Kumandangazan magrib hari ini akan menjadi pertanda puasa hari ke-15 Ramadan 1444 Hijriah. Artinya sudah setengah perjalanan bulan Ramadan. Malam pertengahan Ramadan termasuk istimewa, salah satu amalan yang bisa dikerjakan yakni membaca doa qunut ketika sholat witir.
أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان. رواه أبو داود
Artinya, "Sesungguhnya Umar Ibn Khattab berinisiatif mengumpulkan masyarakat agar shalat tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka'b, maka beliau shalat tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak berdoa qunut kecuali dalam separuh yang kedua (malam 16 Ramadhan hingga seterusnya)." (HR. Abu Dawud).
Berikutnya, dijelaskan pula di dalam kitab Ma'rifatus Sunan wal Atsar (4/44) dengan mengutip pendapat Imam asy-Syafii yang mengatakan bahwa pada separuh terakhir Ramadhan umat Muslim membaca doa Qunut. Hal ini pernah dilakukan oleh Ibnu Umar dan Mu'adza al-Qari.
قال الشافعي: ويقنتون في الوتر في النصف الآخر من رمضان وكذلك كان يفعل ابن عمر ومعاذ القاري
Artinya, "Mereka berqunut di dalam shalat Witir pada pertengahan akhir bulan Ramadan, seperti itulah yang dilakukan oleh Ibnu 'Umar dan Mu'adz al-Qari."
Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar (67) menegaskan hal serupa. Menurut an-Nawawi, ulama kalangan madzhab Syafii menganjurkan pembacaan doa Qunut pada separuh terakhir di bulan Ramadhan. Selain itu, dia juga memaparkan beberapa versi anjuran ini. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat menurutnya adalah Qunut dibaca pada separuh terakhir Ramadan.
ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان ووجه ثالث: في جميع السنة وهو مذهبُ أبي حنيفة والمعروف من مذهبنا هو الأوّل
Artinya: "Menurut kami, disunnahkan Qunut di akhir witir pada separuh akhir Ramadhan. Ada juga dari kalangan kami (Syafiiyyah) yang berpendapat, disunnahkan Qunut di sepanjang Ramadhan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan Qunut di seluruh shalat sunnah. Ini menurut madzhab Abu Hanifah. Namun, yang baik menurut madzhab kami adalah model yang pertama, yaitu Qunut pada separuh akhir Ramadhan."
Mengutip buku Ramadan Bersama Rasul: Panduan Ibadah di Bulan Suci Ramadan oleh Alvian Iqbal Zahasfan, dijelaskan bahwa ada perbedaan pendapat tentang membaca doa qunut saat sholat witir dari imam mazhab.
Pertama, Imam Abu Hanifah berpendapat wajib hukumnya qunut witir sebelum rukuk sepanjang tahun. Sementara menurut kedua muridnya, Abu Yusuf (w. 182 H) dan Muhammad Asy-Syaibani (w. 189 H), hukumnya sunnah.
Kedua, menurut pendapat Malikiyah yang masyhur hukumnya adalah makruh, tetapi dalam satu riwayat di kitab Al-Muwatha' disebutkan bahwa Imam Malik ber-qunut di separuh terakhir Ramadan (sebelum rukuk). Pada praktiknya, mayoritas Malikiyah di Maroko tidak qunut di separuh Ramadan.
Ketiga, pendapat Syafiiyah yang paling unggul hukumnya adalah mustahab (sunnah) khususnya qunut witir di separuh terakhir Ramadan (setelah rukuk). Sebagian Syafiiyah menilai tidak ada qunut di bulan Ramadan.
Doa qunut merupakan doa yang sering diamalkan setiap rakaat terakhir salat subuh. Sesuai namanya, qunut yang berarti 'berdiri, diam dalam berdoa', doa ini diamalkan ketika berdiri saat iktidal sebelum akhirnya sujud.
Selain salat subuh, qunut juga dibacakan pada rakaat terakhir salat witir, terlebih selama bulan Ramadan. Namun, doa tersebut tidak langsung diamalkan sejak hari pertama puasa, melainkan ketika mulai memasuki pertengahan bulan.
"... Beliau berkata, 'Apabila selesai melaknat orang-orang kafir, berselawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , memohon ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat serta permintaan lainnya, ia mengucapkan, 'Ya Allah, kami hanya menyembah kepada-Mu, berusaha dan beramal hanya untuk-Mu, dan memohon rahmat kepada-Mu, wahai Rabb kami, dan kami takut kepada azab-Mu yang pedih. Sesungguhnya adab-Mu ditimpakan kepada orang yang Engkau musuhi,' kemudian ia bertakbir dan turun untuk sujud.'" (HR. Ibnu Khuzaimah, sahih berdasarkan isnadnya).
Ketika Abu Daud menanyakan pada Imam Ahmad, "Apakah qunut itu sepanjang?" "Jika engkau mau." Abu Daud bertanya lagi, "Apa pendapat yang engkau pilih?" Jawab Imam Ahmad, "Adapun saya tidaklah berqunut kecuali setelah pertengahan Ramadhan. Namun jika aku bermakmum di belakang imam lain dan ia berqunut, maka aku pun mengikutinya." (Masail Ahmad li Abi Daud, 66).
Allahummahdini f man hadait, wa 'fini f man 'fait, wa tawallan f man tawallait, wa brikl f m a'thait, wa qin syarra m qadhait, fa innaka taqdh wa l yuqdh 'alaik, wa innah l yazillu man wlait, wa l ya'izzu man 'dait, tabrakta rabban wa ta'lait, fa lakal hamdu a'l m qadhait, wa astagfiruka wa atbu ilaik, wa shallallhu 'al sayyidin muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'al lihi wa shahbihi wa sallam
Artinya: "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkahan kepadaku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya."
Setelah membaca informasi di atas, detikers jadi tahu bahwa doa qunut witir mulai dibaca sejak malam ke-15 atau pertengahan Ramadan. Dalam salat, doa ini diamalkan pada rakaat terakhir ketika iktidal sebelum sujud. Bagikan informasi di atas supaya makin banyak orang yang tahu, ya!
Qunut dalam salat witir tidak tetap berasal dari Nabi Saw. baik melalui ucapan maupun perbuatan nabi. Imam Ahmad berkata : Tidak ada yang sahih dari Nabi seputar qunut Witir. Imam Ibnu Khuzaimah berkata, Aku tidak menghafal khabar yang meyakinkan dari nabi tetang qunut beliau saat salat witir. Memang, qunut witir meyakinkan diamalkan banyak sahabat Nabi sebagiamana jawaban Atha` Ketika ditanya.
Jika diperhatikan, hadis-hadis tentang tata cara salat witir Nabi memang tidak menyinggung-nyinggung qunut witir. Seandainya qunut witir itu rutin dilakukan Nabi dalam salatnya, maka tentunya Siti Aisyah maupun sahabat lain akan banyak yang meriwayatkannya.
Pertama : Qunut witir hukumnya wajib sepanjang tahun, ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah namun kedua sahabatnya menentangnya degnan mengatakan bahwa qunut witir hanya sunah dilakukan sepanjang tahun.
Jadi dalam penilaian Ibnu al-Qayyim, riwayat adanya qunut witir dari Nabi lebih lemah dibanding riwayat qunut subuh. Maka wajar jika majelis tarjih tidak mengamalkan qunut witir yang penisbatan kepada Nabi lebih lemah dibanding qunut subuh.
Majelis Tarjih Muhammadiyah sendiri memutuskan membaca doa qunut Witir, yang dibaca sesudah iktidal sebelum sujud pada rakaat terakhir di malam shalat Witir baik di akhir bulan Ramadhan maupun pertengahannya tidak disyariatkan. Karena itu tidak perlu kita mengamalkannya. Dalil-dalil yang menyatakan adanya doa qunut seperti riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzy, riwayat An-Nasaiy, riwayat Ahmad dan riwayat Ibnu Majah dipandang kurang kuat karena ada perawi-perawi yang dipandang dhaif (TJA II, h. 76).
Hadis-hadis yang dijadikan alasan bagi qunut witir diperselisihkan oleh ahli-ahli hadis. Muktamar masih merasa memerlukan penelitian dan mempertimbangkan dasar perbedaan penilaian ahli-ahli hadis tersebut. Maka diambil keputusan tawaqquf untuk membahas pada lain kesempatan (HPT; 380, TJA VI, 44).
Qunut dalam bahasa Arab memiliki arti ketaatan, kesungguhan, patuh, berdiri lama, dan diam. Dalam ibadah, qunut ini juga dapat diartikan sebagai meminta ampunan dan memberi pujian kepada Allah SWT setelah mengerjakan salat, baik salat fardhu maupun salat sunnah.
Doa qunut dapat dibedakan menjadi tiga macam. Yang pertama adalah doa qunut nazilah, yang diucapkan ketika ada peristiwa atau musibah besar yang menimpa. Doa ini dibaca setelah rukuk (iktidal) dalam rakaat terakhir salat.
Mazhab Syafi'i menghukumi qunut subuh sebagai sunah ab'adl, jika terlupa disunahkan sujud sahwi. Sedangkan dalam mazhab Maliki qunut subuh sunah, tetapi dibaca pelan. Dalam mahzab Hanafi dan Hambali, qunut subuh tidak disunahkan.
Terakhir, doa qunut salat witir. Terkait doa ini, menurut pengikut Imam Syafii, qunut ini dilakukan pada akhir salat witir setelah rukuk, terutama dalam paruh kedua bulan Ramadan. Menurut mazhab Hambali, qunut ini dikerjakan setelah rukuk, sedangkan menurut mazhab Malikiyah, qunut jenis ini tidak disunahkan.
Sementara itu, pengikut mazhab Hanafiyah berpendapat qunut witir dilakukan dalam rakaat ketiga setiap salat sunah, sebelum rukuk. Pendapat mazhab Hambali, qunut witir dilakukan sepanjang tahun, atau tidak hanya pada separuh akhir bulan Ramadan. Dasarnya adalah hadis "Sesungguhnya Rasulullah melakukan witir lalu melakukan qunut sebelum rukuk." (H.R Ibnu Majah).
Allahummahdini fiiman hadayta wa aafinii fiiman aafyata wa tawallanii fiiman tawallayta wa baariklii fiiman a thoyta waqinii syarro maa qodhoyta walla yuqdhoo alaika wa innahu laa yadzillu man waalayta walaa ya izzu man aadayta tabaarakta robbanaa wa ta aalayta.
Artinya: "Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana Engkau memberikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau memberikan keselamatan (kepada selainku), rawatlah aku sebagaimana Engkau merawat orang lain, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu, sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan, aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya." (HR. At Tirmidzi No.464, Abu Daud No. 1425, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
3a8082e126