35 tahun adalah setengah umur manusia yang sangat disayangkan kalau dihilangkan dari sejarah.
Guru-guru sekolah dasar di Amerika, terutama bagian utara sudah sering mengajarkan agar siswanya memahami sejarah secara baik, bahkan ada materi khusus mingguan membuat laporan tentang kehidupan pribadi masing-masing anak. Bidang pendidikan di Amerika menyadari pentingnya seorang siswa bisa mencatat secara akurat, dan itu paling mudah dimulai dari catatan pribadi. Dengan banyaknya tulisan-tulisan personal yang di dalamnya memuat kisah kehidupan sekup kecil, keluarga, desa, sekolahan SD, SMP, atau SMA secara otomatis potret kehidupan desa tersebut akan terangkat ke permukaan, baik melalui media cetak, online, atau terbitan seperti Stanplat.
Sekian dulu…..
Saya harap ada yang memulai berani menuliskan hal-hal di atas.
Salaman
Faiz--