Nasi Ternyata Juga Bikin Kita Bodoh

375 views
Skip to first unread message

Suryo Susilo

unread,
Mar 1, 2007, 5:48:19 AM3/1/07
to orar...@googlegroups.com, fs...@yahoogroups.com

Dari milis sebelah.

 

Ada pendapat lain?

 

 

Nasi Ternyata Juga Bikin Kita Bodoh

"Ketimbang mengkonsumsi protein, kita termasuk boros memakan
karbohidrat, terutama nasi dan mie instan. Selain terkenal sebagai
pemakan nasi yang akut, bangsa kita juga tercatat sebagai
pengkonsumsi mie per kapita terbesar di dunia setelah
Korea. Mungkin
wajar, karena kita membutuhkan banyak tenaga otot ketimbang tenaga
otak.


Karbohidrat memang fungsi utamanya menghasilkan tenaga bagi tubuh.
Tapi ada karbohidrat yang cepat sekali diolah menjadi tenaga , juga
ada karbohidrat yang lebih lama diolah tubuh .
Nasi termasuk golongan
karbohidrat pertama.
Sementara gandum, kentang, dan sebagainya
termasuk golongan karbohidrat kedua.


Terlalu banyak memakan karbohidrat yang terlalu cepat diolah tubuh
jelas tidak baik.
Ketika kita tidak lagi membutuhkan tenaga otot
melainkan tenaga pikiran, tenaga yang kadung terbentuk segera diubah
menjadi lemak.
Selain menjadi tumpul dalam pikiran, kita juga jadi
gampang mengalami kegemukan.


Orang
Indonesia rata-rata mengkonsumsi nasi sebanyak 136,5 kg/tahun.
Angka ini terbesar di dunia. Orang
Indonesia tanpa nasi dianggap
belum makan.
Bahan makanan lain seperti protein, mineral, dan vitamin
jadi kurang asupannya. Nasi sentris, selain boros, juga membuat
postur tubuh rata-rata orang
Indonesia lebih pendek dari bangsa lain
yang konsumsi proteinnya lebih tinggi.

Kalau melihat upah minimum Amerika sebesar $5,15 per jam, maka
diperlukan hanya 30 menit buat orang miskin Amerika untuk bisa
membeli sepotong Big Mac. Bandingkan dengan UMR Jakarta sebesar Rp
816 ribu per bulan atau sekitar Rp 4.000 per jam.
Orang miskin di
Indonesia harus bekerja setidaknya 1 jam untuk bisa makan satu kali.

Nah, mencari sumber makanan yang bergizi adalah urgent. Namun,
menurunkan komponen biaya dasar tersebut bagi masyarakat golongan
kecil juga penting.

Ada pola dasar bahwa semakin miskin penduduk suatu negara , maka
semakin besar porsi belanja makanan mereka.
Kalau kita ingin
meningkatkan kesejahteraan kita, maka kurangi porsi belanja makanan
kita. Alternatifnya bisa dengan mengurangi porsi makan atau memilih
makanan dengan komposisi gizi yang lebih baik dan harga lebih murah.
Gandum sebagai Alternatif

Gandum adalah bahan komoditi yang cukup banyak digunakan di berbagai
negara di seluruh penjuru dunia. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari
roti, kue, biskuit, sereal, mie, martabak, chappati, bakpao, pizza,
croissant, dan sebagainya.

Bagaimana dengan harga dan komposisi gizinya?

Harga gandum menurut pasar komoditi LIFFE sekitar $175 per ton untuk
kualitas terbaik.
Harga beras lokal kualitas medium sekitar Rp 5.000/
kg atau setara $550 per ton.

Menurut Nutrition Data, kandungan energi nasi sekitar 97 kalori per
100 gram. Sementara kandungan energi roti sekitar 361 kalori per 100
gram.

Kebutuhan energi minimal seorang manusia dalam sehari sekitar 2.000
kalori. Ini bisa dipenuhi dengan 2 kg beras (setara Rp 10.000 ) atau
dengan 500 gram gandum (setara Rp 800).

Walaupun kandungan kalorinya lebih tinggi, membuat roti membutuhkan
lebih sedikit volume gandum/terigu daripada membuat nasi yang
membutuhkan volume beras yang lebih banyak. Di sini terlihat jelas
bahwa beras/nasi jelas kurang ekonomis dibandingkan roti/gandum.

Menurut data Bogasari, konsumsi gandum Indonesia per kapita hanya
sebesar 15 kg. Jauh di bawah Singapura (71 kg) atau Malaysia (40 kg).

Asumsikan fisiologis perut orang Indonesia dengan orang Singapura/
Malaysia sama, maka seharusnya pengurangan konsumsi beras oleh orang
Indonesia — dan menggantinya dengan gandum — sebenarnya mudah
dilakukan."

__._,_.___

Purwoko.Edi di gmail.com

unread,
Mar 1, 2007, 9:06:48 PM3/1/07
to orar...@googlegroups.com
komentar saya ada di bawah sbb :

>
> Nasi Ternyata Juga Bikin Kita Bodoh
apa benar begitu ? Habibie, Baiquni,  dan para ilmuwan Indonesia apa makan non nasi sejak kecil ? konotasi tulisan mengarahkan bahwa "kalau makan nasi akan menjadi bodoh, kalau makan non nasi berarti tidak menjadi bodoh", apakah ada bedanya dengan "kalau minum alkohol akan mabuk, kalau minum non alkohol berarti tidak akan mabuk" bagian mana dari nasi yang menjadikan bodoh ?

> Mungkin wajar, karena kita membutuhkan banyak tenaga otot ketimbang tenaga
> otak.
apa benar begitu, data statistiknya ada ?
 
>  Selain menjadi tumpul dalam pikiran,
korelasinya apa ? kok jadi tumpul dalam pikiran, dasar pembanding/analisa nya gak ada sejak awal tulisan
 
> Kalau melihat upah minimum Amerika sebesar $5,15 per jam, maka bla bla bla
>
$5.15 sekitar Rp55.000 --> 1/2 jam mendekati 27.500 --> sepotong big Mac sekitar Rp20.000, berarti orang Indonesia lebih "efisien" ;)) lebih pintar memanfaatkan uang makannya
 
>

> Ada pola dasar bahwa semakin miskin penduduk suatu negara , maka
> semakin besar porsi belanja makanan mereka.
wah, bukannya terbalik ? makin miskin makin sedikit uang yang dimiliki, makin sedikit makanan yang bisa dibeli
 
> Kalau kita ingin
> meningkatkan kesejahteraan kita, maka kurangi porsi belanja makanan
> kita.
sekarang saja sudah kurang, makan 1 kali 1 hari sudah bagus
 
> Gandum sebagai Alternatif
Gandum ? beras saja import, apalagi gandum, trus devisa buat beli gandum dari mana ?>
> Gandum adalah bahan komoditi yang cukup banyak digunakan di berbagai
> negara di seluruh penjuru dunia. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari
> roti, kue, biskuit, sereal, mie, martabak, chappati, bakpao, pizza,
> croissant, dan sebagainya.
aduh, makanan yang mengandung gandum di atas, gak akan dimakan hanya gandum semata, musti ada daging, pepperoni, onion, mushrom, smoked beef, dll
tentunya rakyat miskin akan semakin irit hidupnya agar bisa beli bahan pelengkjap di atas.  Sementara nasi ? vukup kasihgaram sedikit saja, dan nikmat deh ...
>
Harga beras lokal kualitas medium sekitar Rp 5.000/
> kg atau setara $550 per ton.
>
gak up to date, beras terjelek Rp6.000
 
 
> Menurut data Bogasari, konsumsi gandum Indonesia per kapita hanya
> sebesar 15 kg. Jauh di bawah Singapura (71 kg) atau Malaysia (40 kg).
>
jelas ada tendensi dari tulisan ini, jualan gandum
 
> Asumsikan fisiologis perut orang Indonesia dengan orang Singapura/
> Malaysia sama, maka seharusnya pengurangan konsumsi beras oleh orang
> Indonesia — dan menggantinya dengan gandum — sebenarnya mudah
> dilakukan."
>
 
Analisis ini hanya bisa dibaca oleh kalangan yang gak perlu tenaga otot - walaupun pake tenaga otot, hanya untuk tenaga ngetik email saja, jadi gak sampe ke level bawah.
 
Merubah pola makan bukan hal sederhana, karena butuh DANA yang besar untuk mensosialisasikan pola makan baru.
Pengalaman saya di Irian Jaya pada tahun 1990, para transmigran terpaksa membuang - sekali lagi MEMBUANG - hasil panenan mereka berupa jagung yang menggunung di setiap pasar.
Semua orang boleh mengambil jagung tersebut GRATIS, lha wong gratis aja enggak ada yang mau. Akhirnya hanya bisa jualan pisang saja, sungguh mengenaskan bangsa Indonesia, karena hasil analisa yang di-Bahasa indonesiakan merupakan suatu usaha pencapaian hasil penjualan suatu produk belaka, tidak mengakar pada tujuan menjadikan bangsa Indonesia terlepas dari kemiskinan.
 
Maaf kalau ada yang kurang sependapat, terserah masing2 menanggapinya.
 
 
salam,
 
edi.

Icung D. at Head Office.

unread,
Mar 1, 2007, 10:57:43 PM3/1/07
to orar...@googlegroups.com
Yang saya nggak ngerti itu kenapa orang indonesia suka makan mie? [termasuk saya lo]
padahal mie dibuat dari gandum.
dan padahal Gandum ini tidak/belum ditanam di indonesia.
harusnya mie dibuat dari beras kali yha.......
berapa ya apbn kita yg harus disediakan untuk impor gandum yang notabene bukan tumbuhan/makanan asli indonesia?
udah ah pusing....he he he
 
Salam,
 
Icung
"It is not the Class of license the Amateur holds, but the Class of
the Amateur that holds the license."
 
PT. Sanatel
Jl. Puspa Niaga Blok 402 No. D1
Sektor Komersial III-A
BSD City, Tangerang 15321
Indonesia
Tel. : 021-537-0907  Fax. : 021-5372325
"Keeping you connected from Sabang to Merauke and from Tahuna to Kupang"
http://www.sanatel.com

R ichwan, YB0IR

unread,
Mar 2, 2007, 2:40:59 AM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
Well...yang pasti  kalau makan nasi, kekenyangan , ngantuk ,jadi tidak produktif. Untuk mencapai target sering molor waktu penyelesaiannya .... Jumlah penduduk terlalu banyak, sehingga harus menciptakan lapangan kerja. Banyak yang terjadi di Indonesia , kebanyakan karyawan. Pekerjaan yang bisa dikerjakan sendir, dibantu tigaorang. Kembali lagi karena berpotensi banyak pengangguran, jadi kriminal dsb. tapi yang penting "Enjoy Life" Kalau enggak..bisa seperti loncat dari gedung seperti yang saya kirim kemaren.

Purwoko.Edi di gmail.com

unread,
Mar 2, 2007, 2:47:40 AM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
nah, kalo ini mah logis, kekenyangan bikin ngantuk.
well, inlander kekenyangan he ? bisa bikin apa kalau perut penuh ?
bikin berat kelopak mata ?

Pada tanggal 07/03/02, R ichwan, YB0IR <asoy...@gmail.com> menulis:

Purwoko.Edi di gmail.com

unread,
Mar 2, 2007, 2:49:05 AM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
kalo beras dibikin mi namanya jadi bihun dong, "BANG !!! bihun 2
mangkok yaaaaa ...!!!!! basonya yang banyak !!!"


salam,

edi.

Pada tanggal 07/03/02, Icung D. at Head Office. <ic...@bit.net.id> menulis:

R ichwan, YB0IR

unread,
Mar 2, 2007, 3:17:38 AM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
hehe...dibahas......

On 3/2/07, Purwoko.Edi di gmail.com <purwo...@gmail.com> wrote:

Dhany Dharmawata

unread,
Mar 2, 2007, 4:29:37 AM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
Klo yang dari beras, namanya mi-hun dan kwetiau.................(kalo ga salah loh)
 
eui

The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

Ronald Lumban Tobing

unread,
Mar 2, 2007, 12:22:53 PM3/2/07
to orar...@googlegroups.com
 
Wah...dalam juga ya pembahasannya?
Kalau menurut hemat saya sih, maksudnya tidak begitu, mengurangi konsumsi Nasi <beras> sebatas yang normal saja, karena kadar Karbohidrat dan Gula pada Nasi cukup signifikan, jadi untuk kesehatan juga.
Karena pola kerja kita sebagian besar mengandalkan tenaga <bertani, berkebun, tenaga kasar dll>, maka selalu berasumsi utk dapat tenaga maka harus banyak makan nasi, <maaf kalau makan nasi sampai muncung dipiring>, ini tidak seluruhnya benar. karena Tenaga bisa didapat juga dari protein <Putih telur, daging, gandum dll> ditambah yg berserat.
 
Mungkin, maksud penulis, korelasi banyak makan nasi equivalent Bodoh atau otak Tumpul atau pola pikir menurun,  tidak langsung seperti itu, karena tidak dijabarkan secara menyeluruh, sehingga pembaca <termasuk saya> menangkap esensinya jadi salah.
 
Memang gandum itu lebih baik dari Beras, karena selain kadar gula & karbo nya lebih rendah juga berserat, namun mahal, jadi ya, makan nasi lebih bisa pilihan..........
Jangan lupa beraspun kita impor <hehehe....simalakam ya?>
 
Namun demikian jika ada yg ahli untuk menjelaskannya, boleh saja di share di milis ini.
Salam
yc0phi


"Icung D. at Head Office." <ic...@bit.net.id> wrote:

Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

Purwoko.Edi di gmail.com

unread,
Mar 4, 2007, 10:05:44 PM3/4/07
to orar...@googlegroups.com
he he he
lagi iseng aja ngebahasnya, sebenernya gak terlalu repot sih, apa aja
juga boleh jadi makanan pokok.

salam


edi.


Pada tanggal 07/03/03, Ronald Lumban Tobing <ronald_...@yahoo.com> menulis:
>
> Wah...dalam juga ya pembahasannya?

R ichwan, YB0IR

unread,
Mar 4, 2007, 10:10:29 PM3/4/07
to orar...@googlegroups.com
Wah..jadi pengen Nasi  PAdang dech hari ini..

Nugraha, Herry

unread,
Mar 4, 2007, 10:35:49 PM3/4/07
to orar...@googlegroups.com
Gitu aja....................kok repot

Herry Nugraha - YDØXKH

-----Original Message-----
From: orar...@googlegroups.com [mailto:orar...@googlegroups.com] On Behalf Of Purwoko.Edi di gmail.com
Sent: Monday, March 05, 2007 10:06 AM
To: orar...@googlegroups.com
Subject: Re: Nasi Ternyata Juga Bikin Kita Bodoh

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages