In 1127, Gilani returned to Baghdad and began to preach to the public.[3] He joined the teaching staff of the school belonging to his teacher, al-Mazkhzoomi, and was popular with students. In the morning he taught hadith and tafsir, and in the afternoon he discoursed on the science of the heart and the virtues of the Quran. He was said to have been a convincing preacher who converted numerous Jews and Christians and who integrated Sufi mysticism with Islamic Law.[3]
Sebagai sosok ulama besar Islam, Syekh Abdul Qodir al-Jailani mempunyai banyak karya di berbagai bidang, salah satunya adalah tafsir. Hanya saja, karya-karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani tidak begitu banyak yang mengkaji.
Dalam kitab Tafsir al-Jailani, tidak ditemukan alasan yang jelas kenapa Syekh Abdul Qodir al-Jailani mengarang kitab tafsir tersebut. Tetapi berdasarkan keterangan yang ada, Syekh Abdul Qodir al-Jailani menulis kitab-kitabnya karena adanya kekecewaan dengan keadaan masa ketika beliau hidup. Karena pada masa itu, banyak kemunafikan dan kesenangan duniawi yang merajalela, sehingga beliau hijrah dan mengasingkan diri, serta gencar memberikan nasihat-nasihat tasawuf. Hal ini yang, mungkin, menjadi latar belakang beliau menulis kitab-kitabnya termasuk Tafsir al-Jailani.
Tafsir al-Jailani adalah satu di antara banyak kitab tafsir yang bercorak sufistik. Corak sufistik yang ada dalam Tafsir al-Jailani, tidak bisa dilepaskan dari corak pemikiran pengarangnya yang merupakan salah satu ulama besar dalam dunia tasawuf. Sehingga dalam mengarang kitab tafsir, maka kemungkinan besar akan berimplikasi terhadap penggunaan corak tafsir isyari (sufi).
En 1127, Gilani regresó a Bagdad y comenzó a predicar públicamente. Se unió al personal docente en la escuela que pertenecía su propio maestro, al-Mazkhzoomi, y fue popular entre los estudiantes. Durante la mañana enseñaba hadiz y tafsir, y por la tarde realizaba discursos sobre la ciencia del corazón y las virtudes del Corán. Se dice que ha sido un predicador convincente, quién convirtió a numerosos judíos y cristianos al islam. Su fuerza provino de su reconciliación con la naturaleza mística del sufismo y la estricta naturaleza del derecho.
Corak dari sebuah tafsir adalah suatu aspek yang sangat bergantung pada bidang keilmuan yang dikuasai oleh seorang mufasir. Dan Tafsir al-Jilani yang merupakan sebuah karya tulis dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani menggunakan corak penafsiran isyari. Corak penafsiran ini, tidak terlepas dari kecenderungan al-Jilani pada bidang keilmuan tasawuf.