|
| Ya ampuuuuunnnn, wakil rakyat kok cara berpikirnya seperti ini? Memprihatinkan bgt yach?!... --- On Wed, 2/18/09, may pam <adi...@yahoo.com> wrote: |
| lha mereka bukan lulusan padmanaba kok, jd ya kaya gitu hasilnya. Nggih mboten mbokdhe..? --- On Thu, 2/19/09, Agnes Profit Arventa Benitanti <arv...@yahoo.com> wrote: |
| terimakasih atas dukungannya....aku jadi sangat bersemangat tuk jadi caleg dpr (bukan dapur lho...) he...he...sekalian mohon dukungan dana he...he.... --- On Fri, 2/20/09, aditia candradewa <aditia.c...@gmail.com> wrote: |
| aku seratus persen mendukungmu Din (hehehe kaya lagu Garuda Pancasila) |
Aku merasa sedikit melancholic hari itu. Satu hari setelah aku pergi melayat ke Bandung, bapak teman baruku meninggal. Hari itu, emosi di dadaku naik perlahan, sampai ke otakku dan menekannya untuk segera bertutur melalui mulutku demikian:
Kematian ItuKata orang, bila burung gagak berkoak-koak di atas sebuah rumah, maka sebentar lagi akan ada kematian di rumah itu. Tidak ada tanda-tanda seperti itu di rumah ini, namun kematian tetap saja hadir (bahkan tanpa prolog). Serentak segala aktivitas pun tertahan. Tangan yang baru memegang gergaji berhenti maju-mundur. Jari-jari yang menari di atas keyboard memutus ritmenya. Kaki berotot yang sedang tergesa melangkah menahan bakul direm seketika. Pikiran rumit yang sedang berusaha mengembangkan naskah drama pun dipaksa berbelok mematahkan alurnya semula. Dapur mengurangi asapnya. Angin tetap semilir membelai daun-daun yang mekar di tanah di mana para pohon suka bermusyawarah. Kalem ranting-ranting itu menari, tak mampu menahan udara dingin langit yang tembus hingga menerobos pintu dan jendela para tetangga, membawa suasana menjadi semakin haru. Mengiringi langkah para pelayat satu-satu menuju rumah persemayaman itu. Dan keluarga menunggu, tissue dan sapu tangan bersatu membendung air mata yang tak jua habis jatuh sejak pertama kali mereka berucap Inna lillahi wa inna ilahi raji'un. Emosi terasa diperas, namun tenaga terus saja ada untuk menerima jabat duka kolega dan tetangga. Melampuai malam, mata yang sembab itu terus saja mencoba mencari arti semuanya. Melihat jauh menembus dinding rumah duka itu. Tembus jauh ke awang-awang dan harus tersentak kembali fokus pada para tamu yang menggugah lamunan. Di luar rumah, mengembanglah sejarah. Biografi sang jenazah di masa kecil, muda dan akhir penantian hidupnya muncul kembali dalam bentuk cerita-cerita pendek para pelayat. Mulut-mulut itu saling bertutur, menceritakan hikayat sang jenazah menurut versi masing-masing, seingat mereka. Berbaur mengurangi kesedihan. Menghibur walau disambut dengan tawa dan senyum kecil seadanya. Dan mereka pun datang dan pergi seperti orang-orang di supermarket. Kesedihan pun menuju titik minimumnya. Senyum pun mulai mendapat tempatnya. Keluarga duka bisa menahan emosi dukanya. Sedih mulai tidak terasa, sebab penghiburan datang dari mana-mana. Sementara itu, burung-burung tetap pada perannya. Memberi nyanyian pada hari-hari. Berkacak pinggang, saling menggoda dan terbang pindah ke ranting pohon belakang rumah memberi suara latar pada mbak-mbak yang sedang menyatu dengan masakan mereka di bawahnya. Lebur dalam guyubnya solidaritas penderitaan yang lahir melalui rasa haru terhadap kesedihan keluarga duka. Anak ke-10, matanya sembab. Mondar-mandir menemui para tamu. Berusaha melupakan kesedihannya sendiri. Namun tetap tak bisa lupa pada kesedihan ibunya. Sang ibu pun bersimpuh, menemani jenazah yang sudah kaku tertutup kain membujur. Pikirannya tersumbat perasaannya. Di manakah keindahan di saat seperti ini? Ketika emosi mereda dan suasana semakin menjadi biasa, anak ke-14 datang dari luar kota. Meledaklah tangis itu kembali. Membuyarkan cerita dan dialog ringan yang sudah mulai enak itu. Ketegangan mengeluarkan aromanya. Lalu reda lagi. Dan begitu seterusnya berganti-gantian rasa sedih dan tenang itu sahut-menyahut hingga sampai liang lahat. Dan pecah lagi kesedihan itu, lalu seperti bersama-sama, penghiburan itu pun ber-choir mencapai puncaknya pada bit yang tertinggi. Kemudian semua pulang dan senyap. Rasanya jam di rumah selalu menunjukkan pukul dua pagi. Hening. Bening. Dan kosong. Hinggaplah rasa itu untuk kesekian kalinya. Kali ini pada kesendirian yang benar-benar. Seluruh panca indera mengecp rasa yang sama, kesedihan itu. "Ibu, Engkau tidak apa-apa?", tanya sang anak. "Hidup asalnya sendiri, jadi kalau kembali sendiri, ya itulah inti hidup. Kalau sedih tak diajarkan, jadi ya sangat biasa. Menjadi luar biasa karena ditinggalkan yang dicintai. Jadi sedihnya luar biasa", kata temanku yang baru saja kehilangan bapaknya beberapa hari yang lalu. Burung gagak itu bertengger di salah satu pohon yang ditanam sang bapak sewaktu kecil, ia tercekat.[] |
| deni setiawan <wod...@yahoo.com>
Sent by: padma...@googlegroups.com 02/25/2009 08:59 PM
|
|
Setelah Kematian itu ...Rasanya ada yang berubah pada persepsi tentang "kematian itu" setelah mendengar berita dari Palestina. Seakan kematian itu menjadi 'kacangan' karena semakin banyaknya jasad orang-orang sipil di sana. Ratapan menjadi barang murah dan tidak perlu, seakan tidak ada waktu itu. Sebab ketika seorang bapak sedang menangisi anaknya yang belum bisa kencing lurus itu mati kepalanya tertembus peluru, nenek-nenek di sebelahnya pingsan di atas tubuh suaminya yang sebagian perutnya rompal terkena serpihan bom. Lalu siapa yang harus berperan sebagai penghibur di sini? Jangankan menghibur orang lain, diri sendiri pun dijerat rasa khawatir menjadi sasaran malaikat maut berikutnya. Nafas orang-orang di sana merobek telinga. Telanjangi kita yang mengobrolkan mereka di meja makan. Saya sendiri merasa (sangat) tidak layak menuliskan hal ini sambil santai makan kacang dan minum sebotol teh di ruangan yang kerja AC-nya luar biasa (kampret!)
dinginnya. Mungkin konflik seperti di Jalur Gaza inilah yang dikhawatirkan oleh Tolstoy, salah satu sastrawan realis Rusia, sehingga ia memilih jalan untuk menjadi seorang pasifis. Andai aku bisa selalu mengikuti jejak pada jalannya itu. Aku pasti akan menemui banyak hal yang bisa membuatku semakin pesimis akan dunia ini. Namun aku yakin bahwa aku sedang menuju ke sana. Aku sedang memperbaiki diri, selayaknya banyak orang yang juga sedang memperbaiki diri. Aku merasa sekarang aku sedang menyimpang dari jalur yang seharusnya aku tempuh. Ah, apa betul begitu? Ah, apa salah begitu? Yang jelas keadaan perutku semakin membesar saja. Aku banyak makan akhir-akhir ini, mungkin karena aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri. Selalu berpikir bahwa aku harus meladeni perutku yang sering keroncongan. Aku berpersepsi bahwa ini adalah sebuah bentuk ketidakpedulianku pada orang lain. Pada orang-orang yang lebih keroncongan daripadaku. Mungkin 'di sana' ada orang yang sudah bekerja sebagai pemotong dodol selama 20 tahun lebih. Atau mungkin tukang cukur sejak zaman Herman Lantang sering demo. Bahkan di Ponorogo, Jawa Timur, ada seorang Mbah Gareng (65 tahun) yang sampai ke anak cucunya hidup dari jualan arum manis keliling desa-kota. Apa ukuran kemajuan (atau mungkin lebih tepatnya perkembangan) negri kita ini sebenarnya? Kalau perkembangan menandakan sesuatu yang lebih meningkat, lantas mengapa sudah menahun mereka tidak bertambah penghasilan dan pengetahuannya? Mengapa keadaan ini bisa terjadi di saat perut saya bisa-bisanya bertambah gemuk? Sebagai kontras, selayaknya dua ujung colourbar, aku menemui temanku minggu lalu, bercerita bahwa ia akan segera dipromosikan menjadi 'bos' selang beberapa tahun (mungkin seumur jagung) semenjak dia masuk kerja di perusahaannya sekarang. 'Buku' manakah yang lembaran-lembarannya bisa menjelaskan kontras ini? Pada temanku tadi, aku hanya bisa berharap, semoga 'perjuangan' yang dahulu pernah aku rasakan bersamanya tidak serta merta hilang ditelan lobi-lobi yang harus dia lakukan untuk mempertahankan posisinya di perusahaan itu. Pun sikap humanisnya yang sangat kental akan dapat bertahan dalam pertarungannya dengan hirarki dan tuntutan manajemen. Aku merasa jauh dari orang-orang malang itu. Siapa yang merasa dekat? Kau? Mungkin kita punya pengetahuan banyak tentang hal ini. Pengetahuan yang membuat kita sadar akan kondisi orang-orang malang itu. Tetapi sering kali tinggallah pengetahuan dan kesadaran itu tetap seperti apa adanya. Cukup berhenti sebagai pengetahuan dan kesadaran. Sesuatu yang baik kadang cukup hanya diketahui secara baik-baik, tidak perlu diamalkan. Bukan begitu, Kawan? Ah, aku merasakan tanda-tanda kematian yang lebih tragis sedang menggiringku. Se-tragis pengetahuan yang disulap (secara sangat lihai dan argumentatif) menjadi alibi dari rasa haru (compassion). Aku melihat daun-daun itu tidak berayun seperti biasanya, semakin kuperhatikan semakin tidak biasa. Kupu-kupu itu pun seakan tahu, ada aroma lain yang menguap di sekitarnya tak sengaja ia hisap, mukanya menunjukkan keanehan. Dan pohon-pohon itu seperti tidak diam, seakan mau menutunku pergi ke dunia yang lebih elok pada jalan yang terjal. Pada dunia yang sudah terhampar semenjak dahulu, dunia yang belum terjamah oleh tangan-tangan yang gemuk menelan otot .... Aku ingin melihat dunia ini sebagai dunia yang lebih polos, lebih telanjang. Aku ingin melihatnya secara lebih blak-blakan. Aku ingin lebih dekat lagi, merasakan kerasnya kulit dan membaui air juang yang keluar dari tubuh mereka bersamaan dengan derap langkah kaki yang selalu bertahan untuk tegaknya punggung yang menggendong rumput-rumput buat makan ternak mereka setiap hari. Bisa jadi, karena itulah akhir-akhir ini aku sangat ingin naik gunung (lagi) .... |
keterkejutan, ternyata bisa menggerakkan seseorang untuk menuangkannya dalam tulisan.. Aku terharu dan bangga, akhirnya sahabatku ini mau belajar nulis juga..
semangat bat!!!!
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| badai pasti berlalu, tp akan datang lagi yg lebih besar, karena iklimnya sekarang ini dah tidak menentu, akibat pemanasan global ( weh gak nyambung yo len hehehehe) |
--- On Wed, 3/4/09, leonie maria <leonie...@gmail.com> wrote: |
From: leonie maria <leonie...@gmail.com> |
Turut berduka cita, Le.. Badai pasti berlalu, Insya Alloh.. Iki yo lagi mumet, proyek ra mlaku2, eh jalan di tempat ding --- On Thu, 3/5/09, fitri duaramuri <duar...@yahoo.com> wrote: |