Fw: Sejarah Sing Ming Hui ( sekarang Candra Naya )
352 views
Skip to first unread message
Bintang Lima -G
unread,
Sep 3, 2008, 7:18:09 AM9/3/08
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to orar...@googlegroups.com
----- Original Message -----
From: hl...@um.edu.my To: undisclosed-recipients: Sent: Tuesday, September 02,
2008 9:20 AM Subject: Fw: [CC60an] Sejarah Sing Ming Hui ( sekarang
Candra Naya )
DARISINGMINGHUIKECANDRANAYA, _
DARIGAJAHMADAKEJEMBATANBESI.
Tahun ini genap 61 tahunusia Perhimpunan
Sosial Candra Naya. Jarang ada organisasi Tionghoa yang bisa bertahan lebih dari
setengah abad di Indonesia.Apalagi setelah berbagai organisasi Tionghoa
diberangus pada masa pemerintahan Orde Baru. Sungguh luar biasa perjuangan
para pengurusnya yang berhasil bertahan menghadapi berbagai
goncangan politik
di negara ini dan tarik-menarik berbagai kepentinganpribadidi antara
para pengurus organisasi tersebut.
Keberhasilan bertahan
Candra Naya hanya dapat dibandingkan dengan Yayasan Pendidikan Warga, Solo sebagai
metamorfosa dari Tiong Hoa Hwe Koan Solo yang dua tahun lalu baru saja
merayakan 100 tahun berdirinya organisasi tersebut. Seperti juga Yayasan Warga, Candra Naya
sampai saat ini masih mengelola sekolah, panti asuhan dan berbagai
kegiatan lainnya.Hanya sangat disayangkan Rumah Sakit Sin Ming Hui
(diresmikan oleh Walikota dan Jawatan Kesehatan Kota pada 24 Juni 1957)
yang dipimpin
Dr.Loe Ping Kian yang kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit Sumber
Waras telah lepas dan menjadi rumah sakit yang tidak ada hubungannya dengan organisasi yang
mendirikannya.Demikian juga dengan Universitas Tarumanagara (Yayasannya
didirikan 11 September 1959) yang dipimpin Drs.Kwee Hwat Djien telah menjadi universitas
yang tidak ada ! kaitannya sama sekali dengan Candra Naya.Malahan
dalam usaha
memperebutkankedua asset tersebut, kasus ini sampai ke pengadilan dan
Mahkamah Agung.
Sin Ming Hui atau "/Perkumpulan Sinar Baru/"
didirikan atas prakarsa beberapa orang Tionghoa yang prihatin dan merasa
peduli akan keadaan nasib orang Tionghoa yang banyak menderita akibat
penjajahan Jepang.
Dalam sebuah artikel berjudul
"/Masyarakat Baru Dalam Aliran Baru"/ yang di yang dimuat harian Sin Po 2 Januari 1946, sembilan
orang dari harian Sin Po dan Keng Po yang menanda-tangani artikel
tersebut menyerukan kepada pembacanya untuk mendirikan sebuah
perkumpulan baru yang akan diberi nama Sin Ming Hui. Perkumpulan baru
tersebut menunggu calon anggotanya.
Seruan tersebut sebagai
hasil pertemuan beberapa orang Tionghoa, antara lain Thio Tong Hay,Khoe Woen
Sioe, Lie Tek Ho, Lay Ie Thong dan Chang Ming An. Pertemuan tersebut
berlangsung di sebuah ruangandi lantai dua kantor harian Sin Po, Jalam Asemka,Jakarta.
Pertemuan kecil ini perlu dicatat dalam sejarah perkembangan orang
Tionghoa di Indonesia,tidak kalah dengan sejarah berdirinya Tiong Hoa
Hwe Koan,karena dari pertemuan tersebut lahir sebuah organisasi social Tionghoa yang
kelak memainkan peranan yang sangat penting dan besar bagi kehidupan
masyarakat Tionghoa terutama di Jakarta dan Bandung. Tujuan Sin Ming Hui adalah /"bergerak
menuju cita-cita dan aliran baru"/.
Dalam pemilihan
pengurus, kriteria yang menentukan pimpinan bukan berdasarkan kekayaan yang bersangkutan
tetapi kualitas pengabdian,kejujuran,tanggung jawab dan
integritasnya.Sungguh suatu langkah yang maju, mengingat pada pada masa-masa sebelumnya
pemimpin orang Tionghoa selalu dipilih berdasarkan
kekayaannya.
Sebagai hasil seruan di harian Sin Po
tersebut,pada hari Minggu pagi 20 Januari 1946, berkumpul 40 orang di sebuah ruang
lantai dua harian Sin Po untuk meresmikan berdirinya Perkumpulan Sin
Ming Hui.
Pengurus pertama yang dipimpin Khoe Woen Sioe
sebagai ketuanya ternyata orang-orang nekat,karena mereka memutuskan untuk
menyewa gedung almarhum Mayor Tionghoa Khouw Kim An yang terletak di
Jalan Gajah Mada
188, walaupun ongkos sewanya mahal sekali, yaitu f 750.- setiap
bulannya, padahal jumlah anggotanya baru dua ratus orang saja. Namun ternyatakeputusan ini adalah
keputusan strategis yang tepat, karena dengan menempati gedung yang
luas, kegiatan Sin Ming Hui cepat berkembang dan jumlah anggotanya dalam waktu singkat
mencapai tujuh ribu orang.
Kemajuan luar biasa yang
dicapai Sin Ming Hui disebabkan juga oleh situasi masa itu, di mana keamanan
sangat buruk, apalagi setelah terjadi peristiwa rasialis Tangerang yang
menelan korban ratusan orang Tionghoa mati terbunuh dan ribuan orang lainnya lari
ke Jakarta untuk menjadi pengungsi yang sebagian ditampung di gedung
Sin Ming Hui.
Ketika peristiwa itu terjadi, tidak ada seorang Tionghoa pun yang
berani pergi ke Tangerang untuk meninjau dan memberikan pertolongan, kecuali dua orang anggota
Sin Ming Hui bersama seorang wartawan dan seorang pegawai Kementerian
Penerangan.Tanpa mengenal waktu, siang dan malam Sin Ming Hui bekerja memberikan
pertolongan kepada para korban peristiwa rasialis
tersebut.
Kegiatan pertama yang dilaksanakan pada 1 April
1946, adalah membuka poliklinik yang sangat dibutuhkan masyarakat
Tionghoa. Demikian juga dengan berdirinya seksi Buruh dan Klinik
Bantuan Hukum mendorong orang-orang Tionghoa di Jakartamendaftarkan diri
menjadi anggota Sin Ming Hui.
Pada 15 Juni 1946,Hua
Chiao Hsieh Hui Bandung menggabungkan diri dengan merubah namanya menjadi Sin Ming
Hui Bandung dan berpusat di Jalan Braga.Langkah berikutnya untuk
memperkokoh organisasi, pada 14 September 1946 Sin Ming Hui Bandung melakukan fusi dengan
Hua Chiao Tsing Nien Hui.
Tokoh-tokoh Tionghoa yang
pernah memimpin dan menjadi pengurus Sin Ming Hui antara lain : Khoe Woen
Sioe,Mr.Lie Kian Kim,Mr.Liem Tjing Hien,Mr.Oei Tjoe Tat,Drs.Khoe Soe
Khiam, Mr.Phoa Thian Hian, Mr.Go Tie Siem, Thung Tiong Soen,Liem Tjong Tong,Tan Kwie Seng, Go
King Liong,Gho Tjeng Kie,Tjhio Jan Seng,Ny.Lauw In Nio,Go Gak Cho,Ang
Jan Goan,Poey
Seng Tjay, Thio Tek Hong, Oei Kim Sen,Drs.Kwee Hwat Djien,Mr.Auwjang
Peng Koen, Mr.Yap Thiam Hien, Tan Kwat In, dan lain-lainnya.
Masyarakat Tionghoa Jakarta
yang tua-tua tentunya masih ingat upacara-upacara Sin Cia, Peh Cun dll perayaan tradisi
Tionghoa lainnya dengan tarian langliong Tjeng Bu Tee Jok Hwee dan
barongsay Khoen
Lok Siah yang sering diselenggarakan Sin Ming Hui secara besar-besaran
di gedungnya yang luas. Demikian juga dengan fancy fair atau bazaar yang setiap tahun
diselenggarakan secara meriah dalam rangka fund raising atau merayakan
ulang tahun Sin Ming Hui dan Hari Kemerdekaan RI. Demikian juga seksi sandiwara yang
berhasil mementaskan drama "Mawar Hutan" , banyak menarik
perhatian masyarakat, sampai-sampai diundang Presiden Soekarno
untuk mementaskannya di Istana Bogor. Para pemainnya antara lain
Ivonne Thio,Khoe
Wie Hien, Harry Tjan Dhiam Hok dan lain-lainnya.
Namun
prestasi yang paling penting dan berhasil adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Dimulai
dengan mendirikan SD Min Teh disusul dengan sekolah Asisten
Apoteker(SAA), kemudian SMP,SMA dan mencapai puncaknya dengan mendirikan Universitas
Tarumanegara di daerah Grogol.Universitas Tarumanegara berkembang
dengan pesat dan kini menjadi salah satu universitas swasta yang terkenal
dengan gedungnya yang modern di Jakarta.
Di bidang
kesehatan ambisi para pengurus Sin Ming Hui untuk mendirikan sebuah rumah sakit modern
berhasil diwujudkan, yaitu Rumah Sakit Sumber Waras yang sampai
sekarang masih berdiri dan beroperasi serta memainkan peranan yang penting dalam memberikan
layanan medis kepada penduduk Jakarta.
Pada tahun 1962 sesuai
dengan kondisi politik pada masa itu, Perkumpulan Sin Ming Hui berganti nama menjadi Perhimpunan
Sosial Tjandra Naja (Berita Negara RI No.32 tanggal 19 April 1962)
yang kemudian
disesuaikan dengan ejaan baru menjadi Perhimpunan Sosial Candra
Naya.
Setelah tragedi G30S, hampir seluruh organisasi yang
dibangun etnis Tionghoa di Indonesiadibubarkan penguasa Orde Baru dan
seluruh asetnya dengan sewenang-wenang diambil alih tanpa dasar hukum
yang jelas,tetapi
Candra Naya berhasil "selamat" dan tetap eksis sampai sekarang.
Namun sangat disayangkanCandra Naya yang telah berhasil
lolos dari berbagai huru-hara dan gejolak politik, gagal mempertahankan
gedung perkumpulannya yang terletak di jalan Gajah Mada 188. Konon
dengan bantuan
para pejabat Orde Baru, gedung bersejarah tersebut berhasil dikuasai
konglomerat hitam Tionghoa yang secara tidak bertanggung jawab merobohkan gedung yang menjadi
monumen eksistensi masyarakat Tionghoa Jakarta. Ironisnya,konglomerat
tersebutterkena imbas krismon dan proyeknya gagal setengah jalan, sehingga apabila kita
melintas di muka jalan Gajah Mada 188, suasana suram dan seram yang
kita lihat menggantikan suasana lembut dan sosial yang sebelumnya
terpancar dari gedung tersebut.
Gedung Candra Naya
sekarang pindah ke daerah Jembatan Besi, di tengah-tengah daerah kumuh, namun yang
penting masih tetap eksis ibarat kata pepatah "/Tak Lapuk disiram
hujan, tak lekang dibakar matahari"/.
Dirgahayu Candara Naya
!
Jakarta,28 Maret 2007.
_Benny
G.Setiono_
Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI)
Jakarta __._,_.___