Fw: [orangmuda] A.Kunarwoko : Mengapa Conclave kali ini berbeda dan lebih seru ?

38 views
Skip to first unread message

ras...@yahoo.com

unread,
Mar 13, 2013, 10:22:11 AM3/13/13
to paroki-be...@googlegroups.com, DP Agus BH, DP Helni Tanti, DP Karmo, Dp Maria Regina Dati, DP Muji PS

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: lilik krismantoro <rowang...@yahoo.com>
Date: Wed, 13 Mar 2013 20:47:33 +0800 (SGT)
Subject: [orangmuda] A.Kunarwoko : Mengapa Conclave kali ini berbeda dan lebih seru ?

 

Mengapa Conclave kali ini berbeda dan lebih seru ?

Hari ini, Selasa 12 Maret 2013 waktu Itali, Conclave 2013 resmi dibuka. Pagi tadi pukul 10, Kardinal Angelo Sodano, Dekan Collegio Kardinal, memimpin misa “Pro Eligendo Pontefice” di Basilika Santo Petrus. Semua Kardinal yang akan memilih Paus baru, hadir pada misa agung itu. Dalam kotbahnya, dengan suara lantang Kardinal Sodano meminta agar kita semua berdoa kepada Tuhan, supaya melalui pencarian para Kardinal ini, Tuhan segera menganugerahkan kembali kepada GerejaNya, seorang Gembala yang sungguh baik. (“Vogliamo implorare dal Signore, che attraverso la sollecitudine pastorale dei padri cardinali voglia presto concedere un altro Buon Pastore alla sua Santa Chiesa”).

Sesudah misa dan makan siang, pada pukul 5.30 sore, ketika matahari belum terbenam di awal musim semi ini, semua Kardinal akan memasuki Kapel Sistina. Mgr.Guido Marini, Kepala Liturgi Kepausan, kemudian akan berseru : “Extra omnes”, semua dipersilahkan ke luar. Hanya 115 Kardinal pemilih itu yang tinggal di ruangan Kapel. Pintu Kapel Sistina lalu ditutup, dan dikunci, “cum clave”- dengan kunci. Demikianlah kata “conclave” berasal ! Demikian pula Conclave 2013 untuk memilih Paus Gereja Katolik yang ke 266 telah dimulai.

Hari ini juga, Pastor Lombardi mengumumkan bahwa Tahta Suci telah menerbitkan akreditasi kepada 5600 jurnalis untuk meliput Conclave 2013. Menurut juru bicara Kepausan ini, akreditasi peliputan ini diberikan kepada 1400 surat kabar dan majalah, baik cetak maupun online, dari sekitar 70 negara, dalam 25 bahasa. Mereka semua ditempatkan di aula Paulus VI, tempat yang biasa dipakai untuk audiensi umum. Aula yang besar ini, kini disulap menjadi “global media village”. Radio Vatican dan Pusat Televisi Vatikan (CTV) bekerjasama dengan Departemen Kepausan untuk Komunikasi Sosial serta European Broadcasting Union, mempersiapkan dengan baik Media Center dan Press Office yang luar biasa ini. Ada 18 ruangan yang disediakan bagi para wartawan berita, wartawan foto dan awak media. Untuk siaran TV, disiapkan 21 tempat. Sementara ada 11 ruangan untuk siaran radio. Semua ruangan itu dilengkapi dengan saluran telpon dan sambungan internet kecepatan tinggi. Mereka semua terhubung dengan ratusan kameraman yang diberi lokasi terbaik untuk menyorot cerobong asap Kapel Sistina dan jendela ketika nanti Paus baru akan diumumkan.

Saking berlimpahnya peliput dan peliputan Pemilihan Paus yang heboh ini, dengan mudah kita akan mendapatkan berita sekitar Conclave 2013, dari manapun dan kapanpun. Ketik saja di mesin pencari Google, kata-kata : Conclave 2013, Pope Election, Cardinals electors, New Pope for Catholic church, Benedict XVI resigns dsb, maka dengan mudah kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan jawaban. Hebat sekali jaman internet ini ! Dari berita-berita yang paling update, nama-nama Kardinal favorit atau papabile, nampaknya sudah mulai “mengerucut”. Hari ini, beberapa media cetak dan online Italia, menurunkan survey yang dibuat oleh Youtrend (www.youtrend.it). Survey ini disebar kepada para “Vaticanisti” (para ahli, penulis, wartawan atau pengamat Vatikan dan Gereja Katolik) baik yang “kelas nasional Itali” maupun yang “kelas internasional”.

Kepada para Vaticanisti itu, Youtrend menyodorkan pertanyaan sederhana dan jelas : “menurut Anda, siapa Kardinal yang pantas menjadi Paus pengganti Benedictus XVI”. Hasilnya : Angelo Scola di tempat teratas dengan 34%, disusul Timothy Dolan (10,6%), Marc Ouellet (9,3%), Odilio Scherer (8,7%), Sean O’Malley (7,9%), Luis Tagle (4,5%) dan Peter Erdő dari Hungaria (3,6%). Sementara 21,5% suara diberikan kepada para calon “outsider” (yang kemungkinan akan dipilih kalau terjadi dead-lock) seperti : Ranjith dari Sri Lanka, Robles dari Mexico, Schönborn dari Austria dan Braz de Aviz dari Brasil. Hasil survey yang menjagokan Angelo Scola sebagai “calon Paus terkuat”, kiranya tidak jauh beda dengan hasil beberapa survey lain. Hasil ini juga tidak berbeda dengan trend pasar taruhan seperti yang diperkirakan oleh biro taruhan Paddypower. (http://www.paddypower.com/bet/novelty-betting/current-affairs/pope-betting).

Walau banyak yang menjagokan Scola, tetapi nilai 34% masih belum dianggap meyakinkan. Banyak “Vaticanisti” mengatakan, conclave kali ini conclave yang sulit. Ini conclave yang berbeda. Menurut Kardinal Timothy Dolan, Uskup Agung New York, Paus yang baru kemungkinan besar akan terpilih pada hari Kamis sore nanti. Kemudian pada Pesta Santo Yusuf 19 Maret, Paus yang terpilih itu, diharapkan akan memimpin misa pertama. “Perkiraan” Kardinal Timothy Dolan ini, disiarkan TV Amerika ABC News. Asisten pribadi Kardinal Dolan mengkonfirmasi bahwa memang benar Kardinal Dolan sempat mengirim pernyataan seperti itu kepada umat Keuskupannya. Pernyataan itu dibuat tertulis dan dikirim sesudah makan siang hari ini, beberapa jam sebelum masuk ruang Conclave.

Kalau memang benar perkiraan Kardinal Dolan, maka bisa dipastikan sore hari ini waktu Italia, asap putih belum akan ke dari cerobong Kapel Sistina. (Dan ternyata memang belum !). Banyak pengamat sependapat dengan Dolan, bahwa conclave kali ini adalah conclave yang akan panjang dan seru. Kali ini tidak ada “jago dan tokoh” yang dianggap kuat seperti Montini, Martini, Ratzinger, dsb di masa lalu, yang membuat para Kardinal langsung ikut “gerbong” para tokoh itu. Pada Conclave 2005, Ratzinger langsung terpilih setelah 4 putaran pemungutan suara, dalam satu setengah hari conclave. Pemilihan Ratzinger termasuk yang paling cepat. Conclave kali ini berbeda. Menurut beberapa “Vaticanisti” kenamaan seperti : Paul Badde (dari Frankfurter Allgemeine Zeitung dan Die Welt Jerman), John Allen (dari National Catholic Reporter, CNN dan NPR Amerika), Gian Guido Vecchi dan Massimo Franco (dari Corriere della Sera Italia), Luigi Accattoli (dari La Repubblica Italia), Andrea Tornielli (dari La Stampa Italia) dan Jean Marie Guenois (dari Le Figaro Perancis), ada beberapa alasan mengapa Conclave kali ini berbeda :

Paus sebelumnya mundur, tidak meninggal.

Ketika seorang Paus meninggal, tentu ada suasana duka yang mendalam. Refleksi mengenai hidup dan karya yang meninggal juga langsung muncul. Ada pembedaan jelas antara masa ketika Paus masih hidup dengan waktu ketika sudah meninggal. Dalam contoh almarhum Paus Yohanes Paulus II, semua Kardinal yang akan memilih Paus baru hadir pada upacara pemakaman, bersama dengan puluhan Kepada Negara seluruh dunia. Kenangan, penghargaan tinggi, niat melanjutkan yang baik dari almarhum Paus Yohanes Paulus II sangat kental pada upacara pemakaman itu. Ketika conclave 2005 dimulai, Kardinal dibekali sejumlah harapan apa yang belum tercapai pada masa “pemerintahan” Yohanes Paulus II. Kini, dengan keadaan Paus lama masih hidup, secara psikologis para Kardinal Pemilih menjadi lebih sulit menentukan calon. Plus dan minus Paus yang lengser jadi tidak mudah diomongkan. Kardinal Sodano, yang kini menjadi Dekan Kolegio Kardinal, tidak bisa dipilih karena usianya sudah 85 tahun. Jadi sebagus apapun “penampilan” pada misa menjelang Conclave tadi, ia tidak akan jadi Paus. Kardinal Ratzinger, dengan “cukup mudah” terpilih, karena ketika menjadi Konselebran Utama upacara pemakaman Paus Yohanes Paulus II, wibawa dan otoritasnya sebagai Dekan Kolegio Kardinal muncul sangat kuat. Kotbah pada misa pemakaman itu juga sangat mengena dan berkelas. Kala itu, Ratzinger sudah “menjadi Paus” kendati conclave belum dimulai. Kini keadaannya berbeda.

Tidak ada calon kuat, tidak ada “frontrunner”

Meski pada Conclave 2005 itu Ratzinger sangat menonjol, tidak berarti para Kardinal langsung memilih dia. Sidang pra Conclave yang cukup lama waktu itu, memungkinkan para calon pemilih melirik beberapa nama yang lain, termasuk kepada Kardinal Jesuit Martini. Suasana kuat waktu itu adalah memilih Kardinal yang bisa melanjutkan kepausan Yohanes Paulus II yang fenomenal itu. Ratzinger dipilih karena lumayan “kompatibel” dengan harapan itu karena diharapkan mampu melanjutkan kesuksesan JP2 dengan gaya “panzer”-nya.

Faktor kejutan

Mundurnya Paus Benedictus XVI, mengguncang sistem dan keyakinan ajaran gereja selama ini mengenai martabat dan posisi seorang Paus. Secara dogmatis, menjadi Paus memang tidak termasuk dalam 7 sakramen gereja. Jadi jabatan Paus bukan “sacramental”. Tetapi sebagai Gembala Utama gereja, seorang Paus tidak bisa mundur begitu saja dengan alasan sebagus apapun. Dalam istilah Kardinal Dziwisz, mantan asisten pribadi Paus Yohanes Paulus II yang setia itu : “Tuhan kita tidak pernah turun dari salib. Itu pula yang dilakukan Paus Wojtyla”. Meninggalkan status sebagai Paus, bagi banyak pengamat sama saja dengan meninggalkan status sebagai Bapak keluarga. Saking marahnya pada Ratzinger, sehabis misa pagi, ada Pastor Paroki dari Castel Vittorio di Imperia Itali Utara, yang membakar foto Benedictus XVI. Umat sampai shock dengan ulah pastornya yang nyetrik ini. Don Andrea Maggio, nama pastor ini, sangat kecewa dengan keputusan mundur Paus Benedictus dan membandingkannya dengan Schettino, Kapten Kapal Itali yang meninggalkan kapal mewah Costa Concordia tenggelam gara-gara ulahnya. Fenomena mundurnya Paus yang tidak mudah dimengerti ini akan membuat Collegio Kardinal “terbelah” : satu kelompok setuju memilih Paus yang berani jadi Paus sampai mati, kelompok lain “mendukung” revolusi Ratzinger bahkan sampai pada kemungkinan yang paling ekstrim : di masa mendatang bisa memilih orang yang lebih tepat bahkan kalau perlu calon yang ada di luar Collegio Kardinal.

Skandal dan akibatnya yang mesti ditanggung

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa gereja diguncang skandal “child sex abuse” yang dilakukan para imam bahkan para Uskup di mana-mana. Beberapa keuskupan di Amerika bahkan dinyatakan bangkrut dan menjual banyak asetnya untuk membeayai para korban. Vatikan sendiri dipermalukan dengan terkuaknya skandal Vatileaks yang “menelanjangi” salah urus di Bank Vatikan (IOR), lingkaran gay, korupsi dan macam-macam intrik kekuasaan yang terjadi di lingkaran Curia. Dan semua beban itu, terpaksa ditanggung oleh Benedictus XVI. Sejauh mana kebenaran issue Vatileaks, hanya Paus Benedictus XVI yang paling tahu. Team pencari fakta yang dibentuk Benedictus, yang terdiri dari 3 Kardinal senior : Julian Herranz, Jozef Tomko dan Salvatore De Giorg sudah menyerahkan hasil penelusurannya kepada Paus. Mau diapakan hasil Team Pencari Fakta itu, Benedictus menyerahkannya sepenuhnya kepada Paus yang baru nanti. Yang jelas, dari sidang pra-conclave seminggu kemarin, nampak jelas keinginan para Kardinal untuk memilih calon Paus yang “bersih tangannya”. Skandal yang mencoreng gereja ini, harus bisa “dimanage” dan diatasi oleh Paus yang baru nanti. Benedictus intelek dan professor hebat. Tetapi hebat dalam hal itu ternyata belum cukup untuk mengurus gereja yang begini rumit dan komplek.

Dua pertiga suara

Pada tahun 1996, ketika Paus Yohanes Paulus II menerbitkan dokumen pemilihan Paus “Universi dominici gregis”, ia hanya menginginkan supaya pemilihan Paus dilakukan dengan sederhana dan tidak berbelit-belit. Mayoritas sederhana lebih dari 50% dalam Conclave, sudah cukup mengantar seorang Kardinal terpilih menjadi Paus. Sebelum lengser, Paus Benedictus mengubah kuorum 50% itu menjadi 2/3. Artinya, pada conclave 2013 ini, dari 115 Kardinal yang ada, seorang bisa menjadi Paus kalau bisa melewati ambang batas 77 suara. Jumlah yang tidak mudah ! Skenario “mendukung calon favorit” yang biasanya dulu terjadi, kini menjadi lebih banyak variasinya. Pendekatan-pendekatan atau lobby-lobby baru di luar Conclave, mau tidak mau akan dibuat kalau mayoritas yang meyakinkan tidak tercapai. Conclave kali ini akan jadi lebih lama. Para “supporter” di lapangan Santo Petrus akan lebih sering melihat asap hitam dari atap Kapel Sistina.

Peran sosial media

Twitter, Facebook dan alat komunikasi dunia maya yang lain belum populer atau bahkan belum ada pada Conclave 2005 sesudah wafatnya Paus JP2. Sekarang, beberapa Kardinal, lebih-lebih Kardinal dari Amerika dan Asia, adalah pengguna Twitter dan Facebook yang aktif. Meski aturan Conclave melarang segala bentuk komunikasi di ruangan Conclave dan sekitarnya, tetapi orang sangat mencermati apa saja yang ditulis oleh para Kardinal itu menjelang Conclave dalam Twitter maupun Facebooknya. Sebaliknya, masukan dari Twitter juga akan diperhatikan para Kardinal. Justru ungkapan sederhana, asli, dan “sambil lalu” seringkali memberi inspirasi pada pilihan para Kardinal itu. Di Itali sendiri, selama pemilihan Paus ini, hashtag Twitter yang nomer satu adalah #Conclave. Yang masuk dalam 10 besar hashtag paling top di Itali, selain #Conclave adalah : #cardinali, #Ior dan #Roma. Hashtag yang tiba-tiba mencuat selama pemilihan Paus ini adalah : #VoglioUnPapaChe. Hashtag ini diluncurkan oleh Corrado Formigli, seorang pemuda Paroki biasa dan penggila Twitter. Sejak #VoglioUnPapaChe ditayangkan di TV7 Itali, ribuan orang langsung menjadi pengikutnya. Semua orang pasti semangat kalau ditanya : “Voglio un Papa che..” (“saya pengin punya Paus yang…”). Ini contoh beberapa yang masuk ke #VoglioUnPapaChe itu : “Saya ingin seorang Paus :

- Yang manusia biasa (tetapi yang terbaik), bukannya Tuhan yang turun dari surga.
- Yang muda, terbuka dengan gay, toleran, dan membolehkan pastor menikah
- Yang menjadi citra Kristus : berani, benar, baik hati, terbuka, transparan.
- Yang bukan dari 115 Kardinal yang ada di Conclave sekarang ini.
- Yang seperti seorang Fransiskan yang sederhana, mau mencangkul tanah dan memberi dari keringatnya.
- Yang pernah menjadi missionaris, sehingga bisa merasakan apa itu kemiskinan, penderitaan dan ketidakadilan.
- Yang berstatus suami dan Bapak keluarga Katolik yang baik. Kenapa tidak ?
Silahkan Anda semua menambahkan sendiri harapan-harapan Anda tentang Paus yang Anda harapkan. Silahkan juga teman-teman mendukung kalau ada yang mau buka Twitter seperti idenya rekan muda Corrado dari Itali itu dengan account kita : “#SayaInginPausYang….”

Saya sendiri tidak punya account Twitter. Saya juga pengguna Facebook yang malas. Saya sangat senang dan mengikuti pandangan dan gaya tutur para Vaticanisti. Tetapi saya juga mempertimbangkan sekali pendapat Paus Emiritus Ratzinger pada bulan Oktober 2012. Kepada anak-anak muda anggota Azione Cattolica, Paus Benedictus di lapangan Santo Petrus menceritakan bahwa 50 tahun lalu, selain ada Konsili Vatikan II versi para Bapak Gereja, juga ada Konsili Vatikan II versi media. Cara memandang media pada Konsili dan juga Conclave sekarang ini pasti berbeda. Yang saya rangkumkan di atas misalnya, adalah salah “gaya tutur” media itu. Silahkan memakainya kalau dianggap perlu dan berguna.

Yang pasti, pada saat ini saya hanya ingin membayangkan berdiri kedinginan di lapangan Santo Petrus bersama ribuan pencinta gereja, seraya berdoa bersama para Kardinal yang dalam kotbah Kardinal Sodano tadi pagi terungkap dengan doa ini : “Tuhan beri kami seorang Gembala yang baik, yang berani memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Beri kami Gembala yang memiliki hati yang mulia, yang memiliki cinta demikian besar sehingga mampu mencintai semua orang di dunia ini !” Amin.

Salam hangat
A.Kunarwoko – 13/03/2013

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Tuhanlah yang mengajarkan kegembiraan pada anak-anak dan mengutus mereka mewartakannya pada dunia !
.

__,_._,___
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages