Tapi sebenarnya ide (dan impian saya) untuk membentuk sebuah klub buku
sudah ada sejak lama di benak saya.
********/*******
Perjalanan saya sebagai seorang penulis berangkat dari sebuah
komunitas. Di komunitas itu, pada awalnya, saya dididik agar bisa
menulis dengan baik dan menghargai sebuah karya. Pada mulanya semua
berjalan dengan baik-baik saja. Saya terus belajar dan saling berbagi
segala hal (tidak saja tentang dunia literasi) dengan semua anggota di
komunitas tersebut. Hingga akhirnya saya meninggalkan komunitas
tersebut karena beberapa hal, entah apa saya tidak mengingatnya. Saya
bahkan sudah lupa semua anggotanya! :D
Tapi sudahlah...
Setelah pergi dan tak kembali lagi, saya merenungkan satu hal:
“Mungkin gak ya, ada seseorang di luar sana, yang punya minat dan
keinginan untuk menjadi seorang penulis, seperti saya dahulu, tapi
tidak tahu di mana dia bisa memulainya.”
Pemikiran itu saya tulis dalam sebuah tweet dan status Facebook, dan
mendapat respon dari beberapa orang. Salah satunya bernama Nanda
Mayank. Hingga pada suatu malam, saya dan dia chatting via YM dan
berniat membentuk sebuah klub buku yang anggotanya dimulai dari dua
orang saja.
Visi kami saat itu sederhana. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
1. Menemukan talenta penulis-penulis muda di Indonesia, khususnya di Jogja.
2. Mengembangkan dunia literasi di Indonesia yang (sepertinya) mati suri.
Kami kemudian merencanakan aktivitas (misi) di dalam komunitas tersebut:
1. Belajar menulis bersama.
Hal ini didasarkan dari pengalaman saya yang tumbuh dalam sebuah
komunitas. Masukan, kritikan, pujian dan sanjungan dari pembaca, yang
selanjutnya saya sebut feedback dari banyak orang, ternyata sangat
berguna untuk perkembangan tulisan yang saya tulis dari waktu ke
waktu. Dari sini saya belajar bahwa pujian memberi kebahagiaan, dan
kritikan memberi pelajaran. Keduanya berguna untuk mendewasakan
penulis di masa depan.
2. Membuat sebuah proyek.
Awalnya dari tweet Djenar Maesa Ayu, saat dia mulai menulis buku “1
Perempuan 14 Laki-Laki”. Saat itu Djenar memberi saya ide tentang
“menulis keroyokan”. Satu buku digarap beberapa orang. Setelah bisa
kompak menulis bareng, kami berharap kalau nantinya komunitas ini bisa
membuat sebuah karya nyata (gak cuma kumpul tanpa hasil apa-apa).
Karena ini sebuah komunitas penulis, tentunya berupa karya tulis.
Sebenarnya gak harus buku. Bisa juga sebuah skenario FTV, film layar
lebar atau bahkan sebuah majalah yang terbit rutin tiap bulan.
3. Bertukar ide cerita.
Masih berkaitan dengan misi nomor dua. Saya kira di tiap benak
penulis, setiap hari, pasti ada sebuah ide baru untuk dituliskan. Dan
sayangnya itu semua tidak sempat untuk direalisasikan. Di komunitas
ini kami mengharapkan masing-masing anggotanya bisa saling berbagi ide
mentah. Mungkin ada anggota lainnya yang lebih bisa mengembangkannya
menjadi sebuah cerita dan berakhir menjadi sebuah karya sastra yang
dibukukan.
4. Berbagi pengalaman dan semangat.
Gak jarang sebagai penulis pemula, saya dulu moodnya sering naik turun
saat menulis. Saat lagi naik, dalam sehari saya bisa menulis hingga
4000 kata. Apa saja. Dari mulai sebuah cerita pendek hingga tulisan
yang berisi pikiran saya tentang kejadian di luar sana. Tapi saat lagi
turun semangatnya, dalam seminggu saya bisa tidak menuliskan satu pun
kata. Di dalam komunitas ini, kami berharap, kita bisa berbagi
beberapa beberapa tips untuk mengatasi rasa moody ini. Kalau tips saya
sederhana: saat tidak ingin menulis, mulailah membaca. Lalu tulis
ulang apa yang sudah kamu baca. Karena bagi seorang penulis: tiada
hari tanpa menulis. Dan di saat seorang penulis tidak menulis, pasti
dia sedang membaca.
5. Berbagi koleksi buku.
Sejujurnya, tiap memasuki sebuah toko buku di mana saja, saya selalu
punya keinginan untuk membaca semua koleksi yang ada. Tapi kembali ke
alasan klasik: dana tidak mencukupi.. hehe. Jadi saya ingin di
komunitas ini ada “acara” berbagi koleksi buku. Siapa tahu buku yang
ingin saya baca dimiliki oleh anggota lainnya, begitu pula sebaliknya.
Bahkan saya bermimpi, komunitas ini nantinya mempunyai sebuah
perpustakaan kecil yang koleksinya berasal dari masing-masing
anggotanya. Dari pada buku-buku itu hanya “dimakan” lemari, dan tidak
mungkin kan semua koleksi buku kita dibaca semua dalam sehari dan tiap
hari? Yah, untuk poin ini memang impian saya secara pribadi :D
Meskipun memang ada beberapa orang yang menganggap menulis dan membaca
hanya untuk kesenangan, hobi atau sekedar pengisi waktu luang; tapi
saya juga berpikir, pasti ada juga orang-orang yang tujuan hidupnya
ingin menjadi seorang penulis ternama. Menjadi seorang pengarang yang
namanya tertulis di sebuah punggung buku yang bertitel “Best Seller”.
Dari komunitas ini kami berharap bisa menemukan orang-orang
“terhilang” seperti mereka.
Jika ada orang yang senang membaca, rajin menulis, suka dengan dunia
literasi; mengapa tidak sekalian saja menjadi penulis profesional?
Bukankah tidak ada orang yang benar-benar sukses jika dia melakukan
pekerjaan yang tidak benar-benar dia senangi? Dan saya yakin karier
sebagai seorang penulis masih sangat cerah dewasa ini.
Bahkan tidak hanya profesi penulis. Semua pekerjaan yang dilakukan
karena memang ada hati saat mengerjakannya, pasti akan membawa
kesuksesan untuk yang melakukannya.
********/*******
Nothing last forever. Begitu pepatah Inggris mengatakan, kalau tidak
ada satu pun yang abadi.
Mungkin karena NBC Jogja ini baru berdiri, kita semua masih semangat
‘45 saat ini. Beberapa hal yang saya pelajari, dan saya juga belajar
dari pengalaman orang lain yang pernah terlibat dalam organisasi
nirlaba selama ini, ada tiga faktor yang bisa membuat sebuah komunitas
non profit hilang tak berbekas sama sekali karena ditinggal pergi. Dan
saya harap ini tidak terjadi di NBC.
1. Komunikasi antar anggota jelek dan tidak transparan. Terlalu banyak
berharap pada stakeholder.
Itulah mengapa pada awalnya saya tekankan harus ada sebuah pertemuan
rutin (di dunia nyata). Ini lebih kepada menjaga hubungan baik antar
anggotanya. Bentuknya bisa makan bersama (bayar masing-masing tapi ya
:p), curhat (boleh kok), atau apalah yang bisa membuat masing-masing
anggotanya merasa nyaman dan “diorangkan” dalam komunitas. Gak ada
yang merasa sebagai pelengkap penderita saja.
2. Komunitas non profit lebih berhubungan dengan emosi. Bukan materi.
Karena tidak ada “commercial value”. Istilah kasarnya: gak ada yang
dibayar.
Itulah mengapa saya bikin motto: dari kita, untuk kita. Jadi suksesnya
komunitas ini karena kita. Hancurnya komunitas ini juga karena kita
yang ada di dalamnya. Jangan sampai ada yang merasa jadi orang nomor
satu atau nomor dua. Semua anggota mempunyai hak yang sama dalam
berbicara. Kalau ada uneg-uneg katakan saja pada yang lainnya. Kita
belajar sistem demokrasi sama-sama.
Jangan ada “silent majority” yang selama ini menjadi kelemahan negara
demokrasi. Demokrasi itu harus hiruk pikuk. Demokrasi itu berarti:
“Saya akan mempertahankan hak Anda untuk berpendapat, meskipun saya
sama sekali tidak suka atau tidak setuju pada pendapat Anda.” Hingga
akhirnya tiap pendapat atau masukan diputuskan secara musyawarah atau
voting. Dan memang, tiap keputusan yang diambil pasti tidak dapat
menyenangkan semuanya. Tapi bukankah itu esensi dari demokrasi?
Bukankah itu makna kata “keputusan”? Ada kata “putus” di sana, yang
memang bermakna menyakitkan. Tapi itulah demokrasi: menghargai
keputusan bersama.
Sistem ini untuk menghindari otoritas satu atau beberapa orang dalam
komunitas non profit. Gak ada bosnya, istilahnya. Jangan ada yang
merasa memerintah atau diperintah. Kasarnya: “Siapa elu? Kasih makan
gue aja kagak!” :D
3. Menjaga komitmen awal.
Yang sulit dilakukan saat melakukan aktivitas sosial adalah menjaga
semangat mula-mula. Karena memang tidak ada kewajiban untuk
melakukannya dengan sebaik-baiknya. Seiring waktu yang berjalan,
tiap-tiap anggota komunitas non profit bisa saja mempunyai banyak
kesibukan. Dan selanjutnya akan berpikir: “Apa untungnya?” Atau “Mana
yang lebih menguntungkan?”
Jadi kembali ke nomor satu. Komunitas non profit harus lebih bisa
memberi makna dan meninggalkan kesan di tiap anggotanya. Misalnya bisa
jadi tempat curhat, menambah relasi atau apa saja yang bisa membuat
tiap anggotanya merasa nyaman ada di dalamnya, dan akhirnya merasa
memiliki komunitasnya. Jika sudah punya rasa memiliki, pasti
selanjutnya akan lebih mudah untuk berkomitmen dan bertanggung jawab
pada “kelangsungan hidup” komunitas tersebut.
Lawan kata cinta bukan benci, melainkan tidak peduli. Jadi jika Anda
mencintai, pasti Anda peduli dengan obyek yang Anda cintai.
Demikian.
Silahkan kalau ada yang menambahkan :)