puasa dan pemberdayaan dakwah

3 views
Skip to first unread message

aishah abdulhalim

unread,
Aug 3, 2013, 2:49:18 AM8/3/13
to Summer 2013, Daurah Wida' 13, daurah-pem...@googlegroups.com, kibar...@googlegroups.com, jom...@googlegroups.com

 

"hai orang-orang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa seperti juga telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu agar kamu bisa mencapai taqwa"

(al-Baqarah:183)

 

Bagi majoriti umat Islam, bulan puasa terkadang masih difahami terbatas pada aktivitas peningkatan dan penguatan aspek 'ubudiyah mahdhah an-sich. Padahal geliat dan ghirah 'ubudiyah ini seharusnya ditangkap sebagai peluang untuk melakukan pemberdayaan dakwah dan harakah. Betapa gelora ini harus dimanfaatkan secara maksimal, kerana suasana hati manusia sangat fluktuatif dan terkadang lebih banyak mengalami masa-masa fatrah (malas, lesu). Ibnu Qayyim menyatakan, "sesungguhnya hati manusia ini ada masa-masanya malas dan lesu. Maka manfaatkanlah ia dengan maksimal di masa-masa semangat dan tinggalkanlah ia (untuk sementara) di masa-masa malas".
Secara tekstual, ayat pertama dari 'ayatush-shiyam' mengandung nilai dan muatan dakwah. Pensyariatan puasa yang menggunakan redaksi seruan yang ditujukan kepada seluruh umat beriman, selain merupakan perintah secara langsung agar mereka melaksanakannya, juga perintah agar mereka menyampaikan perintah tersebut kepada keluarga, tetangga, masyarakat dan orang-orang yang berada di sekitarnya sebagai sebuah kewajiban dakwah menyampaikan ajaran Allah swt.
Demikian juga, ayat-ayat yang mendampingi 'ayatush shiyam' baik sebelum mahupun sesudahnya secara korelatif, ternyata berbicara tentang dakwah dalam konteks fiqh mu'amalah dan syariat hudud. Penyusunan ayat secara berdampingan seperti ini tentu mustahil tanpa hikmah dan pelajaran yang bisa digali darinya. Sebagai contoh, misalnya, ayat 178-182 dari surah al-Baqarah. Sebelum ayat tentang puasa, ternyata berbicara tentang syariat qishash yang merupakan bagian dari target dan realisasi dakwah, iaitu tegaknya syariat Islam pada wilayah publik (berbangsa dan bernegara) setelah tegaknya syariat Islam pada wilayah domestik (individu). Inilah di antara esensi dakwah dan harakah Islam.
Redaksi yang digunakan pada 'ayatul-qishash' juga mirip dengan redaksi yang digunakan dalam konteks perintah puasa, yaitu pada penggunaan nida' (seruan) yang ditujukan juga kepada orang-orang yang beriman dan pada penggunaan kata 'kutiba' yang bererti perintah, "Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu (menerapkan) qishash dalam hal pembunuhan".
Surah al-Baqarah ayat 188 juga berbicara tentang hukum mu'amalah dalam konteks jual-beli dan perdagangan, "janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang bathil". Padahal mu'amalah yang dijalankan dengan baik dan benar merupakan sasaran dakwah yang harus ditegakkan sehingga akan terjamin kehormatan diri, harta dan masyarakat secara keseluruhan.
Lebih jelas lagi pada surah al-Baqarah ayat 190 dan seterusnya tentang perintah perang yang merupakan bagian dakwah terbesar dan terberat, "perangilah oleh kalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian". Keterkaitan dan korelasi termatis ini menajdi landasan akan pemaknaan bulan Ramadan dengan makna pemberdayaan dakwah dan harakah, di samping makna-makna ibadah dan ukhuwwah.
Demikianlah 'ayatush shiyam' selain sarat dengan ta'limat ilahiyyah dan taujihat rabbaniyah tentang peningkatan ruhiyah dengan penguatan amaliah ibadah, juga sarat dengan nilai-nilai dakwah dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Betapa Ramadan sangat tepat dijadikan momentum untuk lebih mengintensifkan kembali geliat dan gairah dakwah, sehingga suasanan yang mewarnai kehidupan umat di bulan Ramadan adalah makna-makna dakwah dan harakah. 
Pemberdayaan dakwah yang lain bisa ditangkap secara historis dari perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat di bulan Ramadan. Betapa sejarah Ramadan masa lalu sarat dengan kegiatan dan aktivitas dakwah, tentunya dengan tidak mengabaikan amaliah 'ubudiyah ruhiyah. Bahkan kegiatan dakwah terbesar dan terberat justeru terjadi di bulan Ramadan. Sebut saja misalnya, Perang Badcar yang merupakan perang perdana untuk menunjukkan eksistensi dakwah Islam justeru terjadi pada bulan puasa. (lihat surah al-Anfal:41). Padahal pada saat itu, Rasulullah saw dan para sahabat hanya mempersiapkan perlengkapan untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan, bukan untuk menghadapi pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap. 
Pembukaan atau Fathu Makkah yang merupakan perjalanan dakwah terakhir Rasulullah saw juga terjadi dan memilih Ramadan sebagai bulan kemenangan dakwah yang gemilang. Ternyata Ramadan merupakan pilihan yang tepat dan terbaik bagi Rasulullah saw untuk meraih kemenangan dakwah. Demikian juga tentunya bagi setiap penerus perjuangannya.
Pesan taqwa yang merupakan target dari perlaksanaan seluruh amaliyah Ramadan yang telah ditetapkan oleh Allah dengan ungkapan pengharapan "la'allakum tattaqun" merupakan inti dari pesan dakwah, kerana merupakan jaminan akan peningkatan kebaikan seseorang yang berpuasa dengan benar. Taqwa yang diharapkan dari pengalaman menjalani hidup dan kehidupan di bulan Ramadan bisa dijabarkan sebagai bentuk pembiasaan untuk melakukan amal-amal kebaikan dan pembiasaan untuk meninggalkan amal-amal keburukan. Hasan bin Thalq menyebutkan bahawa taqwa yang ditargetkan ternyata sangat terkait dengan bentuk ta'amul dengan Ramadan.
Target taqwa dari seluruh pelaksanaan ibadah termasuk berpusasa sangat diharapkan tampil terlebih dahulu pada diri para da'i. Keranan berdakwah dalam erti menyeru manusia kepada kebaikan, jika disertai dengan penyimpangan perilaku para dainya merupakan penyakit yang akan menimbulkan kebimbangan, bukan hanya pada diri seorang dai, tetapi berakibat juga terhadap dakwah.
Dalam konteks dakwah saat ini, masyarakat sangat menanti dan mendambakan lahirnya teladan yang membuat mereka yakin akan seluruh ajaran Islam. Jika tidak, mereka tidak lagi percaya kepada agama ini setelah terlebih dahulu kehilangan kepercayaan kepada para dai yang menyebarkannya. Ramadan merupakan momentum penting untuk membangun keteladanan, yakni keteladanan dalam bersikap, bertingkah laku, keteladanan dalam kesabaran, keteladanan dalam beramal dan keteladanan dalam membangun persaudaraan di antara sesama muslim untuk dijadikan saranan dakwah. Semua keteladanan itu ternyata merupakan petunjuk praktis dan aturan main amaliyah Ramadan.
Semoga makna pemberdayaan dakwah dapat kita tangkap dari keseluruhan perjalanan mengikuti "madrasah Ramadan" pada setiap tahun.
(Tafsir Da'awi)

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages