Interesting enough to know about, terlepas
dari benar atau salah.. ada yang bisa mencari tahu kebenarannya?
Merdeka!
Salam,
--Theo A. Priatna --
================================
----- Original Message -----
Sent: Monday, August 15, 2005 8:36 PM
Subject: [FunkyDivers] Fw: asal usul nama Indonesia[Virus Free -
PTI]
skali2 abah sharing yang BEROTAK.. agar kita tahu
asal muasal nama bangsa besar ini....
MAAAARDEKAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH
si Abah
----- Original Message -----
Sent: Monday, August 15, 2005 2:47 PM
Subject: [Guyon-Yook] [OOT] asal usul nama Indonesia[Virus Free -
PTI]
MERDEKA !!!
be proud for
NUSANTARA....................
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0804/16/0802.htm
>
Senin, 16 Agustus 2004
>
>
> Asal Usul Nama
Indonesia
> Oleh IRFAN ANSHORY
> PADA zaman purba, kepulauan
tanah air kita disebut dengan aneka nama.
> Dalam catatan bangsa
Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai
> (Kepulauan Laut
Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai
> kepulauan ini
Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang
> diturunkan dari
kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar,
> seberang). Kisah
Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu
> menceritakan
pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik
> Ravana, sampai
ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang)
> yang terletak
di Kepulauan Dwipantara.
>
> Bangsa Arab menyebut tanah air
kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).
> Nama Latin untuk kemenyan
adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab
> luban jawi (kemenyan
Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh
> kemenyan dari batang
pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh
> di Sumatra. Sampai
hari ini jemaah haji kita masih sering
> dipanggil "Jawa" oleh orang Arab.
Bahkan orang Indonesia luar Jawa
> sekalipun. "Samathrah, Sholibis,
Sundah, kulluh Jawi (Sumatra,
> Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)"
kata seorang pedagang di Pasar Seng,
> Mekah.
>
> Lalu
tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa
> Eropa
yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya
> terdiri
dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang
>
terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia".
>
Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia
>
Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita
>
memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian
>
Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie,
East
> Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga
dipakai
> adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay
Archipelago,
> l'Archipel Malais).
>
> Ketika tanah air
kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
> digunakan
adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan
> pemerintah
pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo
> (Hindia
Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan
> nama
samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk
>
menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang
artinya
> juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti
pulau). Tetapi
> rupanya nama Insulinde ini ku rang populer. Bagi
orang Bandung,
> Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku
yang pernah ada
> di Jalan Otista.
>
> Pada tahun 1920-an,
Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950),
> yang kita kenal
sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik
> Multatuli),
memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak
> mengandung
unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara,
> suatu
istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi
>
mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit
yang
> ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan
oleh
> J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom
pada
> tahun 1920.
>
> Namun perlu dicatat bahwa
pengertian Nusantara yang diusulkan
> Setiabudi jauh berbeda dengan
pengertian, nusantara zaman Majapahit.
> Pada masa Majapahit
Nusantara digunakan untuk men yebutkan pulau-pulau
> di luar Jawa
(antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang)
> sebagai
lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah
> mendengar
Sumpah Palapa dari Gajah Mada, "Lamun huwus kalah
> nusantara, isun
amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau
> seberang, barulah
saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata
> nusantara zaman
Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi
> pengertian yang
nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli >
> antara, maka
Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di
> antara dua benua
dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam
> definisi nusantara
yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini
> dengan cepat menjadi
populer penggunaannya sebagai alternatif dari
> nama Hindia
Belanda.
>
> Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita
pakai untuk menyebutkan
> wilayah tanah air kita dari Sabang sampai
Merauke. Tetapi nama resmi
> bangsa dan negara kita adalah
Indonesia. Kini akan kita telusuri dari
> mana gerangan nama yang
sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
>
> Nama
Indonesia
>
> Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah
majalah ilmiah tahunan,
> Journal of the Indian Archipelago and
Eastern Asia (JIAEA), yang
> dikelola oleh James Richardson Logan
(1819-1869), orang Skotlandia
> yang meraih sarjana hukum dari
Universitas Edinburgh. Kemudian pada
> tahun 1849 seorang ahli
etnologi bangsa Inggris, George Samuel
> Windsor Earl (1813-1865),
menggabungkan diri sebagai redaksi majalah
> JIAEA.
>
> Dalam
JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel
> On the
Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-
>
Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa
sudah
> tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia at au Kepulauan
Melayu
> untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama
Hindia
> tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang
lain.
> Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia
(nesos
> dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya
itu
> tertulis: ... the inhabitants of the Indian Archipelago or
Malayan
> Archipelago would become respectively Indunesians or
Malayunesians.
>
> Earl sendiri menyatakan memilih nama
Malayunesia (Kepulauan Melayu)
> daripada Indunesia (Kepulauan
Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat
> untuk ras Melayu,
sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk
> Ceylon (Srilanka)
dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl,
> bukankah bahasa
Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam
> tulisannya itu Earl
memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak
> memakai istilah
Indunesia.
>
> D alam JIAEA Volume IV itu juga, halaman
252-347, James Richardson
> Logan menulis artikel The Ethnology of
the Indian Archipelago. Pada
> awal tulisannya, Logan pun menyatakan
perlunya nama khas bagi
> kepulauan tanah air kita, sebab istilah
"Indian Archipelago" terlalu
> panjang dan membingungkan. Logan
memungut nama Indunesia yang dibuang
> Earl, dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya lebih
> baik. Maka lahirlah istilah
Indonesia.
>
> Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di
dunia dengan tercetak
> pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr.
Earl suggests the
> ethnographical term Indunesian, but rejects it
in favour of
> Malayunesian. I prefer the purely geographical term
Indonesia, which
> is merely a shorter synonym for the Indian Islands or
the Indian
> Archipelago. Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya
Logan tidak
> menyadari bahwa di kemudian hari nama i tu akan menjadi nama
bangsa
> dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di
muka
> bumi!
>
> Sejak saat itu Logan secara konsisten
menggunakan nama "Indonesia"
> dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah
> ini menyebar di kalangan para
ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
> Pada tahun 1884 guru besar
etnologi di Universitas Berlin yang
> bernama Adolf Bastian
(1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder
> die Inseln des
Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat
> hasil
penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864
>
sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan
> istilah "Indonesia"
di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat
> timbul anggapan bahwa
istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian.
> Pendapat yang tidak benar
itu, antara lain tercantum dalam >
> Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian
> mengambil istilah
"Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
>
> Putra ibu
pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia"
> adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke
>
negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers
dengan
> nama Indonesische Pers-bureau.
>
> Makna
politis
>
> Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang
merupakan istilah
> ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil
alih oleh tokoh-tokoh
> pergerakan kemerdekaan tanah air kita,
sehingga nama "Indonesia"
> akhirnya memiliki makna politis, yaitu
identitas suatu bangsa yang
> memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya
pemerintah Belanda mulai curiga
> dan waspada terhadap pemakaian
kata ciptaan Logan itu.
>
> Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta, seorang mahasiswa
> Handels Hoogeschool (Sekolah
Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi
> pelajar dan mahasiswa
Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun
> 1908 dengan nama
Indische Vereeniging) berubah nama menjadi
> Indonesische
Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka,
> Hindia
Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
>
> Bung
Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka
> yang
akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil
>
disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat
>
menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama
>
Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel),
karena
> melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa
depan, dan
> untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier)
akan berusaha
> dengan segala tenaga dan kemampuannya."
>
>
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische
Studie
> Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis
Hindia
> berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada
tahun
> 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal
Indonesische
> Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air
yang mula-
> mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama
"Indonesia"
> dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita
pada
> Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928,
yang
> kini kita sebut Sumpah Pemuda.
>
> Pada bulan
Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat;
> DPR zaman
Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo,
> dan
Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah
>
Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti
> nama
"Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi
>
ini ditolak mentah-mentah.
>
> Maka keh endak Allah pun
berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke
> tangan Jepang pada
tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia
> Belanda" untuk
selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945,
> atas berkat
rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
>
>
Dirgahayu Indonesiaku!***
>
> Penulis, Direktur Pendidikan
"Ganesha
Operation"
>
>
CMIIW
Regards,
Erry.WP
PT.INDOTURBINE
Phone
: +62(21)5223407-5223408 Ext 324
Fax :
+62(21)5223409
Mobile:
+628568578145
YM : wpdotkom42
Please
respond to : err...@indoturbinept.com
http://www.indoturbinept.com
Di
FunkyDivers ini, kita nggak usah melulu hanya ngomongin DIVE doank, tapi yg
penting justru banyak DIVE, ok!!
Bila ingin bergabung harap email ke
funkydiver...@yahoogroups.com sedangkan bila tidak menerima email dlm
2-3 hari mungkin anda kena bounced, maka silahkan test kirim email ke
funky...@yahoogroups.com lalu Yahoo akan meminta konfirmasi setelah itu
subscription anda disini akan Aktif kembali.
SPONSORED
LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS