Dia Selalu Tersenyum...
Salah satu sahabatku, seorang petani kecil bernama Darto, tubuhnya kecil, kulitnya hitam legam terbakar matahari, selalu mengingatkan aku pada lagu Ebiet G.Ade. Aku senang bersahabat dengan Darto yang selalu kupanggil dengan sebutan Kang, karena dia selalu tersenyum. Sepanjang persahabatan kami, aku belum pernah melihat dia sedih atau murung. Dia selalu tersenyum.
Ketika hama tikus menyerang tanaman padi di daerahku, banyak petani murung, sedih karena menderita rugi. Aku buru-buru menyambangi Kang Darto untuk ikut menyatakan empati kepadanya atas kerugian yang sedang dideritanya. Tetapi aku kecele, karena Kang Darto menyambutku dengan senyum mengembang mempertontonkan sedertan giginya yang putih, memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku. Dia benar-benar gembira melihat kedatanganku ”ke mana saja selama ini ? Aku kangen sama kamu”, katanya.
Sama sekali tidak ada kesan sedih dan murung. Bahkan ketika dia menceritakan tanaman padinya yang rusak dimakan tikus pun tidak tampak kesedihan di wajahnya. Kang Darto hanya mengatakan, Tuhan memang adil, tidak ada satu pun mahlukNya yang tidak mendapatkan bagian rejeki. Tikus itu pun mendapat bagian rejeki dari Tuhan, dan aku diperintah olehNya untuk menyediakan makanan bagi tikus itu. Alhamdulillah, aku dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. Mudah-mudahan Tuhan senang dengan pekerjaanku.
Demi Tuhan, hampir saja aku meneteskan airmata melihat Kang Darto – petani kecil yang perkasa – itu tahu benar bahwa pekerjaannya tidak sia-sia. Ketika orang lain memusuhi tikus yang memakan padi di sawah, Kang Darto tidak mengambil sikap seperti itu. Dia justru berkata, tikus itu bukan musuh, dia itu penyeimbang. Dia tidak harus dimusuhi. Yang harus dilakukan oleh manusia adalah membatasi perkembangannya dengan membiarkan binatang pemangsa tikus tetap hidup. Kita harus memperlakukan alam ini dengan benar, menjaga mahluk hidup yang ada dengan semestinya, karena Tuhan sudah menjadikan segala sesuatu dalam keseimbangan yang sempurna.
Kang Darto, sikapmu ini yang menyebabkan aku senang bersahabat denganmu. Kamu selalu memandang semua kejadian yang menimpamu dengan kacamata yang amat jernih. Bahkan ketika keadaan paling buruk menimpamu, kamu tidak merasa pekerjaanmu sia-sia, sehingga kamu dapat selalu tersenyum.
Banyak orang yang suka menangisi apa yang ”hilang” dari dirinya, seperti cerita sahabat saya yang lain Linda Djalil tentang dua orang menteri yang menangis dihadapannya karena harus lengser dari jabatannya. Dan saya juga melihat di layar kaca, seorang menteri KIB I yang tak terpilih lagi menangis, dan kamera televisi terus menyorotnya.
Aku merasa aneh. Mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi, tahu bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini selain Tuhan. Jabatan adalah amanah yang suatu ketika harus dikembalikan atau diambil kembali oleh yang memberi amanah. Jabatan itu tidak pernah hilang, dia tetap ada, tetapi bukan berada di tangannya, melainkan digilirkan kepada orang lain yang lebih muda, lebih cakap dan lebih pantas.
Kang Darto, petani kecil yang hidup di desa kecil di lereng Gunung Slamet, tidak pernah kecewa dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia selalu menerima apa pun pemberian Tuhan dengan sikap yang sama. Ketika Tuhan memberikan hasil tanaman padinya baik, dia bersyukur. Ketika tanaman padinya dimakan hama tikus, dia bersyukur karena sadar pekerjaannya tidak sia-sia. Padinya telah dimakan oleh mahluk Tuhan juga.
Jika Kang Darto menganggap tikus itu sebagai sesama mahluk Tuhan yang berhak hidup dan menikmati rejeki dari Tuhan, mengapa para menteri yang baru lengser tidak dapat bersikap legowo menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepada orang lain. Toh penggantinya itu juga sama-sama manusia. Bukan tikus!.*****
Fatchurrachman, lahir di Purwokerto 16 Februari 1950, aktif menulis terutama tentang spiritual dan humanisme setelah pensiun tahun 2006, setelah aktif selama 36 tahun di RRI. Selain menulis di blog pribadinya
http://fatchurrachman.blogspot.com dan blog berbahasa Banyumasan
http://blangkon.kecut.blog.plasa.com, aktif berceramah tentang spiritualisme, humanisme dan kesetaraan. Tinggal di desa Purwosari, Kecamatan Baturaden, Banyumas.
________________________________________
Dari:
ex-prob...@googlegroups.com [
ex-prob...@googlegroups.com] Atas Nama Tobagus Manshor Makmun [
kump...@gmail.com]
Terkirim: 23 Oktober 2009 8:23
Ke:
ex-prob...@googlegroups.com
Subjek: [ex-probolinggo] Re: tes..
iso kok
On 10/23/09, Mochamad Arif Wibowo <
mochama...@pajak.go.id> wrote:
> kok gak iso ya..
>
> >
>
--
nyuwun 'gunging samudra pangaksami
Tobagus Manshor Makmun
AR Waskon III
KPP Pratama Pasuruan
Jl. Panglima Sudirman No 29
Pasuruan, Jawa Timur
kantor 0343424125 ext.213, 425904
hp 081586092182
http://mastein.wordpress.com