> Biaya Pendidikan telah Jauh Membubung Tinggi
> SUATU hari di sebuah kompleks perumahan padat penduduk di kawasan Sukabumi
> Utara, Jakarta Barat, sejumlah orang tua berdiskusi serius soal masa depan
> pendidikan anak-anak mereka.
>
> Yanto, seorang lelaki paruh baya, tampak bingung. Putri sulungnya, Yuli,
> baru lulus SMP dengan nilai ujian 19,24. Dengan nilai ujian yang relatif
> rendah, Yanto mencoba mendaftarkan anaknya di sebuah SMA negeri favorit di
> kawasan Jakarta Barat.
>
> Namun, syaratnya, ia harus menyiapkan uang 'pelicin' minimal sebesar Rp5
> juta agar anaknya dipastikan lulus pada seleksi tahap dua Agustus nanti.
> Pendaftaran siswa baru untuk SMA memang dilakukan dua tahap, yakni 8-11
> Juli dan 11-13 Agustus.
>
> "Anak saya juga baru saja tamat SMP. Maunya sih masuk ke SMA favorit, tapi
> biaya masuk di sana serbamahal. Belum lagi sumbangan pembinaan pendidikan
> (SPP), dan uang pembangunan," kata Edi, rekan Yanto yang sehari-hari
> berjualan es balok ini.
>
> Sri, seorang tukang jamu keliling, yang juga mencoba memasukan putranya di
> SMA negeri yang sama, merasa sangat berat untuk membayar biaya pendaftaran
> tersebut. Sampai saudaranya pun diminta tolong untuk meminjamkan uang.
> Tapi, masalah ternyata belum selesai. Jika anaknya masuk di SMAN itu, ia
> harus kembali membayar uang gedung sebesar Rp2,9 juta, dan SPP per bulan
> sebesar Rp185 ribu. "Sama saya juga Mas, sudah ada uang buat anak saya
> lolos di sekolah itu, tapi buat bayar uang gedung dan SPP-nya pake apa?"
> tambah ibu dua orang anak itu dengan nada gusar.
>
> Problem yang dialami Sri, Yanto, dan Edi hampir dialami umumnya mereka
> yang tidak mampu. Mereka kerap terbentur pada persoalan biaya untuk
> sekadar menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri.
>
> Sebagai keluarga sederhana, mereka tentu tak pernah bermimpi memasukkan
> anak mereka ke sekolah swasta seperti Pelita Harapan, yang uang masuknya
> mencapai Rp48,5 juta dan biaya sekolah Rp8 juta/tahun.
>
> Pertanyaannya, apakah pendidikan nantinya hanya akan menjadi milik
> sekelompok orang yang berduit?
>
> Padahal, hakikat pendidikan itu adalah pembebasan. Bebas dari kebodohan,
> keterbelengguan, kemiskinan, dan diskriminasi. Sri dan kawan-kawan,
> tentunya juga ingin anak-anak mereka kelak dapat membebaskan mereka dari
> jerat kemiskinan.
>
> Bagi masyarakat dengan strata sosial ekonomi bawah, mendapat pendidikan
> dengan biaya murah dan kualitas pengajaran yang baik, tampaknya sekadar
> impian. Biaya pendidikan telah jauh membubung tinggi.
>
> Bila pemerintah terus membiarkan keadaan ini, pendidikan yang
> diselenggarakan oleh pemerintah sekalipun, hanya terjangkau oleh kelompok
> masyarakat dari kalangan ekonomi atas. Hal tersebut dapat menyebabkan
> sumber daya yang dimiliki rakyat kecil semakin tertinggal. Kemiskinan
> struktural pun tampaknya tinggal menunggu waktu menghiasi negeri ini.
>
> Apakah kenyataan tersebut dapat menjadi semacam penggerak nurani bagi
> pemerintah untuk membenahi hal ini? (Tutus Subronto/H-4)
>
> == Aam
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
>
http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> Untuk download file:
http://evaluasi.or.id
> To subscribe, send an e-mail to
> mailto:
evaluasi-ps-d...@yahoogroups.com
> To unsubscribe, send an e-mail to
> mailto:
evaluasi-ps-di...@yahoogroups.com
> Yahoo! Groups Links
>
> <*> To visit your group on the web, go to:
>
http://groups.yahoo.com/group/evaluasi-ps-dikti/
>
> <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
>
evaluasi-ps-di...@yahoogroups.com
>
> <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
>
http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
>