Ada sebuah desa yang seluruh penduduknya buang air besar di kali. Satu-satunya fasilitas buang air besar yang sehat di desa itu adalah sebuah WC Leher Angsa milik kepala desa. Dan di desa itu ada seorang bocah lelaki cerdas bernama Aswin yang gemar membaca. Karena dengan gemar membaca, Aswin jadi mengerti banyak hal.
Aswin kehilangan ibunya ketika sebuah pesawat latih ringan jatuh menimpa sang ibu yang sedang bekerja di ladang. Mestinya saat itu giliran ayahnya, Pak Tampan yang bekerja di ladang, tetapi sang ayah lebih memilih pergi menyabung ayam. Sudah kehendak Tuhan kata sang ayah, tetapi Aswin tak menerima dan tak mengerti. Sejak saat itu Aswin jadi tidak suka kepada ayahnya
Segera Aswin mendapat ibu baru, Aswin menyukai ibu barunya. Dan karenanya merasa kasihan melihat ibu barunya yang tak terbiasa buang air besar di kali. Aswin meminta ayahnya untuk membuatkan ibu barunya sebuah WC leher angsa seperti milik kepala desa. Ditambah dengan keinginan memiliki sepeda yang tak pernah dipenuhi ayahnya, Aswin semakin tidak suka pada ayahnya.
Pak Tampan, terkena kutukan (paling tidak itu pikiran Aswin) tumbuh bisul di bokongnya. Sudah tentu Pak Tampan yang pelit tidak mau berobat ke dokter atau puskesmas. Bisul itu akan sembuh dengan sendirinya, pikirnya. Tapi ternyata tidak. Rupanya itu jenis bisul yang bandel. Dan Aswin makin yakin bahwa bisul itu adalah hukuman atas dosa-dosa ayahnya. Dosa itu adalah tidak mau membuat WC leher angsa buat ibu barunya dan tidak mau membelikannya sepeda. Tak mau panjang lebar berdebat dengan anaknya, Pak Tampan mengakui saja kesalahannya, dan berjanji akan membuat WC leher angsa di rumah.[1]
tirto.id - Leher Angsa, film yang bercerita tentang masyarakat desa yang sebagian besar belum memiliki toilet, akan tayang di stasiun televisi TVRI pada hari ini, Senin (7/6/2020) pukul 19.00 WIB. Penayangan film ini bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai kebijakan stasiun televisi.
Tidak lama berselang, pak Tampan menikah lagi. Aswin mempunyai ibu baru. Aswin menyukai ibu barunya. Namun, Aswin juga kasihan lantaran ibu baru Aswin tidak terbiasa buang air besar di kali. Aswin meminta ayahnya untuk membangun toilet model leher angsa di rumahnya.
Pak Tampan meminta bantuan anaknya. Aswin mengatakan bahwa bisul ayahnya merupakan azab karena tidak mau membangunkan toilet. Aswin meminta ayahnya berjanji untuk membangun toilet apabila bisulnya sembuh.
Alenia Pictures tak pernah absen memberikan tontonan segar untuk anak-anak di masa liburan. Kali ini mereka menyuguhkan LEHER ANGSA yang berkisah tentang Aswin dan orang-orang di sekelilingnya. Tentang sebuah pemukiman di mana toilet leher angsa menjadi primadona.
Hari Jum'at siang (28/6), saya memenuhi janji kepada putra tertua saya Rizky untuk menonton film "Leher Angsa" seusai 3 gigi susunya dicabut di Rumah Sakit Siloam Cikarang. Film ini memang menjadi salah satu "target" sasaran Rizky dan Alya untuk ditonton, setelah seminggu sebelumnya kami menonton film Monster University di Plaza Semanggi. Adegan dibuka oleh suasana serunya sabung ayam di sebuah desa di kaki gunung Rinjani. Desa tersebut punya keunikan tersendiri yaitu tidak memiliki fasilitas buang air besar yang memadai (WC) dan biasanya hanya memanfaatkan sungai yang mengalir tak jauh dari perkampungan. Satu-satunya yang memiliki fasilitas WC ber-leher angsa di desa itu hanyalah milik Kepala Desa (diperankan oleh Ringgo Agus Rahman). Aswin (Bintang Panglima), anak dari Pak Tampan (diperankan oleh Lukman Sardi) sangat tidak menyukai aktifitas ayahnya bermain sabung ayam, terlebih ketika sang ibu (Tike Priatnakusumah) wafat tertimpa pesawat ringan yang jatuh di ladang mereka. Kehadiran ibu baru (Alexandra Gottardo) buat Aswin memang membuat hatinya cukup terhibur namun tetap saja tak dapat menghilangkan rasa tidak sukanya pada sang ayah. Kegalauan Aswin yang gemar membaca itu kian menjadi-jadi, ketika sang ayah menolak usulannya untuk membuatkan WC berleher angsa untuk sang ibu baru. 137178526399672197 Kisah ini kemudian mengalir pada interaksi antara Aswin bersama 3 kawan karibnya, Johan, Sapar dan Najib. Sapar adalah putra seorang buruh kasar miskin yang sehari-harinya makan ubi rebus, sementara Johan yang begitu terobsesi bisa bermain biola dengan baik sehebat sang ayah dan Najib yang cuek dan selalu menyelipkan tusuk gigi dimulutnya. Ironi dan komedi berpadu dalam film ini, terlebih ketika persoalan sakit bisul yang melanda bokong Sapar dan ayah Aswin mengemuka, kematian ayah Sapar yang tragis serta disaat yang sama problema penyediaan fasilitas buang air besar yang memadai ikut menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi oleh warga desa ini. Belum lagi ditambah oleh sikap sang kepala desa yang angkuh dan tak peduli pada kesulitan warganya. 13717851702125789087 Saya mengaku kagum pada konsistensi Alenia Pictures yang setia mengangkat tema-tema spesial dan sarat dengan pesan moral bermuatan budaya lokal kepada anak-anak melalui film-filmnya (Denias-Senandung Diatas Awan, Serdadu Kumbang, Tanah Air Beta, Di Timur Matahari, dll) termasuk melalui film "Leher Angsa" ini. Digarap dengan arahan sutradara Ari Sihasale berdasarkan skenario Musfar Yasin, film berdurasi 116 menit tersebut mengangkat persoalan masyarakat lokal di Lombok Timur serta menyajikan lanskap pemandangan yang indah di kaki gunung Rinjani. Masalah fasilitas buang hajat yang memadai yang mungkin bisa dianggap sepele namun menjadi hal yang serius terlebih ketika masalah ini berhadapan dengan soal kebiasaan warga setempat yang sudah rutin dilakukan. images-2 Saya bersama keluarga sangat menikmati film yang dikemas begitu memukau, renyah dan menggelikan ini. Beberapa kali kami sempat tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan gegar budaya dan keluguan tingkah laku Aswin dan kawan-kawannya serta warga desa disana yang disajikan secara natural. Terlebih terdapat adegan animasi (yang meski terasa vulgar) kian memberikan aksentuasi makna dalam aliran kisah secara keseluruhan. leherdlm Akting para pemain--khususnya para aktor cilik : Aswin, Aspar, Johan & Najib--juga tersaji dengan baik. Mereka mampu menghayati peran dan memainkan karakter begitu alami. Disamping itu Lukman Sardi, Teuku Rifnu, Ringgo Agus Rahman, Alexandra Gottardo dan Tike Priatnakusumah juga memberikan kontribusi luar biasa dengan kemampuan menghidupkan peran mereka masing-masing. Tentu saja yang paling berkesan buat saya adalah pemandangan alam yang indah di Lombok terhampar sangat megah dan membangkitkan rasa cinta dan bangga pada tanah air. Meski film ini mengangkat tema yang sederhana namun meninggalkan kesan mendalam betapa ternyata hidup tak se-sederhana yang kita kira, terlebih di mata warga desa di kaki gunung Rinjani seperti digambarkan dalam film "Leher Angsa" ini. Acung jempol buat Alenia Pictures atas sajian film Indonesia yang inspiratif dan menggugah. Ditunggu karya-karya selanjutnya !
Adegan dibuka oleh suasana serunya sabung ayam di sebuah desa di kaki gunung Rinjani. Desa tersebut punya keunikan tersendiri yaitu tidak memiliki fasilitas buang air besar yang memadai (WC) dan biasanya hanya memanfaatkan sungai yang mengalir tak jauh dari perkampungan. Satu-satunya yang memiliki fasilitas WC ber-leher angsa di desa itu hanyalah milik Kepala Desa (diperankan oleh Ringgo Agus Rahman).
Aswin (Bintang Panglima), anak dari Pak Tampan (diperankan oleh Lukman Sardi) sangat tidak menyukai aktifitas ayahnya bermain sabung ayam, terlebih ketika sang ibu (Tike Priatnakusumah) wafat tertimpa pesawat ringan yang jatuh di ladang mereka. Kehadiran ibu baru (Alexandra Gottardo) buat Aswin memang membuat hatinya cukup terhibur namun tetap saja tak dapat menghilangkan rasa tidak sukanya pada sang ayah. Kegalauan Aswin yang gemar membaca itu kian menjadi-jadi, ketika sang ayah menolak usulannya untuk membuatkan WC berleher angsa untuk sang ibu baru.
Sapar adalah putra seorang buruh kasar miskin yang sehari-harinya makan ubi rebus, sementara Johan yang begitu terobsesi bisa bermain biola dengan baik sehebat sang ayah dan Najib yang cuek dan selalu menyelipkan tusuk gigi dimulutnya. Ironi dan komedi berpadu dalam film ini, terlebih ketika persoalan sakit bisul yang melanda bokong Sapar dan ayah Aswin mengemuka, kematian ayah Sapar yang tragis serta disaat yang sama problema penyediaan fasilitas buang air besar yang memadai ikut menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi oleh warga desa ini. Belum lagi ditambah oleh sikap sang kepala desa yang angkuh dan tak peduli pada kesulitan warganya.
Saya bersama keluarga sangat menikmati film yang dikemas begitu memukau, renyah dan menggelikan ini. Beberapa kali kami sempat tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan gegar budaya dan keluguan tingkah laku Aswin dan kawan-kawannya serta warga desa disana yang disajikan secara natural. Terlebih terdapat adegan animasi (yang meski terasa vulgar) kian memberikan aksentuasi makna dalam aliran kisah secara keseluruhan.
Aktris cantik Alexandra Gottardo, terpaksa BAB (Buang Air Besar) di sungai saat menjalani syuting di daerah pedalaman untuk film terbarunya yang berjudul Leher Angsa. Lewat pengalaman uniknya itu, wanita yang akrab disapa Alex ini seakan lebih mendalami karakternya sebagai istri Pak Tampan yang dilakoni oleh Lukman Sardi.
Film Leher Angsa mengisahkan tentang impian seorang anak yang ingin memiliki kloset leher angsa untuk ibunya. Ia ingin semua penduduk di desanya bisa memiliki WC dan tidak terus menerus 'buang air' di sungai.
"Waktu itu kita sempet syuting di pedalaman tepatnya di Kaliage dimana disana air terjunnya cantik banget dan kita harus nginep semalaman disana. Paginya biasa deh panggilan alam, kalau pipis sih nggak masalah, nah BAB nya ini yang agak susah. Penduduk disana saranin BAB di sungai, airnya jernih dan dingin sih tapi nggak nyamannya ya duduknya sambil celingak-celinguk gitu," ucap Alexandra Gottardo saat jumpa pers film Leher Angsa di Kemang Village XXI, Jakarta Selatan.
Ini bukanlah kali pertama Alexandra Gottardo terlibat di proyek film produksi Alenia Pictures, karena sebelumnya ia sempat bergabung di Tanah Air Beta (2010). Bagi cewek berambut panjang ini, bermain untuk proyek Alenia Pictures memiliki kepuasan tersendiri.
"Saya nggak kapok lah cuma karena BAB di sungai. Kita malah sempet kelaperan karena orang yang kirim makanan buat kita jatuh. Akhirnya kita makan mie aja dan itu sudah kaya makan spagethi aja rasanya. Kebersamaan sih yang akhirnya bikin seru. Ditambah lagi lokasi-lokasi yang indah khas film Alenia Pictures," tutur Alexandra.
Selain Alexandra Gottardo dan Lukman Sardi, film Leher Angsa juga turut dibintangi oleh Tike Priyatnakusumah, Ringgo Agus Rahman, Teuku Rifnu Wikana, Tengku Ryo, Bintang Panglima dan Yudi Miftahudin. Film berdurasi 115 menit ini dijadwalkan rilis pada tanggal 20 Juni 2013.