Fwd: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin

0 views
Skip to first unread message

Irawan

unread,
Apr 6, 2010, 5:06:59 AM4/6/10
to pik...@googlegroups.com


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Gathot <gwin...@gmail.com>
Tanggal: 6 April 2010 15:55
Subjek: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
Ke: Teman...@yahoogroups.com


 

Sebenarnya seminar kemarin menarik...seharusnya memberikan opini yang seimbang ttg dua kubu yang berselisih, tetapi jadinya nggak berimbang karena sumber dari depkes dua-duanya nggak hadir.. jadinya berat sebelah. Ditambah lagi panitia nya juga berat sebelah, sdh punya sikap sebelumnya.
 
Saya menyoal tuduhan adanya kepentingan bisnis dibalik pembatasan rokok, tapi ini kan hanya tuduhan yg sulit dibuktikan. Sementara alasan mereka dengan isu kesehatan adalah masuk akal alias logis.... Kalau memang boleh dengan syak wasangka, kita boleh donk menyoal bahwa penolakan RPP ini juga ada kepentingan bisnis menboncengi, yaitu bisnis rokok yg duitnya besar banget. Dan boleh juga donk.. seminar ini juga...bahkan banyak komentar yang lebih cenderung emosional, bukan secara logika dan pemikiran yang jernih.
 
Tapi menurut saya, untuk mendapat dukungan yang besar pihak penolak juga harus menunjukkan alur pikir yang logis dan dapat diterima, bukan dengan isu-isu syak wasangka. Sehingga serangan balik tuduhan-tuduhan bisa ditepis nantinya.
 
Kita menyadari bahwa kekuatan penyeru pembatasan rokok adalah sangat besar sekali dan sudah secara global. Melihat hal ini, saya setuju dengan cara-cara Pak Hasyim dengan mencari alternatif pemanfaatan tembakau, sehingga kita tidak berhadapan langsung dengan mereka tetapi dengan cerdik berkelit atau bergerak dicelah-celah yang ada di antara kekuatan besar tersebut.
Soal perbedaan data-data yang dikemukakan, sebaiknya ditelusuri sumber aslinya sehingga kebenanrannya bisa dipertanggungjawabkan. Dari pihak penganjur pembatasan rokok, sepertinya data-data mereka diambil dari jurnal-jurnal terpercaya walau memang data-data tersebut diambil dari sejumlah sample dari suatu populasi. Seharusnya ada catatan mengenai populasi tempat pengambilan sampel. Mungkin berbeda dengan lokasi populasi yang berbeda.
 
Saya juga menyarankan untuk melakukan survei terhadap masyaraka temanggung dari badan independen apakah mereka mendukung atau menolak bisnis tembakau. Kalau data dari APTI yg notabene nya punya kepentingan, tidak bisa dikatakan independen dan sample surveynya tidak hanya dari daerah pertanian tembakau saja tapi seluruh wilayah kab temanggung karena ini mewakili masyarakat temanggung secara umum.
 
Demikian komentar saya, silahkan dikomentari atau dibantah... silahkan..
 
Gathot Winarso
__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Faiz Manshur

unread,
Apr 6, 2010, 5:32:30 AM4/6/10
to pik...@googlegroups.com
O, kurang paham maksud tujuan seminar ini.
Sudah dijelaskan didalam proposal bahwa salahsatu tujuan seminar itu ialah untuk memberikan keseimbangan karena perspektif ekonomi, rokok dan kebudayaan tidak pernah diangkat. Jadi cara menilainya berangkat dari kenyataan dulu; kenyataan bahwa selama ini isu kesehatan sangat dominan. Ini fakta. Maka salahsatu gagasan seminar itu adalah membuat berimbang perspektif. Caranya dengan mengangkat isu ekonomi, politik dan kebudayaan. Narasumber dari depkes dengan undangan juga ada yg datang dan memberikan pandangan.

Berat sebelah? Sebelum seminar digelar sudah berat sebelah dulu. Seminar bermaksud mengimbangi, walau kenyataan berkata lain.

Panitia menyelenggarakan seminar. Seminar itu bisa berjenis sarasehan, tukar pemikiran. Yg dipahami dalam tulisan di bawah ini adalah debat publik. Salah alamat dong.
Panitia sudah punya sikap sebelumnya? maksudnya sikap apa? kalau sikapnya untuk mengangkat ekonomi, politik dan kebudayaan ya itu jelas. Kalau enggak punya sikap bagaimana mau menggelar seminar?

Panitia tidak menuduh bahwa isu kesehatan ada bisnis. Yang dilakukan panitia adalah mempertanyakan. Dan kita berharap dari narasumber itu sendiri yg bicara. Nah ini antara narasumber dengan panitia dicampur aduk. Kalau yg namanya komentar satu persatu dibuka, semua komentar juga tidak logis, emosional, termasuk komentar yg sedang saya tanggapi ini. Dari mereka yg pro kesehatan juga ada banyak yg emosional. Logis tidak logis lihat hubungannya dengan RUU RPPnya. Logis apa ukurannya? Sudah baca RUU RPP belum?

Komentar lain yang tidak hubungan dengan panitia tidak saya tanggapi.

faiz.

--
STANPLAT terbit karena sumbangan sukarela para dermawan yang peduli dengan minat baca dan upaya menegakkan kontrol kebijakan publik melalui media massa di Temanggung. Sudahkah bulan ini Anda mentransfer uang untuk biaya cetak dan ongkos kirim Stanplat? Pastikan Anda adalah pelanggan Stanplat yang bijak dengan rutin menyumbang minimal Rp 150.000,- / 2 bulan. http://pikatan.wordpress.com http://stanplat.blogspot.com
 
Transfer sumbangan bisa melalui rekening Bank Mandiri KCP Jakarta Mampang Prapatan No. 070 00 0450555 3 a.n. Falakiyatun Muniroh. Konfirmasi keuangan 0815 8469 2641
 
Kontak Iklan : Joko Suseno (0816 811 330)

Andy Yoes Nugroho

unread,
Apr 6, 2010, 7:22:01 AM4/6/10
to pik...@googlegroups.com
Mata rantai industri tembakau melibatkan banyak sektor, diantaranya yang terkait langsung adalah : sektor pertanian, perdagangan, industri, tenaga kerja, dan keuangan (kaitannya dengan penerimaan cukai). Jadi, rasanya tidak fair kalau gerakan pro tembakau itu selalu dianggap diboncengi industri. Untuk mengurai fakta dan data keterkaitan antar sektor itu tidak susah, karena obyeknya ada di dalam negeri.

Sedangkan pihak yang tidak setuju dengan tembakau, lebih dominan menyorot hanya dari satu sektor kesehatan saja. Ditambah lagi data kesehatan yang menjadi alat argumentasi entah berasal dari mana. Inilah yang menurut saya tidak berimbang. 

Sebenarnya sudah ada PP 19 th 2003 yang sejauh ini mampu mengatur pertembakauan secara komprehensif (termasuk dari sisi kesehatan) dan bisa diterima oleh stake holder tembakau. Saya tidak habis pikir, kondisi stabil secara ekonomi, politik dan sosial yang baru berjalan 7 tahun ini sudah diobok-obok. Siapa yang mengobok-obok? Apa kepentinganya? 

Mari kita lihat dengan jeli, jangan menggunakan  kaca mata kuda karena kita bukan "kuda tunggangan". 

Irawan

unread,
Apr 6, 2010, 10:49:32 PM4/6/10
to pik...@googlegroups.com


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Adi B Wiratmo <adi_b...@yahoo.com>
Tanggal: 7 April 2010 09:29
Subjek: Re: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
Ke: Teman...@yahoogroups.com


 

Membaca presentasi Pak Hasyim, ada berapa hal yang mau saya sampaikan :

1. Ternyata produksi tembakau Temanggung hanya berkontribusi 3.75 persen atau setara dengan 6.786 ton dari total 181 ribu Ton produksi nasional. Tetapi kenapa petani tembakau Temanggung yang paling kenceng menentang UU Tembakau ? Kab terbesar penyumbang produksi nasional sebenarnya mana ya ?

2. Dikatakan bahwa tembakau sebagai emas perekonomian Temanggung. Berbicara ekonomi daerah, tentu berbicara tentang kondisi ekonomi seluruh masyarakat Temanggung. Seperti "titipan" pertanyaan saya dahulu, bagaimana mungkin ini dikatakan sebagai emas penggerak ekonomi kalau pada kenyataannnya hingga kini, dengan tembakau menjadi andalan, Temanggung termasuk kabupaten termiskin ?

3. Tadinya saya berpikir Temanggung itu produksi tembakaunya memberi kontribusi mayoritas untuk nasional. Kalau seperti itu saya ingin mengusulkan supaya Temanggung bisa memanfaatkan moment ini (Gatot bilang supaya bisa bergerak diantara kekuatan besar). Pemerintah Temanggung sampaikan saja UU itu akan berakibat banyak masyarakat Temanggung semakin miskin, dan menuntuk tanggungjawab pemerintah pusat untuk memberikan solusi ini. Paling tidak memberikan prioritas berupa dana tanggap darurat bagi Temanggung, yang diperuntukan untuk mengembangkan usaha/produksi pertanian lainnya sebagai bagian dari diservifikasi usaha seperti panili, kopi, peternakan, dll.

Saya yakin, masyarakat Temanggung itu asyik2 saja sebenarnya, dan bisa tidak akan bersikukuh mempertahankan tembakau kalau memang ada solusi lain yang benar2 menguntungkan dan lebih menyejahterakan mereka.

semene sik ...

salam,
-adi-


--- On Tue, 4/6/10, Irawan <irawanpr...@gmail.com> wrote:

From: Irawan <irawanpr...@gmail.com>
Subject: Re: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
To: Teman...@yahoogroups.com
Date: Tuesday, April 6, 2010, 8:36 PM

 

aku jan2ne yo arep ngomong koyo ngono kuwi, tapi kedhisikan Sigit .....yowis aku tak ngalah wae......alias setujuuuu banget karo pendapate Sigit .....(tapi rasah GR de'e Git ....keplak sisan ....)

Pada 6 April 2010 20:26, Sigit Yulianto <sigityulianto@ gmail.com> menulis:
 

Permasalahannya khan, seberapa lama pendapat bahwa industri rokok
harus dipertahankan? Karena seperti halnya issue global warming,
sekuat kuatnya america tidak menyetujui protokol kyoto, pada titik
tertentu, dia akhirnya tidak berdaya terhadap desakan negara negara
dunia.

Issue rokok, bukan lagi issue lokal atau regional yang dialami sebuah
negara saja, tapi issue yang menjadi issue global seperti halnya
global warming. Yang suatu saat, akan sulit dihindari.

Melakukan perubahan paradigma jauh hari sebelum semua terjadi adalah
lebih bijaksana dari mencoba mempertahankan kondisi yang bisa saja
berubah tidak terkendali.

Mempertahankan industri yang berhubungan dengan rokok pada saat ini
tidaklah salah, tapi mengantisipasi ketika industri itu tidak bisa
lagi dipertahankan. Adalah lebih utama. Pemenang adalah yang siap
terlebih dahulu... Dan tampaknya pa hasyim sangat mengerti situasi
ini. Tinggal bagaimana realisasinya. ..



On 4/6/10, Petut Wibowo <petutwibie@yahoo. com> wrote:
> yupz,.... setuju lek andy yoes,.....
> memang dunia pertembakauan selalu menghadirkan dua sisi yg berbeda dan sngt
> ekstrim... kesehatan vs ekonomi "kerakyatan". jika hanya salah satu yg
> dijadikan patokan itu tidak fair sekali, tp jk keduanya diminta jalan bareng
> jg "untk saat ini" tidak bisa. apalagi ditambah dng kacamata "agama".
> jika kibijakan tentang larangan merokok dan pertembakauan diterapkan, sy
> pikir tinggal menghitung hari saja,... berapa petani yg HARUS kehilangan
> pendapatan perkapita yg cukup besar (meskipun musiman), pelaku pasar
> tembakau, pekerja sektor industri rokok, pedagang, dan berapa juta orang
> indonesia yg "lemas " krn tidak merokok..... dan..dan..dan. ... masih banyak
> lagi implementasinya yg lngsung dirasakan... ... oleh banyak pihak dan wong2
> kecil.....
> saya sngt mendukung komitment bupati kita untuk tetap mempertahankan sektor
> pertembakauan.
>
>
>
> --- On Tue, 4/6/10, Irawan <irawanprasetyadi@ gmail.com> wrote:

>
> From: Irawan <irawanprasetyadi@ gmail.com>
> Subject: Fwd: [PIKATAN-Bergerak] Fwd: [Temanggung] Ben rame : komentar soal
> Seminar Kretek Kemarin
> To: "temanggung" <Temanggung@yahoogro ups.com>

> Date: Tuesday, April 6, 2010, 7:38 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------- Pesan terusan ----------
> Dari: Andy Yoes Nugroho <andy.yoes@gmail. com>
>
> Tanggal: 6 April 2010 18:22
> Subjek: Re: [PIKATAN-Bergerak] Fwd: [Temanggung] Ben rame : komentar soal
> Seminar Kretek Kemarin
> Ke: pikatan@googlegroup s.com
> Dari: Gathot <gwinarso@gmail. com>

>
>
> Tanggal: 6 April 2010 15:55
>
> Subjek: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
> Ke: Temanggung@yahoogro ups.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Sebenarnya seminar kemarin menarik...seharusny a memberikan opini yang

> seimbang ttg dua kubu yang berselisih, tetapi jadinya nggak berimbang karena
> sumber dari depkes dua-duanya nggak hadir.. jadinya berat sebelah. Ditambah
> lagi panitia nya juga berat sebelah, sdh punya sikap sebelumnya.
>
>
>
>
>
> Saya menyoal tuduhan adanya kepentingan bisnis dibalik pembatasan rokok,
> tapi ini kan hanya tuduhan yg sulit dibuktikan. Sementara alasan mereka
> dengan isu kesehatan adalah masuk akal alias logis.... Kalau memang boleh
> dengan syak wasangka, kita boleh donk menyoal bahwa penolakan RPP ini juga
> ada kepentingan bisnis menboncengi, yaitu bisnis rokok yg duitnya besar
> banget. Dan boleh juga donk.. seminar ini juga...bahkan banyak komentar yang
> lebih cenderung emosional, bukan secara logika dan pemikiran yang jernih.
>
>
>
>
>
> Tapi menurut saya, untuk mendapat dukungan yang besar pihak penolak juga
> harus menunjukkan alur pikir yang logis dan dapat diterima, bukan dengan
> isu-isu syak wasangka. Sehingga serangan balik tuduhan-tuduhan bisa ditepis
> nantinya.
>
>
>
>
>
> Kita menyadari bahwa kekuatan penyeru pembatasan rokok adalah sangat besar
> sekali dan sudah secara global. Melihat hal ini, saya setuju dengan
> cara-cara Pak Hasyim dengan mencari alternatif pemanfaatan tembakau,
> sehingga kita tidak berhadapan langsung dengan mereka tetapi dengan cerdik
> berkelit atau bergerak dicelah-celah yang ada di antara kekuatan besar
> tersebut.
>
>
>
>
>
> Soal perbedaan data-data yang dikemukakan, sebaiknya ditelusuri sumber
> aslinya sehingga kebenanrannya bisa dipertanggungjawabk an. Dari pihak

> penganjur pembatasan rokok, sepertinya data-data mereka diambil dari
> jurnal-jurnal terpercaya walau memang data-data tersebut diambil dari
> sejumlah sample dari suatu populasi. Seharusnya ada catatan mengenai
> populasi tempat pengambilan sampel. Mungkin berbeda dengan lokasi populasi
> yang berbeda.
>
>
>
>
>
> Saya juga menyarankan untuk melakukan survei terhadap masyaraka temanggung
> dari badan independen apakah mereka mendukung atau menolak bisnis tembakau.
> Kalau data dari APTI yg notabene nya punya kepentingan, tidak bisa dikatakan
> independen dan sample surveynya tidak hanya dari daerah pertanian tembakau
> saja tapi seluruh wilayah kab temanggung karena ini mewakili masyarakat
> temanggung secara umum.
>
>
>
>
>
> Demikian komentar saya, silahkan dikomentari atau dibantah... silahkan..
>
> Gathot Winarso
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
--
Sent from my mobile device

============ ========= ========
Sigit Yulianto
Email: sigityulianto@ Gmail.com


__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Irawan

unread,
Apr 6, 2010, 10:52:50 PM4/6/10
to pik...@googlegroups.com
---------- Pesan terusan ----------
Dari: Gathot <gwin...@gmail.com>
Tanggal: 7 April 2010 09:49
Subjek: Re: [PIKATAN-Bergerak] Fwd: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
Ke: Teman...@yahoogroups.com


 




O, kurang paham maksud tujuan seminar ini.
Sudah dijelaskan didalam proposal bahwa salahsatu tujuan seminar itu ialah untuk memberikan keseimbangan karena perspektif ekonomi, rokok dan kebudayaan tidak pernah diangkat. Jadi cara menilainya berangkat dari kenyataan dulu; kenyataan bahwa selama ini isu kesehatan sangat dominan. Ini fakta. Maka salahsatu gagasan seminar itu adalah membuat berimbang perspektif. Caranya dengan mengangkat isu ekonomi, politik dan kebudayaan.
 
--> Oo begitu ya.. sorry nggak baca proposal, kok saya tahu RPP Tembakau karena adanya penolakan.. kalau isu rokok dan kesehatan siih sudah lama memang... tapi dari pembawa acara, sambutan panitia, dan moderator memang cenderung memonjolkan penolakan tsb... jadi yang berimbang, menurut saya tentunya. karena berimbang menurut siapa kan jadi subyektif.
 
Narasumber dari depkes dengan undangan juga ada yg datang dan memberikan pandangan.
 
--> Narasumber yg saya maksud adalah pembicara, Siti Fadilah dan satu lagi (pembicara nggak datang), kalau yg lain siih menurut saya peserta biasa, bukan nara sumber.
 

Berat sebelah? Sebelum seminar digelar sudah berat sebelah dulu. Seminar bermaksud mengimbangi, walau kenyataan berkata lain.

Panitia menyelenggarakan seminar. Seminar itu bisa berjenis sarasehan, tukar pemikiran. Yg dipahami dalam tulisan di bawah ini adalah debat publik. Salah alamat dong.
Panitia sudah punya sikap sebelumnya? maksudnya sikap apa? kalau sikapnya untuk mengangkat ekonomi, politik dan kebudayaan ya itu jelas. Kalau enggak punya sikap bagaimana mau menggelar seminar?
 
--> betul bahwa seminar bukan debat publik, tapi lebih ke tukar pemikiran..kalau yg mau ditukar nggak ada..(pembicara dari kesehatan).. gimana dunk..?

Panitia tidak menuduh bahwa isu kesehatan ada bisnis. Yang dilakukan panitia adalah mempertanyakan. Dan kita berharap dari narasumber itu sendiri yg bicara. Nah ini antara narasumber dengan panitia dicampur aduk. Kalau yg namanya komentar satu persatu dibuka, semua komentar juga tidak logis, emosional, termasuk komentar yg sedang saya tanggapi ini. Dari mereka yg pro kesehatan juga ada banyak yg emosional. Logis tidak logis lihat hubungannya dengan RUU RPPnya. Logis apa ukurannya? Sudah baca RUU RPP belum?
 
--> Saya tidak mengatakan bahwa panitia menuduh... tetapi ada yang mengatakan hal ini dalam seminar tsb, saya juga tidak mengatakan penolakan rpp tembaka ditunggangi kepentingan bisnis, saya hanya menjelaskan alur logika saya.

Komentar lain yang tidak hubungan dengan panitia tidak saya tanggapi.

faiz.

Pada 6 April 2010 16:06, Irawan <irawanpr...@gmail.com> menulis:


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Gathot <gwin...@gmail.com>
Tanggal: 6 April 2010 15:55
Subjek: [Temanggung] Ben rame : komentar soal Seminar Kretek Kemarin
Ke: Teman...@yahoogroups.com



 

Sebenarnya seminar kemarin menarik...seharusnya memberikan opini yang seimbang ttg dua kubu yang berselisih, tetapi jadinya nggak berimbang karena sumber dari depkes dua-duanya nggak hadir.. jadinya berat sebelah. Ditambah lagi panitia nya juga berat sebelah, sdh punya sikap sebelumnya.
 
Saya menyoal tuduhan adanya kepentingan bisnis dibalik pembatasan rokok, tapi ini kan hanya tuduhan yg sulit dibuktikan. Sementara alasan mereka dengan isu kesehatan adalah masuk akal alias logis.... Kalau memang boleh dengan syak wasangka, kita boleh donk menyoal bahwa penolakan RPP ini juga ada kepentingan bisnis menboncengi, yaitu bisnis rokok yg duitnya besar banget. Dan boleh juga donk.. seminar ini juga...bahkan banyak komentar yang lebih cenderung emosional, bukan secara logika dan pemikiran yang jernih.
 
