Pura Kawitan Sri Kresna Kepakisan

0 views
Skip to first unread message

Kylee Evancho

unread,
Aug 3, 2024, 11:10:15 AM8/3/24
to pfirlanptoovor

Pada tahun 1983 Masehi, para penggagas pemugaran menghadap para pemikir seperti : Puri mengwi, Keramas, Medahan, Jembrana, Karangasem, Ubud dan lain-lainya, dengan tujuan menyatukan kembali Prati Sentana dari Ida Betara Kawitan dengan berlandaskan pada Srada dan Bakti terhadap leluhur. Pada tanggal 9 Desember1984 mulai melkukan persiapan-persiapan dan baru pada tanggal 1 Maret 1985 Mulai Melaksanakan Upacara pengruak dari Mulai Melaksanakan pembangunan fisik, mulai sejak itu berdatanganlah Prati Sentana Ida dari seluruh Bali ngaturang Bakti ring Ida Betara Kawitan. Untuk mengantisipasi perkembangan pasemetonan maka dibentuklah kepengurusan Pusat sampai kabupaten/kota seBali. Setelah berjalan 10 tahun tepatnya pada tanggal 12 Nopember 1994 Pasemetonan dapat merampungkan pemugaran dan pada saat itu diadakan upacara agung memungkah dan ngeteg linggih. Pada waktu itu diadakan :

1. Menstanakan kembali Ida Betara Kawitan Shri Nararya Kreshna Kepakisan pada bangunan pelinggih meru tumpang sia, sedangkan leluhur yang dilainnya distanakan di gedong dalem diantaranya, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak dan para leluhur lainnya yang meninggal di Gelgel.

Om Swastiastu..Titiang saking semeton Puri Andul Jembrana, mohon info untuk mendapatkan sisililah Prati Sentana Shri Nararya Kreshna Kepakisan (berukuran kertas Manila A0 seperti yg di pajang di Bale Piasan didepan Pura Dalem Agung Shri Nararya kreshna Kepakisan)

Om Swastiastu,
Tiang prati sentana Shri Nararya Kreshna Kepakisan saking buleleng ,
Tiang jagi metaken tentang silsilah Gusti padangkerta ,
Setau tiang ring sisililah Prati Sentana Shri Nararya Kreshna Kepakisan sane wenten ring Bale Piasan Pura Dalem Agung Shri Nararya kreshna Kepakisan silsilah Gusti Padangkerta Dados ten melanjutin , nawi mawinan ??
Mohon Info ..
Suksma .
Om Shanti,shanti,shanti Om

Om Swastiastu,
Tiang prati sentana Shri Nararya Kreshna Kepakisan saking Medahan, Gianyar. Mangkin kari ring Jakarta, mohon info apakah sudah ada semacam majalah bulanan atau kalendar kegiatan?, Suksma.
Om Santih Santih Santih Om.

titiang meparab kadek ardiasa .tityang metaken sareng penglisir pura kawitan ring dukuh kelungkung ,punapi kawentenan tityang ring banjar menega jembrana lan sapunapi kaitan dengan I agung maruti ,inggih asapunika indik petaken tityang ,tityang nunas ampura parindikan petaken punike

Om Suastyastu, Tityang I Gusti Agung Gede Saskara, saking Puri Kaleran Keramas Gianyar, sane mangkin tinggal ring Bogor, angayubagia titang haturkan majeng ring penglingsir pengurus Pusat Pasemetonan SNKK sampun mresidayang micayang informasi indik sejarah Pura, Silsilah lan sane tiosan, dumogi Pasemetonan SNKK semakin Guyub,astungkara

Penghormatan kawitan berguna untuk mendoakan leluhur agar mereka tenang di alam yang berbeda, dan sebagai bentuk kasih sayang kepada leluhur. Simak sejarah, makna, serta fungsi dari kawitan di bawah ini!

Menurut Tri Handoko Seto dalam buku Wartam (2020), kawitan berasal dari kata 'wit' yang artinya asal usul atau awal mula manusia, jadi setiap manusia memiliki kawitan. Sementara itu, leluhur adalah asal muasal kita di mana dalam siklus kehidupan, setelah upacara ngaben dilaksanakan, keluarga bisa tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura kawitan masing-masing.

Sejarah kawitan berhubungan dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali. Berdasarkan prasasti, sejarah Bali tercatat dimulai pada abad ke-8 Masehi (Hadion Wijoyo, 2021:49) di mana beberapa raja Bali meninggalkan tulisan yang menyinggung susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan ANak Wungsu.

Pada tahun 1343, Bali berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Panglima Arya Damar. Majapahit kemudian mengangkat Raja Sri Kresna Kepakisan (1350-1380 M) yang memegang Swecapura di Gelgel, Klungkung.

Saat Majapahit mengalami keruntuhan, salah satu Raja Gelgel, Dalem Waturenggong (1460-1550 M) mengalami masa kejayaan di mana beliau memperluas wilayah kekuasaan ke sebagian Jawa Timur, Lombok, dan Sumbawa. Pada tahun 1651, terjadi pemberontakan di mana Gusti Agung Maruti penguasa wilayah bawahan (Gelgel: Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangsem, Mengwi, dan Tabanan) melepaskan diri dan membentuk pemerintahan sendiri.

Sampai abad ke-18, Bali terpecah menjadi 8 kerajaan, yaitu Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Karangsem, Klungkung, Mengwi, dan Tabanan di mana kerajaan-kerajaan kecil ini sebagai dasar pembagian wilayah kabupaten di Bali dan juga Pura-pura.

Bapak Nyoman Subawa mengatakan bahwa masyarakat Bali telah mengenal agama dan kebudayaan sejak abad ke-8 M. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11 M untuk menyebarkan konsep Khayangan Tiga dan paham Tri Murti yang menyatukan berbagai aliran agama atau sekte pada waktu itu.

Pada tahun 1338 M, terjadi peralihan Kerajaan Bali ke Dalem Bedahulu yang dipimpin oleh Patih Kebo Iwa yang pada tahap selanjutnya kemakmuran kerajaan di Bali berlanjut pada abad 17-19 M. Peninggalan pada masa itu yaitu Taman Kerta Gosa di Klungkung, Taman Sukasada di Karangasem, dan Taman Ayun di Mengwi.

Dikutip dari jurnal Tatanan Spasial Pura Paibon Warga Pemeregan di Denpasar oleh Bayu Mahaputra, Pura Kawitan adalah pura yang masyarakat pemujanya ditentukan oleh ikatan leluhur berdasarkan kelahiran. Pembangunan Pura ini bertujuan untuk membina kerukunan keluarga, dari keluarga inti sampai tingkat klan.

Bila disimpulkan, kawitan terbentuk setelah Bali terpecah menjadi 8 kerajaan (Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Karangsem, Klungkung, Mengwi, dan Tabanan) di mana masyarakat mulai membangun Pura seperti Pura Kawitan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal.

Sanggah atau merajan diusung oleh satu atau lebih keluarga yang memiliki garis keturunan terdekat. Pura Dadia diusung oleh sejumlah keluarga yang memiliki satu keluarga, sedangkan Pura Pedharman diusung oleh sejumlah keluarga yang memiliki satu garis keturunan dengan keluarga berada terpencar di berbagai desa atau kabupaten.

Klen besar adalah kelompok kerabat lebih luas dari klen kecil (dadya) yang terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya. Anggota kelompok kerabat mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut dengan Pura Paibon atau Pura Panti, di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebutnya dengan Pura Batur (Batur Klen), Pura Penataran (Penataran Klen), dan sebagainya.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages