Sejarah Nyi Roro Kidul Asli

3 views
Skip to first unread message

Nathen Paisley

unread,
Aug 5, 2024, 7:15:35 AM8/5/24
to neesosurfma
Dalammitologi Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Telu yang mengisi alam kehidupan sebagai dewi padi dan dewi alam yang lain. Sedangkan Nyi Roro Kidul mulanya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir ayahnya karena ulah ibu tirinnya.

Nyi Roro Kidul juga dikenal dengan berbagai nama yang mencerminkan berbagai kisah berbeda dari asal-usulnya, legenda, mitologi, dan kisah turun-temurun. Ia lazim dipanggil dengan nama Ratu Laut Selatan dan Gusti Kanjeng Ratu Kidul.[2] Menurut adat-istiadat Jawa, penggunaan gelar seperti Nyai, Kanjeng, dan Gusti untuk menyebutnya sangat penting demi kesopanan.


Terkadang orang juga menyebut namanya sebagai Nyai Loro Kidul. Bahasa Jawa loro merupakan sebuah homograf untuk "dua - 2" dan "sakit, menderita". Sementara bahasa Jawa rara (atau roro) memiliki arti "gadis". Seorang ortografer Belanda memperkirakan terjadinya perubahan dari bahasa Jawa kuno roro menjadi bahasa Jawa baru loro, sehingga terjadi perubahan arti dari "gadis cantik" menjadi "orang sakit".[3]


Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara Kidul. Legenda yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran dari abad ke-15 berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan Mataram Islam dari abad ke-18. Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan. Ombak Samudra Hindia yang ganas di pantai selatan Jawa, badai serta terkadang tsunami, kemungkinan telah membangkitkan rasa hormat serta takut terhadap kekuatan alam, yang kemudian dianggap sebagai alam spiritual para dewata serta lelembut yang menghuni lautan selatan yang dipimpin oleh ratu mereka, sesosok dewi, yang kemudian diidentifikasikan sebagai Ratu Kidul.


Salah satu cerita rakyat Sunda menceritakan Dewi Kadita, putri cantik dari kerajaan Sunda Pajajaran, yang melarikan diri ke lautan selatan setelah diguna-guna. Guna-guna tersebut dikeluarkan oleh seorang dukun atas perintah saingannya di istana (ibu tiri) , dan membuat putri tersebut menderita penyakit kulit yang menjijikkan. Ia mendapat bisikan gaib dari ibunya untuk melompat ke lautan yang berombak ganas dan kemudian ia menjadi sembuh serta kembali cantik. Para lelembut kemudian mengangkatnya menjadi Ratu Lelembut Laut Selatan yang legendaris.[4]


Versi yang serupa adalah Kandita, putri tunggal Raja Munding Wangi dari Galuh Pakuan. Karena kecantikannya, ia dijuluki Dewi Srngng ("Dewi Matahari"). Meskipun mempunyai seorang putri yang cantik, Raja Munding Wangi bersedih karena ia tak memiliki seorang putra yang dapat menggantikannya sebagai raja. Raja kemudian menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan putra dari pernikahan tersebut.


Dewi Mutiara ingin putranya dapat menjadi raja tanpa ada rintangan di kemudian hari, sehingga ia berusaha menyingkirkan Kandita. Dewi Mutiara menghadap Raja dan memintanya untuk menyuruh Kandita pergi dari istana. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara tersenyum dan berkata manis sampai Raja tidak marah lagi kepadanya.


Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia menyuruh sang dukun untuk meneluh Kandita. Pada malam harinya, tubuh Kandita gatal-gatal dipenuhi kudis, berbau busuk dan penuh bisul. Ia menangis tak tahu harus berbuat apa. Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan Kandita serta sadar bahwa penyakit tersebut tidak wajar, pasti berasal dari guna-guna. Dewi Mutiara memaksa Sang Raja untuk mengusir putrinya karena dianggap akan mendatangkan kesialan bagi seluruh kerajaan. Karena Sang Raja tidak menginginkan putrinya menjadi gunjingan di seluruh kerajaan, ia terpaksa menyetujui usulan Dewi Mutiara untuk mengasingkan putrinya dari kerajaan.


