Re: [PIKATAN-Bergerak] Sapi jembrana

1 view
Skip to first unread message

Faiz Manshur

unread,
May 16, 2009, 5:10:13 AM5/16/09
to pik...@googlegroups.com
Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul
Sapi-sapi hasil pengembangbiakan menggunakan teknologi inseminasi buatan (IB) dengan sperma hasil pemisahan (sperm sexing) yang dikembangkan LIPI. Melalui teknologi IB dengan sprema sexing dapat dilahirkan anak sapi bermutu unggul.
/
Rabu, 10 Desember 2008 | 08:33 WIB

Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.

Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.

Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.

Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.

Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.

Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.

Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.

Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

ATP Jembrana

Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.

ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.

Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).

Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.

Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.

Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.

Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.

Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya.

Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.

Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang


Yuni Ikawati

Pada 15 Mei 2009 09:01, Faiz Manshur <nyon...@gmail.com> menulis:
Biar aman dan cepet, kawinkan kelinci dengan sapi....hehe....
Sapi dan Kelinci adalah pilihan antara SBY atau JK. terserah.
Tapi kayaknya daging murni dari makasar, sebab calon yang lain agaknya sudah tergolong "manusia gelonggongan."
Kadar air yang tinggi menyebabkan bakteri tinggi, protein menurun.

Kelinci itu ternaknya orang cerdas, mesti pengalaman dan hobies. Keunggulannya modal kecil bisa jalan. Kambing/domba 3 ekor butuh 1,5 juta. Kelinci tiga ekor cukup 450ribu (kelinci kualitas biasa).
Kalau aku pilih kelinci dan Kuda. Pingin cepat duit, ambil kelinci. Pingin duit besar, ambil kuda.
Aku tak ternak uang wae........

faiz

Pada 15 Mei 2009 08:26, Prasetyo O <pra...@gmail.com> menulis:


Aku njagoni Kelinci.

Alasannya:
Sapi bunting membutuhkan waktu 11 bulan. Masa menyusui 6 bulan terus
dikawinkan lagi. Jadi Sapi hanya bisa beranak 2 kali  dalam 17 bulan.

Kelinci beranak dalam masa 3 bulan dan bisa lebih dari seekor. Dalam 6
bulan sudah punya anak banyak. Jadi putaran uangnya lebih cepat
kelinci. Namun ada hukum alam. Makin cepat beranak makin beresiko
mati. Sapi meskipun lambat namun jarang mati. Investasi di sapi lebih
aman dibanding kelinci. Oleh karena itu profit margin kelinci dibuat
tinggi untuk menutup resiko yang tinggi.

Babi lebih cepat lagi ketimbang kelinci.
Opo maneh tikus putih, lebih banter maneh !

Salam
Bpras


2009/5/15 AE Priyono <kala...@yahoo.com>:
> Wah ... diskusinya asyik tenan. Yang satu ahli sapi, yang satunya pakar
> kelinci. Digae balapan biso ora? Menang sopo?
>
> ________________________________
> From: Faiz Manshur <nyon...@gmail.com>
> To: pik...@googlegroups.com
> Sent: Friday, May 15, 2009 8:45:56 PM
> Subject: [PIKATAN-Bergerak] Re: Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di
> Temanggung
>
> hehe....harus jeli juga ya om.
> Ini gejala fenomenologis dalam ternak. Karena isu impor diasumsikan pasti
> memiliki keunggulan lantas menganggap setiap yg impor pasti lebih baik. Sama
> dalam hal ternak kelinci. Kalau tujuannya pedaging memang harus impor jenis
> besar. Tetapi kalau keliru memilih jenis flemish giant yang terlalu besar
> belum tentu tepat. Pertama soal makan terlalu banyak. kedua karkasnya
> terlalu besar,tidak sebanding dengan dagingnya. Maka pilihan yg tepat adalah
> jenis new zealand. Itu lebih pas.
> Kelinci lokal (yang sejatinya keturunan belanda jenis ducth) sekalipun
> dagingnya tipis tetapi punya keunggulan dalam hal populasi. Maka kalau mau
> ternak kelinci pedaging disarankan oplosan jenis new zealand dan lokal.
> Supaya dagingnya besar dan populasinya tinggi. Jenis flemish giant hanya
> sebagai sampingan. Hanya butuh sedikit.
>
> ayo itung-itung strategis....biar tidak salah pilih.
>
> salaman
> faiz
>
> Pada 15 Mei 2009 06:07, Prasetyo O <pra...@gmail.com> menulis:
>>
>> Setahu saya kalau sapi Australia itu bukan dari jenis Brahman atau
>> Ongole. Tapi jenisnya Draftmaster, Simental, limousin atau yang lain.
>>
>> Kalau nanti mau jual anakan sapi ke petani lokal (yang saya harapkan)
>> mestinya pembibitannya ya untuk RAS sapi yang digemari oleh petani.
>> Maksudnya makanan dan perawatannya yang sesuai dengan kantong para
>> petani kita. Misalkan PO (peranakan ongole). Sapi brahman itu
>> membutuhkan waktu lebih panjang untuk bisa jadi gede dibanding sapi
>> PO. Jadi petaninya wis selek kaliren le nunggu sapine gede.
>>
>> Itu pengalaman saya pelihara sapi Brahman, simental, draftmaster, dan
>> PO tahun 1987 lalu.
>>
>> Kalau dipandang dari sisi pedagang daging sapi, lain lagi pendapatnya.
>> Mereka lebih suka jenis Sapi Bali atau Sapi NTT yang kecil-kecil namun
>> lemu ginuk-ginuk. Alasannya masuk akal. Persentasi daging yang
>> diperoleh lebih tinggi dibanding sapi RAS. karena sapi RAS memiliki
>> tulang yang lebih besar.
>>
>> sekedar masukan saja.
>> salam
>> Bpras
>>
>>
>>
>>
>>
>> 2009/5/15 Agus Pramono <agus.p...@kiatmedia.com>:
>> > Mas, syukur Alhamdulillah itu bagus sekali, tapi statusnya itu baru LOI
>> > (Letter of Intent) semacam pernyataan niat /ketertarikan… lha itu muasih
>> > jauh buanget menuju realisasinya, apalagi nek ora dioyak…
>> >
>> > Sekarang coba cek,itu berita Koran kan desember 2008, jajal saiki
>> > ditakoke
>> > wis tekan ngendi ?
>> >
>> > Monggoooo…
>>
>> >
>> >
>> > From: pik...@googlegroups.com [mailto:pik...@googlegroups.com] On
>> > Behalf
>> > Of PIKATAN Temanggung
>> > Sent: 14 Mei 2009 8:06
>> > To: pik...@googlegroups.com
>> > Subject: [PIKATAN-Bergerak] Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di
>> > Temanggung
>> >
>> >
>> >
>> > Pusat Pembibitan Sapi Bakal Dibangun di Temanggung
>> >
>> > TPG Images
>> >
>> > Sapi jenis Brahman
>> >
>> > /
>> >
>> > Rabu, 3 Desember 2008 | 17:49 WIB
>> >
>> > TEMANGGUNG, RABU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung bersama
>> > Pemerintah Australia, saat ini sudah menandatangani letter of intent
>> > atau
>> > naskah pernyataan bersama tentang proyek pembangunan village breeding
>> > centre
>> > atau pusat pengembangbiakan sapi di Desa Kruisan, Kecamatan Kledung.
>> > Dalam
>> > waktu dekat, jalinan kerjasama ini akan ditindaklanjuti dengan
>> > penandatangan
>> > nota kesepahaman di Kabupaten Temanggung.
>> >
>> > Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, seluruh pendanaan yang
>> > dibutuhkan sebesar Rp 9 miliar, nantinya akan ditanggung oleh Australia.
>> >
>> > "Sebaliknya, dari kami, Pemkab Temanggung, nantinya akan
>> > bertanggungjawab
>> > untuk menyediakan lahan, " terangnya, Rabu (3/12). Diharapkan, dari
>> > kerjasama ini, induk sapi juga dapat diperoleh dari Australia.
>> >
>> > Lahan yang akan dipakai di Desa Kruisan merupakan areal bekas
>> > penambangan
>> > bahan galian C, seluas sekitar lima hektar. Menurut rencana yang telah
>> > dibuat sebelumnya, Rp 9 miliar tersebut akan dibutuhkan untuk memulai
>> > mengembangkan pembibitan 500 ekor sapi. Namun, menyesuaikan dengan
>> > kapasitas
>> > lahan yang tersedia, pembibitan ini diharapkan akan terus dikembangkan
>> > menjadi 1.000 ekor sapi.
>> >
>> > Selain pembibitan, dalam village breeding centre tersebut akan dibangun
>> > pusat penggemukan dan pengolahan daging sapi potong. Maka, dengan
>> > merealisasikan upaya ini, diharapkan Kabupaten Temanggung dapat membantu
>> > meningkatkan suplai daging untuk kebutuhan nasional, ujarnya.
>> >
>> > Village breeding centre ini, menurut Hasyim, juga akan bermanfaat
>> > mendukung
>> > pertanian tembakau di Kecamatan Kledung. Sebab, kotoran dari ternak sapi
>> > tersebut dapat diambil dan diolah menjadi pupuk kandang.
>> >
>> > Olahan pupuk kandang tersebut akan langsung diberikan secara cuma-cuma
>> > kepada petani. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan untuk pertanian,
>> > setidaknya dapat lebih dihemat, ujarnya.
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > >
>> >
>>
>>
>>
>> --
>> GO OPEN SOURCE NOW !!
>> Forum Sandalwood Indonesia, Indonesian Horse Racing Forum
>> http://forum-sandalwood.web.id
>>
>>
>
>
>
> --
> Organisasi tradisional bergerak berdasarkan otoritas perintah. Organisasi
> modern(era informasi) bergerak di atas tanggungjawab.
>
> http://faizmanshur.wordpress.com
>
>
> >
>



--
GO OPEN SOURCE NOW !!
Forum Sandalwood Indonesia, Indonesian Horse Racing Forum
http://forum-sandalwood.web.id





--

TEKS ATAS DESCARTES
Orang Perancis berpikir maka mereka ada/ Orang Indonesia tidak berpikir namun terus ada (dari Puisi Mbeling Remy Silado)



--

TEKS ATAS DESCARTES
Orang Perancis berpikir maka mereka ada/ Orang Indonesia tidak berpikir namun terus ada (dari Puisi Mbeling Remy Silado)

Prasetyo O

unread,
May 16, 2009, 8:51:39 AM5/16/09
to pik...@googlegroups.com
Aku agak kurang percaya program pemerintah macam pengembangan sapi
Bali seperti dalam tulisan itu akan berhasil. Program pemerintah
biasanya berakhir pada sisi "proyek" nya saja. hasil akhir buat
masyarakat biasanya nol potol, hilang tanpa bekas. Seperti banyak
penelitian di Deptan itu juga tidak dipublikasikan ke masyarakat
padahal banyak sekali kalau anda lihat kedalam.

Apalagi judulnya saja pengembangan sapi Bali. Kalau begitu sapi betina
hasil pengembangan itu tidak boleh masuk ke pulau Jawa. Lalu petani
peternak Jawa mau ambil bibit sapi unggul dari mana?

Ini khan jadi membingungkan. Mau mengembangkan sapi unggul ya jangan
tanggung-tanggung tho. Kirim anakan sapi unggul ke daerah lain supaya
masyarakat menikmatui hasil program itu.

Ini yang membuat saya pesimis, proyek pemerintah itu biasanya cuma
ajang untuk mengeluarkan anggaran melalui APBD, hasilnya "muspro"
alias tak ada gunanya. buktinya sampai sekarang masih defisit daging
padahal sejak 20 thn lalu sudah tahu kalau kita itu defisit daging.

Kalau program IB (inseminasi Buatan) memang sangat terasa hasilnya.
Tahun 1980 an lalu saya mesti harus mencuri anak sapi dari peternak
plasma untuk bisa mendapatkan bibit sapi RAS. Jadi jatah petani saya
beli. Sekarang anak sapi RAS F4 atau F5 atau bahkan F6 kali sudah
banyak dipasaran.

Untuk pembibitan sapi di Temanggung saya kira tidak usah muluk-muluk.
Buat saja pembibitan sapi PO (peranakan Ongole) dan anaknya dijual
kepada masyarakat melalui lelang umum. Peranakan Ongole cocok di Jawa
terbukti banyak sapi PO yang subur-subur badannya dan berkembang
sangat baik. Sapi ini warnanya putih berpunuk serta begeber tebal
seperti yang sering anda lihat di daerah pantai selatan, Blora, dll.

Saya pernah lihat dan mengikuti lelang sapi di Australia tahun 1983.
Saya agak eksentrik kali ye, jauh-jauh keluar tapi yang saya cari
pasar lelang sapi dan peternakan sapi dipelosok Selatan Australia.

Disana semua sapi yang akan dijual ke pemotong atau ke masyarakat
melalui proses lelang terbuka dipasar pelelangan sapi. Jadi ada
koordinator lelangnya. Persis seperti lelang ikan di Pusat pelelangan
ikan di pantura.

Nah kalau nanti kita seperti itu Jos gandos !, proses penjualan bibit
sapi Temanggung dilaksanakan secara terbuka. Biar petani yang
menginginkan anak sapi datang ke "Kruisan Auction" pada hari pasaran
tertentu untuk membeli bibit sapi yang diinginkan. Jadi tidak perlu
lewat calo yang bisa kong-kalikong sama orang "dalam".

Githu loh !

Salam
Bpras


2009/5/16 Faiz Manshur <nyon...@gmail.com>:
> /Home/Sains/Lab
> Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul
> Kompas/Yuni Ikawati
> Sapi-sapi hasil pengembangbiakan menggunakan teknologi inseminasi buatan
> (IB) dengan sperma hasil pemisahan (sperm sexing) yang dikembangkan LIPI.
> Melalui teknologi IB dengan sprema sexing dapat dilahirkan anak sapi bermutu
> unggul.
> /

Faiz Manshur

unread,
May 16, 2009, 9:54:55 AM5/16/09
to pik...@googlegroups.com
Om, kalau masih mood jelaskan secara lebih detail bagaimana sih seharusnya Pemda memiliki semacam Breeding Center Sapi untuk rakyat itu?

Kalau aku tahu banyak soal pentingnya Breeding Center ternak kelinci. Tapi semakin lama aku pelajari kelinci, semakin menakutkan kalau tidak dikelola secara serius. Ternak kelinci mesti dimainkan oleh orang2 khusus, persis kayak ternak kuda. Kalau untuk massalisasi harus melalui tahapan yang tepat. Tetapi dalam hal apapun sebenarnya kesulitan atau kemudahan itu dua hal yang pasti ada. Kelebihan dan kelemahan bukanlah perkara. yang menjadi masalah ada perkara paradigma dan pola kerja. Kesalahan metode dan ketidakseriusan pemerintah berakibat fatal pada bidang apapun. Coba tajamkan. Biar mudah, aku buatkan tiga pertanyaan sebagai berikut?

Kenapa ternak sapi? (jelaskan deskriptif)

Berangkat dari asumsi bahwa pasokan daging nasional kurang, maka ternak sapi butuh peranan negara. (negara sosialis, komunis maupun liberal dalam hal tani/ternak) tetap saja memainkan peranan. Nah, bagaimana Pemda dengan mokak (alias modal cekak), katakanlah 1-2 milyar itu memainkan peranan yg tepat dalam upaya pembibitan sapi?

Lalu bagaimana pula pola jual beli lelang itu?

(soal pemasaran ra usah dibahas. Dimana-mana daging juga dibutuhkan).


salaman
faiz

Prasetyo O

unread,
May 16, 2009, 11:42:06 AM5/16/09
to pik...@googlegroups.com
Pertanyaan anda yang pertama: Kenapa Sapi:

Ternak penggemukan sapi pedaging cocok untuk daerah Temanggung yang
dingin, karena disamping cuaca yang mendukung, makanan pokok berupa
rumput cukup banyak meskipun sekarang ini juga dikembangkan makanan
sapi berupa pelet, bren ataupun makanan lainnya. Petani Temanggung
juga masih memelihara sapi disamping untuk menabung juga memerlukan
pupuk kotoran sapinya untuk pertanian mereka. Harga daging sapi yang
relatif tinggi membuat petani bergairah beternak sapi. Namun tetap
harus diingat bahwa beternak sapi di daerah pertanian produktif
seperti Temanggung hanya cocok untuk petani bermodal kecil bukan oleh
peternak besar seperti di padang sabana NTT. Karena di daerah
produktif akan terjadi kompetisi antara tanah untuk tanaman pangan dan
tanah untuk rumput pakan ternak. Pasti yang kedua akan kalah. Jadi
hanya cocok untuk peternak klas petani satu, dua atau tiga ekor saja.
Untuk skala besar tidak akan sukses (lihat pengalaman PT. Nandi Amerta
Agung Salatiga akhir 1980-1990 an, yang gagal total.) Perhitungan saya
waktu itu lahan rumput 1 hektar hanya mampu untuk beternak sapi
maksimum 15 ekor saja.

Pertanyaan kedua: Dibutuhkan peran Pemerintah dalam bisnis sapi:

Dalam rantai industry persapian ada pembibitan, ada penggemukan dan
ada distribusi sapi, karkas/daging. Saya hanya melihat di
pembibitannya saja.

Sapi bunting dalam 11 bulan dan membutuhkan waktu paling tidak 5-6
bulan menyusui sebelum sapi di sapih/petot untuk dibesarkan sendiri.
Petani memerlukan bibit anak sapi setelah anak sapi disapih untuk
dibesarkan selama 1 tahun. Biasanya petani akan membeli setelah masa
panen selesai dan menjualnya lagi pada menjelang lebaran atau hari
raya Qurban. Perhitungannya tidak sesederhana ini karena usia sapi
potong yang baik yaitu pada usia 2 tahunan. Sedangkan petani khan
modalnya cekak dan membutuhkan uang juga. Banyak juga petani yang
hanya mengambil waktu 3 bulan sebelum hari lebaran haji. Dia beli sapi
yang umurnya 2 tahunan kurus dan tinggal digemukkan saja. Dalam
pikiran saya ada dua kelompok petani disini. Yang satu mengambil umur
6 bulan dipelihara sampai menjelang 2 tahun dan kedua mengambil sapi
kurus umur menjelang 2 tahun dan dipelihara 3 bulan aja.

Kelompok petani yang lain adalah petani pembibit, yaitu memelihara
indukan dan dikawinkan dengan teknik IB. Anaknya dipelihara hanya
sampai umur 6 bulan saja.

Persoalannya: Jumlah anak sapi yang dihasilkan saat ini masih kurang
sehingga tidak mencukupi kebutuhan para petani penggemukan. Kekurangan
ini dipicu oleh: berkurangnya indukan karena sapi betina juga menjadi
sapi potong (harusnya dikontrol), lamanya melakukan pembibitan (11
bulan), mahalnya harga bibit sapi betina. menurunnya jumlah lahan
pertanian dll.dll.

Oleh karena itu maka sebaiknya sisi pembibitan anak sapi ini diambil
oleh pemerintah saja. Pemerintah menjual anak sapi usia 6 bulan kepada
petani. Pemerintah tidak usah ikut dalam program penggemukannya karena
biaya lebih mahal dan managementnya lebih komplek.

Perlunya menjual sistem lelang:
lelang terbuka adalah mekanisme pasar yang paling adil. Artinya nilai
tukar anak sapi itu ditentukan oleh pasar yang fair. Dengan assumsi
peserta lelang bukanlah para mafia yang sudah bekerja sama dengan
oknum balai lelang lho. Keuntungannya lelang terbuka adalah
memperkecil praktek korupsi pelaku pembibitan (pusat pembibitan)
karena tidak terjadi pesanan khusus, pengaturan harga, dll. Jadi
pelepasan anak sapi keluar hanya melalui pintu lelang yang resmi.
Selain lewat lelang itu tidak boleh ada sapi keluar kandang untuk
dijual.

Keuntungan bagi petani adalah dapat membeli anak sapi dengan kualitas
unggul harga relatif murah.

Lha kalau dengan modal 2 milyar, bisa tidak.
Jawaban:
Hitung saja harga indukan sapi sekarang ini sekitar Rp. 10 juta per
ekor, biaya investasi kandang dan peralatan, biaya operasional
pegawai, sewa lahan rumput, dll. khan bisa dihitung akhirnya mau beli
bibit berapa ekor. trus output per tahun berapa ekor, harga jual anak
sapi berapa .. itung-itungan matematika mas. Dinas peternakan pasti
bisa menghitungnya.


Oleh karena kompleksitas bisnisnya, maka pembibitan sapi itu lebih
cocok diambil pemerintah daerah daripada pemerintah daerah ikut main
di penggemukannya. Penggemukannya biarlah ditangani oleh masyarakat.

Sekian dulu

Faiz Manshur

unread,
May 16, 2009, 12:26:24 PM5/16/09
to pik...@googlegroups.com
Gene yo iso nulis runtut. Lebih enak kan kalau nulis dengan gaya wawancara, terus diedit kan dadi artikel...hehe...
Oh sapi, kenapa untuk urusan nulis kamu ini harus dipecut terus..........................
di sini ada sapi gemuk yang perlu kupecut untuk nulis tidak?


hahaha.......

salaman
faiz

Prasetyo O

unread,
May 17, 2009, 6:17:18 AM5/17/09
to pik...@googlegroups.com
Mas, koreksi.
Sapi bunting berkisar 9 bulan bukan 11 bulan. Kalau 11 bulan.

2009/5/16 Faiz Manshur <nyon...@gmail.com>:

Tintan ( ISTAMAR)

unread,
May 17, 2009, 11:18:42 PM5/17/09
to pik...@googlegroups.com
AKu juga berternak sapi
emang butuh modal banyak mas
untuk sapi pengemukan '

Mau lihat ke tempatku
silahkan
--
Tintan ( Cah Ndeso)
Mondoretno-Bulu-Temanggung
http://mondoretno.blogspot.com
http://desa-sapi.blogspot.com

Prasetyo O

unread,
May 18, 2009, 5:08:41 AM5/18/09
to pik...@googlegroups.com
Aku ada permintaan 70 ekor sapi bakalan dalam 1 bulan ini. Ada yang punya stock?

Bakul sapi

2009/5/18 Tintan ( ISTAMAR) <elang...@gmail.com>:

Dewa Aruna

unread,
May 18, 2009, 5:44:59 AM5/18/09
to pik...@googlegroups.com, Prasetyo O
mas nek sapi ne ra jumlahe 70, piye neka anane 40 piye jare ,gelem ra


Dari: Prasetyo O <pra...@gmail.com>
Kepada: pik...@googlegroups.com
Terkirim: Senin, 18 Mei, 2009 16:08:41
Topik: [PIKATAN-Bergerak] Re: Sapi jembrana

Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya.

Tintan ( ISTAMAR)

unread,
May 20, 2009, 12:48:33 AM5/20/09
to pik...@googlegroups.com
Walah Ora duwe mas
COBA mas cari di DINAS PETERNAKAN
Deket STM pembangunan Itu loh
situ kan punya pemerintah
juga di jual belikan
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages