Persoalan PKL ( Pedagang Kaki Lima) memang persoalan yang pelik dan perlu solusi. Ada sementara orang yang menganalisa, bahwa munculnya PKL karena kegagalan industrialisasi. Memang jika dinalar melalui tinjauan modernisasi ada benarnya. Mengapa? karena modernisasi berarti membawa Indonesia kearah ekonomi modern yang identik dengan industri. Jika modernisasi berhasil maka akan muncul pabrik-pabrik, perdagangan, dan jasa lainnya. Harapannya, tenaga kerja terserap kedalam ekonomi formal tersebut. Namun apa dikata? Nampaknya modernisasi yang merayap di Indonesia salah urus, kepuntir, diplintir, akhirnya amburadul. Ingat pengusaha semu (erzat kapitalisme)? itu bagian dari kegagalan. Dampaknya tenaga kerja tidak terserap dan ekonomi non formal tumbuh dimana-mana, salah satunya PKL. Terus piye?
Pertama apakah kita masih akan meneruskan kebijakan Industrialisasi (modern)? Jika ya, maka sektor riel harus dibangun dengan dahsyat. Bikin pabrik, pertanian modern, perbakan modern, siapkan pedidikan yang mendukung, dll. Hitung pertumbuhan penduduk, perkirakan angkatan kerja, mulailah dengan membangun industri. Jika berhasil maka PKL akan hilang. Namun pasti lama ya.......?
Jika sudah tidak percaya dengan modernisasi, Industri modern, maka mulailah menumbuhkan ekonomi rakyat. Biarkan rakyat berkembang sebagaimana mestinya. Ciptakan aturan-aturan yang endukung perkembangan ekonomi rakyat. Jangan biarkan modal besar masuk, jangan biarkan Mall ( modern masuk), tumbuh kembangkan simpan pinjam biar uang tetap beredar dimasyarakatnya. Tata tertib pengaturan ekonomi harus jelas dan tegas, namun memberi solusi agar ekonomi rakyat tetap tumbuh dan berkembang. Pilihan yang ini memerlukan kerja keras DPR dan Pemerintah karena mereka lebih berperan ketimbang para investor/pemodal. Pengaturan yang tegas dan jelas disini termasuk memberikan jalan keluar bagi PKL. Contoh kasus ini pernah dilakukan di Jogja dengan memindahkan pedagang KLITHIKAN di Jl. Mangkubumi ke Pasar KLITHIKAN Patangpuluhan.
|
|