Bahkan, warga Kamboja sendiri lebih suka bertransaksi dengan menggunakan dolar Amerika atau jenis mata uang negara lain yang lebih populer. Saat ini, nilai tukar mata uang Kamboja terhadap satu dolar Amerika berada di kisaran 4.121 KHR yang bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kurs yang berlaku.
Negara ini masih berhadapan dengan masalah kemiskinan yang sangat parah seperti negara-negara lainnya di Afrika. Selain itu ada banyak permasalahan ekonomi yang cukup rumit untuk dikendalikan mulai dari inflasi dan angka kemiskinan yang terus meningkat dan sangat sulit untuk ditekan.
Selain itu terjadi pergantian mata uang dari Rubel Soviet menjadi Rubel Belarusia di tahun 1992 setelah negara Soviet bubar. Setelah itu mata uang Rubel Belarusia mengalami redenominasi hingga menjadi mata uang terendah di dunia hingga saat ini.
Uzbekistan adalah salah satu negara yang pernah jadi bagian dari Uni Soviet. Sayangnya pertumbuhan ekonomi di negara ini cukup rendah yang mengakibatkan nilai tukar mata uangnya rendah, sehingga Som Uzbekistan termasuk salah satu mata uang terendah di dunia.
Banyak usaha yang dilakukan Uzbekistan selama bertahun-tahun untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Namun sayangnya belum menunjukkan proses maupun hasil ke arah yang baik. Nilai tukar satu dolar Amerika saat ini berada di kisaran 11.471 UZS yang tentunya dapat berubah mengikuti kurs yang berlaku.
Sayangnya, Rupiah Indonesia termasuk salah satu mata uang terendah di dunia. Tentu Anda sudah tahu jika hal ini terjadi sejak lama, dimulai saat negara Indonesia mengalami krisis moneter di tahun 1990an.
Meski sudah banyak perubahan yang dilakukan dan bisa dibilang jika perekonomian Indonesia mulai stabil, sayangnya hal ini belum meningkatkan nilai tukar Rupiah dengan mata uang asing yang lain sehingga masih termasuk dalam mata uang terendah di dunia.
Mata uang Kip Laos sudah diedarkan dan digunakan sejak tahun 1952 yang lalu. Sejak saat itu negara ini mengalami peningkatan yang terus konsisten hingga hari ini. Bahkan bisa dibilang pertumbuhan ekonomi di Laos juga meningkat dengan baik apalagi didukung dengan pertumbuhan industri yang juga baik.
Sierra Leone adalah salah satu negara di benua Afrika yang memiliki mata yang Leone. Mata uang ini adalah satu dari sekian mata uang terendah di dunia dengan nilai konversi satu dolar Amerika setara dengan 19.750 SLL yang bisa berubah mengikuti perubahan kurs.
Hal ini disebabkan karena perang berkepanjangan yang kemudian berimbas pada masalah ekonomi yang cukup serius untuk Sierra Leone. Angka kemiskinan yang sangat tinggi serta devaluasi akhirnya terjadi menyerang kondisi ekonomi negara ini.
Belum lagi adanya wabah virus Ebola yang menyebar di banyak wilayah di Afrika kemudian makin menghambat pertumbuhan ekonomi Sierra Leone dan nilai tukar mata uangnya terus merosot hingga menjadi mata uang terendah di dunia.
Dong Vietnam juga salah satu mata uang terendah di dunia. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi negara yang cukup sulit sehingga membuat mata uang Dong terdevaluasi dan sangat sulit untuk melakukan perbaikan.
Banyak upaya yang dilakukan di banyak bidang untuk merubah kondisi ekonomi Vietnam. Sayangnya hal ini belum bisa menstabilkan kondisi mereka saat ini dan masih membuat Dong Vietnam menjadi mata uang terendah di dunia dengan konversi satu dolar Amerika setara dengan 23.528 VND.
Rial Iran juga salah satu mata uang terendah di dunia. Hal ini bisa terjadi karena devaluasi yang terus terjadi sejak tahun 1979 kemudian menjadi masalah yang sangat panjang untuk negara Iran. Bahkan devaluasi yang dialami oleh negara Iran hampir sebanyak 400%.
Selain itu, perang berkepanjangan juga jadi alasan banyak pebisnis di negara ini untuk pergi dan mengalihkan bisnis mereka ke negara lainnya yang lebih aman. Kemudian ada pula program nuklir yang dibuat selama masa perang Iran dan Irak sehingga mengalami sanksi ekonomi.
Sepuluh tahun belakangan ini, Venezuela mengalami kondisi ekonomi yang buruk. Negara yang letaknya di Amerika Selatan ini mengalami krisis sejak 2013 dan membuat perekonomiannya anjlok dan belum mengalami perbaikan hingga saat ini.
Bahkan, inflasi berulang terjadi di Venezuela mencapai angka 200% dimana angka yang tertinggi di dunia. Hal ini tentu kondisi ekonominya berdampak termasuk nilai tukar yang rendah menjadikan Bolivar sebagai mata uang terendah di dunia dengan nilai tukar satu dolar Amerika setara dengan
Gubernur Bank Sentral Gambia, Buah Saidy, mengatakan negaranya kehabisan mata uang nasional. Negara kecil di Afrika Barat itu harus mendesain ulang mata uangnya setelah kekalahan mantan Presiden Yahya Jammeh, yang memerintah Gambia dari tahun 1994 hingga dia dipaksa ke pengasingan setelah menolak menerima kekalahan dalam pemilu 2016.
Jammeh, yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan pembunuhan lawan politik selama 22 tahun masa pemerintahannya, memiliki gambar dirinya di uang kertas negara. Setelah penggulingannya, Bank Sentral Gambia mulai menghancurkan gambar-gambar itu.
Gambia tidak sendirian dalam mencetak uangnya di negara lain. Lebih dari dua pertiga 54 negara Afrika mencetak uang mereka di luar negeri, kebanyakan di Eropa dan Amerika Utara. Hal itu terjadi saat Uni Afrika sedang mencoba untuk mengantarkan era emas buatannya yang seharusnya membuat Afrika meningkatkan produksi dan menikmati keuntungan yang lebih besar.
Sebagian besar negara bungkam tentang proses pencetakan mata uang mereka, kemungkinan karena alasan keamanan. Perusahaan percetakan bahkan kurang transparan. Tak satupun dari perusahaan yang dihubungi DW menanggapi permintaan daftar negara-negara Afrika yang mencetak uangnya pada mereka.
Enam atau tujuh negara lain termasuk Sudan Selatan, Tanzania, dan Mauritania diketahui mencetak uang mereka di Jerman, sementara sebagian besar negara Afrika yang berbahasa Prancis dilaporkan mencetak uang mereka di Bank Sentral Prancis dan dengan perusahaan percetakan Prancis, Oberthur Fiduciaire.
Tidak jelas berapa biaya untuk mencetak mata uang Afrika seperti dalasi, meskipun dolar AS berharga antara 6 dan 14 sen. Namun, kemungkinan biaya pencetakan untuk lebih dari 40 mata uang Afrika cukup signifikan.
Pada tahun 2018, seorang pejabat bank sentral di Ghana mengeluh kepada wartawan lokal bahwa negara tersebut menghabiskan banyak uang untuk pesanan cedi Ghana di Inggris. Dan karena negara biasanya memesan jutaan uang kertas untuk diangkut dalam kontainer, mereka harus membayar biaya pengiriman yang besar. Dalam kasus Gambia, para pejabat mengatakan biaya pengiriman mencapai tagihan sebesar 70.000 (Rp1,3 miliar).
Banyak negara di dunia melakukannya. Misalnya, Finlandia dan Denmark melakukan alih daya untuk menghasilkan uang, seperti yang dilakukan ratusan bank sentral di seluruh dunia. Hanya segelintir negara, seperti AS dan India, yang memproduksi mata uang mereka sendiri.
Mesin cetak uang biasanya menghasilkan jutaan uang kertas sekaligus. Negara-negara dengan populasi yang lebih kecil, seperti Gambia akan memiliki lebih banyak uang daripada yang mereka butuhkan jika mereka mencetak sendiri.
Hanya segelintir negara Afrika, seperti Nigeria, Maroko, dan Kenya yang memiliki sumber daya yang cukup untuk mencetak mata uang atau koin mereka sendiri, dan bahkan terkadang mereka melengkapi produksi dengan impor.
Mencetak uang kertas di Afrika akan meningkatkan keuntungan di benua itu dan setidaknya secara teoritis, negara-negara Afrika dapat memilih mereka yang memiliki kemampuan mencetak karena kemungkinan ada beberapa kapasitas yang menganggur. Namun, dalam praktiknya hal itu tidak terjadi, mungkin disebabkan oleh masalah kepercayaan karena negara telah mencetak dengan perusahaan luar negeri selama bertahun-tahun.
Tetap saja, ada harapan bahwa perubahan bisa terjadi. Dengan Bank Sentral Gambia, para pejabat mengusulkan kemungkinan kemitraan dengan Nigeria, negara-negara dapat mulai mencari ke dalam untuk pesanan mata uang mereka. Jika itu terjadi dalam skala besar, diharapkan bisa memotong biaya pengiriman secara drastis.
Jakarta, CNBC Indonesia - Tabel klasemen mata uang dunia melawan dolar AS menunjukkan kejutan, nama-nama yang familiar seperti euro, yen Jepang, yuan China, atau poundsterling Inggris tidak ada di puncak.
Di awal tahun ini, mata uang Eropa sempat mendominasi papan atas, tetapi kini raja mata uang jatuh ke benua Afrika. Mata uang rand Afrika Selatan berada di puncak klasemen mata uang di pertengahan tahun 2021.
Tunggu dulu, yang lebih mengejutkan lagi, rand menjadi mata uang terbaik di dunia meski tingkat pengangguran Afrika Selatan menembus 32,6% di kuartal I-2021. Level tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Penyebabnya, tentu saja pandemi penyakit virus corona (Covid-19).
"Angka pengangguran tersebut mengindikasikan perekonomian masih terdampak pandemi Covid-19 dan efek dari lockdown 2020, banyak pekerja yang ahli masih belum aktif bekerja," kata Casey Delport analis dari Anchor Capital, sebagaimana dilansir Nasdaq, Selasa (1/6/2021).
Afrika Selatan termasuk sukses meredam penyebaran virus corona, tetapi kini sedang menghadapi risiko serangan gelombang ketiga. Di awal April, rata-rata selama 7 hari penambahan kasus Covid-19 sebanyak 780 orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan pada pekan lalu dengan rata-rata 3.700 orang.
Keberhasilan meredam penyebaran virus corona tersebut menjadi salah satu pemicu penguatan mata uang rand. Apalagi, perbedaan suku bunga di Afsel dan Amerika Serikat juga cukup besar. Suku bunga di Afsel saat ini sebesar 3,5% dibandingkan dengan AS 0,25%.
Suku bunga Afrika Selatan sebenarnya sama dengan Indonesia, tetapi rupiah masih belum mampu menguat melawan dolar AS sepanjang tahun ini. Sebabnya, Indonesia belum pernah mampu menekan penyebaran kasus Covid-19, meski belakangan ini mulai terkendali.
Selain itu, bank sentral Afsel (SARB) dalam Finansial Stability Review bulan Mei masih optimistis perekomomian akan bangkit di tahun ini setelah mengalami resesi terdalam dalam lebih dari satu abad terakhir.
Mata uang merupakan alat tukar yang sah untuk melakukan transaksi dalam suatu negara, setiap negara mempunyai mata uangnya masing-masing. Namun, mata uang ini tidak gratis di negara lain. Karena setiap negara mempunyai nilai tukar yang berbeda-beda, kita juga bisa mengetahui apakah nilai mata uang negara tersebut rendah atau tinggi. Faktor yang melatarbelakangi suatu mata uang global mempunyai nilai tukar rendah atau tinggi, antara lain pengaruh kondisi politik, pertumbuhan ekonomi, sumber daya alam, dan nilai sejarah.
c01484d022