Kandita pergi berkelana sendirian tanpa tujuan dan hampir tidak dapat menangis lagi. Ia tidak dendam kepada ibu tirinya, melainkan meminta agar Sanghyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan. Hampir tujuh hari dan tujuh malam, akhirnya ia tiba di Samudra Selatan. Air samudra itu bersih dan jernih, tidak seperti samudra lain yang berwarna biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Ia melompat dan berenang, air Samudera Selatan melenyapkan bisulnya tanpa meninggalkan bekas, malah membuatnya semakin cantik. Ia memiliki kuasa atas Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Roro Kidul yang hidup abadi. Kawasan Pantai Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.


Dalam salah satu cerita rakyat Sunda, Banyu Bening ("Air Jernih") menjadi ratu dari kerajaan Joyo Kulon. Ia menderita lepra kemudian berkelana menuju selatan. Ia ditelan ombak yang besar dan menghilang ke dalam samudra.[5]


Keberadaan penguasa Laut Selatan ini mendatangkan banyak mitos. Salah satu mitos yang terkenal yakni adanya larangan memakai pakaian berwarna hijau di sekitar Pantai Selatan agar tidak digulung ombak dan ditarik ke Istana Nyi Roro Kidul.


Hal ini karena Nyi Roro Kidul tidak suka kalau ada manusia yang mengenakan warna pakaian kesukaannya sehingga orang tersebut akan dijadikan sebagai pelayannya di Istana. Kisah Nyi Roro Kidul sudah terkenal di penjuru Indonesia.


Bahkan, masyarakat di pesisir Pantai Selatan mengadakan mengadakan upacara Labuhan setiap tahunnya untuk mendapatkan berkah dari sang Penguasa Pantai Selatan. Tidak hanya di daerah Jawa, masyarakat Sunda yang berada di Pangandaran dan Pelabuhan Ratu juga mengadakan ritual hajat laut sebagai bentuk penghormatan kepada Penguasa Pantai Selatan.


Berdasarkan kisah yang berkembang, legenda Nyi Roro Kidul memiliki nama asli Putri Kandita. Beliau merupakan seorang putri Raja yang cantik jelita. Hingga suatu ketika, akibat dengki dari para saudaranya menyebabkannya pergi dari Istana. Lantas, seperti apa kelanjutan sejarah Nyi Roro Kidul? Simak selengkapnya di sini.


Zaman dahulu kala, di daerah Jawa Barat, terdapat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Beliau dikenal sangat bijaksana dan dihormati oleh rakyatnya. Raja Prabu Siliwangi memiliki banyak anak, salah satunya bernama Putri Kandita.


Ia merupakan anak dari permaisuri sang Raja yang dikenal sebagai puteri yang baik hati. Seiring bertambahnya usia, kelak Raja menginginkan tahtanya turun kepada Putri Kandita, tetapi para Selir dan anak-anaknya tidak setuju.


Kemudian, mereka pergi kepada penyihir untuk menyerahkan imbalan yang diminta. Tidak lama kemudian, sang Penyihir melaksanakan pekerjaannya dengan menyihir Putri Kandita dan Ibunya supaya menderita kusta.


Tubuh Putri dan Ibunya yang semula mulus berubah menjadi buruk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Prabu Siliwangi yang heran dengan penyakit yang tiba-tiba muncul tersebut menyuruh tabib untuk datang ke Istana. Setelah diberi berbagai macam ramuan, tetap saja penyakit tersebut tidak bisa sembuh.


Raja Prabu Siliwangi merasa terpukul dengan meninggalnya permaisuri sehingga ia sedih selama berhari-hari. Belum lagi melihat Putri Kandita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, ia semakin sedih dan bingung. Padahal, Putri Kandita yang harus meneruskan tahta kerajaan.


Hingga suatu ketika, para Selir dan anak-anaknya datang menemui Raja menghasut agar Putri Kandita diusir dari Istana. Dengan alasan takut penyakit tersebut menular, Raja Prabu Siliwangi menyetujui usulan tersebut.


Berhari-hari pergi tanpa tujuan, sampailah Puti Kandita tiba di pesisir pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki batu karang dan ombak besar. Tanpa sadar, ia tertidur di salah satu batu karang tersebut.


Putri Kandita bermimpi mendengar suara gaib yang menyuruhnya untuk menceburkan diri ke laut agar penyakitnya bisa sembuh. Ia menganggap ini sebagai wangit sehingga Putri Kandita menceburkan dirinya ke laut. Hal ini membuat penyakit kulitnya hilang seketika.


Kecantikannya menjadi sangat terkenal sehingga banyak Pangeran dari berbagai kerajaan datang untuk melamar. Namun karena syarat yang diajukannya sangat sulit yakni harus mengadu kesaktian di atas gelombang pantai laut, menjadikan para Pangeran mundur karena tak mampu mengalahkan Putri Kandita.


Berawal dari Mulajadi Nabolon, sang dewa pencipta yang menjadikan Ihatmanisia (laki-laki) dan Siboru Ihatmanisia (wanita). Pasangan ini memiliki keturunan yang sakti mandraguna. Kemudian dari dua generasi selanjutnya lahirlah Ompu Siraja Batak.


Di puncak bukit di atas Desa Sianjur Mulamula ada sebuah tempat yang dibangun untuk Guru Tatea Bulan dan anak-anaknya. Sebuah bangunan dengan sejumlah patung sakral sebagai perwujudan mereka berdiri di sana, Sopo Guru Tatea Bulan.


Dalam ceritanya Guru Tatea Bulan memiliki 10 orang anak kembar. Tiap lahir, anaknya selalu berpasangan, laki-laki dan perempuan. Anak yang paling besar diberi nama Si Raja Uti, Sariburaja, Limbong Mulana, Sagalaraja, Silauraja, Siborubiding Laut, Siborupareme, Anting Haumasan, Sipunggahaumasan dan Nan Tinjo.


Halaman 1 2 Selanjutnya ratu pantai selatannyi roro kidulsiborubiding lautsibiding lautguru tatea bulansianjur mulamulasamosir .skybanner width: 160px; #bt_tkt article:nth-child(n+9) display: none; Berita Terkait Batu Parsidangan, Tempat Hukuman Mati Pelanggar Adat di Samosir Fakta dan Sejarah Pantai Parangtritis Yogyakarta Larangan Pakai Baju Hijau di Pantai Palabuhanratu, Sekedar Mitos? Datang ke Samosir, Harus Coba Menari Tor-tor di Desa Wisata Tomok Kabar 'Makam Nyi Roro Kidul' di Tangerang Bikin Gempar 'Makam Nyi Roro Kidul' Buatan Warga di Tangerang Akhirnya Dibongkar Penampakan 'Makam Nyi Roro Kidul' yang Bikin Geger Warga Tangerang Polisi: 'Makam Nyi Roro Kidul' di Tangerang Dibuat untuk Menarik Pasien Rencanakan Liburanmu! Rekomendasi Wisata Seru dan Populer


Biasanya peringatan Hari Ibu selalu diaktualisasikan dengan mengucapkan selamat kepada para ibu dan perayaan atau seminar yang sarat dengan masalah ke-ibu-an di Indonesia. Namun dalam konteks kebaharian, di Indonesia khususnya masyarakat Jawa mengenal mitologi tentang penguasa Laut Selatan yang menguasai samudra atau yang biasa dikenal Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages