Fw:

21 views
Skip to first unread message

imelda...@yahoo.com

unread,
Sep 27, 2009, 10:57:48 AM9/27/09
to pd...@googlegroups.com

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: datauk...@yahoo.com
Date: Sun, 27 Sep 2009 14:32:28
To: Imelda Datau<imelda...@yahoo.com>

Selamat Pagi pak Dokter,

Sebagai sesama warga Pekalongan - Batang, pertama saya ingin menyampaikan salam 'Sego Megono' (makanan favorit kampung kami).

Terimakasih atas kehangatan pembicaraan melalui telepon kemarin pagi.

Tulisan pak Dokter di Kompas Sabtu, 26 September dengan judul 'Berobat ke Luar Negeri', sungguh mendorong saya untuk menulis sharing, uneg2 dan keprihatinan saya terhadap mutu pelayanan medis di negeri ini.

Kasus 1

Peristiwa pertama terjadi ketika puteri sulung kami -- yang waktu itu berusia 9 tahun -- mengalami menurunnya penglihatan mata kanan. Beberapa dokter (di Jakarta) mengatakan bahwa dia mengalami cacat bawaan (congenital) di bagian retina. "Tidak bisa di-apa2kan, dan keadaannya tidak akan menjadi lebih buruk". Ternyata anak itu menderita Coats Disease (yang memang jarang di Indonesia) dan ditemukan dalam keadaan sudah terlambat. Hilang penglihatan mata kanannya, dan disertai komplikasi glukoma sekunder, sampai akhirnya harus menjalani enaculation. Peristiwa tahun 1995 itu sungguh tragis bagi saya sebagai seorang ayah. Kami harus berobat kemana2 mulai dari dokter di Indonesia, Singapore sampai ke Australia dan Hongkong. Dari sanalah kami dapat merasakan perbedaan pelayanan medis di Indonesia dan di negara lain. Saya tidak akan mampu melakukannya semua itu kalau saja tidak didukung oleh medical benefit yang diberikan oleh perusahaan di mana saya bekerja.

Kasus 2

Tahun 2007 isteri saya mengalami batu di saluran kencing (ureter) dan dioperasi dengan sukses oleh dokter urolog Senior (dr YS atau sering dipanggil Yngk) di RS Slm di Kebon Jeruk - Jakarta Barat. Tahun 2008, batu ureter itu kembali terbentuk dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Semula isteri ingin dirawat di RS Slm dekat rumah di Karawaci, namun oleh dokter YS di-rayu2 dan agak ditakut2i agar dirawat di RS Kebon Jeruk saja. Dia bilang bahwa RS Karawaci belum tentu punya alat laser batu ginjal seperti di Kebon Jeruk. Kami kurang nyaman dengan cara pendekatan dr YS. Namun apa mau dikata, isteri jatuh pingsan menahan kesakitan ketika kami akan keluar dari RS tsb ... tidak ada pilihan lain kecuali isteri harus segera di rawat di RS tersebut oleh dr YS. Ketika operasi, isteri -- yang hanya dibius setengah badan -- dengan jelas mendengar canda tawa dan percakapan para perawat dan dokter mengenai sarapan nasi uduk dsb. Kekesalan dan ketegangan isteri kian memuncak ketika dokter anestesi dengan setengah berteriak memperingatkan dr YS agar bekerja lebih cepat karena tekanan darah mendadak drop jauh di bawah normal. Dengan terburu2, dr YS segera memasang selang ureter dan menyudahi operasi. Saya yang menunggu di luar Kamar Operasi (KO) menjadi tegang karena pasien lain sudah keluar dari KO tapi isteri saya masih harus terus istirahat di dalam KO. Dua jam kemudian isteri di bawa ke luar dalam keadaan wajah pucat pasi. Di hari2 berikutnya, isteri tetap mengeluh bahwa ada yang aneh di dalam perut. Setiap kali keluhan itu diajukan ke dr YS -- yang mengunjungi pasien < 5 menit -- selalu menjawab dengan ringan bahwa hal itu biasa terjadi dan tidak perlu dikawatirkan. Pernah dalam suatu kunjungan, dr YS menerima telepon dan berbicara di telpon, sambil menulis resep dan buru2 meninggalkan pasien. Setelah pulang dari RS, isteri tetap mengeluh ada perasaan tidak enak diperut. Dari hasil USG kelihatan ada hematom (kantong darah) di sekitar ginjal yang baru dioperasi. Dr YS minta isteri saya bersikap tenang dan memberi resep antibiotik. Seminggu kemudian, suhu badan isteri makin tinggi > 39 dengan disertai demam. Kami buru2 kembali ke RS dan dr YS menyarankan untuk segera masuk RS lagi karena diketahui haematom kian membesar dan kemungkinan terjadi infeksi. Kami sudah kehilangan kepercayaan pada dr YS - sang urolog senior itu. Dengan susah payah hari itu juga, kami terbang ke Spore dan dirujuk ke 3 urolog di RS yang berbeda. Ketiga2nya menyarankan isteri saya segera dirawat dan dilakukan operasi ulang. Urolog di Mount Alvernia menemukan bahwa hematom semakin membesar dan selang ureter yang dipasang terlalu kecil dan berada jauh di bawah posisi semestinya. Beliau 'confirm' bahwa semuanya itu terjadi akibat tertusuknya ginjal pada waktu melakukan prosedur laser dan penempatan selang ureter di tempat yang salah oleh dr YS di Jakarta. Ketika isteri menceritakan peristiwa yang terjadi di KO, dokter Spore tsb tertawa dan berkata : 'Oh ... no wonder!' Air kencing tidak terbuang dengan baik, dan sebagian tercampur dengan gumpalan darah hematom sehingga menyebabkan infeksi dan demam tinggi. Saya sempat bergumul dengan rasa kesal yang panjang apakah sebaiknya saya complain terhadap malpraktek dr YS, atau apakah saya harus menulis kepada pimpinan RS Slm, yang menyebut diri sebagai 'World Class Hospital' itu. Berulang kali pula niat itu saya urungkan, karena saya tahu bahwa surat itu mungkin hanya akan mengisi bak sampah di RS tersebut dan tidak tahu lagi kemana saya harus mengeluh. Tidak lama lagi, kasus Prita dan RS Omni mencuat. Isteri dan beberapa teman malah bilang: 'Untung kamu nggak jadi menulis ke sana ke mari'. Begitulah nasib pasien orang kecil di negeri ini. Maka ketika pak AB Susanto dari the Jakarta Consulting Group mengalami perlakukan malpraktek oleh seorang dr di sebuah RS di Karawaci, saya menyarankan beliau untuk menuntut. Bukan untuk mencari uang, namun untuk memberikan edukasi positif bagi para dokter dan RS di negeri ini.

Kasus ke 3

Tanggal 9 Agustus sore hari, saya jatuh pingsan dan diikuti kejang2. Malam itu juga saya dibawa ke RS Slm dekat rumah di Karawaci. Oleh dokter jaga di UGD saya 'diduga' mengalami 'serangan jantung' karena hasil ECG menunjukkan bahwa ritme jantung tidak sinkron (atrial fibrilation) bilik atas (120) dan bilik bawah (80). Maka saya dirujuk ke dokter Cardiolog senior di RS tsb. Pada hari pertama, kunjungan dokter tidak lebih dari 10 menit dan disertai 2-3 mahasiswa yang menjadi penonton ketika saya diperiksa. Karena merasa terganggu saya minta agar kunjungan dokter tidak disertai mahasiswa. Namun demikian, hal itu tidak memperbaiki mutu dan kwalitas dialog antara pasien dan dokternya. Bahkan ketika saya harus melakukan USG jantung dokter melakukannya dengan keadaan terburu2 karena sedang ditunggu oleh pasien lain untuk operasi. Setelah 2 hari - 3 malam di RS saya diijinkan pulang, namun tidak ada satupun kejelasan akan penyakit yang saya derita dan apa yang sesungguhnya terjadi sampai saya jatuh pingsan. Mengingat pengalaman yang sudah2, maka keluarga maupun teman2 dekat mendesak saya untuk segera berobat dan konsultasi ke Singapore. Oleh teman di Spore, saya dirujuk ke dokter Lim ahli jantung di Mount Elisabeth (ME). Pertemuan pertama dengan dokter itu berlangsung hampir 1,5 jam. Dokter melakukan interview secara detil mengenai kronologi kejadian serta riwayat hidup saya. Pertanyaan juga diajukan pada isteri dan anak yang turut mengantar saya. Setelah 1,5 jam dan dengan disertai penjelasan yang panjang lebar termasuk referensi di Google, beliau -- sebagai cadiologist senior -- menyimpulkan bahwa saya tidak terkena serangan jantung. Yang terjadi adalah episode Vaso-Vagal, akibat minimnya nutrisi darah yang mengalir ke otak. Itu terjadi karena 1 minggu sebelum itu, saya terserang flu berat dan selama 1 minggu saya tidak suka makan. Tubuh kita memiliki defense mechanism agar otak mendapat nutrisi yang sama dengan bagian tubuh lain dan menghendaki agar tubuh terlentang pada posisi horisontal. Pada keadaan itulah saya pingsan dan mengalami kejang. Dr Lim katakan agar saya tidak serta merta menerima diagnosa pertama itu, melainkan meminta saya untuk menjalani beberapa tes medis untuk mendukung diagnosanya. Di hari ke 2, saya diambil darah, USG jantung diulang lagi, kembali dipasang holter untuk memonitor aktifitas jantung selama 24 jam dan dirujuk ke Dokter Jantung lain spesialis arithmia. Di hari ke 3, beliau merangkum semua hasil lab dan report spesialis aritmia yang mendukung hipotesa hari pertama bahwa saya mengalami episode vaso-vagal bukan serangan jantung atau stroke.

Penjelasan itu sungguh mantap dan meyakinkan ... sehingga sayapun melangkah keluar dari ruang praktek dengan hati yang lega ... Suatu perasaan yang tidak saya dapat, walaupun telah 3 hari di rawat di RS Slm di Karawaci. Diagnosa dokter seolah2 di RS Karawaci seolah2 berjalan sendiri2, pertanyaan satu dokter dan dokter yang lain mencerminkan minimum (atau tidak adanya) KOMUNIKASI di antara mereka. Pada waktu berobat ke ME saya melihat hampir 80% pasien datang dari Indonesia. Padahal beaya pengobatan di Spore jauh lebih mahal dari di Indonesia. Saya bertemu teman SMA yang berobat di sana padahal saya tahu ekonomi beliau tidak berlebihan. Maka saya prakirakan, lebih banyak pasien yang berobat ke luar negeri untuk mencari alternatif medis yang lebih baik ketimbang mencari beaya yang lebih murah. Mengapa semuanya itu terjadi? Karena banyak dari keluarga pasien yang mengalami trauma atas buruknya pelayanan medis di Indonesia. Saya yakin banyak dokter di Indonesia yang tidak kalah pandai dengan dokter di luar negeri. Melalui pengalaman panjang, saya menyimpulkan bahwa buruknya performa medis di Indonesia disebabkan oleh RENDAHNYA PROFESIONALSME para dokter, perawat dan institusi RS di Indonesia. Berapa devisa negara yang mesti dihambur2kan ke luar negeri. Tidak banyak dokter di Indonesia yang mau menyediakan waktu bagi pasien dan secara hati2 melakukan diagnosa. Pada umumnya, mereka menemui pasien dalam keadaan terburu2, kurang serius, ceroboh, main tebak tanpa dasar analisa yang kuat dan cepat mengambil kesimpulan. Hal itu terjadi karena banyaknya pasien yang menunggu dan tidak ada kontrol pengawasan dari yang berwajib, pasien menjadi tidak berdaya dan selalu berada di pihak yang lemah, tidak efektifnya mekanisme kontrol kinerja para medis dan alokasi waktu yang buruk dari para dokter. Memang benar seperti apa yang dikatakan oleh pak Dr. Kartono Mohamad bahwa ini merupakan resultan dari lemahnya 'pengawasan pemerintah' pada 'perilaku dokter' dan 'perilaku RS'. Namun satu hal yang (mungkin) belum disinggung oleh pak Dokter Kartono yaitu lemahnya MUTU PENDIDIKAN para Dokter dan para Medis kita di Indonesia. Puteri saya yang mengantar berobat ke Spore, sekarang sedang berusaha untuk masuk jurusan Farmasi di USA. K etika saya tanya mengapa profesionalisme Dokter di Indonesia jauh berbeda dengan di luar negeri? Dia menjawab kontan, semuanya itu karena lemahnya PENDIDIKAN yang menunjang profesionalisme dokter di negeri ini. Dia menjelaskan betapa sulitnya untuk masuk jurusan farmasi di USA. Calon siswa mesti punya track record dalam bentuk CV yang menunjukkan bahwa dia memang punya PASSION dalam bidang farmasi. Hal itu harus didukung tertulis oleh Apotik, RS atau telah menyandang sertifikat Pharm Technician (semacam Asisten Apoteker). Di sana seorang siswa tidak berani membuat surat palsu, karena kalau sampai kedapatan maka kesempatannya untuk masuk sekolah farmasi di seluruh USA bisa tertutup. Ketika mendaftar ke Universitas, calon siswa diharuskan menulis essay yang dapat menggambarkan 'desire' dan 'passion' mereka dalam bidang farmasi. Dan Universitas akan melakukan saringan berupa interview langsung kepada calon siswa apakah mereka memang berpotensi secara intelegensia maupun mental menjadi seorang farmasi yang profesional. Konon, saringan ini jauh lebih ketat untuk sekolah kedokteran. Kalau dalam tulisan di Kompas Sabtu, 26 September pak dokter melansir ucapan SBY yang (hanya) ingin mendorong dibangunnya RS kelas international dari segi kemegahan bangunan dan kecanggihan peralatan.

Saya menjadi kian prihatin bahwa setelah 64 tahun merdeka, rupanya para pemimpin kita, masih belum menyadari bahwa kelemahan paling hakekat di negeri ini adalah masalah SDM.

Tengoklah masalah TKW, TKI ... dll ... Semuanya itu terjadi karena lemahnya PENDIDIKAN di negeri ini. Pendidikan bukan hanya pelajaran formal di sekolah, tapi termasuk suri teladan dan tatanan kehidupan serta budaya masyarakat secara menyeluruh.

Mudah2an tulisan ini bisa memberikan inspirasi bagi pak dokter dari dimensi seorang pasien yang beberapa kali mengalami buruknya pelayan medis di negeri ini.

Salam Takzim
Frans Gunterus


Bagi yang tertarik pada tulisan Dr. Kartono Muhamad silahkan baca di Kompas atau klik http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/26/ 0237400/berobat. ke.luar.negeri
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages