DeputiBidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Muhammad Neil El Himam, menjelaskan dari 216 peserta program SCENE 2022 telah tersaring sebanyak 111 peserta, dan kemudian terpilih 20 peserta dengan skenario terbaik dan potensial yang akan mengikuti inkubasi intensif bersama para mentor.
"Tim mentor sekaligus kurator yang terdiri dari Bapak Gunawan Paggaru, Eric Gunawan, dan Dedey Natalia kemudian berembug menentukan 20 skenario dan penulis terbaik sepanjang proses SCENE 2022 dengan beberapa instrumen penilaian diantaranya cerita yang memiliki keunikan dan nilai ekonomi, format tulisan yang sesuai dengan modul penulisan skenario yang diajarkan oleh tim mentor, serta dapat mempresentasikan skenario yang ditulis dengan baik," kata Neil.
Sebanyak 20 peserta dengan skenario terbaik ini merupakan hasil dari kurasi 216 peserta pada rangkaian SCENE 2022, yang diselenggarakan di lima kota yaitu Bogor, Semarang, Aceh, Jambi, dan Banjarmasin dalam rentang waktu Februari-April 2022.
"Saya berharap, rangkaian program SCENE 2022 ini dapat menghasilkan karya-karya berkualitas yang dapat divisualisasikan menjadi sebuah film atau serial yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional," kata Neil.
Sementara itu, Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi dan Radio Kemenparekraf/Baparekraf, Syaifullah, menambahkan Masterclass Pengembangan Skenario Film, TV, dan OTT (SCENE) ini telah dilaksanakan sejak 2020.
Bekerja sama dengan Persatuan Karyawan Film dan TV Indonesia (KFT), sejak penyelenggaraan pertamanya di tahun 2020 Kemenparekraf melakukan kurasi untuk menjaring peserta melalui metode open call.
Peserta diwajibkan untuk melampirkan ide cerita, sinopsis dan premis dari cerita yang akan dikembangkan pada workshop masterclass di daerah, sehingga para mentor dapat mengetahui potensi dan aspek yang harus dikembangkan dari peserta.
Pada inkubasi yang akan diselenggarakan selama 6 hari ini, para peserta tidak hanya mendapatkan materi teknis penulisan dari para mentor, tetapi juga akan mendapatkan ilmu dan pembekalan skill lain yang terkait dengan profesi penulis skenario.
Lebih lanjut, Syaifullah menjelaskan produk akhir dari penggodokan yang dilakukan selama masa inkubasi ini nantinya akan dibawa ke ShowcaSCENE, sebuah forum yang didesain untuk menjembatani para penulis skenario dengan industri.
Forum ini akan mengundang berbagai production house, perusahaan OTT, hingga investor. Pitching forum ini memberi akses bagi industri untuk memproduksi skenario-skenario yang dihasilkan dari rangkaian program SCENE ini," kata Syaifullah.
Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), sekaligus kurator, Gunawan Paggaru, mengucapkan selamat kepada 20 penulis terbaik yang disaring dari seluruh Indonesia yang terpilih di inkubasi SCENE 2022. Diharapkan dalam inkubasi ini, peserta memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai materi penulisan naskah skenario dari para narasumber yang ahli di bidangnya.
Sekarang semua orang bisa membuat film hanya dengan menggunakan kamera handphone. Kita bisa menyaksikan video yang direkam kamera handphone tentang sebuah peristiwa; apakah itu bencana alam, upacara adat, upacara pernikahan, pementasan teater atau musik, suasana di pasar, atau peristiwa-peristiwa lain yang tiba-tiba terjadi di hadapan kita saat kita membawa handphone. Bahkan banyak yang membuat cerita pendek, wawancara, dalam waktu satu atau dua menit. Ruang untuk penayangannya juga lebih mudah, bisa di Facebook, Youtube, atau Instagram.
Secara tidak langsung, sesungguhnya kini masyarakat luas sudah mengenal bagaimana sebuah film itu terwujud. Apalagi tontonan di rumah melalui layar televisi atau Youtube, begitu banyak dan beragam. Setidaknya hal tersebut bisa menginspirasi untuk membuat film. Pertanyaannya; Bagaimana kalau muncul keinginan untuk membuat sebuah film yang waktunya seperempat jam, setengah jam, satu jam, atau lebih dari satu jam? Bagaimana kalau muncul keinginan untuk membuat film pendek yang bisa diikutsertakan ke ajang Festival Film Pendek?
Kemenparekraf RI bekerjasama dengan Persatuan Karyawan Film Televisi Indonesia menyelengarakan kegiatan SCENE (Masterclass Pengembangan Skenario Film TV dan OTT) yang bertujuan menemukan dan mengakselerasi penulis menjadi pembuat skenario yang dapat memberikan warna baru dalam industri Film Televisi dan OTT.
Saat ini, mulai banyak film-film Indonesia berkualitas yang bermunculan di layar lebar maupun platform streaming. Berkembangnya industri film ini menuntut adanya regenerasi talenta-talenta baru dalam mengembangkan cerita, khususnya bagi penulis skenario. Namun, banyak yang masih awam dan belum paham bagaimana bentuk penulisan skenario yang sesuai dengan industri.
Di kelas ini, kita akan membahas mengenai aspek film dan bentuk skenario dasar yang perlu dipahami calon penulis skenario. Kita juga akan pelajari bagaimana struktur yang bisa dipakai untuk mengembangkan cerita, jenis-jenis karakter, penulisan premis dan logline, deskripsi action, dialog, hingga bagaimana persiapan untuk mempresentasikan ide cerita kita dengan baik.
Penulis menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara dalam proses pengumpulan data untuk pengembangan ide cerita film. Pada tahap observasi dan dokumentasi, penulis melaksanakan pengamatan di tempat yang dapat dijadikan sebagai refrensi setting lokasi film dan keadaan masyarakat mengenai isu pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan di dunia maya. Penulis juga melaksanakan sebuah wawancara dengan salah satu korban pelecehan seksual di kota Denpasar.
Penulisan naskah adalah salah satu aktivitas pada tahap praproduksi dalam proses pembuatan film.[1] Tahap praproduksi merupakan tahapan awal di mana ide cerita diciptakan.[2] Selain ide, aktivitas pada tahap praproduksi adalah menyiapkan perekaman, serta para pemeran dan kru film mulai bekerja. Menulis naskah skenario merupakan kegiatan menuliskan ide dan isi dari suatu cerita dalam bentuk yang sudah ditentukan dengan tujuan akhir bisa divisualisasikan dalam bentuk pengambilan gambar.[3] Bentuknya bisa berupa skenario televisi atau naskah film. Tujuan dari format pembuatan naskah skenario untuk memudahkan ketika pembuatan film. Agar terbiasa membaca format naskah skenario, bisa mempelajarinya terlebih dahulu melalui naskah skenario yang sudah jadi. Namun, bukan formatnya yang penting tetapi isi naskahnya. Seperti fungsinya, format hanyalah suatu ketentuan teknis yang digunakan agar membantu dalam setiap proses pembuatan film.[3] Skenario adalah rangkaian cerita yang ditulis secara utuh oleh seorang penulis.[4] Hasil akhir dari sebuah tulisan itu berupa visualisasi dalam rupa gambar yang berisi adegan-adegan dari isi cerita. Orang yang mempunyai pekerjaan menulis naskah film itu dinamakan scriptwriter. Untuk pembuatan film, naskah yang selesai ditulis bisa langsung divisualisasikan dalam reka adegan, sedangkan dalam pembuatan film animasi, proses selanjutnya setelah penulisan skenario adalah penggambaran storyboard, pembuatan art concept, character and environment modeling, rigging, animating serta diakhiri dengan proses compositing dan editing.[4]
Pengertian animasi merupakan rangkaian gambar hasil rekayasa visual. Dalam penyusunan naskah film animasi, dibutuhka beberapa proses, dari berupa ide, gambar, dan visual. Rangkaian proses itu di antaranya:
Skenario sandiwara radio merupakan sebuah naskah yang berfungsi sebagai media yang digunakan untuk dibaca.[6] Naskah tersebut merupakan acuan tentang hal apa saja yang ingin diceritakan. Ruang geraknya sangat terbatas, tidak ada tangkapan gambar dan ekspresi yang ditampilkan, tapi pesan yang disampaikan harus sampai ke telinga pendengar. Karena produk yang dihasilkan adalah tangkapan suara yang dipancarkan dalam frekuensi radio. Oleh kaarena itu, seorang yang ditugaskan sebagai penutur atau pembawa acara radio harus mempunyai artikulasi yang baik, agar jelas pada saat dibacakan. Selain itu harus memiliki pengetahuan yang luas, serta teknik retorika yang memadai. Unsur yang harus diperhatikan pada saat menulis skenario sandiwara radio yaitu bahasa. Bahasa yang digunakan dalam penulisan naskah sandiwara radio harus ringkas. Hal ini diperlukan karena terbatas oleh waktu penyiaran. Waktu yang dibutuhkan antara tiga puluh detik hingga dua menit, bila dikonversikan ke dalam tulisan sekitar 100 kata. Selain ringkas, hal lain yang harus diperhatikan yaitu tata bahasa. Penulis harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidahnya agar jelas dan tidak berbelit. Di dalam skenario sandiwara radio sering ditemuka istilah-istilah yang mempunyai arti dan fungsi tersendiri. Istilah-istilah tersebut di antaranya:
Dalam menulis skenario, ada beberapa aturan yang sangat berbeda dengan cara menulis karya fiksi lainnya. Dalam segi kebahasaan, tidak boleh ada kiasan dan dialog harus dibuat sedemikian nyatanya agar kru film dapat memahami imajinasi yang ditawarkan oleh penulis naskah dan dapat divisualisasikan.[4] Format penulisan skenario mencakup ukuran kertas, jenis font yang digunakan, dan format dialog.
Ukuran kertas yang digunakan untuk menulis naskah skenario yaitu 8,5 x 11 (Letter). Jumlah baris maksimal yaitu 60 baris/lembar, dengan pengaturan margin kiri 1,0 dan margin kanan 7,4, Margin atas dan bawah masing-masing 0.5.[4]
3a8082e126