> btw apakah nusantara linux adalah kelanjutan dari igos nusantara ?
> apakah developernya sama orangnya? Ato beda ?
Dilepasnya nama IGOS dari Nusantara adalah untuk menghindarkan asumsi
bahwa IGOS adalah sebuah distro. IGOSnya sendiri adalah sebuah
gerakan. Sehingga dipakai Nusantara Linux saja. Ini kebijakan dari
Ristek.
> Kok sukanya ganti ganti nama. kurang pede?
Mudah-mudahan jawaban sebelumnya menjawab pertanyaan Anda.
Salam,
Tim Pengembang
btw mas nana suryana masih ga
2008/11/5 Nusantara Linux <nusanta...@gmail.com>:
--
--
*The only limiting factor of the GNU/Linux operating system, is his user.*
Pak Nana masih terlibat sebagai konsultan dan reviewer. Pengembang
dari NF dan Rimbalinux (dibawah koordinasi YPLI). Mau ikutan
ngembangin? Kita lagi usahain server buat tempat repositori..
sementara ini masih nebeng di opensource.telkomspeedy.com-nya wak Ono.
Kalau server sendiri sudah dapat, nanti akan dibuka buat pengembang
yang ingin bergabung.
--
Tim Pengembang Nusantara Linux
-----------------------------------------
http://www.nusantara-linux.web.id
2008/11/5 Nusantara Linux <nusanta...@gmail.com>:
>
> Pada 5 November 2008 10:13, Majalah. Linux <majala...@gmail.com> menulis:
>>
>> boleh disebut ga nama nama tim pengembangnya?
>>
>> btw mas nana suryana masih ga
>>
>
--
Belum.. untuk bisa liveCD paket harus dikecilin hingga muat sekitar
670MB-an. Open Officenya yang terbaru makan banyak tempat karena
melibatkan Java. Kita belum berhasil misahinnya. Ada diskusi tentang
hal ini di Fedora Weekly Magazine. Tapi akan kita coba lagi.
jika tidak ada halangan birokratis,
akan ada distro baru yang berbasis
Fedora 10.
---
ns
--
Sent from my mobile device
> kepengen ikutan boleh ya...
> sebelome udah terbiasa ama mandriva...
> yap mandriva (dulu) turunan dari fedora juga
> jadi, ya paling nggak dalemannya sama...
> terimakasih..
>
>
Silakan aja.. ngeramein.. :-)
> Memang beda merk, meski merk beda, semangatnya tetap sama :)
>
> Ada tiga jenis/nama distro yang terkait dalam hal ini, diberi nama:
> a. IGOS Nusantara (IGN) versi 2006, 2007/2008
> situs: http://igos-nusantara.or.id/
> b. IGOS DwiWarna (IDW) versi 1.0
> situs: http://dwiwarna.web.id/
[..DIHAPUS..]
> c. Distro Linux Nusantara 3
> situs: http://nusantara-linux.web.id//
>
Mohon maaf kalau salah,
Kang Nana Suryana (suryana.or.id) ini dari Puslit Informatika LIPI
Bandung (www.informatika.lipi.go.id/staff-divisions) kan ?
Kang NS menjadi salah satu pengembang inti IGN 2006 (atau IGN R3 / R4
/ R5) dan IGN 2007 (atau IGN R6 / R7)
(www.informatika.lipi.go.id/pengembang-igos-nusantara,
suryana.or.id/preview-perdana-igos-nusantara-2006) dan sepertinya
masih menjadi admin website igos-nusantara.or.id.
> Ketiganya masih dikembangkan,
>
Di milis KLuB yang kalau nggak salah Kang NS juga ikut, saya mengutip
pendapat mas Rusmanto, distro Nusantara Linux sebagai kelanjutan IGN
dan IDW. Namun sesungguhnya saya dalam hati mempertanyakan
keterlibatan P2I LIPI karena kalau IGN dikembangkan oleh P2I LIPI dan
Ristek, kini dari keduanya yang resmi disebut terlibat hanya Ristek.
Ada apa gerangan dengan P2I LIPI ?
Kalau kemudian ternyata baik IGN dan IDW masih juga dikembangkan,
dugaan saya sebagai orang luar rupanya sejak akhir 2007 mulai terjadi
"perpecahan" antara P2I LIPI dan Ristek. Ristek meneruskan IGOS
Nusantara dengan menggandeng YPLI dan meninggalkan P2I LIPI
menghasilkan Nusantara Linux R3. Sementara P2I LIPI meneruskan sendiri
menghasilkan IDW yang resmi dirilis Maret 2008 kemarin dan IGN 2008
yang dirilis resmi 1 Sep 2008 kemarin
(www.informatika.lipi.go.id/igos-nusantara-2008).
Tentang IDW, dugaan saya IDW bukan distro yang benar - benar terpisah
dari IGN, mengingat keduanya dikembangkan oleh P2I LIPI. Pada halaman
Seminar Nasional OSS 3 (www.informatika.lipi.go.id/seminar) malah IDW
disebut dengan nama IGOS Nusantara Dwi Warna.
> jika ketiganya dapat dikembangkan bersama tentu akan lebih baik,
>
Secara teknis, ketiga distro dikembangkan dari Fedora (IGN 2006 dari
Fedora Core R5, IDW dari Fedora Core R8, dan NL 3 dari Fedora Core
R9), jadi seharusnya tidak ada hambatan teknis untuk bergabung.
Sementara dugaan non-teknis semoga bisa diatasi terutama jika setiap
pengembang distro baik yang swasta maupun yang PNS mendahulukan
kepentingan pengguna di atas ego pribadi atau lembaga masing - masing.
Besar harapan saya agar P2I LIPI, Ristek, dan YPLI bisa bersatu
sehingga distro dalam negeri berbasis Fedora Core yang lahir di tahun
2009 nanti nantinya benar - benar merupakan hasil kerja bareng
pengembang IGN 2008, IDW 1.0, dan NL 3. Soal nama menurut saya itu
soal yang mudah dibicarakan, apakah IGN 2009 atau IDW versi 2 atau NL
4 atau yang lain. Saya menggantungkan harapan ini pada Mas Rusmanto,
Kang Nana Suryana, Mas Ahmad Sofyan, dan para pengembang yang terlibat
lainnya.
Kebersatuan sangat perlu diperjuangkan untuk menghindari pemborosan
SDM bangsa. Pengembangan distro yang "serius" (dalam arti ingin
disebarkan untuk kalangan luas) membutuhkan banyak SDM seperti untuk
(dari tulisan Kang Suryana dan dari situs BlankOn):
- Segi Inti:
- Pengembangan dan pemeliharaan paket
- Kustomisasi artwork paket
- Lokalisasi bahasa paket
- Paket baru yang tidak ada di distro asal
- Prasarana pembuatan paket menjadi distro
- Bug dan tester
- Segi pendukung:
- Dokumentasi
- Penyebaran dan Pemasaran
- Organisasi dan Pendanaan
Kalau kita masih terpecah, dengan modal SDM yang relatif masih sedikit
ini, kecil peluang IGN / IDW / Nusantara Linux (atau distro dalam
negeri lainnya) untuk populer di dalam negeri, apalagi masuk jajaran
atas DistroWatch seperti distro lokal Brazil DreamLinux
(distrowatch.com/stats.php?section=popularity).
Di sisi lain, para pengembang juga harus sadar bahwa sebetulnya para
pengembang distro perlu bertanggung jawab atas keberlanjutan distro
yang dikembangkannya. Ini untuk menghindari kekecewaan pengguna ketika
menunggu - nunggu rilis berikutnya tidak muncul - muncul, seperti yang
diungkap di sini:
www.mail-archive.com/tanya...@linux.or.id/msg46876.html
Kalau kita melihat Distrowatch sebagai patokan, pada saat ini baru
BlankOn yang sudah lulus masuk di distrowatch
(distrowatch.com/blankon), sementara Kuliax dan IGOS Nusantara masih
harus melalui masa daftar tunggu
(distrowatch.com/dwres.php?resource=links, Kuliax submitted on
2006-12-15, IGOS Nusantara submitted on 2007-08-13), mungkin menunggu
konsistensi rilis lanjutan dari distro tersebut. Sedang distro lain
sepertinya belum ada yang mendaftarkannya di distrowatch.
Dengan bersatunya para pengembang distro berbasis Fedora Core, saya
yakin tahun distro distro turunan IGOS Nusantara ini bisa nampang
bersama BlankOn di distrowatch.
Yang sangat tidak kita harapkan, adalah masuknya distro kita di daftar
Discontinued (distrowatch.com/dwres.php?resource=discontinued)
--
Syafrudin Abi-Dawira
Saya juga berharap distro turunan Fedora di Indonesia cukup satu,
namun tidak ada yg bisa memaksakan kehendak di dunia FOSS :)
Dalam hal Nusantara, kami (YPLI) juga tidak ingin mengendalikan
atau terlalu masuk ke teknis pengembangan.
Kami ingin Nusantara bisa mandiri, untuk itu kami serahkan
teknisnya ke tim pengembang yang sementara dipegang Pak Sofyan.
Selanjutnya tim ini diharapkan bisa jalan mandiri, yang diawali
dengan memiliki server sendiri (sudah ada, minggu depan mulai up).
Semoga teman-teman komunitas Fedora Indonesia dapat aktif seperti
komunitas Ubuntu Indonesia.
Pengembangan BlankOn juga kami serahkan ke pengembang
dari komunitas Ubuntu Indonesia
(http://dev.blankonlinux.or.id).
Sesuai namanya, YPLI ingin netral terhadap semua distro Indonesia.
Risikonya, YPLI saat ini telah memasang 2 server untuk
digunakan dalam pengembangan BlankOn dan Nusantara.
Jika suatu saat ada distro turunan openSUSE, Mandriva, Slackware,
mungkin saja YPLI akan berusaha pasang 3 server lagi. :)
Itu salah satu konsekuensi dari kebebasan di Linux/FOSS.
Rus
Ini memang satu kelebihan (bisa juga dipandang sebagai kekurangan)
pada pengembangan free software, adalah terlalu banyak pilihan. Tidak
ada satu pihak yang memaksakan untuk menggunakan satu alat.
> Dalam hal Nusantara, kami (YPLI) juga tidak ingin mengendalikan
> atau terlalu masuk ke teknis pengembangan.
> Kami ingin Nusantara bisa mandiri, untuk itu kami serahkan
> teknisnya ke tim pengembang yang sementara dipegang Pak Sofyan.
> Selanjutnya tim ini diharapkan bisa jalan mandiri, yang diawali
> dengan memiliki server sendiri (sudah ada, minggu depan mulai up).
> Semoga teman-teman komunitas Fedora Indonesia dapat aktif seperti
> komunitas Ubuntu Indonesia.
>
Dalam hal komunikasi, memang Nusantara menggunakan nama tim
pengembang, agar distro ini tidak terasosiasi dengan satu orang atau
satu pihak. Secepatnya akan diendorse untuk bisa dikembangkan oleh
komunitas. Kita bisa adopsi cara BlankOn, maupun Debian. Pengadaan
server adalah salah satunya, dan alhamdulillah sudah terealisasi
meskipun dana terbatas. Bandwithnya pun kita mintakan sumbangan, dan
sudah ada komitmen dari satu vendor (akan diumumkan jika sudah
waktunya).
Tentang banyak pihak melakukan hal yang sama, menurut saya tidak perlu
dipadukan/dikhawatirkan. Satu hal yang baik dari kompetisi adalah
memaksa masing-masing pelakunya untuk lebih kreatif agar bisa
bertahan.
Salam,
Ahmad Sofyan
> Saya juga berharap distro turunan Fedora di Indonesia cukup satu,
>
Bagaimana usaha yang sudah dilakukan dalam mewujudkan harapan ini ?
Apakah sudah ada pendekatan antara pihak YPLI sebagai mandataris baru
dan pihak P2I LIPI sebagai mandataris lama ?
> Dalam hal Nusantara, kami (YPLI) juga tidak ingin mengendalikan
> atau terlalu masuk ke teknis pengembangan.
>
Berkaitan dengan usulan tata kelola (governance) yang serupa dengan
BlankOn ini, apakah sudah ada kesepakatan dengan stakeholder distro
Nusantara yang lain ?
Menurut saya Distro Nusantara secara sejarah berbeda dengan BlankOn.
Kalau "pemilik" BlankOn sejak awal kan memang YPLI (CMIIW), jadi sudah
pas kalau YPLI mengarahkan tata kelola BlankOn ke arah sana. Sementara
kalau Nusantara, yang saya tangkap "pemilik"-nya adalah KNRT,
sebagaimana tertulis di "Tentang Nusantara"
(nusantara-linux.web.id/?q=content/tentang-nusantara)
"Distro Nusantara 3 (Mahakam) merupakan distro desktop bagi pengguna
Indonesia. Pengembangan lanjutan distro ini disponsori oleh Kementrian
Riset dan Teknologi Republik Indonesia dan dikembangkan oleh Yayasan
Penggerak Linux Indonesia (YPLI). Meskipun disponsori oleh pemerintah,
namun distro ini diharapkan dapat tumbuh dan dikembangkan oleh
komunitas.
Angka 3 pada distro Nusantara, merupakan angka lanjutan dari
distro-distro yang disponsori oleh Kementrian Riset dan Teknologi."
Untuk menghindari kisruh "kepemilikan" seperti ini, saya usul kepada
YPLI dan KNRT untuk masing - masing secara resmi mendaftarkan nama
BlankOn Linux dan IGOS Nusantara Linux beserta logonya.
> Itu salah satu konsekuensi dari kebebasan di Linux/FOSS.
>
Menurut saya nilai dalam FOSS tidak hanya kebebasan, namun juga gotong
royong. Nah, berkaitan dengan kasus ini, menurut saya nilai gotong
royong yang lebih perlu dikedepankan di atas nilai kebebasan pribadi.
Sebelum ada yang salah paham, saya ikut mengangkat masalah ini tanpa
bukan karena punya kepentingan tertentu atau keberpihakan pada salah
satu pihak yang terkait.
Kepentingan saya murni hanya sebagai pengguna yang ingin distro
kebanggaannya maju, sebagai rakyat yang ingin pemerintahnya (termasuk
LIPI dan KNRT tentunya) dapat menjalankan amanatnya dengan baik.
--
Syafrudin Abi Dawira
Baik, kami sudah beberapa kali diskusi dengan teman-teman di Ristek
dan juga dengan Pak Nana yang lebih dulu menggunakan nama Nusantara.
> Menurut saya Distro Nusantara secara sejarah berbeda dengan BlankOn.
> Kalau "pemilik" BlankOn sejak awal kan memang YPLI (CMIIW), jadi sudah
> pas kalau YPLI mengarahkan tata kelola BlankOn ke arah sana. Sementara
> kalau Nusantara, yang saya tangkap "pemilik"-nya adalah KNRT,
> sebagaimana tertulis di "Tentang Nusantara"
> (nusantara-linux.web.id/?q=content/tentang-nusantara)
Betul, nama Nusantara (2006 - now) itu digunakan oleh KNRT/LIPI.
Sedangkan pengembangan distro turunan Fedora, teman-teman komunitas
dalam koordinasi YPLI telah mengembangkan BlankOn 1.0 dan
BlankOnSDK 1.1. BlankOn (2 - up) berbasis Ubuntu baru dimulai 2007.
Secara teknis (bukan soal nama), pengembangan Nusantara ini
merupakan kelanjutan dari BlankOn 1.X.
Imho, dalam pengembangan FOSS, yang lebih penting adalah
karya dan manfaatnya, bukan siapa pemiliknya. :-)
Rus
Pada 1 Januari 2009 09:57, Rusmanto <r...@infolinux.co.id> menulis:
> Syafrudin Abi-Dawira wrote:
>> Pada 30 Desember 2008 22:34, Rusmanto <r...@infolinux.co.id> menulis:
>>
>>> Saya juga berharap distro turunan Fedora di Indonesia cukup satu,
>>>
>> Bagaimana usaha yang sudah dilakukan dalam mewujudkan harapan ini ?
>> Apakah sudah ada pendekatan antara pihak YPLI sebagai mandataris baru
>> dan pihak P2I LIPI sebagai mandataris lama ?
>
> Baik, kami sudah beberapa kali diskusi dengan teman-teman di Ristek
> dan juga dengan Pak Nana yang lebih dulu menggunakan nama Nusantara.
>
Saya bersyukur kalau begitu.
Semoga hasil diskusi tersebut sesuai dengan harapan kita semua.
> Betul, nama Nusantara (2006 - now) itu digunakan oleh KNRT/LIPI.
> Sedangkan pengembangan distro turunan Fedora, teman-teman komunitas
> dalam koordinasi YPLI telah mengembangkan BlankOn 1.0 dan
> BlankOnSDK 1.1. BlankOn (2 - up) berbasis Ubuntu baru dimulai 2007.
> Secara teknis (bukan soal nama), pengembangan Nusantara ini
> merupakan kelanjutan dari BlankOn 1.X.
>
Kalau kita menggunakan analogi perusahaan, Nusantara Linux 3 menurut
saya merupakan merger BlankOn 1.0 / BlankOnSDK 1.1 dengan IGOS
Nusantara.
> Imho, dalam pengembangan FOSS, yang lebih penting adalah
> karya dan manfaatnya, bukan siapa pemiliknya. :-)
>
Sebetulnya secara prinsip saya juga punya pendapat yang sama.
Namun kenyataannya, kita tidak steril dari dunia hukum, yang salah
satu konsekuensinya kita perlu menganggap penting juga soal "merek
dagang".
Kita tahu Linux sendiri awalnya tidak didaftarkan sebagai trade-mark.
Namun kemudian Linus beserta komunitas harus melakukan usaha
penuntutan pembatalan pendaftaran trade-mark Linux yang sudah diakui
oleh orang lain.
Di Indonesia sendiri, kita juga tahu ada kasus serupa pada nama IDNIC,
yang mengakibatkan mas Budi Rahardjo menggunakan nama ID-DOMREG meski
nama domain dan milisnya idnic, karena ada pihak lain yang sudah
mendaftarkan merek nama idnic.
Adanya pertanyaan atas kasus nama "Nusantara Linux" yang menjadi awal
perbincangan ini, bagi saya menunjukkan sudah saatnya siapa (badan
hukum) yang menjadi "pemilik merek dagang" BlankOn Linux dan Nusantara
Linux juga diperjelas dan didaftarkan (jika belum).
Saya tidak tahu berapa besar biaya dan tenaga untuk pendaftaran ini.
Namun saya percaya biaya dan tenaga yang harus kita kuras kalau sudah
ada sengketa bakal lebih banyak dari itu.
Harapan kita tentunya semoga tidak ada, namun belajar dari Linux dan
idnic di atas, menurut saya potensi sengketa itu cukup nyata. Ini
karena BlankOn Linux dan Nusantara Linux merupakan program resmi YPLI,
mendapat dukungan dari pihak resmi seperti UNESCO / KNRT / P2I LIPI,
mendapat dukungan dari komunitas pengguna distro induk (ubuntu-id /
fedora-id), juga punya usaha pemasaran yang cukup giat. Saya tidak
heran kalau kemudian ada pihak yang tertarik untuk mengambil alih
karena nilai strategis distro tersebut.
Untuk tidak memperpanjang thread, ini kata akhir dari saya dalam thread ini.
--
Syafrudin Abi-Dawira