Dari mail-list ttangga.
Mohon maaf kalo double posting
Subject: [iaitbjakarta] Re: [itb77] Apakah karena Bibit Samad sedang
mengejar dana ke Yayasan Kesetiakawan dan Kepedulian ?
To:
it...@bhaktiganesha.or.id,
indo...@nextbetter.net,
iaitbj...@yahoogroups.com,
kalam_...@yahoogroups.com,
i...@itb.ac.id
Date: Saturday, 31 October, 2009, 11:56 AM
At 09:57 31/10/2009, Triharyo Soesilo wrote:
Sewaktu saya melihat pak SBY memberikan keterangan pers tentang penangkapan
Bibit dan Chandra, ada sebuah pertanyaan di benak saya, ³Kenapa harus
presiden sendiri ?, Kenapa tidak Menteri Hukum dan HAM ?, atau maksimal bisa
Menko Polhukam ?². Namun setelah saya lacak berita-berita di internet
tentang ini, akhirnya saya menemukan sebuah informasi yang mungkin membuat
Djoko Suyanto (Menko Polhukam baru), sulit melakukan konferensi pers tentang
kasus ini.
Rupanya pada tanggal 1 Oktober 2009, kantor Berita Antara (yang notabene
adalah kantor Berita Pemerintah), menuliskan sebuah berita yang mungkin
membuat sebagian besar pembaca (termasuk saya) semakin bertanya-tanya
tentang kasus Bibit dan Chandra. Dalam liputan 1 Oktober 2009, Kantor Berita
Antara menuliskan bahwa Bibit Samad dijadikan tersangka oleh Polisi, karena
ia dianggap menyalahi wewenang melakukan pencekalan terhadap Djoko Tjandra
(lihat foto). Pencekalan itu, menurut pengacara Bibit, diperlukan untuk
menyelidiki tentang adanya aliran dana dari Perusahaan yang dikelola Djoko
Tjandra (PT Era Giat Prima) ke Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK).
Djoko Tjandra sendiri saat ini sudah kabur dan tidak pernah sekalipun
memenuhi panggilan KPK di era KPK pimpinan Bibit dan Chandra.
Pertanyaan saya selanjutnya adalah, kenapa Polisi dan banyak pihak menjadi
khawatir dengan penyelidikan KPK terhadap aliran dana ke YKDK ?. Siapakah
para Dewan Pembina organisasi YKDK ?. Setelah saya selidiki, ternyata
ke-empat orang Dewan Pembina Yayasan ini, akhirnya semuanya dipromosikan
menjadi Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II ataupun pejabat setingkat
Menteri, yaitu Djoko Suyanto (Menko Polhukam), Purnomo Yusgiantoro
(MenhanŠsekali lagi Menhan ?), Sutanto (Kepala BIN), Muh S Hidayat
(Menperind).
Sejak Januari 2009, terlihat YKDK melakukan puluhan dan mungkin ratusan
kegiatan, terutama menjelang pemilu Presiden tanggal 8 Juli 2009 dan sebulan
setelah Pemilihan Presiden (lihat foto). Namun setelah bulan Agustus 2009,
tidak ada satupun kegiatan dari yayasan ini. Kalau melihat aktifitas
kegiatannya tersebut, Yayasan ini nampaknya mirip seperti Yayasan team
sukses kampanye seorang Presiden yang membagi-bagikan bantuan menjelang
Pemilu dan memberikan ucapan terima kasih setelah Pemilihan selesai. Apakah
karena Djoko Suyanto adalah Wakil Ketua Kampanye SBY-Boediono, sehingga YKDK
adalah sebenarnya sebuah organisasi kampanye SBY-Boediono ?. Lalu jikalau
ternyata YKDK benar-benar sebuah organisasi kampanye, dan kemudian ternyata
terbukti oleh KPK memakai dana korupsi, bagaimana implikasi hukumnya ?.
Itulah kemungkinan sebabnya Djoko Suyanto, Menko Polhukam, merasa sulit
untuk melakukan konperensi pers tentang kasus penangkapan Bibit dan Chandra.
________________________________________
Dari:
pernah-di-...@googlegroups.com [
pernah-di-...@googlegroups.com] Atas Nama MOCHAMAD ARIF WIBOWO [
mochama...@pajak.go.id]
Terkirim: 02 Nopember 2009 10:58
Ke:
ex-prob...@googlegroups.com;
pernah-di-...@googlegroups.com
Subjek: [Suatu Ketika di KPP Jember] kasus kematian David hartanto Wijaya...
"dari milis sebelah....semoga bermanfaat.."
From: iwan piliang <iwan.piliang@
yahoo.com>
Date: Wednesday, October 28, 2009, 10:10 PM
Jarak antara sketsa 16 ke 17 tentang kasus pembunuhan ini, mengalami interval panjang. Sketsa 16 berjudul Laptop Memang Top, saya tulis ke blog, 9 Agustus 2009. Banyak pembaca blog-presstalk. com, juga milis dan pertemanan di Facebook di internet bertanya. Bagaimana kelanjutan kasus almarhum David Hartanto Wijaya, mahasiswa Indonesia di NTU itu? Tenggang waktu inilah, memberi bobot akan judul sketsa 17 ini, sekaligus sebagai sumbangsih saya bagi peringatan Sumpah Pemuda tahun ini. Keluarga almarhum, bertekad kuat mencari keadilan. Semangat itu energi besar bagi saya lanjut menuliskan.
UNTUK meyegarkan ingatan Anda, saya kembali ke 28 Juli 2009. Hari itu adalah penentuan kasus David di pengadilan koroner, Singapura. Pengadilan koroner adalah pengadilan yang membatasi wewenang negara dalam membuat Surat Penghentian Pemeriksaan Perkara (SP3). Untuk kasus kematian bermasalah di sistem hukum Singapura, keputusannya satu di antara tiga; bunuh diri, kecelakaan dan atau ditindak lanjuti ke pengadilan kriminal. Butir ketiga menjadi tumpuan keluarga David.
Sebagaimana sudah saya prediksi, saya sampaikan ke kawan-kawan media bahwa keputusan sidang David: David bunuh diri! Sudah saya duga jauh hari akan keputusan itu. Karenanya akses kiri-kanan saya cari, agar negara melalui Deplu, melakukan tekanan kepada pemerintah Singapura, supaya proses persidangan berjalan fair! Bukan macam keterangan saksi-saksi seakan sandiwara (simak Sketsa sebelumnya).
Bunuh dirikah David?
Hanya Tuhan penguasa sekalian alam Yang Maha Tahu.
Yang dapat saya lakukan sebagai citizen reporter, memverifikasi terus menerus. Dari verifikasi di lapangan, saya deskripsikan segala hal yang ada; hingga muara tajam ke indikasi David memang dibunuh! Itu juga dibuktikan dari keterangan ahli forensik dan psikolog kita.
Karenanya, sekadar mengenang ulang, ketika Boediono, kala itu belum dilantik Wapres, hendak tampil memberikan key-note speech di forum seminar yang diadakan Nanyang Technological University (NTU), kampus tempat David berkuliah - - tepat sehari sebelum keputusan pengadilann koroner - - saya rasakan sebagai langkah gegabah.
Berbagai jalan saya coba usulkan agar membatalkan aksi Boediono.
Sekitar pukul 7 pagi, di saat hendak membuka pintu rumah akan ke bandara menuju Singapura, pada 27 Juli 2009 itu, Djoko Suyanto - - kini Menkopolhukam - - menelpon ke selular saya.
“Kegiatan Pak Boediono itu sudah direncanakan lama. Tak mungkin dibatalkan. Yang paling mungkin dilakukan, Pak Boediono menyampaikan di awal pidatonya, bahwa turut berduka atas meninggalnya David dan berharap pengadilan Singapura berjalan fair,” tutur Djoko Suyanto.
Saya mengucapkan terima kasih. Namun tetap berharap agar lebih fair, Boediono juga hadir di persidangan koroner, sebab sidang terbuka untuk umum.Bila tidak, laku hadir dan bicara di forum NTU itu menyembilu.
Djoko dengan ramah mengatakan akan mencoba mengontak Singapura. Sekitar menjelang pukul 08.30, di bandara, kembali saya mendapat kontak dari Menkopulhukam ini. “Pak Boediono pulang petang ini juga, namun keluarga David bisa diterima pukul 14 di Shangrilla Hotel, Singapura,” ujarnya. Saya mengucapkan terima kasih.
Kedua hal yang disampaikan Djoko Suyanto terlaksana. Ucapan Boediono di awal pidatonya, persis macam kalimat Djoko Suyanto. Dan siangnya, keluarga David diterima oleh Boediono di sebuah ruang kecil, di sebelah ball room Hotel Shanrilla, Singapura. Paginya acara NTU dilangsungkan.
Di salah satu meja bundar, kami duduk: Hartono Wijaya, ayah, Tjai Lie Kiun, ibu, William, kakak David, saya, lalu Rizal Malarangeng, Chatib Basri, Raden Pardede, Wardana, Dubes RI di Singapura, dan Boediono.
Boediono menyampaikan duka, prihatin. Ia mengaku akan menjalin kontak dengan Jusuf Kalla, Wapres kala itu, apa yang bisa dilakukan. Dan karena kapasitas Boediono belum resmi Wapres saat itu, ia yakinkan keluarga bahwa pertemuan ini hanya bersifat pribadi.
Apakah kedua nama ini setelah resmi menjadi pejabat penting negara akan peduli terhadap kasus David ini?
Benang merah kasus ini: David disosialisasikan oleh kampusnya, NTU, menusuk professor Chan Kap Luk, melukai diri sendiri lalu lompat bunuh diri. Di persidangan, tangan Tuhan telah memberikan keluarga David foto-foto lukanya, di mana di ruang Chan Kap Luk David sudah bersimbah darah, di tangga darurat pangkal paha kanannya dipatahkan, urat nadi kaki kaki dirobek pisau, ada 36 kelompok luka benda tajam.
Namun fakta-fakta yang dihadirkan ke persidangan: ada rekaman video memakai hand phone berdurasi 8 detik, David duduk di tangga kaca, hendak lompat bunuh diri dan polisi menemukan surat David ingin bunuh diri di laptopnya, plus menemukan tiga kali David mengunjungi situs berkaitan dengan bunuh diri.
Urusan rekaman video dibantah keluarga, bahwa sosok yang ada di gambar, bukan David. Hingga kini tak dapat diminta kopinya, kendati menjadi bukti dan pengadilan menjajikan kopi kepada keluarga.
Sedangkan, laptop David, yang kata polisi berisi surat bunuh diri dan seterusnya itu, di pengadilan, polisi tidak dapat menyebutkan tanggal kunjungan ke situs berkaitan dengan bunuh diri. Ini menimbulkan tanda tanya besar. Digital forensik mana pun di jagad ini, seharusnya bisa menemukan waktu; hari, jam, menit bahkan hingga perseribu detik.
Karenanya bagi saya, inilah pengadilan akal-akalan itu. Dan kenyatan ini didukung oleh OC Kaligis, yang dapat menekan pengacara yang ditunjuk keluarga David, Shashi Nathan, semula pro keluarga, namun kemudian berbalik menerima saja pentas pengadilan.
Shashi mengatakan kepada pengacara OC Kaligis di depan saya di Singapura, “This is political case.”
“Bagaimana bisa, apa hubungan political case dengan criminal case?” tanya Kaligis.
Shashi membisu!
Untuk itu, mengapa negara RI harus campur tangan: karena David asset bangsa. Ia mantan atlit olimpiade Matematika ke Meksiko 2005. Jika anak cerdas Indoensia dituding membunuh lalu bunuh diri, dan sudah pula dirilis beritanya oleh semua media di jagad ini, betapa bar-bar, dan biadabnya anak bangsa ini?
Ada citra bangsa yang dipojokkan NTU khususnya dan Singapura umumnya!
Begitu logika saya.
Maukah kita sebagai bangsa anak bangsanya dicap pembunuh dan picik, bunuh diri?
Sementara aroma fakta dari awal proses pengadilan busuk?
Jadi bukanlah suatu keanehan bila keluarga bersumpah mengusut terus kasus ini.
Menyakitkan bagi keluarga David, bahwa melalui juru bicaranya, Deplu menyalahkan, termasuk menyalahkan mengapa berkenan memberi izin kremasi jasad David di Singapura sehingga tak bisa diotopsi ulang di Jakarta?
SENIN, 26 Oktober 2009, bersama isteri dan anak saya paling kecil, kami mendadak berkunjung ke kediaman keluarga David. Hampir 70 hari menghabiskan waktu bulak-balik ke Singapura, membuat hubungan dengan keluarga David seakan macam saudara sendiri.
Adalah isteri saya selalu mendukung upaya pencarian kebenaran. “Betapa perihnya anak yang kita besarkan dari kecil, lalu dibunuh brutal,” begitu kalimat isteri saya.
Ruang tamu keluarga David tak berubah, kursi kayu yang saya duduki pertama datang masih sama. Tjhai Lie Kiun, tampak lebih segar. “Saudara-saudara saya setiap ketemu memaksa saya makan,” ujar Tjai.
Terakhir jumpa Tjhai, berat badannya susut lebih 7 kg. Namun sosok mata pedih-perihnya kian dalam.
Hari itu, selain aqua, Tjhai, memotongkan dua mangga harum manis. Dari ruang tamu saya lihat ia sudah tak begitu grogi pegang pisau. Di pertama jumpa, bertamu ke kediamannya, Tjhai menghidangkan apel dibelah empat. Masih nyata di benak saya kalimatnya. “David tidak pernah pegang pisau. Mengupas buah, selalu saya melakukan. Di Singapura, ia minum jus tidak pernah mengupas buah, tak pernah pegang pisau” kata Tjhai.
Urusan pegang pisau dan buah itulah menjadi energi besar saya bergerak meyakini sesuatu telah terjadi terhadap David.
Dari keluarga pula saya paham, jika mereka disalahkan oleh Deplu soal kremasi di Singapura, menjadi sebuah keadaan yang belakangan layak dikaji.
Ketika mereka sejak awal hadir di Singapura bahwa aroma hipnotis kental. Agenda keluarga sudah diatur oleh NTU. “Katika kami datang dipeluk dengan keras dan lama oleh Su Guaning, rektor NTU” ujar Hartono Wijaya.
Di kemudian hari, Christovita Wiloto yang ikut membantu advokasi kasus ini, menemukan foto bahwa ada sosok seorang wanita keturunan India, psikolog, mendampingi keluarga David selama di Singapura. Dalam verifikasi di lapangan sosok di dalam foto itu, memang dikenal bisa hipnoterapis.
Bagi saya, jika kremasi sebuah kesalahan keluarga, bukan berarti negara harus lepas tangan dan memojokkan keluarga.
Masih ada benang merah untuk berbuat terhadap Singapura. Dua senjata utama soal rekaman video yang tidak didigital forensik di pengadilan. Kedua soal digital konten laptop David.
MAKA pada 7 Agustus 2009, bersama Hartono Wijaya dan Rubi Alamsyah, ahli digital forensik yang bekerja pro bono membantu memforensik digital laptop David, kami berangkat ke Singapura. Di Keduataan RI sudah diagendakan serah terima laptop David, dari kepolisan Jurong West, Singapura.
Rubi sudah menyiapkan peralatan digital forensik dengan dua laptop terpasang.
Harapannya, begitu polisi bawa laptop, lalu didigital forensik, sehingga hashing data atau digital signature yang menyebutkan surat David bunuh diri, juga kunjungan ke situs yang berkaitan bunuh diri, bisa sama dan ditemukan angka digitalnya.
Eh, sudah seperti saya duga, polisi tidak berkenan. Ia hanya bawa laptop dan handphone David dengan selembar surat tanda terima. Untuk melakukan digital forensik, mereka mengaku tak diminta begitu.
Rubi menyampaikan, bahwa ia kenal sosok Edwin Lim, pejabat digital forensik di kantor pusat kepiolisian Singapura. “Silakan sampaikan bahwa kami minta diforensik saat serah terima.,” tutur Rubi ke Inspektur So, polisi Singapura.
Sang polisi beberapa kali menjalin kontak pribadi melalui handphone. Ia tetap mengaku hanya menjalankan perintah.
Rubi memberi jalan keluar bahwa di surat tanda terima, dicantumkan angka hashing. Ini pun polisi berjanji balik dulu ke kantor dan pukul 15 kembali lagi ke Kedubes.
Ternyata polisi mangkir.
Kami kembali ke Jakarta, dengan harapan Kedubes RI tetap memintanya.
Dari 7 Agustus 2009, hingga tulisan ini saya buat, ada berkas yang dikirimkan pengadilan ke keluarga David dua lembar, mencantumkan hashing data, dalam satu baris saja, tidak menyebut hingga data ke angka berapa?
Jika keluarga bersumpah akan terus memperkarakan soal kematian David ini, sungguh layak. “Nyawa tentu tak bisa dituntut balik. Tetapi cara-cara pengadilan yang busuk, harus dibongkar,” ujar Hartono Wijaya.
Paling tidak selain keluarga David, keluarga kami, dan berharap banyak keluarga Indonesia, terus mendukung upaya penegakan kebenaran ini.
Sudah sepantasnya negara, dalam hal ini pemerintah tidak tinggal diam. Satu dua keluarga yang menghubungi saya, mengaku membatalkan tawaran beasiswa dari NTU, Kampus itu memang sekan tak punya malu untuk terus malang melintang memburu anak jenius Indonesia mara ke sana.
Di lain sisi, fakta; 80% gas Singapura dari Indonesia, Namun entah mengapa Indonesia seakan dianggap enteng negara jiran itu. Bahkan Lee Shien Long, Perdana Menteri Singapura yang hadir di pelantikan SBY-Boediono di Jakarta, menyampaikan wacana - - dan tetap wacana - - siap membicarakan soal perjanjian ekstradisi.
Sejak lama negeri Merlion itu, menampung asset dan uang besar dari konghlomerat hitam Indonesia. Singapura menjadikan Indonesia ladang besar untuk berbagai komoditi sekaligus pasar produk industri. Kini indikasi tajam monopoli pengadaan BBM Pertamina sudah pula balik ke Perta Oil, Singapura, sejak pergantian direksi baru Pertamina?
Apakah karena hal ekonomi itu, sehingga kesemena-menaan terhadap nyawa seorang David, dirasa tak penting oleh pemimpin, khususnya Deplu? Semoga Sumpah Pemuda hari ini mengingatkan akan sebuah nasionalisme, jika masih ada!***
Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk. com, 28 Oktober 2009
________________________________________
Dari:
ex-prob...@googlegroups.com [
ex-prob...@googlegroups.com] Atas Nama TEGUH KRISNATA [
tegukr...@pajak.go.id]
Terkirim: 02 Nopember 2009 10:35
Ke:
ex-prob...@googlegroups.com
Subjek: [ex-probolinggo] Re: Manajemen Stress
siip!!!
om_k...@yahoo.com
08562536767
________________________________________
From:
ex-prob...@googlegroups.com [
ex-prob...@googlegroups.com] On Behalf Of Aprilyanto Pamungkas [
aprilyant...@gmail.com]
Sent: Monday, November 02, 2009 9:09 AM
To:
ex-prob...@googlegroups.com
Subject: [ex-probolinggo] Manajemen Stress
Seorang dosen sedang memberikan kuliah tentang Manajemen Stres. Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya "Seberapa berat anda kira segelas air ini?"
Mahasiswa menjawab mulai dari 20 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat".
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya".
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut,
istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya!!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi hanya dapat dirasakan jauh di relung hati anda.
--
APRILYANTO PAMUNGKAS
Pelaksana Penyuluhan
Kantor Pelayanan Penyuluhan Dan Konsultasi Perpajakan Wlingi
Jl. P. Sudirman No. 41 Wlingi, Jawa Timur, Indonesia 66184
Telephone
+62342695424
Faksimile
+62342692822
Home Base
Perumahan Graha Balearjosari Kav. 26
Jl. Pahlawan Malang, Jawa Timur, Indonesia 65126
Telephone
+62341402915
Handphone
+628155907266
e-mail
aprilyant...@yahoo.co.id<mailto:
aprilyant...@yahoo.co.id>
e-mail
aprilyant...@gmail.com<mailto:
aprilyant...@gmail.com>