Tapi menurut saya, untuk mendapat dukungan yang besar pihak penolak juga harus menunjukkan alur pikir yang logis dan dapat diterima, bukan dengan isu-isu syak wasangka. Sehingga serangan balik tuduhan-tuduhan bisa ditepis nantinya.
 
Kita menyadari bahwa kekuatan penyeru pembatasan rokok adalah sangat besar sekali dan sudah secara global. Melihat hal ini, saya setuju dengan cara-cara Pak Hasyim dengan mencari alternatif pemanfaatan tembakau, sehingga kita tidak berhadapan langsung dengan mereka tetapi dengan cerdik berkelit atau bergerak dicelah-celah yang ada di antara kekuatan besar tersebut.
Soal perbedaan data-data yang dikemukakan, sebaiknya ditelusuri sumber aslinya sehingga kebenanrannya bisa dipertanggungjawabkan. Dari pihak penganjur pembatasan rokok, sepertinya data-data mereka diambil dari jurnal-jurnal terpercaya walau memang data-data tersebut diambil dari sejumlah sample dari suatu populasi. Seharusnya ada catatan mengenai populasi tempat pengambilan sampel. Mungkin berbeda dengan lokasi populasi yang berbeda.
 
Saya juga menyarankan untuk melakukan survei terhadap masyaraka temanggung dari badan independen apakah mereka mendukung atau menolak bisnis tembakau. Kalau data dari APTI yg notabene nya punya kepentingan, tidak bisa dikatakan independen dan sample surveynya tidak hanya dari daerah pertanian tembakau saja tapi seluruh wilayah kab temanggung karena ini mewakili masyarakat temanggung secara umum.
 
Demikian komentar saya, silahkan dikomentari atau dibantah... silahkan..
 
Gathot Winarso

--
STANPLAT terbit karena sumbangan sukarela para dermawan yang peduli dengan minat baca dan upaya menegakkan kontrol kebijakan publik melalui media massa di Temanggung. Sudahkah bulan ini Anda mentransfer uang untuk biaya cetak dan ongkos kirim Stanplat? Pastikan Anda adalah pelanggan Stanplat yang bijak dengan rutin menyumbang minimal Rp 150.000,- / 2 bulan. http://pikatan.wordpress.com http://stanplat.blogspot.com
 
Transfer sumbangan bisa melalui rekening Bank Mandiri KCP Jakarta Mampang Prapatan No. 070 00 0450555 3 a.n. Falakiyatun Muniroh. Konfirmasi keuangan 0815 8469 2641
 
Kontak Iklan : Joko Suseno (0816 811 330)

--
STANPLAT terbit karena sumbangan sukarela para dermawan yang peduli dengan minat baca dan upaya menegakkan kontrol kebijakan publik melalui media massa di Temanggung. Sudahkah bulan ini Anda mentransfer uang untuk biaya cetak dan ongkos kirim Stanplat? Pastikan Anda adalah pelanggan Stanplat yang bijak dengan rutin menyumbang minimal Rp 150.000,- / 2 bulan. http://pikatan.wordpress.com http://stanplat.blogspot.com
 
Transfer sumbangan bisa melalui rekening Bank Mandiri KCP Jakarta Mampang Prapatan No. 070 00 0450555 3 a.n. Falakiyatun Muniroh. Konfirmasi keuangan 0815 8469 2641
 
Kontak Iklan : Joko Suseno (0816 811 330)


__._,_.___
.

__,_._,___

Faiz Manshur

unread,
Apr 6, 2010, 11:29:27 PM4/6/10
to pik...@googlegroups.com
Siti Fadilah membatalkan sorenya. Kemarin sudah dijelaskan mengapa tidak datang, padahal papernya sudah dibuat. Akhirnya menjanjikan lain agar aspirasi petani, pemda dan DPRD atau pihak yang berkepentingan dengan ini bisa bertemu langsung.

Depkesnya diundang tidak datang.Jadi tidak berimbangnya dalam diskusi krn situasi. DPR juga hanya satu, padahal 3 orang yg diundang, alasan yg lain masa reses. Untuk memahami berimbang dan tidak berimbang memang tidak cukup dalam satu forum, misalnya seminar ini, atau satu acara debat publik di TV.  Kebetulan mampunya PIKATAN menggelar sekali ini, syukur besuk kalau mampu bisa digelar lagi. Misalnya Rokok dalam perspektif adat. Kita undang para kepala suku di berbagai daerah.....:)
Setelah seminar, Kita fokus saja pada isu di luar seminar agar keberimbangan dari sisi pengangkatan isu, misalnya kesehatan, ekonomi, politik, dan kebudayaan saling mengemuka. Untuk apa semua itu?
Tujuan utamanya mestinya mengawal RPP dalam konteks politik-demokrasi. Pemerintah, dalam hal ini depkes sudah mengeluarkan statemen jauh-jauh dari, dan itu wujudnya dalam draft RPP. Ini adalah sebuah mekanisme dimana sebelum UU disahkan mesti disosialisasikan. Nah, Pemerintah sendiri sudah bicara, sebagai pihak dominan. Maka tugas kelompok lain adalah memberi masukan, menyampaikan pendapat, menyampaikan keberatan, atau menyampaikan dukungan. Dengan banyaknya kritik tersebut, diharapkan RPP bisa matang, atau jika perlu dibatalkan, diganti lain atau ditunda dll. Ini normal sebagai bagian dari demokratisasi. Karena ini menurut hemat saya sebenarnya pihak yang paling tidak perlu bicara sesungguhnya pemerintah karena tugasnya ialah menampung aspirasi bersama DPR. Ini adalah cara lain memahami pergerakan isu (di luar urusan seminar).

Struktur tulisan Anda tadinya tidak dipisah, jadinya apakah itu alur kepanitiaan atau pihak yang kontra RPP tidak jelas. Perlu spasi dan pengawalan dalam bentuk prolog supaya tidak bercampur sehingga bisa dibedakan apakah hal tersebut terkait dengan panitia atau pihak umum yg anda maksud.

NB: salahsatu hal yang penting saat rapat awal seminar ini adalah kepedulian PIKATAN pada nasib petani. Ide mas anif agar fokus ke pokok persoalan petani lumayan bagus sehingga keberpihakan kita jelas. Selain punya alasan bahwa petani adalah pihak yang paling sulit dalam masalah ini, kita juga berhubungan secara emosional sebagai warga Temanggung. nah pihak petani inilah yg mesti dibantu disuarakan. Maklum, mereka kalah kalau bertarung dgn orang2 Jakarta yg punya kuasa. 1 kali demo, dikomentari 10kali pendapat yg kontra.


faiz

 Andy Yoes

unread,
Apr 6, 2010, 11:54:48 PM4/6/10
to pik...@googlegroups.com
Mungkin ini bisa membantu:

1) Enam daerah penghasil tembakau terbesar : Jember, Probolinggo, Pamekasan (di atas 10 ribu ton) lalu Temangggung, Sumenetep, Bondowoso, Bojonegoro (5-10 ribu ton). Selama ini petani Jatim tidak bergerak secara masif karena belum terkonslidasi spt Jateng yang dimotori Temanggung. Jadi kesannya Temanggung gegap gempita. Di Jatim ada gerakan, namun sporadis.

2) Angka kemiskinan dengan fakta di lapangan kadang tidak nyambung. Saya gak tahu soal ini. Tapi kalau panjenengan observasi ke gunung, nanti akan menemukan fakta bahwa 5 tahun terakhir ini petani tembakau lagi 'rejeh'. Memang sih sumbangan tembakau ke kas daerah kecil, namun multiplayer efek tembakau itulah yang mampu menggerakkan ekonomi Temanggung.  Sebab Temanggung bukan hanya penghasil tembakau tapi juga PASAR TEMBAKAU bagi tembakau Temanggungan yang berasal dari Jatim, Jateng dan Jabar.

3) Pak Hasyim sudah bersikap dan akan terus kerucutkan.


Saya setuju dengan opini anda di bagian akhir.


salam.....

Prasetyo O

unread,
Apr 7, 2010, 5:39:32 AM4/7/10
to pik...@googlegroups.com
"Rokok Kretek dan Apollo 11",
Neil Amstrong orang pertama yang menjejakkan kaki di Bulan. Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat di Bulan dengan kendaraan udara kecil, yang telah dikirim ke Bulan dengan roket Saturn V dalam misi Apollo 11. Mereka berdua berjalan di Bulan, dan jutaan orang menonton peristiwa ini dari TV. (Kecuali saya !)

Ucapannya yang terkenal ialah:

Inilah sebuah langkah kecil bagi [seorang] manusia, satu langkah besar bagi kemanusiaan.
Di bumi, terutama dikalangan santri pedesaan dimana saya kecil tinggal di daerah Pringsurat Temanggung dan mungkin juga dimana-mana terjadi perdebatan sengit. "Wah Amerika kafir, ngapusi ! Mana mungkin orang bisa naik ke bulan. Langit itu "sap pitu" hanya nabi Muhammad yang mampu melewatinya dll. dll.

Menurut saya manusia sampai ke bulan hanya bisa dipahami lewat penalaran yang cukup. Kalau keyakinan sudah menutup nalar jadilah debat tak berujung. Tidak ada selesainya. Sekarang para santripun sudah 100 persen setuju bahwa bulan bisa didatangi dan diinjak oleh siapapun.

Seperti halnya rokok kretek. Rokok kretek mengganggu kesehatan. Juga hanya bisa dipahami lewat penalaran yang cukup. Seperti Neil Amstrong turun di bulan tahun 1969. Mungkin 30 tahun atau 40 tahun kedepan manusia di bumi, termasuk para penggemar rokoknya baru percaya 100% kalau merokok itu merusak kesehatan tubuh.

Saya bukan "perokok lagi" dulu mampu merokok 5 - 6 bungkus rokok per hari. Kakek saya meninggal muntah darah karena rokok dan gagal berhenti merokok sampai hayatnya. Saya hidup diantara petani tembakau di desa yang kebanyakan memang miskin yang sekarang ini sudah banyak yang tidak menanam tembakau lagi. Mereka menanam padi, jagung sayur-mayur yang pasti laku !

Bahwa tembakaulah yang menjadi pendukung ekonomi Temanggung menurut saya cuma keyakinan segelintir tokoh belaka. Yang saya lihat tidak begitu. Mungkin benar untuk masyarakat tani pegunungan SIndoro dan SUmbing namun tidak semuanya. Mengingat banyak pula yang bersandar dari sektor pertanian non tembakau. Bahkan banyak pula masyarakat Temanggung yang ekonomi dan nafkahnya didapat dari luar Temanggung seperti: pelaut, buruh migrant, komuter (mencari nafkah di luar kota), pengrajin dll.

Semakin tebal keyakinan kita untuk bersandar pada Tembakau sebagai urat nadi ekonomi Temanggung, maka tertutuplah masa depan ekonomi Temanggung. Karena apa? tembakau adalah komodity musiman yang cuma berlangsung 3 bulanan dalam setahun. Selebihnya jadi pengangguran. Dan apabila produksi gagal total, maka petani asli menjadi merugi besar. Berbeda dengan pedagang tembakau yang mampu berkelit bila panen gagal dengan melakukan bisnis lainnya. Petani tembakau tidak bisa bergerak secepat itu. Petani tembakau memiliki kecenderungan tidak tertarik komoditas lain. Inilah yang menyesatkan petani selama ini.

Saya lebih memilih untuk terus melakukan diversifikasi dan memberi pejelasan kepada petani bahwa kita harus mencari alternatif lainnya selain tembakau. Bahwa sekarang belum mampu atau belum ketemu itu lain soal. Namun pola berfikir petani harus dirubah dan diberi pencerahan bahwa "bertanam tembakau dalam jangka panjang tidak akan mampu mensejahterakan anda". Hutanpun gundul, sumber mata airnya habis, masih miskin dan sakit pula.

Saat ini dengan pola tanam sistem zoning saya kira sudah tepat untuk mengendalikan jumlah penanaman tembakau. Seperti usulan saya dalam seminar di Temanggung tahun lalu (?) selain "ZONING" juga perlu "SCHEDULING", penjadwalan daerah/zone mana yang boleh menanam dan daerah mana yang tidak boleh menanam. Kemudian dirotasi. Dengan demikian ada dorongan kepada petani untuk menanam komoditas lain non tembakau.
 
Semene disik.
Bpras

2010/4/7  Andy Yoes <andy...@gmail.com>



--
GO OPEN SOURCE NOW !!
Forum Sandalwood Indonesia, Indonesian Horse Racing Forum http://forum-sandalwood.web.id



Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages