Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.
Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.
Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.
Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.
Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.
Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.
Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.
Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.
ATP Jembrana
Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.
ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.
Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).
Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.
Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.
Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.
Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.
Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya.
Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.
Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang
Biar aman dan cepet, kawinkan kelinci dengan sapi....hehe....
Sapi dan Kelinci adalah pilihan antara SBY atau JK. terserah.
Tapi kayaknya daging murni dari makasar, sebab calon yang lain agaknya sudah tergolong "manusia gelonggongan."
Kadar air yang tinggi menyebabkan bakteri tinggi, protein menurun.
Kelinci itu ternaknya orang cerdas, mesti pengalaman dan hobies. Keunggulannya modal kecil bisa jalan. Kambing/domba 3 ekor butuh 1,5 juta. Kelinci tiga ekor cukup 450ribu (kelinci kualitas biasa).
Kalau aku pilih kelinci dan Kuda. Pingin cepat duit, ambil kelinci. Pingin duit besar, ambil kuda.
Aku tak ternak uang wae........
faizPada 15 Mei 2009 08:26, Prasetyo O <pra...@gmail.com> menulis:
Aku njagoni Kelinci.
Alasannya:
Sapi bunting membutuhkan waktu 11 bulan. Masa menyusui 6 bulan terus
dikawinkan lagi. Jadi Sapi hanya bisa beranak 2 kali dalam 17 bulan.
Kelinci beranak dalam masa 3 bulan dan bisa lebih dari seekor. Dalam 6
bulan sudah punya anak banyak. Jadi putaran uangnya lebih cepat
kelinci. Namun ada hukum alam. Makin cepat beranak makin beresiko
mati. Sapi meskipun lambat namun jarang mati. Investasi di sapi lebih
aman dibanding kelinci. Oleh karena itu profit margin kelinci dibuat
tinggi untuk menutup resiko yang tinggi.
Babi lebih cepat lagi ketimbang kelinci.
Opo maneh tikus putih, lebih banter maneh !
Salam
Bpras
2009/5/15 AE Priyono <kala...@yahoo.com>:
> Wah ... diskusinya asyik tenan. Yang satu ahli sapi, yang satunya pakar
> kelinci. Digae balapan biso ora? Menang sopo?
>
> ________________________________
> From: Faiz Manshur <nyon...@gmail.com>
> To: pik...@googlegroups.com
> Sent: Friday, May 15, 2009 8:45:56 PM
> Subject: [PIKATAN-Bergerak] Re: Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di
> Temanggung
>
> hehe....harus jeli juga ya om.
> Ini gejala fenomenologis dalam ternak. Karena isu impor diasumsikan pasti
> memiliki keunggulan lantas menganggap setiap yg impor pasti lebih baik. Sama
> dalam hal ternak kelinci. Kalau tujuannya pedaging memang harus impor jenis
> besar. Tetapi kalau keliru memilih jenis flemish giant yang terlalu besar
> belum tentu tepat. Pertama soal makan terlalu banyak. kedua karkasnya
> terlalu besar,tidak sebanding dengan dagingnya. Maka pilihan yg tepat adalah
> jenis new zealand. Itu lebih pas.
> Kelinci lokal (yang sejatinya keturunan belanda jenis ducth) sekalipun
> dagingnya tipis tetapi punya keunggulan dalam hal populasi. Maka kalau mau
> ternak kelinci pedaging disarankan oplosan jenis new zealand dan lokal.
> Supaya dagingnya besar dan populasinya tinggi. Jenis flemish giant hanya
> sebagai sampingan. Hanya butuh sedikit.
>
> ayo itung-itung strategis....biar tidak salah pilih.
>
> salaman
> faiz
>
> Pada 15 Mei 2009 06:07, Prasetyo O <pra...@gmail.com> menulis:
>>
>> Setahu saya kalau sapi Australia itu bukan dari jenis Brahman atau
>> Ongole. Tapi jenisnya Draftmaster, Simental, limousin atau yang lain.
>>
>> Kalau nanti mau jual anakan sapi ke petani lokal (yang saya harapkan)
>> mestinya pembibitannya ya untuk RAS sapi yang digemari oleh petani.
>> Maksudnya makanan dan perawatannya yang sesuai dengan kantong para
>> petani kita. Misalkan PO (peranakan ongole). Sapi brahman itu
>> membutuhkan waktu lebih panjang untuk bisa jadi gede dibanding sapi
>> PO. Jadi petaninya wis selek kaliren le nunggu sapine gede.
>>
>> Itu pengalaman saya pelihara sapi Brahman, simental, draftmaster, dan
>> PO tahun 1987 lalu.
>>
>> Kalau dipandang dari sisi pedagang daging sapi, lain lagi pendapatnya.
>> Mereka lebih suka jenis Sapi Bali atau Sapi NTT yang kecil-kecil namun
>> lemu ginuk-ginuk. Alasannya masuk akal. Persentasi daging yang
>> diperoleh lebih tinggi dibanding sapi RAS. karena sapi RAS memiliki
>> tulang yang lebih besar.
>>
>> sekedar masukan saja.
>> salam
>> Bpras
>>
>>
>>
>>
>>
>> 2009/5/15 Agus Pramono <agus.p...@kiatmedia.com>:
>> > Mas, syukur Alhamdulillah itu bagus sekali, tapi statusnya itu baru LOI
>> > (Letter of Intent) semacam pernyataan niat /ketertarikan… lha itu muasih
>> > jauh buanget menuju realisasinya, apalagi nek ora dioyak…
>> >
>> > Sekarang coba cek,itu berita Koran kan desember 2008, jajal saiki
>> > ditakoke
>> > wis tekan ngendi ?
>> >
>> > Monggoooo…
>>
>> >
>> >
>> > From: pik...@googlegroups.com [mailto:pik...@googlegroups.com] On
>> > Behalf
>> > Of PIKATAN Temanggung
>> > Sent: 14 Mei 2009 8:06
>> > To: pik...@googlegroups.com
>> > Subject: [PIKATAN-Bergerak] Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di
>> > Temanggung
>> >
>> >
>> >
>> > Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di Temanggung
>> >
>> > TPG Images
>> >
>> > Sapi jenis Brahman
>> >
>> > /
>> >
>> > Rabu, 3 Desember 2008 | 17:49 WIB
>> >
>> > TEMANGGUNG, RABU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung bersama
>> > Pemerintah Australia, saat ini sudah menandatangani letter of intent
>> > atau
>> > naskah pernyataan bersama tentang proyek pembangunan village breeding
>> > centre
>> > atau pusat pengembangbiakan sapi di Desa Kruisan, Kecamatan Kledung.
>> > Dalam
>> > waktu dekat, jalinan kerjasama ini akan ditindaklanjuti dengan
>> > penandatangan
>> > nota kesepahaman di Kabupaten Temanggung.
>> >
>> > Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, seluruh pendanaan yang
>> > dibutuhkan sebesar Rp 9 miliar, nantinya akan ditanggung oleh Australia.
>> >
>> > "Sebaliknya, dari kami, Pemkab Temanggung, nantinya akan
>> > bertanggungjawab
>> > untuk menyediakan lahan, " terangnya, Rabu (3/12). Diharapkan, dari
>> > kerjasama ini, induk sapi juga dapat diperoleh dari Australia.
>> >
>> > Lahan yang akan dipakai di Desa Kruisan merupakan areal bekas
>> > penambangan
>> > bahan galian C, seluas sekitar lima hektar. Menurut rencana yang telah
>> > dibuat sebelumnya, Rp 9 miliar tersebut akan dibutuhkan untuk memulai
>> > mengembangkan pembibitan 500 ekor sapi. Namun, menyesuaikan dengan
>> > kapasitas
>> > lahan yang tersedia, pembibitan ini diharapkan akan terus dikembangkan
>> > menjadi 1.000 ekor sapi.
>> >
>> > Selain pembibitan, dalam village breeding centre tersebut akan dibangun
>> > pusat penggemukan dan pengolahan daging sapi potong. Maka, dengan
>> > merealisasikan upaya ini, diharapkan Kabupaten Temanggung dapat membantu
>> > meningkatkan suplai daging untuk kebutuhan nasional, ujarnya.
>> >
>> > Village breeding centre ini, menurut Hasyim, juga akan bermanfaat
>> > mendukung
>> > pertanian tembakau di Kecamatan Kledung. Sebab, kotoran dari ternak sapi
>> > tersebut dapat diambil dan diolah menjadi pupuk kandang.
>> >
>> > Olahan pupuk kandang tersebut akan langsung diberikan secara cuma-cuma
>> > kepada petani. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan untuk pertanian,
>> > setidaknya dapat lebih dihemat, ujarnya.
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > >
>> >
>>
>>
>>
>> --
>> GO OPEN SOURCE NOW !!
>> Forum Sandalwood Indonesia, Indonesian Horse Racing Forum
>> http://forum-sandalwood.web.id
>>
>>
>
>
>
> --
> Organisasi tradisional bergerak berdasarkan otoritas perintah. Organisasi
> modern(era informasi) bergerak di atas tanggungjawab.
>
> http://faizmanshur.wordpress.com
>
>
> >
>
--
GO OPEN SOURCE NOW !!
Forum Sandalwood Indonesia, Indonesian Horse Racing Forum
http://forum-sandalwood.web.id
--
TEKS ATAS DESCARTES
Orang Perancis berpikir maka mereka ada/ Orang Indonesia tidak berpikir namun terus ada (dari Puisi Mbeling Remy Silado)