Antara Mukjizat, Karamah dan Khurafat
Mukjizat
Mukjizat adalah karunia Allah yang diberikan kepada para rasul dan Nabi dari keluarbiasaan, mukjizat digunakan untuk melawan orang2 yg menentang para nabi, untuk mengujinya dan untuk mengabarkan diutusnya mereka oleh Allah, serta untuk menguatkan dakwah para Nabi dan Rasul.
Seperti : Peristiwa terbelahnya bulan, turunya Alqur’an (Al qur’an merupakan sebesar2nya mukjizat), rintihan batang kurma, keluarnya air dari sela jari2 tangan Rasullullah, memperbanyak makanan, isra’ mi’raj dan banyak lagi.
Beberapa dalil tentang Mukjizat para Nabi ’alaihi shalaatu wasallam,
1. Ketika
Allah memerintahkan Nabi Musa 'alaihi wasallam
untuk
memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu
menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu
menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman.
"Artinya :
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu.: Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah
seperti gunung yang besar." [Asy Syu'araa: 63]
2. Nabi Isa 'alaihi
wasallam
ketika menghidupkan orang-orang yang
sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan ijin Allah. Allah
berfirman.
" Artinya : ... dan aku menghidupkan
orang mati dengan seijin Allah ..." [Ali Imran: 49]
"Artinya :
... dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati
dari kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku ..." [Al Maidah
:110]
3. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kaum Quraisy
meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah
bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya. Allah
berfirman tentang hal ini.
"Artinya : Telah
dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah pula bulan. Dan jika mereka
(orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan
berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus-menerus." [Al-Qomar:
1-2]
4. Mukjizat
Isra’ dan Mi’raj, yaitu dibawanya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wasallam
oleh Malaikat Jibril pada satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis kemudian ke
langit sampai ke Sidratul Muntaha. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan
sadar.
Inilah
tanda-tanda yang diberikan Allah, untuk memperkuat para rasulNya dan
sebagai pertolongan atas mereka, menunjukkan dengan pasti akan
keberadaan Allah ta’ala.
Karamah
Karamah adalah apa yg Allah karuniakan melalui tangan para walinya yg mukmin berupa keluarbiasaan, seperti ilmu, kekuasaan dan lainya tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, atau pun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad, 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin).
Allah berfirman, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa." (Yunus: 62-63)
Ayat di atas mengandung pengertian bahwa wali adalah orang mukmin yang bertaqwa dan menjauhi maksiat. Ia berdo'a hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Terkadang tampak padanya karamah ketika sedang dibutuhkan.
Karamah
para wali dan orang-orang shalih benar-benar ada. Namun tidak setiap sesuatu
yang luar biasa adalah karamah. Bisa jadi itu merupakan cobaan dari Allah dan
bisa pula merupakan pengaruh dari setan dan orang-orang yang jahat. Tolak ukur
dalam hal ini adalah apakah hal itu sesuai atau tidak dengan Al Qur'an dan
Sunnah.
Semua orang yang beriman adalah wali Allah, dan di dalam diri setiap
orang yang beriman terdapat tingkat kewalian sesuai dengan tingkat
keimanannya.
Maka, wilayah (kewalian) memang ada. Tetapi ia tidak terjadi kecuali pada hamba yang mukmin, ta'at dan mengesakan Allah. Karamah tidak menjadi syarat untuk seseorang disebut wali, sebab syarat demikian tidak diberitahukan oleh Al-Qur'an.
Wilayah itu tidak mungkin terjadi pada seorang fasik atau musyrik yang berdo'a dan memohon kepada selain Allah. Sebab hal itu termasuk amalan orang-orang musyrik, sehingga bagaimana mungkin mereka menjadi para wali yang dimuliakan...?
Karamah tidak bisa diperoleh melalui warisan dari nenek moyang atau keturunan, tetapi ia didapatkan dengan iman dan amal shalihnya.
Misalnya : Makanan yg Allah berikan kepada Maryam binti Imran. Allah berfirman,
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Al Imran 37),
Contoh lain adalah Naungan yg Allah berikan kepada Usaid bin Hudhair ketika membaca Al quran (HR Muslim 796), serta berita2 para pemuka umat ini yaitu para sahabat, tabi’in dan generasi berikutnya dari umat Islam. Karamah akan tetap ada pada umat ini sampai datangnya hari kiamat.
Syarat diberikanya Karamah yaitu istiqomah dalam iman dan mengikuti syari’at, jika tidak demikian maka yg berlaku padanya adalah keluarbiasaan wali-wali syaithan. Demikian pula, mimpi bertemu dengan mayit tidak merupakan dalil secara syara' atas kewalian. Bahkan bisa jadi ia adalah bunga tidur yang berasal dari setan.
Allah berfirman : (Artinya) Sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada wali-wali mereka untuk membantahmu, jika kamu menaati mereka, sesungguhnya kamu menjadi orang-orang musyrikin”. (QS . Al An’aam,ayat: 121).
Banyak orang berasumsi bila seseorang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, maka dia dianggap wali yang memiliki karomah. Padahal belum tentu, boleh jadi itu adalah tipuan atau sihir, atas bantuan setan dan jin setelah ia melakukan apa yang diminta oleh jin dan setan tersebut. Seperti ada orang yang bisa terbang atau berjalan di atas air atau tahan pe dang atau bias memberi tahu tentang sesuatu yang hilang, oleh sebab itu yang perlu dicermati adalah bagaimana amalannya, apakah amalannya sehari-hari sesuai Sunnah atau tidak ?
Apakah
wali Allah itu harus memiliki karamah? Lebih utama manakah antara wali yang
memilikinya dengan yang tidak?
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahinahullah menyatakan bahwa
tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak
memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memiliki-nya. Oleh karena
itu, karamah yang terjadi di kalangan para tabi’in itu lebih banyak daripada di
kalangan para sahabat, padahal para sahabat lebih tinggi derajatnya dari-pada
para tabi’in. (Disarikan
dari Majmu’ Fatawa, 11/283)
Apakah
setiap yang diluar kebiasaan dinamakan dengan ‘karamah’?
Asy-Syaikh
Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi
kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada tiga macam:
· Mukjizat yang terjadi pada para rasul dan nabi,
· Karamah yang terjadi pada para wali Allah
· Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan.
(Disarikan dari At-Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313)
Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti ajaran Rasulullah .” (A’lamus Sunnah al-Manshurah, hal. 193)
Menurut persepsi kebanyakan manusia, wali adalah orang yang mengetahui ilmu ghaib. Padahal ilmu ghaib adalah sesuatu yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Memang, terkadang hal itu di-tampakkan pada sebagian RasulNya, jika Dia menghendakinya. Allah berfirman,
"(Dia
adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang
diridhaiNya".
(Al-Jin: 26-27)
Dengan
tegas, ayat di atas mengkhususkan para rasul, dan tidak menyebutkan yang lain.
Sebagian orang menyangka bahwa setiap kuburan yang dibangun di atasnya kubah adalah wali. Padahal bisa jadi kuburan tersebut di dalamnya adalah orang fasik, atau bahkan mungkin tak ada manusia yang dikubur di dalamnya.
Membangun sesuatu bangunan di atas kuburan adalah diharamkan oleh Islam. Dalam sebuah hadits shahih ditegaskan,
"Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wasallam melarang mengapur
kuburan atau dibangun sesuatu di atasnya." (HR.
Muslim)
Seorang
wali bukanlah yang dikuburkan di dalam masjid, atau yang dibangun di atasnya
suatu bangunan atau kubah. Hal ini justru melanggar ajaran syari'at
Islam.
Khurafat
khurofat adalah cerita tidak berasal usul yang menyesatkan umat karena mengandung keyakinan, larangan, atau anjuran tertentu yang bertentangan dengan aqidah dan syariat islam.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa di antara wasilah kebahagiaan adalah menjernihkan akal
dari kotoran-kotoran khurafat. Jika akal tercemar oleh suatu khurafat, maka
terbentanglah tembok tebal yang meng-halangi antara akal dengan
kebenaran.
Oleh
karena itu, pilar pertama kali yang dibangun oleh agama yang lurus ini adalah
menjernihkan akal dengan sinar tauhid sehingga ia terbebas dari belenggu
prasangka dan keyakinan-keyakinan batil yang banyak menghinggapi otak
manusia.
"Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka
akan menyesatkan-mu dari jalan Allah"
(QS. At-Taubah: 116).
Khurafat
berasal dari akar kata ( kharufa ) yang artinya rusaknya akal karena lanjut
usia. Dan kebetulan khurafat adalah nama seorang laki-laki yang dipengaruhi oleh
jin, lalu ia bercerita sesuai dengan apa yang ia lihat, maka orang-orang tidak
mempercayainya dan mereka mengatakan "Ah itu hanya cerita khurafat". Jadi
khurafat adalah cerita-cerita
atau
dongeng-dongeng
dan kepercayaan-kepercayaan yang dusta (yang tidak
dibenarkan).
Beberapa
contoh Khurafat di antaranya adalah:
1. Jika
sebagian mereka menginginkan pernikahan, maka ia pergi ke orang "pintar" (baca:
dukun) atau peramal untuk mengetahui kecocokan dan tidaknya. Yang benar adalah
bahwa kecocokan dan kasih sayang itu datangnya dari Allah."Dan dijadikanNya di
antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21).
2.
Jika
ada seseorang dibunuh di suatu tempat, maka akan muncul hantu (gondoruwo) di
malam hari dari tempat kejadian tersebut. Tidak cuma ini, mereka pun memiliki
kisah-kisah yang menyeramkan yang mereka kukuhkan dengan sumpah-sumpah. Allah
Maha Mengetahui tentang apa yang mereka ceritakan dan apa yang mereka
lihat.
3. Makam
atau kuburan para wali memiliki spesialisasi seperti layaknya para dokter, di
antaranya ada yang membawa anaknya yang sakit ke sebagian makam dan
meletakkannya di atas kuburan tersebut pada hari Jum'at mulai tergelincirnya
matahari hingga selesainya shalat Jum'at. Mereka membiarkannya menangis,
berteriak, kencing dan buang air besar di atas kuburan sang wali tersebut.
Menurut keyakinan mereka, ada makam yang bisa menyembuhkan penyakit panas, ada
makam yang bermanfaat untuk memenuhi hajat, mendatangkan kekayaan serta membayar
hutang. Ini semua adalah kesesatan dan awham yang tidak ada
dasarnya.
Dan
apabila permintaan mereka yang baik terkabulkan, bukan berarti perbuatan mereka
itu benar. Untuk mengetahui benar dan salahnya haruslah kembali kepada syari'at.
Sedangkan terkabulnya do'a dengan cara yang salah seperti di atas itu adalah
cobaan. Artinya, kalau orang-orang yang meminta kekayaan (pesugihan) kepada atau
di tempat yang dikeramatkan itu tidak ada satu pun yang berhasil kaya, tentu
tidak akan ada lagi orang yang melakukan hal serupa di tempat itu. Kedua, hal
itu menunjukkan bahwa Allah Maha Pemberi rizki dan Pengasih, karena orang yang
memohon dengan cara salah atau syirik seperti itu masih dikabulkan, apalagi jika
meminta dengan cara yang benar.
Begitulah
jika seseorang tidak mengikuti syari'at Allah, hidupnya tidak tenang serta tidak
memiliki jalan yang jelas. Ia selalu menjadi korban kebodohan, takhayyul dan
khurafat. Seandainya mereka mau mempelajari dan mengikuti syari'at Islam tentu
lebih baik, lebih kokoh keyakinannya, berpahala dan lurus ke Surga sebagaimana
firman Allah, artinya:"Dan
sesungguhnya
kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal
yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan
kalau demikian, pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus." (QS. An-Nisa':
66-68).
Kesimpulan
Para ulama menjelaskan :
Rujukan :
1. Kitab Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan.
2. Kitab Minhajul Firqoh An-najiyah wath-thaifah Al-mansurah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
3. Buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas
4. Al-Ibda' fi Madhoorril Ibtida'. Syaikh Ali Makhfudz
5. Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin.
6. Majmu’ Fatawa, 11/283
7. At-Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313
8. A’lamus Sunnah al-Manshurah, hal. 193
Wallahu a’lam
Semoga Bermanfaat