Kurikulum

16 views
Skip to first unread message

Novi Nurhayati

unread,
Jul 26, 2008, 12:45:03 AM7/26/08
to PGMI UIN 2007
PERBANDINGAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS
PESERTA DIDIK DI LAPANGAN DENGAN
TEORI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS


LAPORAN


Diajukkan Untuk Memenuhi Tugas Pengganti UAS
Pada Mata Kuliah Kurikulum Pembelajaran





Oleh :
NOVI NURHAYATI
207 202490

Transfer S1 PGMI






FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2008

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar individu manusia,
yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta
didik dengan yang lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya
seperti binatang, tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena manusia
memiliki kondisi psikologis yang berkat kemampuan psikologis inilah
manusia menjadi lebih maju, lebih banyak memiliki kecakapan,
pengetahuan dan keterampilan. Kondisi psikologis merupakan
karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan
dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksi dengan lingkungannya.
Kondisi psikologis setiap individu berbeda, karena perbedaan tahap
perkembangan, latar belakang, social budaya, dan perbedaan pembawaan
individu. Interaksi yang terjadi dalam dunia pendidikan harus sesuai
dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi
pendidiknya.
Sama halnya dengan apa yang terjadi di tempat saya mengajar, yaitu SDN
Tenjolaya I Cicalengka Bandung, tepatnya di kelas V, dengan jumlah
peserta didik 45 orang siswa, masing-masing dari peserta didik
tersebut memilki perbedaan dalam berbagai aspek, seperti aspek fisik,
moral, social, kiltur, emosional dan intelektual. Akan tetapi
pembahasan saya ini akan berbicara seputar aspek fisik dan psiko-fisik
yang berhubungan dengan tingkah laku yang sering dilakukan oleh
peserta didik dalam hubungannya dengan interaksi dengan manusia dan
lingkungannya dalam konteks pendidikan. Sehubungan dengan itu semua,
maka kemampuan seorang guru harus benar-benar diperhatikan dan
ditingkatkan, adapun kemampuan guru dalam mengelola pendidikan
diantaranya meliputi kemampuan atau kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Dari
kompetensi inti guru tersebut berkembang menjadi kompetensi guru kelas
yang memiliki beberapa point dari setiap kompetensi intinya tersebut.
Dengan mengetahui dan memahami berbagai kompetensi yang harus
dimiliki, maka seorang pendidik dapat melaksanakan program pendidikan
dan pengajaran dengan maksimal, karena untuk mencipatakan situasi yang
menyenangkan dalam pembelajaran, seorang pendidik harus menguasai
kelas dengan mengetahui keadaan psikologi peserta didik, maka seluruh
peserta didik dapat dipengaruhi untuk menciptakan situasi yang
menyenangkan dalam belajar, misalnya jika seorang pendidik mengetahui
bahwa peserta didiknya senang melakukan berbagai perilaku atau
kegiatan menantang, maka pendidik dapat mendesain pembelajaran yang
menantang dalam bentuk kuis dan lain sebagainya. Dengan demikian akan
terjadi interaksi yang saling membutuhkan, menguntungkan, serta
berkesinambungan antar pendidik dan peserta didik ataupun peserta
didik dengan lingkungan sekitar. Apabila dalam proses interaksi
tersebut terdapat perilaku dari peserta didik yang kurang positif,
maka seorang pendidik dapat langsung mengidentifikasinya dengan
berbekal kompetensi pedagogik, maka seorang pendidik dapat langsung
menetukan langkah dalam maengantisipasi perilaku yang menyimpang dari
peserta didik, karena salah satu kemampuan atau kompetensi pedagogik
yang harus dimiliki oleh pendidik adalah memahami karakteristik
peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik,
intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang
sosial-budaya. Dengan demikian, maka pendidik harus mengetahui teori-
teori tentang perkembangan peserta didik baik aspek fisik maupun psiko-
fisiknya, yang dikemukakan oleh beberapa tokoh berdasarkan penelitian-
penelitian yang sudah dilakukan. Oleh karena itu kompetensi pedagogic
harus benar-benar dikuasai oleh pendidik, karena kompetensi ini
meliputi kemampuan yang berhubungan denga segala sesuatu yang
berkaitan dengan program pengajaran seperti mengenali peserta didik,
menguasai teori, metode, pendekatan, kurikulum, dapat menyelenggarakan
pengajaran yang mendidik, dapat menggunakan media pembelajaran, dapat
menyediakan wadah untuk penyalauran potensi peserta didik, mampu
berkomunikasi secara efektif dan empatik dan yang terakhir mampu
melaksanakan program penilaian. Keadaan peserta didik SDN Tenjolaya I
cicalengka-Bandung sangat bervariatif, dan dibutuhkan kemampuan atau
kompetensi yang menunjang untuk mengarahkan mereka ke dalam situasi
belajar yang kondusip, keadaan peserta didik kelas V sudah mengalami
peningkatan yang berarti dibandingkan ketika mereka masih duduk di
kelas IV, untuk lebih jelasnya, berikut akan dipaparkan sedikit
tentang perbandingan perkembangan psikologis peserta didik dengan
teori perkembangnnya yang dikemukakan oleh beberapa tokoh, dengan
rumusan permasalahan sebagai berikut :


1. Jelaskan teori perkembangan psikologis menurut beberapa tokoh
2. Jelaskan Perbandingan perkembangan psikologis siswa SDN Tenjolaya
Cicalengka-Bandung kelas V dengan teori perkembangan psikologi
menurut beberapa tokoh





























BAB II
PEMBAHASAN


A. Teori Perkembangan Psikologi

Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa
konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai
dengan dewasa. Dalam teori perkembangan psikologi dikenal ada tiga
pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan pentahapan dimana
perkembangan individu berjalan berdasarkan tahap-tahap perkembangan,
pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki persamaan dan
perbedaan sebagai dasar untuk pengelompokkan, pendekatan isaptif yaitu
pendekatan yang berusaha melihat karakteristik individu-individu. Dari
tiga pendekatan tersebut yang banyak dipakai oleh para ahli adalah
pendekatan pentahapan, sehingga teori-teori perkembangan psikologis
yang dikemukakan oleh beberapa tokoh berikut ini dihasilkan
berdasarkan pendekatan pentahapan tersebut. Pada pembahasan ini akan
dijelaskan teori perkembangan peserta didik pada usia sekolah dasar,
akan tetapi untuk memperjelas tahapan-tahapan perkembangan terlebih
dahulu akan dijelaskan tahapan-tahapan perkembangan yang terjadi pada
manusia mulai dari masa bayi, balita, kanak-kanak hingga dewasa, yang
diantaranya sebagai berikut :
1. Piaget, berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif anak yang
terpenting adalah penguasaan dan kategori konsep-konsep, melalui
penguasaan konseo-konsep tersebut, anak mengenal lingkungan dan
memecahkan berbagai problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Ada
empat tahap perkembangan anak menurut konsep Piaget, diantaranya
adalah :
a. Tahap Sensorimotor, dari usia 0-2 tahun, pada masa ini kemampuan
anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang,
dan ruang yang dekat saja.
b. Tahap Praoperasional, dari usia 2-4 tahun, dengan kemampuan
menerima perangsang yang terbatas, pada tahap ini anak sudah mulai
berkembang akan tetapi konsep ruang dan waktu masih terbatas.
c. Tahap Konkret Operasional, dari usia 7-11 tahun, pada masa ini anak
sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan,
menyusun, menderetkan, melipat dan membagi.
d. Tahap Formal Operasional, dari usia 11-15 tahun, pada tahap ini
anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi seperti berpikir secara
deduktif, induktif, menganalisis, menyintesis, mampu berpikir abstrak
dan berpikir reflektif, serta memecahkan berbagai masalah.
2. Lawrence Kohlberg, menemukan tigatahap perkembangan moral kognitif,
masing-masing tahap terdiri atas dua tingkatan, sehingga seluruhnya
meliputi enam tingkatan, yaitu :
a. Tahap I Preconventional moral reasoning, dengan tingkatan obedience
and punishment orientations dan naively egoistik orientation, pada
tahap ini pertimbangan moral seseorang mengacu ke luar, kepada objek-
objek dan peristiwa yang konkret dan bersifat fisik. Mereka belum
mampu memeberi pertimbangan moral atas dasar standar-standar sosial,
pertimbangan moral mereka diwarnai oleh kecendrungan hukuman dan
keputusan, jadi berbuat baik atau tidak berbuat salah karena takut
akan hukuman. Segala perbuatannya dikontrol oleh kekuatan-kekuasaan
yang datang dari luar.
b. Tahap II conventional moral reasoning, dengan tingkatan good boy
orientation dan authority and social order maintenance orientation.
Pada tahapan ini suatu perbuatan dipandang baik apabila sesuai dengan
harapan orang banyak atau masyarakat, pada tingkatan ini perbuatan
dinilai baik apabila berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain atau
masyarakat dan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang ada dalam
masyarakat atau sejalan dengan tuntutan dan kebiasaan masyarakat.
c. Tahap III postconventional moral reasoning, dengan tingkatan
contractual legalistic orientation dan conscience or principle
orientation. Pada tahap ini pertimbangan moral didasarkan atas
pandangan yang bersifat relativ, unsur-unsur subjektif dari aturan
sosial. Pada tahap ini pertimbangan perbutan baik dan jahat didasarkan
atas persetujuan tidak tertulis antara pribadi dan masyarakat.

B. Perbandingan Perkembangan Psikologi Peserta Didik SDN Tenjolaya I
cicalengka-Bandung dengan teori Perkembangan Psikologi

Sebagai seorang calon guru yang sudah memiliki pekerjaan sebagai
pengajar di SDN Tenjolaya I cicalengka-Bandung dengan jumlah peserta
didik sebanyak empat puluh lima orang siswa, seyogyanya saya harus
mengetahui, memahami, mengjaki dan melaksanakan berbagai macam
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang tenaga pendidik, seperti
yang sudah dijelaskan di atas yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial. Dari
keempat macam kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik tersebut
salah satunya berhubungan dengan kelangsungan hidup pdari pendidikan
yaitu kompetensi yang dsangat berhubungan erat dengan proses
pengajaran didalam kelas, kompetensi tersebut adalah kompetensi
pedagogik, dimana pendidik dituntut untuk memahami, membuat, dan
menyelenggarakan segala sesuatu pengadministrasian serta program
pengajaran yang berasal dari kurikulum. Selain itu agar pelaksanaan
seluruh administrasi dan program tersebut berjalan lancar, maka
pendidik harus dapat mengorganisasi, mengkoordinasi seluruh peserta
didik dengan terlebih dahulu mengetahui kepribadian dari masing-masing
peserta didik, sehingga dengan begitu pendidik dapat menyesuaikan
antara program pengajaran atau yang akan disampaikan melalui materi
pelajaran dengan keadaan peserta didiknya dalam hal pendekatan,
metode, dan lainnya. Oleh sebab itu sebagai seorang pendidik point
yang harus digarisbawahi dan dipahami dalam kompetensi pedagogik
sebagai guru kelas yang sangat awal sekali tercantum adalah memahami
karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan
aspek fisik, intelektual, social-emosional, moral, spiritual, dan
latar belakang sosial-budaya.
Saya mahasiswi jurusan keguruan yang sudah mulai mengajar di SDN
Tenjolaya I cicalengka-Bandung, saya mengajar di kelas V dengan jumlah
peserta didik empat puluh lima orang, diantaranya peserta didik laki-
laki berjumlah dua puluh empat orang sedangkan perempuan sebanyak dua
puluh satu orang. Semua peserta didik yang berada di kelas V berasal
dari kultur sosial budaya yang sama yaitu sunda, sehingga rasa
kesatuannya sebagai orang sunda masih kuat, sehingga fisikna pun
relativ standar orang-orang sunda asli dan semuanya normal, memiliki
badan yang sehat terlihat ketika pembelajaran sedang berlangsung,
semangatnya cukup tinggi dalam menanggapi stimulus yang diberikan oleh
pendidik, untuk keadaan ekonomi kelaurga peserta didik mayoritas
memiliki perekonomian dengan penghasilan menengah ke atas, sehingga
dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran anak-anaknya sebagai peserta
didik di SDN Tenjolaya I Cicalengka-Bandung sangat diperhatikan. Dalam
hal spiritual beragama mayoritas menganut ajaran islam, sehingga
keadaan moral peserta didik masih kental sekali diwarnai dengan ajaran-
ajaran agama islam ditambah dengan pendidikan keagamaan yang mereka
terima di luar jam pelajaran seperti sekolah agama, TPA dan lainnya.
Sehingga itu semua berdampak pada moralitas siswa dengan muncul
sebagai sikap dan tinggkah lau menjunjung tinggi nilai penghormatan
dan kesopanan, misalnya mengucapkan salam kepada guru apabila bertemu
di luar sekolah atau di sekitar sekolah, menjaga kehormatan mereka
dengan memakai baju yang layak pakai dalam arti menutup aurat. Sedang
dalam hal intelektual perkembangan yang berarti dapat dirasakan dari
waktu kewaktu dalam hal perbaikan tingkat pencapaian pemahaman dalam
semua mata pelajaran. Untuk lebih jelas, berikut pemaparan mengenai
perbandingan keadaan peserta didik yang saya ajar, yaitu peserta
didik SDN Tenjolaya I Cicalengka-Bandung yang duduk di kelas V dengan
teori perkembangan psikologi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh di
atas:
1. Dalam kemampuan kognitif menurut Piaget, bahwa kemampuan kognitif
anak dapat dibagi menjadi empat tahapan yaitu, tahap sensori motor,
tahap praoperasional, tahap kongkrit operasional, dan tahap formal
operasional. Masing-masing dari tahap kognitif tersebut memiliki ciri-
ciri khusus dengan kompetensi khusus di dalam pencapaian
perkembangannya, seperti yang sudah dijelaskan di awal pembahasan. Dan
perkembangan kognitif peserta didik yang saya ajar sudah sampai pada
tahap kongkret operasional yang berkisar antara usia 7-11 tahun dengan
pencapauan perkembangan kognitif anak sudah mampu menyelesaikan tugas-
tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan
membagi. Karena anak didik saya sudah mampu menanggapi stimulus dari
pendidik berupa materi pelajaran di dalam kelas, misalnya dengan
metode tanya jawab pendidik mengajukan pertanyaan tentang penggolongan
hewan menurut jenis makanannya, dan anak didik saya dapat menjawabnya
dengan cukup baik.
2. Lawrence Kohlberg, mengembantgkan sutu teori tentang perkembangan
moral kognitif, dimana terdapat tiga tahapan dalam penxcapaiannya, dan
setiap tahapnya terdapat dua tingkatan, sehingga semuanya terdapat
enam tingkatan dalam perkembangan moral kognitif. Anak didik saya
sudah mencapai tahap ketiga yaitu pertimbangan moral konvensional,
yang terdiri dari tingkat sebagai anak baik dan memelihara ketertiban
dan peraturan masyarakat. Seseorang dan sesuatu dinilai baik menurut
penilaian orang lain. Misalnya yang terjadi pada anak didik saya yaitu
ketika pendidik meminta dibawakan kapur tulis, maka peserta didik saya
banyak yang menawarkan dirinya untuk mengambil kapur, mempersentasikan
hasil pekerjaan rumah atau tugas sekolah di depan teman-temannya,
mengikuti sekolah agama di lingkungan masyarakat, mengikuti kerja
bakti dan opsih dan lain-lain.
3. Keadaan psikologis peserta didik saya jika dinbandingkan dengan
perkembangan psikososial yang diungkapkan oleh Erick Homburger
Erikson, sudah mencapai tahap ke IV dari delapan tahap yang beliau
ungkapkan. Adapun tahap ke empat disebut dengan tahap kreatif melawan
tidak percaya diri, artinya anak itu berada dalam krisis psikososial
atau anatara sesuatu perilaku yang akan menghasilkan sikap dan
perilaku yang positif yaitu berupa perilaku kreatif, apabila mengalami
kegagalan, maka akan menghasilkan perilaku berupa tidak percaya diri
dalam menghadapi kehidupannya. Oleh karena itu sebagai pendidik kita
harus mengetahui keadaan peserta didik jangan sampai mereka mengalami
kegagalan dalam mencapai perkembangannya menjadi manusia yang
seutuhnya, selain itu kita sebagai pendidik, harus memberikan
suritauladan atau contoh untuk ditiru oleh mereka, karena dalam
mencapai tingkatan-tingkatan dalam perkembangan psikososial tersebut
anak didik memerlukan contoh sebagai bahan tiruan dan bahan untuk
diamati.







BAB III
KESIMPULAN

1. Terdapat tiga tokoh yang mengemukakan pendapat mengenai psikologi
perkembangan pada manusia, khusunya pada masa anak-anak, diantaranya :
a. Piaget dengan teori perkembangan kognitif
b. Lawrence, dengan perkembangan moral kognitif
c. Erick Homburger Erikson dengan perkembangan psikososial
2. Dari perbandingan psikologi peserta didik kelas V SDN Tenjolaya
Cicalengka-Bandung dengan teori perkembangan psikologi yang
diungkapkan oleh beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa
terdapat persamaan antara keadaan psikologi peserta didik yang saya
ajar dengan teori-teori perkembangan menurut tokoh-tokoh di atas,
selain itu perkembangan psikologi yang dialami oleh peserta didik saya
sangat normal sesuai dengan umur tingkat sekolah dasar dan kompetensi
yang dimilikinya, itu semua dapat mempermudah pendidik dalam
melaksanakan program pengajarannya didalam kelas ketika sudah
mengetahui tahapan perkembangan yang sedang dialami oleh peserta
didiknya.


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages