Efek Suara Tembakan Perang Point Blank.zip

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Stephanie Dejoode

unread,
Jul 12, 2024, 8:43:44 PM7/12/24
to nonpeloursve

Sedikit berbeda dengan pelaksanaan pada tahun sebelumnya. Selisik aksara pada tahun ini akan menggunakan karya pertunjukan yang dikurasi di platform Festival Seni Pertunjukan PSBK: Gugus Bagong yang berjumlah 6 karya. Terdiri dari ragam bentuk karya tari, musik, dan teater yang dipentaskan secara luring. Oleh karenanya, peserta akan hadir selama acara festival berlangsung di komplek Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta.

Jika pada pelaksanaan sebelumnya narasumber terbagi kedalam dua peran: pengisi materi dan pengulas tulisan, pada tahun ini narasumber sepenuhnya akan menjadi pengulas tulisan masing-masing peserta

efek suara tembakan perang point blank.zip


Download Zip https://urlcod.com/2yN1EA



Afrizal Malna adalah sastrawan yang dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa, cerita pendek, novel, esai sastra yang puisi di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Bukunya yang belum lama terbit diantaranya berjudul Pertumbuhan di Atas Meja Makan (Kalabuku, Yogyakarta 2020). Prometheus Pinball (Reading Sidesways Press, Melbbourne, 2020). Racun Tikus, Seni, Wabah, Bencana dan Perang (Diva Press, Yogyakarta 2020). Kandang Ayam, Korpus Dapur Teks (Diva Press, Yogyakarta 2020). Morning Slantingn To The Right (Reading Sidesways Press, Melbbourne, 2021), Tembakan Dalam Masker (Indonesia Tera, Yogyakarta, 2021) . Selain aktif di bidang menulis dan beresidensi di berbagai progam literasi nasional dan internasional, Afrizal juga pernah mengurus program Komite Teater di Dewan Kesenian Jakarta, sebagai kurator teater di Europalia 2017, sebagai tokoh seni pilihan majalah tempo tahun 2020.

Helly Minarti adalah peneliti/kurator seni lepas kelahiran Jakarta yang sejak akhir 2018 menetap di Yogyakarta. Ia tertarik untuk menjelajahi kembali strategi-strategi radikal yang menghubungkan kerja praktik dan pergulatan teoritis yang berakar pada praktik berkesenian sebagai politik ketubuhan. Bidang kajian yang ia tekuni adalah ragam historiografi tentang koreografi dalam ranah praktik mewacana yang dihadap-kaitkan pada ragam pengetahuan eklektik tentang kosmologi tubuh dan alam. Proyek kuratorial terkininya adalah Jejak-旅 Tabi Exchange: Wandering Asian Contemporary Performance, sebuah platform pertukaran yang mengambil format festival keliling yang mungil nan intim. Helly menyelesaikan program doktoral di bidang Kajian Tari di University of Roehampton (London, Inggris), dan sejak 2019 merintis LINGKARAN koreografi sebagai platform penelitian kolaboratif yang meluaskan pemahaman tentang koreografi agar tidak hanya terbatas pada lingkup wacana tari.

Erie Setiawan adalah penulis, musikus, dan pegiat literasi musik. Sehari-hari mengelola Art Music Today di Yogyakarta, dengan kegiatan seputar pendokumentasian musik, apresiasi, dan pengembangan audiens. Erie dan Penerbit Art Music Today telah merilis puluhan buku musik dengan beragam tema, ia juga rutin menjadi fasilitator untuk kegiatan-kegiatan komposisi musik, kepenulisan, dan pengembangan-pengembangan komunitas. Selain itu, ia juga mengelola program October Meeting Contemporary Music and Musicians dan LiRamadhan: Literasi Musik Sepanjang Ramadhan secara rutin. Buku terkini yang ditulisnya adalah Biografi Djaduk Ferianto (ditulis bersama Michael HB Raditya dan Reza Setodewo, 2020) dan Trauma Bunyi (2021). Lebih lengkap mengenai Erie Setiawan klik www.eriesetiawan.com atau artmusictoday.org

Gambar sebagai ilustrasi tentu sangat membantu pemahaman pendengar atas maksud yang dihadirkan. Pemunculan gambar ini di sisi lain menjadi, katakanlah, umpan untuk menarik penonton untuk melanjutkan pertunjukan ini, tapi ada satu hal yang melintas di kepala saya, yaitu subtitel. Barangkali subtitel akan menjadi satu pemandu bagi kawan-kawan tuli, tetapi bagaimana permainan musik ditafsirkan berdasarkan subtitel? Barangkali, subtitel pun musti menjadi satu pertimbangan agar bisa menunjukan tangisan yang dilakukan oleh satu pemain dan bukan tangisan orang lain. Pendanda itu menjadi satu hal penting, sebagaimana partitur dalam orkestra. Sama halnya dengan Pralaya membaca berita dengan serampangan. Bagaimana serampangan itu? Namun, partitur akan menciptakan ruang yang lebih sempit untuk interpretasi, tetapi, itu penting sebagai satu pembacaan atas musik yang sedang dimainkan, yang tentu saja berbeda dengan bunyi-bunyi lainnya.

Pertunjukan ini adalah rangkaian bebunyian yang mencoba menangkap ekspresi, mengolah dan merajut bebunyian yang berseliweran di kala pandemi. Maka dari itu, meskipun bunyi atau kata telah mengalami pengindahan, situasi pandemi masih tetap terasa dalam pertunjukan ini: suara ambulance, suara tangisan, kecemasan, dan bunyi-bunyi yang berkelindan pada masa ini.

Saat layar berwarna hitam putih, tampak seorang wanita berdiri diam menghadap ke depan, di samping kanannya terdapat wanita lain yang bergerak. Gerak wanita tersebut secara perlahan seperti mengukur tubuh wanita yang diam tadi. Setiap jengkal tubuh dilaluinya mulai dari leher hingga bahu kanan, dengan menggunakan jarak sekepalan tangan. Sesampainya pengukuran tubuh pada lengan atas, berubah tak lagi sejengkal atau pun sekepal, melainkan memegang lengan hanya dengan jari telunjuk, lurus ke bawah hingga pada telapak tangan. Kemudian secara langsung, tangan kanan wanita yang diam tadi didorong ke atas menggunakan telunjuk hingga mencapai garis lurus sejajar dengan bahu. Setelahnya, siku wanita yang berdiri diam tadi didorong menggunakan siku wanita satunya hingga tertekuk ke bawah. Gerakan selanjutnya yakni berulang dengan pengukuran lengan kiri menggunakan empat jari lalu menekuk siku tangan kiri. Secara tak langsung, penari wanita yang bergerak tadi seperti memberikan instruksi gerak untuk wanita yang berdiri diam.

Adegan tersebut merupakan salah satu adegan dari pertunjukan daring pada kanal youtube Salihara Arts Center dengan judul Sikut Awak. Pertunjukan ini adalah buah karya Krisna Satya, seniman tari asal Bali yang lolos proses seleksi undangan terbuka program Helatari Salihara tahun 2021. Helatari Salihara sendiri adalah festival tari kontemporer dua tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara. Helatari menampilkan karya-karya tari baru yang berangkat dari khazanah tradisi tari Nusantara maupun dunia. Pertunjukan Sikut Awak ini disiarkan secara langsung pada kanal youtube tanggal 27 Juni 2021 dan telah mencapai 4,1 ribu views serta 58 likes.

Pertunjukan ini diawali dengan pembacaan sinopsis tari oleh Tony Prabowo, seorang Kurator Tari. Sinopsis dari Sikut Awak ini yakni menelurusi hubungan tubuh dengan ruang yang terinspirasi dari konsep arsitektur Sikut Satak. Selain melihat besaran ruang huni, karya ini juga melihat bagaimana setiap bagian dari tubuh digunakan sebagai alat ukur yang bekerja dengan keunikannya masing-masing. Krisna Satya terlihat membebaskan konsep koreografinya dari kajian yang eksotis dalam penelusuran tradisi yang juga diperkuat oleh penyajian sinematografinya.

Adegan awal pada pertunjukan ini yaitu munculnya penari laki-laki dengan sikap kaki timpuh dan kedua tangan menelungkup lurus ke depan, posisi tubuh menyentuh tanah. Gerakan ini hampir menyerupai salah satu gerakan yoga. Penari tersebut kemudian bergerak perlahan dengan kepala menghadap langit diikuti oleh tubuhnya, lalu kemudian jatuh tersungkur ke depan secara tiba-tiba. Adegan-adegan selanjutnya diwarnai oleh kemunculan tiga penari wanita memakai kebaya polos dengan obi khas wanita Bali, masing-masing kebaya berwarna merah, biru, dan abu-abu, dengan bawahan menggunakan kain jarik tetapi bukan kain jarik khas Bali, melainkan kain jarik Jawa karena salah satunya ada yang bermotif parang. Tiga penari wanita ini bergerak, kadang dengan gerakan rampak ataupun bergerak sendiri.

Mulai pada menit kesepuluh, muncul lagi penari laki-laki dalam satu adegan bersama penari wanita berkebaya merah. Hanya berdua saja, mereka menggerakan sikunya saling berbalik arah dan berdialog melalui gerak keduanya. Penari laki-laki memakai kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana sebatas lutut berwarna hitam. Berbeda dengan penari wanita yang memakai ageman khas Bali, penari laki-laki di sini justru tidak menggunakan pakaian yang senada. Adegan penari laki-laki dan perempuan tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 menit dengan setting tempat yang berbeda-beda. Salah satu adegan yang unik adalah, kedua penari duduk berhadapan di gubug dengan posisi kaki lurus ke depan, saling menautkan telapak kakinya masing-masing hingga tersusun seperti tiga tingkat. Pada tingkatan kaki-kaki tersebut masih tersisa ruang yang mungkin dapat diisi. Ruang-ruang yang dihasilkan oleh gerak tadi pastilah membentuk sudut-sudut tubuh yang tak dapat diukur secara pasti.

Gagasan karya Sikut Awak ini menurut Krisna Satya terinspirasi dari konsep arsitektur Bali Sikut Satak. Tak ayal, ruang-ruang yang digunakan untuk pengambilan gambar pun beragam. Mulai dari area luar ruangan (outdoor) seperti rerumputan, ladang ilalang, area seperti pendhapa Bali yang menandakan ciri khas Bali, gubug, hingga bagunan modern seperti kontainer. Dari situlah menunjukkan bahwa karya ini unik karena berhubungan dengan konsep arsitektur tradisional. Karya ini pun menawarkan pada penonton tampilan gambar yang tidak monoton sebagai pertunjukan daring karena banyaknya setting tempat yang diambil oleh mata kamera. Terdapat beberapa adegan pada pertunjukan ini yang sinematografinya hitam putih (black and white), yang memberikan kesan tertentu pada penonton. Apakah ada makna berbeda dibalik perbedaan warna dalam pertunjukan ini?

Pertunjukan Di Belantara Tagar, kau Siapa? adalah pertunjukan kolektif dari peserta program residensi Seniman Pascaterampil PSBK 2020. Mereka adalah Chairol Iman (Seni Rupa) dari Surakarta, Egi Adrice (Seni Musik) dari Indramayu, M.Y.A. Rozzaq alias Ozaques (Seni Rupa) dari Yogyakarta, Teguh Hadiyanto alias teHAto (Seni Rupa) dari Jakarta dan satu seniman pendukung/penampil yaitu Chaerus Sabry. Pertunjukan ini disajikan dalam media teater dengan konsep pertunjukan virtual. Yang menonton tidak hanya merasakan aktivitas teater saja tetapi menyaksikan efek visual yang menarik.

b1e95dc632
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages